
Dengan langkah gontai, Bulan menyusuri jalanan. Bukan hanya tubuhnya yang berkelana, namun pikiranya pun sama. Mengapa perjalanan hidupnya menjadi seperti ini? Andai saja Tara berani berterus terang sejak awal, mungkin tidak akan terjadi seperti ini.
Namun, ya sudahlah, semua sudah terjadi. Bulan tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada suaminya. Toh ia pun ikut andil dalam kesalahan ini, mengapa ketika baru datang tidak berterus terang pada Maya? Dan Justeru menyembunyikan identitasnya.
Ia melangkah tanpa tujuan, entah akan bertahan seberapa lama ia berjalan. Di jaman sekarang tidak ada handphone tidak ada yang bisa ia lakukan.
Terlebih jika tidak ada uang, di kota besar seperti ini tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Dan bodohnya, mengapa ia tidak membawa kartu ATM? Semua surat-surat penting ia tinggalkan di rumah bu Fatimah, kecuali KTP.
Bulan menarik napas berat. Kini ia harus menerima takdir. Takdir Cinta Rembulan. Tidak ada lagi yang perlu disesali. "Baik-baik ya sayang..." Bulan mengusap perutnya yang sudah agak menonjol sedikit.
Jalanan yang awalnya gelap, hanya tersorot lampu jalanan. Kini sudah berubah menjadi sedikit tampak walaupun matahari belum terbit.
Bulan baru sadar jika ia belum shalat subuh. Matanya mengedarkan pandangan mencari tempat yang bisa digunakan untuk shalat. Misalnya pom bensin, mushola, maupun masjid.
Pada akhirnya pandangan tertuju pada masjid yang masih jauh. Bulan pun bergegas menuju tempat itu.
Sampai di Masjid sudah sepi, karena jama'ah sudah pulang. Wajar Bulan melirik jam di masjid sudah hampir jam 6. Berarti ia berjalan kaki selama dua jam.
Tidak mau membuang waktu lagi Rembulan meletakkan tas di pinggir rak untuk menyimpan mukena, kemudian mengambil air wudhu.
Saat sedang shalat, Bulan mendengar langkah kaki seseorang. Hingga beberapa menit kemudian Bulan menoleh setelah selesai. Ternyata pria itu yang mengurus masjid tampak sedang melipat karpet.
"Assalamualaikum..." sapa Bulan.
"Waalaikumsalam..." jawab seorang pria setengah baya.
"Neng bukan orang sini?" tanya si bapak.
"Bukan Pak, saya kebetulan lewat," jawab Bulan.
"Pak, apakah saya boleh menumpang kamar mandi?" Bulan ijin hendak mandi, sebab ketika pergi belum sempat membasuh muka.
"Oh, silahkan Neng,"
*******
"Kenapa Mama mengusir Bulan Ma, Dia itu Istri sah aku Ma," tutur Tara saat ini ia sedang bertengkar dengan Maya.
Flashback on.
"Mamaaa..." Tara terpaksa ngesot menuju pintu dengan susah payah. Tentu menggunakan waktu yang bukan sebentar.
Dan pada akhirnya, ia berhasil keluar dari kamar. Namun di luar sudah sepi.
__ADS_1
"Bulaaaannn..." pekik Tara.
"Tuan..." Bibi yang hendak membersihkan kamar, melihat tuanya kesusahan segera berlari dan membantu Tara, agar duduk di kursi.
"Mama kemana Bi?" tanya Tara tampak menahan amarah, setelah berhasil duduk di sofa.
"Nyonya sedang mandi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" bibi balik bertanya.
"Panggil Bulan di kamarnya Bi," Tara belum tahu jika istrinya sudah pergi. Begitu juga dengan bibi. Saat keributan terjadi, bibi sedang di dapur bersama Sum, tentu tidak mendengar sebab jaraknya cukup jauh dari ruang tamu.
"Baik Tuan" bibi bergegas ke kamar Bulan.
"Neng Bulan..." panggil bibi hingga beberapa kali namun sepi. Bibi pada akhirnya masuk ke kamar ternyata kosong. Dan yang membuat bibi terperangah pintu lemari Bulan dalam keadaan terbuka dan tidak satu potong baju pun disana
"Tuan... Neng Bulan tidak ada di kamar," kata bibi sambil ngos-ngosan karena berlari.
"Lalu kemana Bi? Apa mungkin di kamar mandi?" cecar Tara.
"Tidak ada Tuan," Bibi menggeleng.
"Vin, loe lihat Bulan tidak?" Tara beralih bertanya kepada Gavin yang baru selesai mandi.
"Bulan disuruh pergi sama Nyonya Tuan," jawab Gavin seperti apa yang ia lihat.
