Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Harus Pergi.


__ADS_3

Rembulan menggoes sepeda kembali pulang. Sampai di rumah menyimpan sepeda di pinggir rumah panggung. Bulan kemudian ke dapur, setelah mengucap salam dari depan namun tidak ada jawaban. Ia mendorong pintu ternyata tidak di kunci.


"Bu" Bulan ke belakang mendengar gemericik air di kamar mandi.


"Kamu sudah pulang Nak, sebentar ya," sahut Fatimah yang sedang tanggung.


Bulan tidak menyahut lalu ambil gelas menuang air dari mug plastik, kemudian meneguknya setelah duduk. Untuk membasahi tenggorokanya yang terasa kering, karena hampir seharian menggoes sepeda.


"Alhamdulillah..." ucapnya lantas membuka tudung saji. Bulan ambil sopotong tempe goreng tepung, lalu menyantapnya.


"Anak ibu lapar?" Fatimah tersenyum kala mendapati putrinya sedang asik mengunyah. Beliu lantas duduk berhadapan dengan putrinya.


"Iya Bu, tadi siang nggak makan," sahutnya disela-sela mengunyah.


"Astagfirlullah... jangan suka terlambat makan Bulan," tandas Fatimah. "Cari duit boleh, tapi... jangan sampai mengabaikan kesehatan," Fatimah mengingatkan.


"Sekarang kamu makan," Fatimah bersemangat melayani putrinya.


"Tidak usah Bu, Bulan ambil sendiri saja," Bulan ambil piring dari tangan Fatimah lalu makan dengan lahap. Beberapa hari ini Bulan memang tidak bisa menahan lapar.


"Nambah ya?" Fatimah tersenyum memandangi Rembulan makan sesuap-demi sesuap hingga tandas.


"Nggak Bu, alhamdulillah... sudah kenyang, aku makan banyak soalnya, masakan Ibu selalu enak," puji Bulan.


"Kamu tadi keliling kemana saja?"


Deg.


Bulan tidak menjawab suasana menjadi sunyi. Ia sedang merangkai kata-kata ingin menceritakan kisahnya hari ini, tetapi ia bingung entah harus memulai darimana.


"Bagaimana jualan kamu hari ini? lancar," Fatimah merasa ada yang aneh pada Bulan, seperti ada yang di pikirkan.


"Anu Bu," Bulan tersenyum getir. Ia menarik napas dulu sebelum akhirnya bercerita.


"Ada apa, sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari Ibu kan," Fatimah sudah tidak sabar.


"Semua dagangan aku hilang Bu, ketika aku sedang shalat, ada yang ambil," wajah Bulan berubah pucat.


"Hilang?" Fatimah terkejut. Dan hanya di angguki Bulan. Bulan pun menceritakan semuanya. Tentang sindiran orang-orang juga.

__ADS_1


"Ya Allah Nak," Fatimah melempar tatapan iba. Netranya sudah penuh dengan air mata.


"Jangan menangis Bu, mungkin ini bukan rezeki kita, kalau kita ikhlas InsyaAllah, kita akan mendapatkan lebih," Bulan menggenggam tangan Fatimah.


"Kamu benar Nak," Fatimah menyusut air matanya.


"Bu, aku punya rencana," kata Bulan. Berbicara masalah lain.


"Rencana apa Nak, jualan lagi? Aku rasa tidak perlu Nak," cegah Fatimah.


"Nggak Bu, tapi aku mau ke Jakarta,"


"Ke Jakarta?" potong Fatimah. Aku nggak setuju!" tegas Fatimah. "Ibu tidak mau jauh dari kamu, Bulan. Kamu tega, membiarkan Ibu di sini sendirian" Fatimah kembali menangis.


"Bu, dengan kita pergi kesana, siapa tahu bisa bertemu Bang Tara, daripada disini terus aku nggak nyaman Bu, selalu di olok-olok tetangga," Bulan ingin menghindar dulu, setidaknya agar suasana desa tenang, baru akan kembali.


"Tentu kita akan kesana berdua Bu, Bulan juga nggak mau jauh dari ibu," Bulan berdiri memutar lalu memeluk Fatimah dari belakang.


"Bulan akan mencari pekerjaan. Lihat Bu, ini ada lowongan pekerjaan," Bulan menunjukkan lapangan pekerjaan yang terpampang di internet.


Fatimah menangkap senyum di bibir putrinya. Yang sudah dua bulan tidak Fatimah lihat. Tidak ada pilihan lain bagi Fatimah selain menyetujui.


"Ya sudah... tapi Ibu nggak mau nganggur. Kalau hanya lulus SMP kira-kira bisa mencari pekerjaan juga nggak?" Fatimah biasa bekerja keras, tentu tidak ingin membebani putrinya.


