Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Mendadak Doyan Tempe.


__ADS_3

"Kaliaaaannnn???" pekik seorang wanita setengah baya yang memergoki Tara menindih tubuh Rembulan.


"Bibi..." kata Tara dan juga Rembulan.


"Bi... tolong bangunkan kami," kata Tara menoleh bibi yang masih terpaku di tempat. Tara tentu tidak bisa bangun.


Sedangkan Bulan tenggorokanya tercekat, lidahnya kelu untuk bicara. Ia berusaha untuk bangun, tapi mana mungkin? Tubuh Tara terasa berat.


"Oh iya, maaf Tuan muda, saya tadi sudah berani berteriak," kata bibi seraya menarik pundak Tara, dari tubuh Rembulan. Rembulan pun segera bangun dan ikut membantu bibi menarik roda dan membantu suaminya duduk.


"Tidak apa-apa Bi, tapi jangan katakan hal ini pada Mama," kata Tara dingin. Membuat Bulan kesal. Sampai kapan Tara akan menyembunyikan pernikahanya kepada orang tuanya.


Bulan kemudian beralih menatap bibi. "Terimakasih bi, saya minta maaf atas kejadian tadi," Bulan tampak menahan rasa malu.


"Kan benar, kamu naksir Tuan muda," bisik bibi mengulum senyum.


"Nanti Bulan ceritakan Bi, saya ke kamar dulu," Bulan segera mendorong kursi roda masuk, setelah membersihkan baju putihnya yang kotor.


"Aku ambilkan Abang minum dulu," ujar Bulan setelah sampai di kamar.


"Jangan lama-lama Bulan," pesan Tara.


"Kenapa kalau lama?!" ketus Bulan masih kesal, karena Tara tidak mau menceritakan pada orang tuanya, bahwa dia adalah istrinya.


Bulan ambil minum tidak lama kemudian sudah kembali, membawa nampan yang berisi susu untuk kesehatan tulang dan cemilan.


"Bulan... untuk makan siang nanti, aku minta kamu masak sayur kacang panjang ya," kata Tara tidak menatap Bulan.


Bulan terkejut memandang wajah Tara yang sedang menyeruput susu. "Abang yakin?" Bulan senang berarti suaminya masih mengingatnya walaupun hanya sedikit.


"Terus apa lagi?" Bulan bersemangat.


"Goreng tempe, terus nyambel mentah," yang dimaksud Tara tempe penyet yang sering Bulan masak ketika di kampung.


"Siap bos!" Bulan segera keluar rasa bahagianya membuncah. Aneh memang, belum ada 15 menit tadi marah, tapi kini sudah kegirangan. Cinta memang mengalahkan segalanya.


"Bibi... ada stok kacang panjang, tempe, sama cabe, nggak?" tanya Bulan ketika sampai di dapur.


"Nggak ada Neng, kalau tahu sih ada, memang buat apa?" tanya bibi.


"Tuan Muda, minta dimasakin tumis kacang panjang Bi," tergambar kegembiraan di wajah cantik Bulan.


"Masa?" Dahi bibi berkerut. Selama menjadi ART disini belum pernah masak seperti itu.


"Di ujung jalan, ada tukang sayur mangkal Neng, biar Sumi yang membeli," kata bibi.


Bibi segera manggil Sumi, tapi Sumi menolak. "Nggak mau, kerjaan saya masih banyak!" sungut Sumi menatap Bulan sekilas kemudian melengos kesal meninggalkan bibi.

__ADS_1


"Biar saya saja Bi" Bulan lagi-lagi bersemangat.


"Jangan Neng, nanti kalau Tuan, butuh sesuatu bagaimana," cegah bibi. Namun Bulan segera berlalu lewat pintu depan mencari tukang sayur.


Tidak disangka, tidak perlu jauh-jauh begitu keluar pagar, tukang sayur sudah dikerubuti ibu-ibu.


"Mas, ada kacang panjang?" Bulan memindai gerobak.


"Ada Dek" suara tukang sayur medok kas orang jawa. Para ibu-ibu serentak memandangi Bulan. Bulan mengukir senyum menganggukan kepala kepada mereka.


"Walaaahh... ayune reeek..." tukang sayur berdecak kagum.


Bulan beralih menatap tukang sayur yang memandangnya hingga bola matanya hampir keluar. Namun Bulan tidak menghiraukan, segera ambil satu papan tempe, juga cabe, dan kacang panjang.


"Berapa Mas?" tanya Bulan mengejutkan tukang sayur.


"Rong puluh hewu, Dek,"


Bulan segera membayar kemudian kembali ke dapur.


"Ada sayurnya Neng, kok cepat?" tanya bibi.


