Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Tiba Di Rumah Mewah.


__ADS_3

Setelah turun dari ojek dengan langkah cepat Bulan mengetuk pintu kontrakan.


Ceklak.


"Bulan... ternyata lama juga ya wawancara nya, sampai sore?" Fatimah menodong pertanyaan.


"Iya Bu, antri. Barengan Bulan ada 10 orang, sudah gitu... aku bagian terakhir," tutur Bulan seraya meletakan tas di lantai, kemudian menjatuhkan bokongnya dengan kaki posisi selonjoran.


Melihat putrinya tampak lelah, Fatimah pun melangkah ke dapur ambil air minum, meletakkan di depannya.


"Minum Nak, sepertinya kamu lelah sekali, ini Ibu tadi buatkan cemilan juga."


"Ibu..."


Bulan merasa tidak enak karena diambilkan minum oleh Fatimah.


"Nggak apa-apa," Fatimah seolah tahu apa yang dipikirkan Bulan. Setelah beristirahat sejenak, Bulan pun mandi.


Waktu berganti malam, Bulan tidur satu ranjang dengan Fatimah. Ia menyusup di dada ibu yang melahirkan itu manja.


"Hehehe... kamu, sudah punya suami kok, masih manja begini," Fatimah pun melingkarkan tanganya ke pinggang putrinya.


"Bu,"


"Apa,"


"Ternyata aku kerjanya menginap Bu," kata Bulan.


Fatimah melepas rangkulanya. "Kok kamu tadi nggak cerita,"


"Tadi Gavin kirim pesan Bu, waktu wawancara lupa menyampaikannya," jawab Bulan merasa tidak tega meninggalkan sang Ibu yang baru tingal di sini sehari, tinggal di kontrakan seorang diri.


"Terus... bagaimana? Kamu mau batalkan?"


"Kalau misalnya, tidak? Apa Ibu berani, tinggal di sini sendiri?" Bulan menatap Fatimah berkaca-kaca.


"Kalau hanya itu masalahnya... Ibu nggak apa-apa kok Nak, toh kamu bisa kan? Mengunjungi Ibu, misalnya seminggu sekali,"


"Iya sih Bu, katanya setiap hari minggu aku dikasih libur,"


"Ya sudah, mantapkan hati kamu, tapi Ibu boleh jualan ya?" rupanya Fatimah masih memikirkan rencananya tadi pagi. Sebab sore tadi sudah minta ijin kepada pok Aya dan diperbolehkan.


"Jangan sekarang Bu, Bulan kan besok sudah mulai kerja, aku nggak bisa membantu, Ibu menyiapkan semuanya, kan harus belanja dulu,"


Bulan pikir harus beli etalase dan yang lainya, tidak mungkin jika Fatimah sendiri.


"Jangan khwatir Bulan, Ibu bisa kok belanja ke pasar, Ibu sudah tahu tempatnya dimana agen sembako besar," tutur Fatimah.


"Ibu tahu darimana? Kan baru tadi pagi ke sini." dahi Bulan berkerut.


"Tadi ibu di ajak Pok Aya ke pasar, di tunjukan agen besar. Tidak hanya itu, Pok Aya juga menyemangati Ibu jualan," Fatimah senyum-senyum.


"Ya sudah, kalau itu sudah menjadi keputusan Ibu, besok pagi, Bulan belikan etalase dan yang lainnya lewat online saja," pungkas Bulan dan akhirnya mereka tidur.


******

__ADS_1


Dengan langkah pasti Bulan menenteng tas, ke luar dari kontrakan diantar oleh sang Ibu.


Netranya menatap mobil berwarna putih sudah menunggu di depan kontrakan.


"Pak Gavin," sapa Bulan. Melihat Bulan keluar. Gavin bersemangat keluar dari mobil, kemudian membuka bagasi.


"Selamat pagi Tante," sapa Gavin pada Fatimah tersenyum ramah.


"Selamat pagi... saya titip Bulan Pak Gavin." jawab Fatimah selaras kepalanya mengangguk sopan.


"Tentu Tante, tapi jangan panggil saya Bapak, panggil saja Gavin," tolak Gavin.


"Baik Nak Gavin,"


Gavin lalu menyandak tas ambil alih dari tangan Rembulan, kemudian memasukan ke dalam bagasi.


Mobil pun berjalan diakhiri dengan lambaian telapak tangan Bulan kepada sang Ibu.


Di dalam mobil tampak sunyi Bulan menatap lurus ke depan. Sementara Gavin sesekali melirik wanita cantik di sampingnya. Namun tetap fokus menyetir.


"Ibu kamu masih muda ya?" Gavin membuat Bulan menoleh.


"Iya," jawabnya singkat.


"Kamu sudah pun-..." Gavin tidak melanjutkan bertanya.


"Yang saya rawat nanti pria, atau wanita Pak?" potong Bulan. Tidak tahu jika Gavin ingin menanyakan tentang setatus Bulan.


