
"Keke menghalalkan segala cara bagaimana Mas?" tanya Maya tidak percaya dengan penuturan Bisma.
"Keke itu, berniat mencelakai Bulan May, anak buah aku menceritakan semua apa yang dilakukan Keke selama KKN." Bisma ternyata mengirim mata-mata ke daerah Bulan.
"Masa sih..." Maya menatap lekat wajah suaminya.
"Bahkan, dalam keadaan masih sakit setelah kecelakaan pun, Keke pernah datang kesana May," Bisma bercerita. Jika Keke sering berkunjung ke kampung Bulan, menghasut masyarakat agar membenci menantunya.
"Masa sih Pa," Maya lemas seketika.
"Kamu ini! May, dari tadi jawaban kamu. Masa sih? Masa sih?!" Bisma menirukan jawaban Maya.
"Iya deh, terus cerita," Maya menahan senyum menatap suaminya yang memijit pangkal hidung.
"Untuk itulah, mengapa aku mengijinkan Keke tinggal di rumah kita" maksud Bisma mengijinkan Keke tinggal di rumah, lantaran Bisma akan menyelidiki lebih dekat dan membuktikan laporan anak buahnya.
"Berarti... Bulan bisa bekerja di rumah kita... bukan suatu kebetulan Pa? Ini salah satu rencana mu juga," tebak Maya.
"Betul May... ketika Bulan hendak berangkat ke Jakarta, aku memerintahkan anak buah aku," Bisma menuturkan ketika Bulan hendak berangkat ke Jakarta, salah satu anak buah Bisma ikut numpang trafel, bahkan berangkat satu pesawat dengan Rembulan agar bisa memantau menantunya.
"Ya Allah... sampai segitunya?" Maya kagum dengan suaminya. Tanpa Maya tahu, ternyata suaminya begitu menyayangi menantunya.
"Terus..." Maya ingin tahu lebih banyak lagi.
Bisma menceritakan tentang pertama kali Bulan sampai di Jakarta dan akhirnya Bisma meminta Gavin agar menerima Bulan bekerja sebagai perawat. Namun Bisma tidak memberi tahu Gavin jika Rembulan itu istri Tara.
"Iiihhh..."
"Ouw! May!" Bisma meringis kesakitan kala Maya menyubitnya keras.
"Habisnya aku sebel! Mas, mengetahui sampai sejauh itu, tapi nggak mau cerita sama aku!" omel Maya.
"Sudah May, jangan ngambek lagi, kamu nggak mau tahu cerita selanjutnya," Bisma masih mengusap tanganya bekas cubitan.
"Terus..." Maya menopang kepala, menunggu kelanjutan cerita suaminya.
Bisma juga menceritakan ketika Keke sudah tinggal di rumah sengaja menambahkan cctv seputar rumah agar memudahkan penyelidikan.
"Kamu nggak tahu kan May, kelakuan Keke, kalau Dia itu sering kali berniat memperkosa Dipta ketika kamu nggak ada di rumah?"
__ADS_1
"Apa?!" seketika Maya bangun dari tidurnya saking terkejutnya.
"Nah kan? Kaget," Bisma mencebik.
"Papa tahu darimana? Bukankah Mas tiap hari keluar dari rumah?" selidik Maya.
"Dari bibi May," Bisma menjawab santai, membuat maya membelalak.
"Bibi? Apa lagi sih ini... Jadi bibi pun tahu semua itu Mas?" May merasa bodoh. Sampai pembantu pun tahu semuanya tentang rencana suaminya, tapi Maya malah tidak tahu apa-apa.
"Kan aku sudah katakan May, mata kamu itu sudah tertutup rapat karena obsesi kamu ingin berbesanan dengan sahabat kamu hingga kamu tidak menyadari keanehan Keke," Bisma terpaksa banyak bicara demi Maya agar tidak marah lagi.
"Ya Allah..." Maya benar-benar tidak percaya.
"Maka dari itu May, ketika kita akan keluar kota. Papa minta bibi untuk memantau calon menantumu itu, agar tidak berbuat nekat," Bisma menceritakan ketika Keke dikerjai bibi, ketika ingin masuk ke kamar Tara. Ketika Keke menyekap bibi di gudang. Bisma mengetahui semua itu, karena bibi melaporkan pada Bisma. Begitulah mengapa bibi bisa seberani itu pada Keke, tentu karena sudah bekerjasama dengan Bisma.
"Astagfirlullah..." Maya hanya bisa istighfar mendengar cerita suaminya.
