
"Keke! Kenapa loe tidur di ranjang gw? Kemana Rembulan?" Tara kebingungan ingin cepat turun, tapi tidak bisa karena kursi rodanya berada di dekat sofa. Tara tentu tidak ingin jika sampai Rembulan salah sangka.
"Sumi! Cepat bawa roda itu kesini!" perintah Tara.
"Baik Tuan," Sumi yang masih memegang sapu lidi secepatnya menjatuhkan ke lantai. Beberapa langkah kemudian, menyadak Kursi roda dan membantu Tara pindah dari ranjang.
Keke yang marah akan kegagalanya untuk mencicipi dada Tara, masih terpaku di ranjang. Melempar tatapan sinis ke arah Sumidah.
"Loe cepat keluar dari kamar gw! Ke!" bentak Tara. Mengejutkan lamunan Keke.
Seketika Keke loncat dari ranjang, menarik lengan Sumidah dengan kasar membawanya ke luar.
"Brak!
Keke menutup pintu kamar Tara dengan kasar.
Tara masih syok dengan apa yang terjadi. Rasa takut Bulan akan salah sangka mendononasi pikiranya.
******
"Plak!" satu tamparan singgah di pipi chuby Sumidah.
"Loe tadi berkata apa sama gw? Coba ulangi!" Keke marah besar kata ja-lang, yang terlontar dari mulut Sum masih terngiang di telinga.
"Maaf Non, lidah saya kepleset," kilah Sumi.
"Berani sekali loe sama gw Sum?!" Keke menatap Sumidah dengan amarah yang membara. Selama ini sudah memberi banyak uang untuk Sumi agar Sumi selalu menurut, tapi kini ternyata Sumi berkhianat.
"Maaf Non, sa-... saya..." Sumi hanya menunduk tidak berani menatap Keke.
"Loe ternyata pengkhianat Sum! Kembalikan uang gw! Yang sudah gw kasih ke loe!" Keke tidak main-main.
"Ma-... maaf Non," Sumi ketakutan. Mana bisa ia mengembalikan uang sebanyak tiga juta, yang sudah ia kirimkan pada ambu untuk daftar sekolah adik nya.
"Cepat kembalikan!" bentak Keke, menjambak rambut Sumi yang di kuncir kuda.
"Tolong Non, ampuni saya Non" Sumidah pun menagis. Tangan Keke menjambak semakin kencang.
"Hentikan! Ada apa ini?" Bulan yang sudah tampil cantik, baru selesai mandi mendekat.
"Non Bulan, tolong saya Non," kata Sumi memelas.
"Lepaskan Ke!" Bulan mengulangi.
Mendengar bentakan Bulan, Keke melempar tatapan sinis pada Bulan. Tangannya semakin mencengkeram rambut Sumi.
"Tidak usah ikut campur loe! Ini urusan hutang piutang," Keke berdalih.
"Berapa hutang Sumidah semua, akan saya bayar, tapi lepaskan Dia," tandas Bulan.
"Hahaha... sok jadi pahlawan!" Keke tertawa meremehkan.
"Cepat katakan Ke!" Bulan melihat Sumidah tampak kesakitan ingin segera membebaskan dari cengkeraman wanita seperti Keke.
"Ini gara-gara loe!" Keke menunjuk dada Bulan. Setelah melepas cengkeraman tanganya dari kepala Sumidah.
__ADS_1
"Gara-gara saya? Dimana salah saya?" dahi Bulan berkerut.
"Jangan banyak tanya! Seperti janji loe, kembalikan uang gw sekarang," Keke sudah tidak sabar.
"Baik!" Bulan melenggang pergi ke kamar. Ambil uang simpanan yang ia bawa dari kampung. Uang itu akan ia pergunakan jika ada kebutuhan mendadak. Namun nyawa Sumi lebih penting. Bulan tahu Keke orang yang nekat bisa berbuat kejam.
Setelah mendapatkan yang dicari, Bulan pun kembali melihat Keke tampak menuding-nuding Sumi sepertinya memaki-maki.
"Ini uang Kamu," Bulan mengangkat telapak tangan Keke lalu menempelkan uang tersebut.
Keke membuang wajah kasar, lalu pergi dari situ.
"Terimakasih Non," Sumi menunduk meremas baju yang ia kenakan. Menyembunyikan rasa malu di wajah. Betapa tidak? Ia sudah berbuat dzolim pada Bulan. Namun ternyata Bulan justeru yang menolongnya tanpa pamrih.
"Sebenarnya ada apa Sum?" Bulan memecah lamunan Sumi. Tidak mungkin jika hanya semata-mata masalah uang yang membuat Keke murka. Pikir Bulan.
Sumidah menceritakan semuanya tentang perbuatan Keke pada Tara.
Flashback on.
Di dalam angkutan, bibi gelisah memikirkan Tara dan Bulan. Ia lupa memberi tahu Bulan, agar mengunci kamar Tara dari luar.
Beliau membuka dompet besar, dompet mak-mak red. Ambil hp jadulnya kemudian menghubungi Bulan. Bagusnya begitu Bulan kembali dari rumah Fatimah kemarin, bibi segera minta nomor hp kepadanya.
