Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Pengakuan Mengejutkan.


__ADS_3

Bu Fatimah meletakkan kardus di pinggir jalan menoleh ke belakang, siapa gerangan yang memanggilnya.


"Ibu..." pria hitam manis berjalan cepat ke arahnya. Tampak wajahnya yang kuyu, dan tas ransel nemplok di punggung.


Ia menunduk ketika sampai di depan Fatimah, meremas kedua tangannya tidak berani menatap wanita cantik mirip Rembulan itu. Ibu dari sahabatnya, yang sejak kecil sudah ia anggap seperti ibu kandung nya sendiri.


Bahkan tiap kali Risma sang Ibu kandung sedang bepergian beliau menitipkan dirinya di rumah Fatimah.


Fatimah tidak membedakan antara anak kandung dan anak sahabatnya yaitu Risma.


Pria itu merasa bersalah, karena sudah melukai hati dua wanita yang sudah menyayangi dirinya sejak kecil.


Ya. Dia adalah Komaruddin, sahabat Rembulan dari kecil. Mereka saling menyayangi seperti saudara. Namun seiring berjalannya waktu Komaruddin mempunyai perasaan lain.


Berbeda dengan Bulan. Ia tidak ingin Udin mempunyai perasaan lain yang pada akhirnya akan membuat persaudaraan, dan persahabatan menjadi tidak hangat lagi ketika salah satunya patah hati.


Dan pada akhirnya benar saja, nyatanya Udin tidak mau menerima kenyataan bahwa Bulan tidak mempunyai perasaan kepadanya. Justeru Bulan menikah dengan pria lain yaitu Bumantara.


Udin merasa dunianya runtuh seketika. Membuatnya kalap hingga mudah terprovokasi oleh seseorang yang tidak bertanggungjawab.


"Untuk apa kamu datang kesini?!" Suara Fatimah meninggi satu oktap.


"Sa-saya?" Pria itu pun tiba-tiba memeluk kaki Fatimah yang sedang berdiri di pinggir jalan. Kontan menjadi tontonan orang-orang sekitar.


Sudah pasti di jaman yang canggih seperti sekarang. Drama yang di lakukan Udin, menjadi santapan empuk kamera handphone milik orang-orang yang kebetulan lewat.


"Ikut Ibu!" Fatimah segera masuk ke dalam angkutan.


Udin pun segera berdiri mengusap air matanya dengan punggung tangan.


"Udin cepat!" sungut bu Fatimah. Beliau sudah duduk di mobil angkutan, menunggu Udin yang masih terpaku di tempat. Sebab penumpang lain pun sudah tidak sabar. Bahkan supir angkut sudah memencet klakson beberapa kali.


"Iya Bu,"


Biar bagaimana Fatimah tidak ingin Udin menjadi tontonan orang-orang. Walupun beliau sudah kecewa dengan sikap Udin yang sudah menyakiti hati putrinya.


Udin pun mengikuti Fatimah, di dalam mobil keduanya saling diam.


"Minggir Pak Supir," ujar Fatimah karena mobil sudah sampai gang ke arah kontrakan.


"Terimakasih Pir," ujar Fatimah, setelah membayar ongkos 5 ribu untuk berdua, sebab jarak dari agen ke kontrakan tidak jauh.


"Bu, biar Udin yang membawa kardus nya,"


"Tidak usah! Ibu bisa sendiri!" ketus Fatimah seraya berjalan mendahului Udin.


"Ibu..." suara Udin serak. Ia segera mengejar Fatimah.


"Bu... biar Udin yang bawa ya," Udin menghadang langkah Fatimah mengambil alih dua kardus dari tangan beliau.


Fatimah pun membiarkan Udin membawa kardus, hingga sampai di kontrakan.

__ADS_1


Fatimah membuka pintu kemudian masuk tanpa mempersilahkan Udin.


"Bu..." Udin berdiri di depan pintu kedua tanganya masih membawa belanjaan.


"Kamu mau diam di situ sampai kapan?! Masuk!" Fatimah mendengus kesal kemudian ke dapur tak urung membuat dua gelas teh manis.


Sementara Udin, meletakkan kardus di samping etalase. Ia memindai sekeliling. Di ruang tamu kontrakan sudah ada satu etalase, dan satu rak.


"Ibu mau jualan?" tanya Udin. Ketika Fatimah sudah keluar membawa teh.


"Pertanyaan tidak penting! Sekarang jawab, kenapa kamu sampai disini?!


Udin membuka ransel yang ia gendong meletakkan di lantai, kemudian duduk bersandar di tembok.


Fatimah menatap Udin tampak lelah tergambar di wajahnya. Sebenarnya merasa kasihan, tapi ingat perlakuan Udin pada putrinya tampak kesal.


"Diminum teh nya," Suara Fatimah sudah terdengar lebih lembut.