"Ada Bi, nggak tahunya tukang sayur nya kebetulan lewat di depan," Bulan menurunkan sayur dari plastik kemudian mencuci kacang panjang.


"Neng, tadi kan kamu bilang mau cerita sama saya, kamu jadian ya, sama Tuan muda?" bibi menagih janji Bulan.


Bulan yang sedang mengupas bawang menarik napas panjang. "Bi sebenarnya..." Bulan ingin bicara tapi terasa berat, lalu diam beberapa saat.


"Sebenarnya Bang Dipta itu suamiku bi," Bulan menunduk.


"Apa Neng? Suami?" bibi menganga lebar.


Bulan mengangguk lalu menceritakan pernikahannya dengan Tara tidak ada yang ia tutup-tutupi.


"Alhamdulillah Neng, bibi senang mendengarnya, kalian ini pasangan yang cocok" puji bibi.


Bulan tersenyum kecut.


"Awalnya bibi kira kalian pacaran Neng, sebab bibi melihat Neng merawat Tuan, tidak seperti perawat pada umumnya," tidak jarang bibi memergoki Tara selalu memberi sentuhan mesra pada Rembulan.


"Tapi... sekarang, Bulan bingung Bi, entah harus bersikap bagaimana. Bibi kan tahu, Keke selalu menggoda Abang," Bulan yang sedang mengiris bawang menitikan air mata.


"Iya, ya Neng, bibi sebel sama Dia, lagian, saya bingung dengan keluarga ini, belum menikah kok sudah mengizinkan Keke tinggal disini," omel bibi.


"Bukan hanya itu masalahnya Bi, mengapa juga... Tara tidak mau jujur dengan orang tuanya, kalau saya ini istrinya." Bulan menyusut air matanya.


"Yang sabar Neng, mungkin Tuan melakukan itu, ada alasanya," bibi mengusap bahu Bulan.

__ADS_1


"Terimakasih ya Bi, karena bibi sudah mau mendengarkan cerita aku, aku sedikit lega Bi," pungkas Bulan.


Bibi memandangi wajah Bulan, sendu. Sesama wanita tentu bibi merasakan kepedihan, seperti yang Bulan rasakan.


Bibi melanjutkan pekerjaan. Sementara Bulan menumis kacang panjang, setelah matang menggoreng tempe, kemudian membuat tempe penyet.


*********


Siang harinya saat makan siang, Maya memperhatikan putranya makan dengan lahap hingga nambah.


"Dipta, sejak kapan kamu suka Tempe?" tanya Maya.


"Sejak KKN Ma," Tara mengangkat kepalanya sebentar menatap Maya, kemudian kembali fokus makan.


"Sukurlah... kalau kamu sekarang suka tempe, tempe itu makanan bergizi," Maya tersenyum.


"Ya wajar lah, kalau dekat orang rendahan, pasti selera Dipta ketularan rendah, ini pasti Bulan yang menyiapkan makanan seperti ini!" pangkas Keke sombong.


"Uhuk! Uhuk!" Bulan tersedak.


"Keke... kamu tidak boleh, bicara begitu," Maya menasehati Keke.


"Minum," Tara mendekatkan gelas miliknya di depan Bulan. Tanpa berpikir Bulan pun meneguk minuman milik Tara.


Maya memperhatikan dengan dahi berkerut. Maya merasa aneh dengan putranya. Mendadak doyan tempe dan yang lebih mengejutkan. Putranya minum satu gelas dengan Bulan. Apa mereka ini pacaran? Tetapi, masa iya? bertemu baru seminggu yang lalu, langsung jatuh cinta.


"Bulan... selesai makan, kamu menebus resep ke apotek ya, Biar Dipta bersama saya," Maya memecah keheningan. Saat Bulan pergi nanti. Maya akan bertanya pada putranya ada hubungan apa dengan Bulan.


"Baik Nyonya,"


Selesai makan siang, Bulan istirahat sebentar.


"Bang, aku berangkat dulu ya," pamit Bulan. Salim tangan Tara.


"Jangan lama-lama," begitulah pesan Tara tiap kali Bulan hendak keluar dari kamar sekalipun.


"Iya, paling dua jam," Bulan tersenyum miring. Ketika hendak melangkah, Tara mencium istrinya lebih dulu.


Bulan numpang ojek online ke apotek sesuai alamat yang tertera di resep. Motor berjalan sedang, tidak lama kemudian, ia sampai di depan apotik xxx.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria, yang mengenakan seragam apotek kepada Bulan.


"Kamu?"


"Kamu?"


Keduanya sama-sama terkejut.

__ADS_1


...****...


... Happy reading. ...


__ADS_2