
Hal yang paling menyakitkan adalah; ketika memergoki orang yang dicintai memadu kasih dengan wanita lain. Seperti yang dirasakan Keke saat ini. Padahal Keke seharusnya tidak berhak punya rasa iri. Karena wanita itu yang tak lain adalah Rembulan. Keke tahu Rembulan lah yang memang berhak atas diri Tara seutuhnya, karena Tara adalah suaminya.
Menerima kenyataan itu hanya untuk orang yang berpikiran luas. Namun tidak! Untuk wanita yang berpikiran cetek seperti Keke. Ia pasti akan menghalalkan segala cara, agar bisa merebut hati Tara dari genggaman tangan Bulan. Ia mengepal kuat, rasanya ingin mencakar-cakar wajah Rembulan yang sedang berciuman di sofa, giginya gemerutuk menahan marah.
Namun, sebisa mungkin ia harus mengendalikan diri untuk saat ini, jangan sampai meluapkan emosi. Bisa-bisa rencananya bisa gagal lantaran tidak berpikir matang. Keke akan bermain cantik di belakang mereka. Ia pun melanjutkan perjalanan menuju ruang tamu seperti rencana awal menghampiri Tara.
Bersamaan dengan itu, Gavin hanya bisa membuang pandanganya kearah lain, ketika matanya menangkap Tara dan Bulan sedang bermesraan. Saat Gavin baru keluar dari toilet.
Seperti dugaan sebelumnya bahwa Bulan menjalin kasih dengan Dipta terjawab sudah. Gavin tidak tahu jika Bulan dan Tara sebenarnya adalah suami istri.
Dengan mengumpulkan tenaga yang terasa lemas, Gavin kembali ke sofa tentu menunggu kedua pasutri itu selesai bermesraan. Sampai di depan Tara, Keke ternyata sudah duduk berhadapan dengan Tara sambil bersi tegang. Gavin pun bergabung dengan mereka kemudian menyeruput juice sedikit. Juice yang terasa manis itu kini menjadi berubah pahit, sepahit hatinya kini.
"Jika sudah tidak ada yang di bicarakan, saya mau ke apartemen Tuan, istirahat, soalnya besok saya harus berangkat subuh," Gavin mencari alasan rasanya tidak kuat menatap wajah Bulan lama-lama.
"Ya, bilang Papa, sama Mama, agar hati-hati disana" pesan Tara.
"Baik Tuan" Gavin segera beranjak.
"Pak Gavin, juice nya dihabiskan dulu, mubazir kan!" Bulan mendekatkan juice ke arah Gavin yang sudah berdiri.
"Baik lah," Gavin neneguk minuman hingga tinggal setengahnya kemudian pergi.
"Bibi kemana Ke?" tanya Tara. Ganti topik pembicaraan.Tara berpikir pasti Keke tahu keberadaan bibi saat ini.
"Gw juga nggak tahu Dip, sejak subuh tadi, kami nggak lihat Bibi, kalau nggak percaya tanya Sumi," Keke berbohong.
"Tau nggak Dip, di meja makan nggak ada masakan, padahal perut sudah lapar, pasti wanita tua itu sedang enak-enakan karena tidak ada Mama," omel Keke sampai tidak bernapas.
"Tadi subuh masih ada kok, malah membangunkan gw shalat," sanggah Tara.
"Mungkin setelah itu, terus pergi jalan-jalan kali! Nggak bilang-bilang!" Keke nyap-nyap.
__ADS_1
"Tapi aku rasa, nggak mungkin kalau bibi pergi Bang, jika bibi pergi, sandalnya kan hanya ada dua, dan dua-duanya ada di dapur kok," Bulan menengahi.
Keke melirik Bulan melengos kesal. Bang! Bang! dasar wanita udik!"
"Eh, Non Bulan, sudah sampai? Non mencari saya," Bibi mengulas senyum manis pada Bulan, kemudian melirik Keke tersenyum meledek.
"Bibi dari mana?" tanya Tara dan Bulan bersamaan.
"Maaf Tuan muda, saya baru selesai membersihkan gudang," bibi tiba-tiba datang dari arah dapur membuat mata Keke melotot hingga hampir keluar. Ia bingung bagaimana caranya wanita tua ini bisa keluar? tanya Keke dalam hati.