"Terimakasih Bu," Udin menyeruput teh sedikit, sebenarnya masih panas.


"Bu, Udin sampai mengejar Ibu kesini mau minta maaf." Udin mulai bertutur.


"Darimana kamu tahu saya tinggal disini?"


"Sebenarnya ketika Ibu dengan Rembulan hendak berangkat, Udin mengikuti sampai di depan kecamatan,"


"Terus?"


"Saat itu, Udin sedih Bu, setelah Ibu dengan Bulan pergi, hidup Udin menjadi tidak tenang. Udin sudah kelewatan, tidak hanya menyakiti Bulan, tapi juga hati Ibu. Maafkan Udin Bu," Udin menitikkan air mata.


Tangan Fatimah terangkat ingin mengusap kepala Udin, tapi menurunkan kembali.


"Bangun Udin!" sungut Fatimah ternyata sulit sekali hatinya memaafkan pria yang sudah seperti anaknya sendiri.


Udin pun mengangkat kepalanya.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Ibu, darimana kamu tahu saya tinggal di sini?" cecar Fatimah.


"Saya minta alamat sama Bang Abu," Udin pun menceritakan. Awalnya Abu bersikukuh untuk tidak memberikan alamat, tapi Pak Umar akhirnya kasihan akan kesungguhan Udin.


"Saya sudah memaafkan kamu, sekarang minum teh nya, terus pergi dari sini!" usir Fatimah. Sebenarnya Fatimah tidak sampai hati, tapi lagi-lagi ingat perlakuan Udin yang sudah keterlaluan kepada Bulan. Fatimah sulit percaya.


"Bu, jangan usir Udin, Udin akan ceritakan semuanya, kenapa Udin sampai berbuat nekat," Udin menggenggam tangan Fatimah.


"Lalu kenapa kamu sampai kesetanan seperti dua Bulan yang lalu Din?!" Fatimah mendelik gusar.


"Udin di suruh orang Bu," lirih Udin menunduk meremas kedua tangannya.


"Di suruh orang?! siapa yang menyuruh Din?!" Fatimah mengguncang pundak Udin. "Jawab Din?!"


Fatimah pun menangis ingat ketika bulan ingin di lecehkan, terlebih yang melecehkan adalah Komaruddin orang yang sudah di percayai agar menjaga putrinya.

__ADS_1


Flashback on.


Di pinggir sawah Udin sedang galau melempar batu-batu kecil ke genangan air. Padahal saat ini sahabatnya sedang melaksanakan ijab kabul. Namun Udin tidak menghadiri acara tersebut. Ia memelih menyendiri.


"Hai" datang seorang gadis menghampiri.


"Hai," Jawab Udin melirik sekilas kemudian memandangi ikan-ikan cere yang sedang berenang di selokan.


Wanita itu duduk di sebelah Udin tanpa permisi.


Udin merasa risi kemudian menggeser duduknya.


"Kamu pasti sedang sedih kan, karena gadis pujaan kamu telah menikah?" wanita itu ternyata membaca pikiran Udin.


"Sok tahu!" ketus Udin.


"Hihihi... jangan pura-pura, jika kamu mau, kita bisa bekerja sama, agar kita mendapatkan orang yang kita sayang, bisa kembali ke pangkuan kita," wanita itu menyeringai.


"Kerja sama?" Udin rupanya tertarik.


"Iya, kerjasama," wanita itu mengulangi ucapanya.


"Caranya?" Udin sudah tidak sabar.


"Gampang!" wanita itu tertawa jahat membuat Udin ngeri.


"Cabuli Rembulan, kalau bisa, sebelum dia sempat tidur dengan Dipta."


"Apa?! Kamu gila! Tidak! Saya tidak mau!" tegas Udin beranjak pergi.


"Haitt... tunggu dulu," wanita itu mencekal lengan Udin.


"Lepas! Kamu wanita jahat!"


"Jangan ngambek dulu dong..." wanita itu tersenyum licik.


"Percaya dech sama saya, hanya dengan cara itu, kita bisa mendapatkan orang yang kita cintai."


"Tidak! Dasar kamu wanita Iblis!" Udin pun benar-benar pergi.


Hari-hari berikutnya wanita itu terus mendekati Udin agar Udin melakukan hal yang tidak senonoh.


Entah setan darimana yang menempel di tubuh Udin. Hingga Udin terhasut oleh kata-kata wanita itu.


Sudah dua kali Udin, akan melakukan kelakuan bejatnya, namun bukan Rembulan jika tidak bisa melawan.


Flashback off.


"Plak,"


Satu tamparan mendarat keras ke pipi Udin. "Brengsek kamu Udin!"

__ADS_1


********


"Satu jempol mu, sangat berati bagi penulis. Dengan jempol akan membuat penulis semakin semangat. "Mana jempol, mana jempol 🤣🤣🤣💪💪💪❤❤❤.


__ADS_2