
Pasutri yang sudah dua bulan tidak bertemu itu, pagi ini pertama kalinya tidur dalam satu ranjang. Namun jika Bulan bisa tidur dengan nyenyak, tentu tidak untuk Tara. Ia gelisah, hanya dengan memandang wajah istrinya saja. Ular Kobra piaraan nya tidak bisa diam ingin segera menyemburkan bisa nya.
Sudah dua jam, Tara berusaha untuk menjinakkan, namun si Kobra justeru menantang mengajak bergulat.
"Bulan..." Tara menyentuh leher Bulan dengan telunjuk. Bulan menggeliat menggaruk lehernya perasaan ada semut yang menggigit.
"Bulan..." Tara semakin bergairah kala menatap istrinya yang justeru terlentang dan baju atasan tersingkap ke atas. Menampilkan perut mulus dan semakin sintal menggemaskan. Biasanya Bulan mengenakan seragam, namun karena baru pulang tentu memakai setelan.
"Lan... heee..." Lirih Tara.
"Ibu... Bulan ngantuk... bentaaarr... lagi..." sahut Bulan sambil terpejam, rupanya sedang mengigau. Ia pikir yang membangunkan adalah Fatimah.
Tara hanya bisa menelan ludah berkali-kali.
Apa yang akan terjadi diantara mereka di ranjang? Berpisah selama dua bulan pengantin baru tentu keduanya saling merindukan kehangatan.
Akankah Bulan mengambil kendali, sebab Tara tentu belum bisa melakukan secara fisik. Padahal Tara sudah sangat menginginkan itu, walaupun kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan intim selayaknya suami.
Atau Bulan akan tetap berlari dari si kobra yang sudah siap mematuk?
🤣🤣🤣
Sekarang kita beralih ke dapur saja, apa yang di lakukan bibi.
"Bibi..." mata Sumidah melebar, kala melihat bibi yang sedang memasak. Kali ini melihat bibi sama saja melihat monster. Bagaimana caranya bibi bisa keluar dari gudang itu? Sumi bertanya-tanya dalam hati.
"Kenapa kamu melihat saya seperti melihat hantu Sum?!" tandas bibi.
Klontang!
Bibi menjatuhkan sodet, di penggorengan. Lalu mendekati Sumi mendelik gusar.
"Kamu pikir aku sudah mati di gudang? Atas kelakuan buruk kamu itu?!" bibi terus maju. Sebaliknya Sumidah berjalan mundur, hingga mentok tembok baru kemudian berhenti.
"Kurangajar kamu Sumi! Kamu ini anak yang tidak bisa diuntung! Tau nggak?!" tuding bibi. Sementara Sumi kali ini hanya diam saja.
"Manusia seperti kacang lupa kulit itu sebutan yang pantas untuk kamu! Sum!" Baru kali ini bibi marah dengan Sumidah. Biasanya bibi selalu mengalah tapi saat ini kelakuan Sumi sudah keterlaluan.
Ketika keluarga Sumi sedang terpuruk masalah keuangan. Bibi yang selalu meminjamkan uang. Bukan berniat mengungkit, bibi mengajak Sumi bekerja ke Jakarta. Bahkan untuk transpor pun bibi yang menanggung. Tetapi air susu di balas dengan air tuba.
"Di bayar berapa kamu sama Keke, sampai melakukan kejahatan menyekap saya! Hah?!" bibi menunjuk mata Sumi, hampir ke colok jika Sumidah tidak mengelak.
__ADS_1
Sumi menatap nanar wajah bibi tahu darimana jika dia melakukan semua ini tidak gratis? tanya Sumi dalam hati.
"Kamu pasti bingung kan Sum, saya tahu darimana jika kamu dibayar Keke!" sungut bibi.
Sumidah pun bungkam.
"Tidak usah kamu tutup-tutupi lagi Sumi, di setiap sudut rumah ini, ada cctv," bibi menyeringai.
"Bibi..." Sumi mulai ketakutan.
"Aku melakukan ini terpaksa Bi, si bungsu mau masuk sekolah SMA, tapi aku butuh biaya," Sumi pun akhirnya mengakui.
"Tapi tidak harus melakukan kejahatan untuk mendapatkan uang Sum, kurang apa saya sama keluarga kamu Sum?!" Bibi bukan minta imbalan balas budi, tetapi bibi hanya ingin Sumidah bisa merubah kelakuannya.
"Sekarang bibi peringatkan! Jika kamu ulangi sekali lagi, saya akan laporkan kamu ke orang tua kamu, agar kamu di ajari," bibi tidak main-main.