"Jawab dulu pertanyaan saya, kamu sudah punya sua-..."


"Nanti juga kamu akan tahu! Pria maupun wanita, niatnya kan kamu mau bekerja, kami sudah memilih kamu, berarti kamu harus profesional dong!" Gavin mendengus kesal. Wajahnya berubah jutek.


Bulan pun lebih baik diam, tidak mau menimpali. Pria di sebelahnya pun sama.


Tak lama kemudian.


Mobil yang di kendarai Gavin berhenti di depan rumah besar dan mewah.


Bulan terpukau memandangi rumah tersebut di tambah lagi dengan design unik. Sudah barang tentu pemiliknya bukan orang sembarangan.


Mata Bulan pun beralih menatap wajah Gavin yang sedang membuka bagasi. Walaupun tadi tampak kesal kini rupanya sudah tampak biasa.


"Ini rumahnya, Pak?" tanya Bulan kemudian.


"Iya" Gavin mengangkat tas milik Bulan. "Biasa saja, wajahmu jangan tegang begitu," imbuh Gavin.


Tidak dipungkiri Bulan memang deg-dengan seiring langkah kaki jenjangnya berdiri di depan pintu.


Gavin segera memencet bel.


Ceklak.


Wanita seusia Bulan membuka pintu. Bulan menatap wanita itu di lihat dari penampilannya seperti seorang ART.


"Tuan besar ada? Mbak Sum?" tanya Gavin.

__ADS_1


"Ada Tuan, silahkan masuk" Art itu memutar bola matanya ke arah Bulan. Bulan menanggapi dengan senyum ramah.


Bulan menarik napas panjang, melonggarkan dadanya sebelum mengikuti langkah Gavin yang sudah masuk lebih dulu.


Langkah Gavin berhenti, di ikuti Rembulan, kala Gavin sampai di pinggir meja makan.


"Selamat pagi Tuan. Nyonya." sapa Gavin.


"Selamat pagi," jawab sepasang pasutri yang sedang menikmati sarapan pagi. Secepatnya menelan sisa makanan.


Pandanganya beralih pada wanita cantik yang masih mengatur debaran jantung. Yang tak lain adalah Bulan.


Bulan membayangkan akan mendapat majikan yang galak seperti di sinetron-sinetron yang sering ibunya tonton.


Dan nyatanya tatapan pria setengah baya yang sedang membersihkan mulut dengan serbet itu menatapnya menghunus. Namun Bulan tetap membalas tatapan itu dengan senyum kas nya. Menyembunyikan perasaanya yang campur aduk.


"Nyonya, gadis ini yang akan merawat Tuan muda," kata Gavin.


Deg


Bulan terkesiap, netranya seketika melirik Gavin yang sedang menatapnya. "Tuan muda? Berarti aku akan merawat seorang pria? Ya Tuhan... maafkan aku Abang. Tentu Bulan hanya membatin.


"Oh jadi kamu, yang akan merawat anakku?" tanya wanita setengah baya itu.


"Betul Nyonya," Bulan tersenyum manis.


"Dari 15 wanita yang ikut tes, hanya Rembulan yang lulus seleksi Nyonya," jawab Gavin. Nyonya besar mengangguk-angguk.


"Oh, nama kamu Rembulan?" Nyonya menatap Bulan lekat.


"Betul Nyonya," Bulan hanya bisa menjawab betul dan betul karena grogi.


"Vin, kita berangkat," titah pria yang dingin itu kemudian pergi melewati Bulan begitu saja.


"Mari Tuan," Gavin mengikuti tuan besar yang sudah keluar meninggalkan meja makan setelah pamit istrinya.


"Saya tinggal ya, yang betah," Gavin menepuk pundak Rembulan.


Rembulan tersenyum dipaksakan menatap kepergian Gavin. Jika boleh menawar, Bulan rasanya ingin menahan langkah Gavin agar jangan dulu pergi.


"Duduk Nak, kita ngobrol dulu," titah wanita itu.


"Terimakasih Nyonya," Bulan agak tenang ketika calon bos yang wanita memanggilnya Nak, indikasinya wanita itu baik.


Bulan pun mengikuti calon boss berbincang-bincang di ruang tamu memperkenalkan diri. Tepatnya Nyonya menanyakan ini itu tentang Bulan. Kecuali satu setatus Bulan saat ini tidak beliau singgung.


Barangkali nyonya berpikir bahwa Bulan adalah seorang gadis. Sebab Bulan masih sangat belia.


"Ayo, saya tunjukan kamarmu," titah wanita itu setelah selesai ngobrol.


"Baik Nyonya," Bulan mengangkat tas mengikuti nyonya menuju kamar di belakang. Kamar yang cukup luas untuk ukuran Bulan. Sebab hampir sama dengan kontrakannya.


********


Siapa sih... yang akan dirawat Bulan? Pasti pada gemes sama budhe🤣🤣🤣.

__ADS_1


Happy reading. 💪💪💪


__ADS_2