"Makanya May, sebaiknya Keke kamu suruh pulang saja, demi rumah tangga Dipta," saran Bisma.
Maya hanya diam entah apa yang ia pikirkan memandangi wajah Bisma yang memejamkan mata.
"Sebenarnya kemarin itu, aku mau antar Keke pulang Mas, begitu aku tahu Bulan sudah menjadi istri Dipta, tapi Keke jatuh di kamar mandi," Maya menceritakan semuanya, termasuk ketika ia mengusir Bulan.
"Siapa yang nggak kaget sih Mas, begitu aku sampai di rumah lihat Dipta sedang tidur bersama Bulan, sudah gitu berpelukan lagi," tutur Maya. "Ini juga gara-gara kalian yang nggak mau jujur sama aku," Maya kesal.
"Sudah May, aku lelah bicara, untuk lebih yakin, besok kamu bisa check cctv di rumah," Bisma memeluk Maya.
"Kalau gitu... sekarang kita pulang Mas," Maya sudah tidak sabar.
"Hais! Tunggu dulu May, malam ini kita akan menginap di sini. Kita quality time," ujar Bisma.
"Mas" Maya terkejut ketika Bisma sudah membuka kancing baju maya bagian atas satu persatu hingga terlihat dua gunung yang masih tetap kokoh berdiri, walupun usianya sudah 45 tahun.
Terjadilah jalan-jalan sore hingga Bisma menyusuri hutan rimba mencari setetes madu dari lebah hutan yang sangat manis. 🤣🤣🤣 (Jangan katakan Budhe lebai)
******
Dasar calon kakek nenek yang tidak punya perasaan. Mereka malah enak-enakan, padahal Tara dan Bulan sudah sangat kebingungan. Jika telepon Bisma tidak diangkat telepon Maya tidak aktif.
__ADS_1
"Aahhh... kemana sih?! Mama sama Papa!" dengus Tara. "Yank, coba hubungi teman kamu lagi," titah Tara. Abu pun ternyata tidak bisa di hubungi sejak siang tadi.
"Nggak bisa Bang, aku rasa, nggak usah terlalu dipikirkan, mudah-mudahan Papa sama Kak Abu sudah menemukan Mama," Bulan berpikir positif. Bukan Bulan tidak memikirkan mertunya, tapi beliu sudah banyak makan asam garam tentu akan dengan mudah menyelesaikan entah apa masalahnya.
"Iya juga ya," Tara pun lebih tenang. Lalu Bulan mengajak suaminya mandi.
Malam harinya Tara dan Bulan sudah di meja makan menunggu Maya dan Bisma. Untuk makan malam bersama tentunya. Namun, mana bisa makan dengan tenang jika belum mengetahui kabar orang tuanya.
Bulan pun akhirnya menghubungi Abu kembali. Kali ini teleponnya diangkat.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Bla bla bla. Bulan dan Abu ngobrol.
"Bagaimana Yank?" tanya Tara setelah Rembulan menutup panggilan.
"Katanya Mama sama Papa sejak tadi siang nggak keluar dari kamar Bang," tutur Bulan.
"Terus... teman kamu itu sekarang dimana? Lalu mengapa sejak pagi tidak angkat telepon?" cecar Tara.
"Kak Abu, menunggu di mobil Bang, terus handphone Dia dari pagi tidak di charger, baru sekarang ini Dia charger di masjid. Kasihan Kak Abu, jangan-jangan.... kelaparan," kata Bulan panjang lebar tidak tahu jika Tara kesal mendengarnya.
"Bukan apa-apa Bang, cuman kasihan saja kok," Bulan menyadari jika ia salah bicara.
"Hahaha... nah kan?! Ketahuan! Ada suaminya di depan saja, masih memikirkan selingkuhannya," Keke merasa ada celah kemudian nimbrung pembicaraan.
Bulan melempar tatapan dadar ke arah Keke.
"Abang mau lauk apa ini?" tanya Bulan setelah menyendok nasi ke piring Tara tidak menimpali ucapan Keke.
"Tempe, ikan asin, kasih sayur asam" jawab Tara sudah tidak mempersoalkan masalah Abu lagi.
"Hahaha... selera kamu sekarang begitu amat sih Dip,"
"Bang kita makan sepiring berdua saja ya" Bulan mematahkan sindiran Keke.
"Ide yang bagus," Tara tersenyum merasa ada angin segar. Memang inilah kesempatan yang Tara tunggu.
__ADS_1
Mereka makan sepiring berdua tanpa perduli dengan Keke yang hanya mengaduk-aduk makanan. Ia kesal karena ocehanya tidak di gubris.
.