Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Misteri Foto.


__ADS_3

Pagi harinya cuaca sangat cerah, secerah hati pasutri yang sedang berjemur. Kian hari keduanya semakin romantis saja.


"Bang... malu ih! Kalau di lihat orang, bagaimana?" Bulan cemberut ketika tiba-tiba Tara menyambar bibirnya yang sedang berjongkok di depan. Sambil memijit lutut Tara dengan minyak gosok, agar urat-urat nya lemas.


"Biar mereka lihat, paling iri," Tara terkekeh.


Tin tin tiiiin.


Saat sedang bergurau di kejutkan klakson mobil.


"Mama pulang Bang," kata Bulan. Mobil berwarna merah marun kesukaan sang pemilik yang tak lain adalah Maya masuk setelah dibukakan pagar oleh Sumidah.


"Mama darimana?" tanya Tara segera mendorong roda, ketika Maya baru turun. Bulan pun segera menghampiri kemudian mencium tangan mertunya.


"Mama sedang mencari udara segar Dip" jawab Maya lalu menatap mata Bulan merasa malu mungkin karena kemarin saat berpapasan sedang menangis.


"Kenapa Papa sulit dihubungi?" desis Tara. Tara melirik sang papa yang baru turun dari mobil berjalan ke arahnya minta penjelasan. Mengapa tidak pulang semalaman, dan tidak memberi kabar. Namun sang papa hanya menjawab. "Nanti saja! Papa ceritakan." Lalu Bisma mendekati Maya yang sedang berbincang dengan Bulan.


"Kandungan kamu baik-baik saja. Nak," Maya mengusap perut Bulan.


"Alhamduliah Ma" Bulan tersenyum. Ia senang mertunya sudah terlihat biasa lagi tidak seperti kemarin.


"Mama ke dalam dulu ya," Maya bersama Bisma berlalu meninggalkan anak dan menantunya. Mereka ingin cepat menemui Keke.


"Kita juga ke dalam Yank, matahari sudah semakin panas," Tara mendorong roda.


"Iya Bang,"


Semua sudah ke dalam hanya tinggal Sumidah yang sedang mengunci pagar segera menemui Abu yang sudah nenenteng selang hendak mencuci mobil.


"A, boleh saya bantu?" tanya Sum sudah berdiri di depan Abu yang sedang menunduk hendak memasukan selang ke dalam kran di pinggir taman, karena posisi taman di samping garasi.


Perlahan Abu mengangkat kepala sedikit demi sedikit tampak kaki Sum hingga betis dan lulut.


"Astagfirlullah..." Abu kembali menundukkan pandangan melanjutkan memasang selang. Pasalnya Sumidah hanya mengenakan celana pendek di atas lutut, dan kaos pas di badan hingga menampakkan dua buah jambu air super jumbo. Dan tidak hanya itu, Sum juga memoles diri.


"Kenapa. A?" Sumidah mengerutkan kening.


"Dek Sum, tolong agak sopan sedikit jika berpakaian, di rumah ini tidak hanya ada kamu bibi dan Bulan, tapi ada Tara, Tuan Bisma dan juga saya," Abu menasehati, tanpa menatap Sum. Karena Sum tidak mau dipanggil Mbak, kali ini Abu memanggilnya. Dek.


"I-iya, A," Sum seperti dinasehati orang tuanya segera menuruti saran Abu. Gadis itu berjalan cepat rambut yang dikuncir kuda, tampak bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia sengaja mengenakan pakaian ini, karena ia pikir Abu akan suka, tapi ternyata justeru pria alim itu tidak mau menatapnya.


"Ada apa Sum?" tanya Bibi karena Sum berjalan tergesa-gesa. Kata-kata Abu baru saja seperti tamparan keras baginya. "Terus... itu kenapa kamu pakai celana pendek segitu?" bibi pun terkejut melihat penampilan sum yang tidak biasa.

__ADS_1


"Mau salin baju Bi," jawab Sumi, lantas masuk kamar kemudian menutupnya.


"Aya naon... itu budak! Kelakuannya aya-aya bae, segala pakai baju kurang bahan," bibi geleng-geleng kepala. Ia bicara sendiri sambil menyiapkan makan siang. Sebab, tadi Maya sempat ke dapur agar memasak lebih banyak karena semua berkumpul.


*******


"Keke... bagaimana? Kaki kamu sudah lebih baik?" walupun sudah tahu siapa Keke. Maya bertanya lembut seperti biasa.


"Masih sakit kalau buat jalan Ma," jawab Keke. Saat ini Maya menemui Keke di kamar.


"Obatnya diminum rutin kan?" Maya memeriksa bagian lutut kaki Keke memang bengkak dan memerah.