Tiga kali panggilan, Bulan tidak juga mengangkat telepon. Bibi kemudian beralih ke nomer Sumidah.
"Hallo Bi,"
"Hallo Sum,"
Sumidah bergegas ke kamar tuan muda.
Flashback off.
"Apa? Jadi Keke mau berbuat kurangajar sama Tara?!" sungut Bulan.
"Begitulah Non," jawab Sumi.
Bulan bergegas ke kamar Tara, dengan raut wajah kesal.
Kali ini Bulan tidak memakai seragam, karena Tara tadi malam sudah berpesan agar jangan mengenakan baju itu lagi.
"Bulan..." sapa Tara. Menatap wajah Bulan yang terlihat kesal takut sendiri. Pasti Bulan sudah mengetahui kejadian tadi. Pikir Tara.
"Kalau aku nggak ada, Abang suka berbuat apa, sama Keke?!" sungut Bulan kemudian menyandak roda yang sudah di duduki oleh Tara. Hendak mendorong nya ke kamar mandi.
"Aku sudah dari kamar mandi Bulan," ucap Tara.
Bulan menghentikan langkahnya.
"Abang sudah bisa ke kamar mandi sendiri?" Bulan mendengar perkataan Tara sejenak melupakan marahnya.
Tara mengangguk.
"Iya, bahkan aku sudah shalat kok,"
__ADS_1
"Alhamdulillah..." Bulan tersenyum berjongkok di depan Tara dan telungkup di dua lutut suaminya.
"Tara mengusap lembut kepala istrinya.
"Bulan... kamu pasti sudah tahu kejadian barusan, sumpah! Aku nggak tahu, kalau Keke masuk," tutur Tara.
Bulan mengangkat kepala nya, menatap wajah Tara. Sebenarnya ia sudah tahu karena Sumi sudah menceritakan semuanya. Dan Bulan percaya pada sumi.
"Tapi kemarin-kemarin ketika aku nggak ada, Keke selalu keluar masuk kamar Abang kan?!" Bulan cemberut.
"Jujur iya Bulan, tapi saat itu, Keke tidak pernah berbuat seperti itu, hanya setelah ada kamu disini sikapnya semakin tidak terkendali," tutur Tara.
"Tapi waktu aku baru datang kesini, Keke keluar dari kamar Abang, terus memanggil Nyonya Maya. Mama lagi," adu Bulan posesif.
"Nggak tahu itu anak, tiba-tiba merubah panggilan Mama." Tara memang tidak tahu.
"Bulan... selama ini aku hanya memikirkan kamu, terus kenapa jika ada perawat sebelum kamu datang, aku selalu marah-marah. Karena aku nggak mau di sentuh wanita lain," jujur Tara.
"Tapi waktu itu Abang menyebut Keke calon istri, aku keseelll..." Bulan melengos.
"Iya, karena waktu itu aku kesal, Keke bilang, kamu selingkuh dengan Abu," terlukis penyesalan di mata Tara.
"Iya, terus Abang percaya, begitu saja. Asal Abang tahu, Keke terobsepsi ingin memiki Abang, jadi begitu, Bang, menghalalkan segala cara." Bulan bercerita panjang lebar.
"Sejak kita baru menikah, Keke selalu marah padaku, tapi aku pikir buat apa aku meladeni, toh tidak ada gunanya," Bulan memang tidak pernah bercerita tentang Keke yang selalu menghina ketika di kampung dulu.
"Sayang..." panggilan itu terucap lagi dari bibir Tara. Membuat Bulan senang. Jujur Bulan merindukan panggilan itu.
"Kita mulai dari awal, aku akan perbaiki semua, tolong yang sabar menerima keadaan aku yang seperti sekarang ini," Tara menekan dua pipi Bulan dengan kedua telapak tangan menatapnya lekat. Wajah yang selalu ia pikirkan jika siang, dan selalu ia mimpikan ketika malam.
"Abang..." Bulan menenggelamkan wajahnya di dada Tara.
"Tolong bantu aku ke tempat tidur Bulan," ucap Tara.
"Apa tidak sebaiknya kita jalan-jalan di luar Bang," cegah Bulan.
"Nanti saja, masih jam 5 30 menit kok," Tara melirik jam dinding.
"Iya." Bulan mendorong roda ke sisi tempat tidur membantu suaminya merebahkan tubuh nya.
"Bulan..." Tara mengalungkan tangan ke tengkuk istrinya.
Bulan memandang mata sayu suaminya. Tampak Tara sedang mengingkan sesuatu.
Sebagai istri Bulan mengerti.
Si kobra pun siap menyerang mangsanya yang sudah ia ancam selama seminggu.
Si Kobra berhasil menyemburkan bisanya di tubuh Bulan. Hingga akhirnya jatuh terkulai di dada Bumantara.
🤣🤣🤣.
"Minggiiirr... si Kobra mencari sasaran yang lain."
*****
__ADS_1
...Happy reading....