Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Mengalami Gangguan Kejiwaan.


__ADS_3

Dua wanita yang saling merebutkan satu orang pria itu saling melempar tatapan menghunus.


"Lepaskan Bulan! sakit..!" Keke menarik-narik tangannya yang masih dalam cengkeraman Bulan. Setelah lolos dari tangan Bulan, Keke meniup-niup karena tanganya memerah.


"Awas loe! gw adukan,Tante Maya!" ancam Keke.


"Saya tidak takut! Karena saya hanya membela diri," jawab Bulan mendelik gusar, kedua tanganya bertengger di dua sisi pinggang.


"Loe itu orang kampung! Tapi nggak tahu malu! tahu, Nggak?!" cibir Keke. "Kenapa loe?! Datang kesini?!"


"Jangan macam-macam Keke, atau mulut mu itu mau saya pelintir juga?! Dengar Keke, walupun saya berasal dari kampung, tidak punya apa-apa, tapi saya punya harga diri." Bulan menatap nyalang wanita di depanya. Jika dulu ketika di kampung halaman, Bulan memanggil Keke dengan embel-embel Kakak, sekarang tidak sudi lagi.


"Ahaha... harga diri! Kata mu?!" Keke tertawa meledek.


"Wanita yang sudah merebut kekasih gw, tapi masih berani mengatakan bahwa loe, punya harga diri." Keke tersenyum miring. "Dan lebih tak tahu malu nya, loe itu berani datang kesini, karena loe tahu, bahwa Dipta itu anak orang kaya kan?! Iya kan?!" tuduh Keke.


"Omong kosong apa itu?! Bukannya terbalik ya? Siapa juga... Yang mau harta Tara, jika bukan kamu orangnya!" Bulan melempar kata-kata balasan yang membuat Keke tidak berkutik.


"Setidaknya, saya menikah dengan Tara, karena Dia, yang datang pada saya, bukan seperti kamu! Sudah tahu Tara tidak cinta, tapi ngejar-ngejar! Memperalat Nyonya Maya, memanfaatkan keadaan Tara yang sedang tidak berdaya!" Bulan menekan dada Keke dengan telunjuk sebelum akhirnya keluar. Namun baru membuka pintu, Keke menghentikan langkah Bulan.


"Tunggu! Jika sampai loe mengaku pada Om, dan Tante, jika loe sudah menikah dengan Dipta. Gw bunuh Ibu loe!" ancam Keke dengan mimik wajah menyeramkan.


Kali ini Bulan pun merasa takut. Jika sudah menyangkut sang Ibu. Ia benar-benar khawatir. Namun tidak ia tunjukkan pada Keke. Bulan tahu tipikal orang seperti Keke. Bisa berbuat nekat. Bulan pun akhirnya ke luar meninggalkan Keke yang masih menatapnya tajam.


*******


"Bulaaannn...!" pekik Tara dari kamar mandi, karena Tara kelamaan menunggu.


"Apa sih Bang... cek! Teriak-teriak begitu..." kata Bulan lembut. Bulan ternyata sudah sampai di kamar mandi.


"Lagian Kamu! Ngapain sih?! lama banget!" Tara ngomel-ngomel tidak karuan.


Bulan pun hanya diam lalu membantu Tara duduk di kursi.


"Sudah... jangan ngomel-ngomel terus, nanti cepat tua," ujar Bulan. Sembari membuka kerudung.


Ia gantung dibalik pintu. Mencepol asal rambutnya hingga menampilkan leher mulus nan putih. Melipat baju lengan panjangnya hingga ke siku. Menggulung celana panjangnya sampai lutut. Tara meneguk saliva, matanya melebar memandangi Leher mulus, kaki putih itu, berada di depannya.

__ADS_1


Bulan kemudian membuka kaos, boxser, dan yang lain-lainya. Ia mengulum senyum. Suaminya ini sok jutek, angkuh, tidak butuh, tapi setiap kali Bulan menyentuh tubuhnya daging yang menyerupai terong itu selalu bertengger.


"Kenapa kamu, kepingin?! Bilang saja, jangan munafik!" tandas Tara.


Bulan mencebik, melempar tatapan kesal, lalu beralih menatap kepala ular kobra jantan yang selalu bergerak.


"Hihihi..." Bulan tertawa meledek ketika memergoki Tara yang sedang ternganga memandangi sekujur tubuh Bulan.


Air liur Tara hampir menetes. Betapa tidak? Baju yang di kenakan Rembulan kancingnya lepas bagian atas, dan ketika sedang membuka boxer dada Bulan yang putih berada di depan Tara. Dan tidak hanya itu, gunung merapi Bulan terekspos. Tidak bisa Tara tampik ia merindukan itu.