"Maksud nya diusir Vin?!" intonasi suara Tara meninggi.
"Astagfirlullah..." Tara dan juga bibi istighfar bersama.
"Maaf Tuan, apakah Anda, mempunyai hubungan dengan Rembulan?" tanya Gavin diplomatis. Gavin pun sebenarnya merasa tidak percaya. Jika Rembulan yang lugu itu berani tidur dengan Tara, dan tempo hari Gavin pun memergoki keduanya saling memadu kasih.
"Dia itu Istri gw Vin," lirih Tara.
"Apa? Istri?" Gavin seperti mendengar suara petir.
Saat sedang tegang mendengar langkah kaki. Semua lantas menoleh. Ternyata dia adalah Maya.
Flashback off.
"Istri! Kamu bilang Dip? Ternyata kamu sama wanita tadi sudah bersekongkol! Jika benar wanita itu memang istrimu seperti yang kamu bilang! Buktikan!," bentak Maya.
"Baik!" Tara menantang.
"Bibi, tolong ambil map biru di laci meja belajar saya" titah Tara.
"Baik Tuan" bibi segera ke kamar Tara.
__ADS_1
"Mama sudah keterlaluan! Tidak di selidiki dulu, main usir saja!" tergambar jelas kekecewaann di wajah Tara.
"Segitu beraninya kamu! Sama Mama yang sudah melahirkan kamu! Dipta?!" Maya tersulut emosi.
"Tuan... jika memang benar Bulan istri Anda, apa tidak sebaiknya di telepon dulu, apakah Bulan baik-baik saja," saran Gavin. Melerai pertengkaran antara ibu dan anak itu. Walaupun Gavin pun kecewa dengan apa yang dilakukan oleh gadis yang mampu menggetarkan hatinya tiap kali menatap mata nya. Siapapun Bulan saat ini, Gavin sejak tadi merasa kasihan membayangkan Bulan saat keluar rumah tadi sungguh menyedihkan.
"Telepon gw di kamar Vin," lirih Tara meremas dagunya gusar. Ikut merasakan betapa sedihnya Bulan, diusir dari rumah dalam keadaan hamil.
"Boleh saya yang telepon Tuan?" walau bagaimana Gavin harus ijin. Tara hanya mengangguk. Gavin kemudian menghubungi handphone Bulan namun tidak diangkat.
"Tidak diangkat Tuan," Gavin mengantongi hp nya kembali.
Bersamaan dengan itu bibi sudah ke luar dari kamar Tara.
"Ini map nya Tuan, lalu ini hp Neng Bulan ketinggalan, di kamar," saat sedang membuka laci bibi mendengar getar handphone di tempat tidur kemudian mengambilnya.
"Terimakasih Bi," Tara ambil kedua benda yang diberikan bibi.
"Baca ini Ma," Tara memberikan map pada mama Maya. Maya ambil dengan cepat, membukanya cepat pula, ingin segera tahu kebenaran nya. Mata Maya melebar kala menemukani buku nikah di dalam map. Maya membaca tanggal saat menikah ketika itu Tara sedang KKN. Maya lalu beralih menatap putranya yang masih menatap Maya nyalang.
"Jadi?" Maya mendadak bungkam.
"Aku kecewa sama Mama, Bulan saat ini sedang hamil, jika sampai terjadi apa-apa dengan bayi yang di kandung istriku Tara tidak akan memaafkan Mama," tukas Tara.
"Vin tolong antar gw mencari Bulan," perintah Tara.
"Baik Tuan," Gavin segera ke garasi.
"Bi, tolong ambil kursi roda, saya mau ke kamar mandi dulu,"
"Baik Tuan,"
Bibi segera ambil roda tidak lama kemudian kembali.
"Biar saya yang bantu Dipta, Bi" Maya hendak menyentuh tangan Tara. Namun Tara segera menyingkirkan tangan Maya.
Pada akhirnya bibi yang membantu, meninggalkan Maya yang masih syok, dengan kejadian pagi ini. "Jadi... aku akan punya cucu? Maya bergumam.
Tara mendorong roda dengan kedua tanganya keluar hendak berangkat. Di ikuti bibi segera membuka pagar.
"Tunggu... Mama ikut..." Maya menghampiri mobil yang sudah dinyalakan oleh Gavin. Gavin kemudian berangkat setelah Maya masuk.
"Hahaha... yes! Gw tidak perlu menyingkirkan wanita itu, ternyata Maya sudah bertindak," tidak jauh dari situ, Keke ternyata sedang tertawa puas. Ia ternyata mengamati pertengkaran sejak tadi pagi. Keke pun segera menjalankan mobil mengikuti mobil Gavin.
********
__ADS_1
BERSAMBUNG.