"Diminum," lirih Keke.


"Keke... Mama mau bicara yang penting, tapi sebelumnya Mama minta maaf Nak," Maya memandangi wajah Keke yang sedang menatapnya pula. Sungguh Maya sebenarnya tidak tega. Namun walaupun bagaimana Maya harus mengatakan.


"Ada apa Ma?" Keke sudah menunggu apa yang akan di utarakan Maya, tapi Maya tidak kunjung bicara.


"Begini Ke, Mama kan pernah berjanji akan melamar kamu untuk Dipta, tapi kamu juga pasti tahu kan? Jika Dipta saat ini sudah punya istri, jadi mohon maaf sekali lagi jika Mama terpaksa membatalkan niat Mama," tutur Maya hati-hati.


"Tes! Air mata Keke pun jatuh menunduk menahan rasa kecewa. Namun bukan Keke jika tidak bisa mencari akal licik.


"Tapi Ma" Keke mengusap air matanya.


"Aku sama Dipta sudah melakukan..." Keke menunduk tidak melanjutkan ucapanya.


"Tapi apa Ke?" Desak Maya.


"Aku sama Dipta sudah melakukan hubungan suami istri Ma," tutur Maya dibuat drama.


"Apa?!" seketika Maya berdiri, mendelik gusar.


"Tidak! Tidak mungkin Ke!" bantah Maya.


"Jika Mama tidak percaya, lihat, aku punya buktinya," Keke membuka galeri lalu menunjukkan foto saat ia tidur di samping Tara dan hanya mengenakan pakaian mini.


"Tidak! Mama tidak percaya!" Maya segera ke luar dari kamar meninggalkan kamar Keke.


"Hahaha... Keke! Di lawan," Keke tertawa devil.


*******


"Kamu kenapa May?" tanya Bisma. Ketika Maya masuk ke dalam kamar dalam keadaan wajah yang siap menelan orang.

__ADS_1


"Anak kamu itu Mas! Kurangajar sekali! Ternyata Dia sudah meniduri Keke," rupanya Maya sudah percaya hasutan Keke.


"Kamu ini bicara apa May?! Dusuk!" kali ini Bisma marah pada Maya yang selalu mempercayai kata-kata Keke.


Maya menceritakan apa yang baru saja didengar dari mulut Keke.


"Sekarang ikut aku!" Bisma menarik tangan Maya mengajaknya ke ruang kerja.


Pria tegas itu segera memutar cctv agar persoalan tidak semakin berlarut-larut.


"Kita lihat baik-baik May..." Serentetan peristiwa yang terjadi di rumah ini bermunculan. Kecuali satu foto yang di tunjukkan Keke. Karena terjadinya di kamar Tara tentu tidak tertangkap kamera cctv.


"Tuh kan Mas, foto yang di tunjukkan Keke tidak ada di cctv." keluh Maya.


"Sekarang panggil Dipta, sama Keke," titah Bisma tidak ingin menunda lagi. Maya segera memanggil Tara, dan juga Keke. Tentu tidak mengikut sertakan Bulan. Sebab Maya tidak ingin Bulan syok dan akan mempengaruhi bayi yang di kandungnya.


"Papa memanggil Saya?" tanya Keke sudah sampai lebih dulu.


"Sudah saya katakan sejak dulu! Jangan panggil saya Papa, karena saya bukan orang tua kamu!" tandas Bisma. Ia marah inilah sumber kekacauan di rumah ini.


"Papa..." Maya mengingatkan agar jangan bersikap kasar.


"Ada apa Pah?" saat Tara sampai di ruang kerja. Menghentikan ketegangan.


"Ceritakan May," kata Bisma.


"Tunjukkan foto tadi Ke" titah Maya.


"Baik Ma!" dengan tangan gemetar karena ketakutan akan tatapan sinis Bisma. Keke membuka galeri kemudian memberikan pada Maya.


"Dipta... apa benar yang ada dalam foto ini?" Maya menyerahkan handphone pada Tara.


Tara memandangi foto dengan dahi berkerut.


"Aku berani sumpah Ma, selama hidup jangankan tidur dengan wanita lain menyentuh pun tidak pernah, selain hanya dengan istriku itupun setelah menikah," tutur Tara dengan gamblang.


"Tunggu Ma" Tara mengingat sesuatu. Lalu merogoh handphone miliknya menghubungi Sumidah agar datang ke ruang kerja.


****


"Hai reader... mungkin ada yang tidak suka aku sisipkan Abu dengan Sumidah disini. Karena ini aset yang akan budhe buat terpisah setelah kisah Bulan selesai.


Adakah yang setuju??? ❤❤❤.

__ADS_1


.


__ADS_2