"Tolong bi, jangan katakan sama Ambu, soalnya aku bilang, uang yang aku kirim uang bonus," Sumi ketakutan.
"Haha... pintar sekali kamu Sum, belajar akting dari mana?" bibi geleng-geleng kepala.
"Bukan begitu Bi, aku hanya ingin membantu Ambu," jawab Sumidah. Menunduk.
"Aku minta maaf Bi," Kata Sumidah memelas. Sumidah menyadari hanya bibi yang ia punya di Jakarta ini. Tidak hanya itu, perlakuan Keke yang memarahinya tadi pagi, lantaran Sumidah tidak bisa memasak. Sumi pun membuka mata lebar-lebar, dan akhirnya ia tahu siapa Keke.
"Yang sudah ya sudah Sum, saya maafkan kamu, tapi bibi peringatkan, jangan ulangi lagi. Jangan mendengarkan apa kata-kata Keke yang sudah jelas akan menjerumuskan kamu," nasehat bibi panjang lebar.
"Iya Bi, nggak lagi deh" Sumidah semakin merasa bersalah.
"Oh iya, satu lagi Sum, jaga sikap kamu pada Non Bulan, asal kamu tahu, Dia itu Istri sah Tuan muda," tutur bibi.
"Apa? Yang benar Bi?" Sumi terperangah.
"Benar lah, kapan saya pernah berbohong." Bibi menyudahi pembicaraan, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Begitu juga dengan Sumidah.
Mereka tidak tahu, jika Keke sejak tadi mendengarkan obrolan mereka.
"Kurang ajar kalian! Siap-siap gw tendang dari rumah ini!" gerutu Keke.
******
Di apotek, Udin sedang melayani pembeli dengan terampil. Pria yang satu ini memang serba bisa. Pekerjaan kasar maupun halus ia coba kecuali memasak, bisanya hanya memasak mie instant saja.
__ADS_1
"Din, nanti siang, kita makan di restaurant depan yuk" ajak Nisa, ketika sudah sepi pembeli, mereka duduk berdua.
"Restaurant? Nggak lah Nis, saya makan nasi rames di sebelah saja," tolak Udin. Ia baru datang dari kampung tentu bekal yang diberikan Risma sang ibu, harus ia hemat sebelum mendapatkan gaji.
"Din... sekali-kali kek, gw traktir deh, jangan khawatir," Anisa membujuknya.
"Lain kali saja, Nis," kukuh Udin tentu dia tidak mau di traktir makan oleh teman wanita, akan di taro dimana wajah nya tentu malu. Pikir Udin.
"Ah loe mah," sungut Anisa kesal.
"Kalau gitu, mumpung lagi sepi, gw beli nasi rames dulu, loe mau gw beliin sekalian nggak?" Anisa membuka tas ambil uang berwarna biru lalu menggenggam nya.
"Boleh, ini uang nya," Udin merogoh dompet.
"Nanti saja Din, pakai uang ini saja dulu, biasanya suka susah kembalian," Anisa berlalu.
"Ada obat luar, untuk luka memar?" tanya seorang wanita yang baru saja datang mengenakan masker.
"Ada Mbak, yang buat diminum atau di oleskan?" Udin segera membuka etalase obat.
"Yang buat di minun, juga buat di oles," jawab wanita itu.
Udin ambil beberapa merk obat lalu meletakkan di atas elase agar wanita itu memilih.
"Ini Mbak, silahkan di pilih, obat yang ini untuk mengobati jika luka Mbak terlalu parah, lalu yang ini, jika sakitnya biasa saja," papar Udin.
"Sebenarnya tidak terlalu parah sih, hanya kebiruan gitu, tapi rasanya tadi malam nyut-nyutan," wanita itu menceritakan keluhannya.
"Oh, kalau gitu, yang ini saja, sekarang saya ambilkan yang untuk diminum anti nyeri." Udin membungkuk ambil obat. Ketika mengangkat kepala masker yang Udin kenakan menyangkut di lemari etalase tentu terpampang jelas wajah Udin dan menyita perhatian wanita itu.
"Kamu?" wanita itu, seketika menarik masker yang ia kenakan.
"Mbak Keke?" Udin terkejut. Dunia terlalu sempit ternyata bertemu wanita ini disini.
"Hahaha... kalau jodoh ternyata nggak akan kemana" Keke tertawa devil.
"Jodoh?" dahi Udin berkerut.
"Begitulah, jodoh dalam artian bisnis bareng" Keke berkata yakin.
"Di gaji berapa kamu bekerja disini? jika kamu mau, saya akan membayar kamu lebih besar,"
__ADS_1
**
Happy reading.