"Ok... itu kita pikirkan nanti deh, terus... kalau tiba disana nanti kita mau tinggal dimana?" Fatimah tentu berpikir lebih matang pasalnya mereka tidak punya saudara di Jakarta.


"Bulan akan mencari kontrakan melalui internet Bu, agar kita disana nanti, tidak kebingungan," Bulan sudah memikirkan matang-matang.


"Baiklah, tapi kamu coba mencari pekerjaan untuk Ibu ya Nak, kamu kan tahu. Ibu nggak betah kalau nganggur di kontrakan," kata Fatimah memang benar adanya.


"Baik Bu," Bulan menutup pembicaraan.


********


Keesokan harinya, Bulan mendatangi kantor pos di kecamatan. Mengirim lamaran kerja ketiga tempat sekaligus.


Satu minggu kemudian.


"Bu... Ibu..." seru Rembulan dari luar. Setelah membuka paket bersampul coklat yang di antar jasa gojek. Bulan menghampiri Fatimah di dapur yang sedang memasak makan siang.

__ADS_1


"Ada apa, Nak?" Fatimah menyipitkan mata melihat Bulan kegirangan.


"Aku diterima kerja Bu, lusa wawancara, besok kita berangkat ya," Bulan bersemangat. langsung nemplok ke punggung Fatimah memeluknya erat, menempelkan pipinya manja.


Fatimah mematikan kompor lantas balik badan menatap putrinya lekat. Fatimah pikir niat Bulan akan pergi ke Jakarta, hanya karena emosi sesaat, tetapi ternyata benar adanya.


"Secepat itukah?" Fatimah melebarkan mata.


"Iya Bu, kalau kita berangkat besok, kan lusa baru sampai, jadi Bulan bisa langsung wawancara," jawab Bulan.


"Memang kamu nggak cape, kalau langsung wawancara," ada rasa kekhawatiran di wajah Fatimah. Pasalnya perjalanan jauh tentu putrinya akan lelah.


"Kan baru wawancara Bu, belum tentu di terima kerja juga. Tapi Bulan sih, berharap bisa langsung kerja Bu," jawab Bulan meyakinkan Fatimah.


"Terserah kamu Nak, maksud Ibu hanya kasihan sama kamu, kalau sekiranya kamu kuat, Ibu sih, mendukung saja," Fatimah lagi-lagi mengalah.


"Terus mengenai lamaran Ibu bagaimana?" Fatimah pun antusias.


"Untuk sementara ini belum di panggil Bu, yang sabar dulu. Aku kan melamar nggak cuma satu, tapi di tiga tempat," tutur Bulan.


"Oh iya Bulan, terus... yang memanggil kamu sekarang ini, perusahaan di bidang apa, lalu bagian apa?" cecar Fatimah. Sebagai orang tua tentu ingin putrinya mendapatkan pekerjaan yang baik.


Bulan sesaat diam, menimbang-nimbang. Jika ia jujur tentu sang Ibu tidak akan memperbolehkan. Tetapi jika tidak jujur, tentu Bulan tidak hanya membohongi ibunya, tapi juga menyakiti perasaan Fatimah.


"Bulan, kok kamu diam, kamu diterima kerja dimana?" Fatimah menggoyang pundak Bulan.


"Kali ini bukan di perusahaan Bu, melainkan merawat orang cacat," jujur Bulan.


"Apa?! suara Fatimah agak naik.


"Tidak! Bulan! Ibu tidak setuju! Merawat orang cacat itu berat Nak, kamu akan memandikan, menyuapi dan... aaahhh... pokoknya Ibu tidak setuju!" tandas Fatimah.


"Bulan tahu Bu, setidaknya biar aku coba satu bulan dulu, kalau sekiranya nanti berat. Bulan akan mencari pekerjaan yang lain," Bulan menatap Fatimah memohon.


"Cek! Bulan..." Fatimah memandangi putrinya iba. Putri satu-satunya harus merawat orang cacat.


"Ibu... jika menolong orang, pahalanya besar loh, apa lagi merawat orang cacat, pokoknya Ibu tenang saja," Bulan sudah yakin akan keputusannya.


Fatimah pun menyerah, dan akhirnya mereka makan siang bersama. Selesai makan. Bulan istirahat di kamar, sebelum mengepak pakaian yang akan dibawa.

__ADS_1


Bulan membuka galeri melihat pernikahan yang dikirimkan Tara sebelum berangkat dulu.


"Abang... aku akan mencarimu, semoga kita di pertemukan. Allah tidak akan menguji hambanya yang tidak kuat menerima," Bulan mencium lembut foto dalam galeri kemudian masuk ke dunia mimpi.


__ADS_2