"Bibi... saya tadi di luar sampai dua jam, nggak ada yang bukain pintu," Bulan geleng-geleng kepala.
"Maaf Non, saya nggak kedengaran," alasan bibi masuk akal karena gudang berada di kamar paling belakang.
"Sudah Bi, nggak apa-apa," jawab Bulan santai.
"Memang Sum kemana?" tanya Tara kemudian. Hampir melupakan gadis itu.
"Saya tidak tahu, Tuan," bibi memang tidak tahu apa yang dilakukan anak yang sudah diberi pekerjaan, tapi malah ngelunjak itu. Sumidah adalah tetangga bibi yang ia bawa dari kampung.
"Apa sih maksud Bibi" Bulan dan Tara saling pandang.
Sedangkan Keke, hanya diam, masih syok dengan kejutan pagi ini. Berniat mengerjai bibi, namun mengapa justeru dia yang dikerjain habis-habisan.
Drama Tom & Jerry telah usai, Bulan pun mendorong Tara ke kamar.
"Ibu apa kabar Lan?" Tara kali ini berbicara lembut.
"Ibu baik-baik saja Bang," jawab Bulan setelah membantu suaminya tidur, ia menyingkirkan kursi roda, kemudian duduk di samping Tara.
"Ibu titip salam buat Abang," Bulan berkata. Seketika ingat Fatimah. Andai saja, pernihan ini, seperti pernikahan pada umumnya tentu Bulan akan memperkenalkan Fatimah kepada Maya sang mertua.
__ADS_1
"Bulan... bobo sini," Tara menepuk bantal di sebelahnya.
"Yang benar saja, Bang... pagi-pagi kok, aku di suruh tidur," tolak Bulan beralasan. Jika ditanya mengantuk, jelas iya. Karena tadi malam tidur sampai larut.
"Bulan... aku kangen..." rengek Tara, tanganya ingin menggapai telapak tangan istrinya namun tidak sampai.
Bulan pun menurut merebahkan tubuhnya tidur miring menghadap suaminya.
"Lan, kesini dong, mendekat lagi," Tara menatap Bulan intens. Alisnya terangkat keatas. Pria itu mengatur pola nafasnya menahan hasrat yang sudah selama tiga bulan tidak tersalur.
"Bang..." Bulan meremas telapak tangan Tara lalu menggengam nya. Bulan tahu, apa yang diinginkan suaminya, dan sebenarnya ia tidak boleh menolak karena itu berdosa. Tetapi ia mempunyai alasan lain. Tentu Bulan tidak ingin jika hanya dijadikan pelampiasan hasrat menginginkan tubuh nya, tetapi hati suaminya memikirkan perempuan lain.
"Sebenarnya tujuan Abang menikahi aku dulu karena apa?" Bulan berkaca-kaca.
"Kenapa kamu tanyakan itu Bulan..." dahi Tara berkerut. Hasrat yang menggebu pun menurun.
"Tentu karena aku mencintai kamu," tandas Tara.
"Abang jangan pura-pura lupa, baru seminggu yang lalu, Abang mengatakan akan menikahi Keke. Jujur aku tidak akan memaafkan pria yang sudah lupa dengan komitmen untuk apa tujuan nya dulu menikah." tergambar jelas kekecewaan di wajah Bulan.
Bulan pun memunggungi Tara.
"Maaf Bulan... aku saat itu sedang emosi," jawab Tara lirih.
Bulan pun balik badan kembali menatap Tara.
"Emosi! Abang bilang?! Emosi karena apa? Karena Abang sudah di pengaruhi wanita macam Keke, dan saking percaya nya sama Dia, Abang sampai berniat menikahi Dia kan?!" Bulan menunjuk dada Tara dengan telunjuk.
"Aku heran, kenapa semua orang yang dekat dengan aku bisa percaya begitu saja dengan Keke. Yang pertama Novi temanku, yang kedua Udin sahabatku sejak kecil, dan yang ketiga suamiku sendiri!" Bulan mengeluarkan isi hatinya. Sudah cape selama di rumah ini selalu mengalah.
"Udin?! Kamu ketemu Udin dimana?" raut Wajah Tara berubah menegang.
__ADS_1
*******
...Happy reading....