
Pemuda yang awalnya bertubuh atletis itu kini menjadi kurus kering. Cedera otak paska kecelakaan yang menyebabkan koma hampir tiga bulan tidak menyangka bahwa pria itu akan bertahan.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya wanita paruh baya itu.
"Alhamdulillah... sungguh keajaiban dari Tuhan Bu," jawaban dokter sungguh melegakan mami pemuda itu. Doa-doanya kini telah terkabul setelah penantian panjang.
"Nanta... Mami senang, kamu sudah sadar Nak," wanita itu kembali memeluk putra nya. Setelah dokter melepas semua alat-alat yang menempel di tubuh Ananta.
Ya. Pria itu adalah Ananta sahabat Tara yang masih diberi kesempatan diantara puluhan teman-teman yang lain.
"Tara..." lirih Nanta. Ia ingat sahabatnya yang tidak pernah berpisah itu. Bahkan Nanta sering menginap di rumah Tara.
"Tara juga masih sakit seperti kamu Nak, makanya kamu cepat sembuh agar bisa menjenguk, dan menginap disana lagi, ya," tutur mami mencium lembut tangan yang hanya berbalut kulit nyaris tak ada dagingnya sungguh menyedihkan.
"Memang kami kenapa Mi?" Ananta belum sadar sempurna jadi belum bisa mengingat apa yang terjadi.
"Sudahlah... kamu jangan banyak berpikir dulu, jika kamu sudah lebih baik pasti akan ingat semuanya," hibur mami.
Setelah beberapa jam kemudian Nanta dipindahkan ke ruang rawat. Kenapa harus orang-orang baik seperti Tara dan Ananta yang di berikan cobaan terlalu berat. Bukan Keke yang jelas berakhlak buruk. Namun semua itu adalah rencana Nya.
******
"Maafkan kami Lin, ternyata anak-anak kita belum berjodoh." Maya menceritakan tentang pernikahan Tara dengan Bulan yang sudah lima bulan yang lalu.
"Ya sudah May, sedikit demi sedikit aku akan memberi pengertian pada Keke," Herlina berpikir wanita seperti apa yang sudah bisa mengalahkan Keke yang notabene adalah wanita cantik, dan berkelas.
"Terimakasih Lin, semoga Keke mendapat jodoh yang lebih segalanya," Maya sedikit lega karena sahabatnya mengerti.
Herlina menunduk sebenarnya tidak tega dengan putrinya. Jika di suruh memilih antara sahabat dengan anak tentu akan memilih anak. Namun begitu Lina juga tidak terima jika putrinya diduakan oleh Tara.
"Tetapi yang membuat aku kecewa kenapa art di rumah kamu itu, semua memusuhi Keke, May?" Lina mengangkat kepala.Tertangkap rasa kecewa di mata Lina.
Bisma yang sejak tadi diam pun akhirnya menoleh cepat ke arah Lina.
"Sebenarnya tidak seperti yang kamu pikirkan Lin, bibi itu sudah bekerja sama aku selama 9 tahun," Maya menatap sahabatnya. Pasti Keke sudah melebih-lebihkan cerita.
"Jadi... bibi tidak akan mungkin berbuat macam-macam Lin," pungkas Maya.
Maya bersama Bisma akhirnya pamit pulang setelah meluruskan permasalahan yang ada. Maya menatap sendu wajah Lina yang sepertinya belum menerima keputusan ini. Tetapi bagi Maya, entah menerima dengan ikhlas atau tidak sahabatnya. Namun keputusan Maya pun tidak bisa di ganggu gugat.
*******
__ADS_1
"Alhamdulillah... Ananta sudah sadar dari koma Lan," Tara mengucap syukur setelah membaca chat dari salah satu teman kuliah.
"Kak Ananta? Jadi... sahabat Abang itu mengalami koma?" Bulan terkejut. Selama ini suaminya tidak pernah bercerita apapun tentang sahabatnya.
"Iya, besok kita menjenguk ke rumah sakit, Lan," selama Ananta di ruang ICU. Tara belum pernah menjenguk mengingat keadaannya yang tidak memungkinkan.
"Ya Bang," sahut Bulan.
"Abu... besok antar kami menjenguk Ananta," perintah Tara.
"Baik Tuan" jawab Abu yang sedang menyetir saat ini mereka hendak menjemput bu Fatimah.
"Ananta itu yang orangnya humoris itu Tuan?" tanya Abu. Abu tak kalah terkejut jika pria ramah itu mengalami koma.
"Iya, kamu mengenalnya?" Tara balik bertanya.
"Waktu membuat saluran air kami pernah ngobrol Tuan, kata-kata Ananta sering membuat orang-orang kampung tertawa," tutur Abu.