"Bryuuurrrrr"


"Bulan...." Tara seketika terkejut air hangat dari shower mengguyur tubuhnya.


Bulan tidak menjawab justeru ambil sampoo dalam botol merk tertentu, membuka tutup menuang nya ke telapak tangan, kemudian menggosok kepala Tara.


Tara pun terpejam merasakan pijatan lembut di kepala rasanya ingin terus seperti ini.


Selesai di kepala, Bulan ambil sabun cair kemudian menyabuni tubuh Tara. Tara membuka mata tatkala Bulan menyabuni bagian dadanya. Ia memandangi wajah cantik istrinya tidak berkedip. Namun Bulan tidak membalas tetap menggosok tubuh Tara.


Bulan mendorong tubuh suaminya menatapnya tajam.


"Bulan..." ucap Tara masih mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


"Jangan kurangajar!" hardik Bulan.


"Kok, kurangajar, bukankah kamu bilang kita ini masih suami istri? Berarti boleh dong saya melakukan itu?" Dengan mudahnya, Tara menyebut suami istri ketika butuh menyalurkan hasrat.


"Aku tidak sudi, Abang menjadikan aku sebagai fantasi semata. Tetapi Abang memikirkan wanita lain! Ingat Bang, saya mengurus Abang karena saya ini bekerja," pungkas Bulan. Sebenarnya lain di mulut, lain di hati. Tentu Bulan setulus hati merawat suaminya, tapi ketika ingat bahwa suaminya berniat menikahi Keke hatinya sakit.


Bumantara pun tidak mampu berkata-kata lagi.


Keduanya saling diam, Bulan tetap melakukan tugasnya. Ketika selesai memandikan, menggosok tubuh Tara dengan handuk, kemudian membantunya pindah ke kursi roda lalu mendorongnya ke kamar.


"Kuku Abang panjang-panjang amat sih" ucap Bulan perhatian setelah Tara berpakaian rapi.


Tara pun mengamati kuku jari tangan, dan kakinya, memang sudah tidak ia perhatikan lagi. Seketika mengerling kearah Bulan yang sedang menuju laci tersenyum samar.

__ADS_1


Bulan membuka laci ambil gunting kuku kemarin ia sempat melihat di tempat tersebut. Mata teduh itu menangkap kertas yang dilipat kemudian menoleh suami yang sedang asik dengan gawai di tangan.


Merasa aman, Bulan diam-diam membuka kertas berwarna putih membaca intinya saja. Ternyata diagnosa dokter, paska kecelakaan kepala Tara mengalami gagar otak berat, seperti yang dituturkan Maya.


Faktor kecelakaan tersebut, Tara mengalami gangguan kejiwaan menyebabkan produksi serotonin, yakni penyebab rasa senang berkurang, dan menyebabkan Tara marah-marah.


Bulan menutup mulutnya lalu menoleh suaminya jika sedang diam begitu tampak tenang. Air mata bening menetes dari pelupuk mata Bulan.


"Bulan! Jangan kelamaan!" Suara bariton mengejutkan Bulan.


"Baiklah," Bulan kembali meletakkan kertas kemudian menghampiri suaminya memotong kuku satu persatu.


"Kenapa kamu menangis? Jangan cengeng! Sedikit-sedikit nangis!" omel Tara.


"Nggak apa-apa, hanya ingat Ibu," Bulan menyusut air matanya dengan jari.


Tangan Tara sebenarnya ingin melakukan itu, tetapi rasa ego nya lebih dominan.


"Aku ambil sarapan dulu," Bulan hendak meninggalkan Tara, setelah selesai memotong kuku. Bulan lantas mengenakan kerudung kembali, membetulkan bajunya.


"Jangan. Pagi ini, saya mau sarapan di meja makan saja," cegah Tara.


"Baiklah, jika selesai makan nanti, Abang berjemur ya, agar badanya sehat," pungkas Bulan sedetik kemudian mendorong Tara keluar kamar.


Sampai di luar, tampak Maya, Bisma, dan juga Keke, sudah siap hendak sarapan.


"Nah, gitu dong keluar dari kamar," kata Maya tersenyum senang, karena semenjak satu bulan yang lalu saat pulang dari rumah sakit, Tara tidak mau keluar dari kamar. Sungguh perkembangan yang luar biasa. Batin Maya.


Bisma pun menoleh cepat menatap putranya menuju ke arahnya yang sedang di dorong oleh Bulan.


Bulan mengangguk sopan, mengulas senyum, kala Bisma menatapnya sekilas tanpa berekspresi.


Sedangkan Keke membuang pandangan ke arah lain, di hatinya dipenuhi kebencian.


"Sini-sini," Maya segera menarik Kursi untuk putra kesayangan itu.


.

__ADS_1


__ADS_2