"Benar kata Kak Abu, aku juga sering di ajak bercanda sama Dia," sambung Bulan.
"Kamu senang kan diajak bercanda sama Dia," Tara posesif. Tara ingat ketika itu Ananta juga menaruh hati pada Bulan.
"Senang sih, tapi setiap ucapan kak Nanta langsung di patahkan seseorang," sindir Bulan.
"Orang nya, sekarang ada di mobil ini," jawab Bulan.
"Di mobil ini ada dua orang loh," Tara merapatkan kepala istrinya ke pundaknya.
"Dua-duanya," Bulan melirik Abu di kaca spion yang sedang tersenyum.
"Kamu mulai berani ya? Ada suami di sebelah, tapi berani melirik pria lain," Tara memegang kepala Bulan. Ketika berhadapan mencium bibir merah alami itu lembut.
"Astagfirlullah..." Abu yang menangkap adegan orang dewasa itu menatap lurus ke depan.
Tara masih juga belum menyadari jika di depan ada pria yang sedang memperhatikan mereka. Namun begitu Abu bersyukur jika wanita yang di cintai dalam diam itu telah menemukan kebahagiaan.
"Huacih!" suara bersin Abu mengejukan pasutri. Bulan reflek mendorong dada Tara.
"Abang ih! Malu tahu!" sungut Bulan. Tara terkekeh.
"Kak Abu, ada salam" Bulan berucap ingin menyembunyikan rasa malu, karena Abu menonton adegan film yang Tara putar.
__ADS_1
"Salam dari siapa Lan?" tanya Abu bingung. Ia merasa disini belum mengenal wanita.
Tara pun menatap istrinya ingin tahu juga siapa wanita yang menyukai Abu. Jika Abu sudah bisa muve on dari Bulan tentu Tara merasa lega. Tara tahu, tatapan Abu pada Bulan bukan sekedar seorang sahabat.
"Wanita yang paling dekat dengan Kakak saat ini siapa?" Bulan sengaja memancing apakah Abu juga menyukai Sum.
"Kamu ini Lan, aku disini belum ada sebulan, belum mengenal wanita manapun kecuali..." Abu menghentikan ucapanya.
"Kecuali siapa? Hayo?" cecar Bulan.
"Kecuali... Sumidah kan? Hihihi..." Bulan cekikikan.
"Bulan..." Abu menggaruk tengkuknya dengan kanan kiri sedangkan tangan kanan fokus dengan setir.
"Sumidah suka sama Abu Yank," Tara menimpali.
"Iya" Bulan menoleh Tara yang memainkan jari jemari Bulan.
"Kamu ini ada-ada saja, Bulan..." Abu geleng-geleng kepala.
"Kak Abu, Sum itu orang baik loh, memang sih... Dia kadang masih mudah dihasut, karena usianya masih sangat muda. Tapi jika diberi pengertian ia tipikal wanita yang patuh," Bulan menjadi ingat ketika baru sampai di rumah Tara, dianggap musuh oleh Sumidah. Tetapi karena Bulan tidak melawan justeru memberi perhatian kepadanya. Sumidah menjadi sangat baik kepada Bulan.
"Sudah sampai Bulan," pungkas Abu. Berhenti membahas Sum. Mereka saat ini sudah sampai di kontrakan Fatimah.
"Bulan... Kak Tara..." sapa Udin. Kali ini ia ada di rumah sebab Udin bekerja shift malam. Seperti biasa sedang menjaga warung bu Fatimah.
"Ibu ada Din?" Bulan sudah tidak sabar ingin segera bertemu wanita yang melahirkan itu.
"Ada Lan, sedang memasak. Masuk Kak Abu," imbuh Udin.
"Terimakasih," Tara mendorong roda menyusul istrinya yang sudah ngibrit ke belakang.
"Kamu nggak kerja Din?" tanya Tara ketika Udin berjalan ke arahnya.
"Nanti malam Kak," jawab Udin. Mereka menunda obrolan karena Abu segera menyusul ke dalam. Ketiga pria yang awalnya berselisih karena merebutkkan Bulan itu kini berbincang akrab.
"Minum dulu," Bulan membawa nampan berisi 6 gelas teh manis. Di ikuti bu Fatimah.
"Nak Tara sudah lebih baik Nak?" tanya Fatimah perhatian.
"Sudah Bu, tinggal pemulihan," mertua dan menantu itupun berbincang-bincang.
__ADS_1
Sementara Bulan ngobrol berdua dengan Udin di depan etalase sambil melayani pembeli.
"Permisi," datang pria tampan, gagah berwibawa, kira-kira berusia 40 tahun berjalan mendekati warung. Pria itu berpakaian mewah berjas dan berdasi lengkap. Tampak mobil di parkir di depan kontrakan yaitu mobil miliknya.