Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Tamu Pagi.


__ADS_3

Rasanya seperti dihadang ular di tengah perjalanan. Itulah gambaran yang dirasakan Bulan ketika baru tiba di depan kontrakan mendapati musuh yang akan dihindari, tapi justeru tinggal bersama ibunya.


"Bulan..." lirih Udin menatap sahabatnya yang bergeming di depan kontrakan.


"Dasar manusia penjilat! Ternyata kamu mendekati ibuku agar mendapatkan kesempatan untuk mengganggu hidupku?!" tergambar jelas kekecewaan di mata Rembulan.


"Bulan... masuk dulu, nanti aku ceritakan kenapa aku melakukan itu," Udin ingin menggapai tangan Bulan tapi di tepis, lalu Bulan segera ke dalam.


Tanpa berkata sepatah katapun Bulan segera ke kamar mencari Fatimah namun kosong, kemudian ke dapur juga kosong.


"Ibu sedang ke masjid Bulan," Udin ternyata mengejar ke dapur.


"Dasar! Pria nggak tahu malu!" Bulan menatap geram wajah Udin.


Udin sama sekali tidak menjawab, ia memang sudah bersalah. Apapun yang akan dilakukan sahabatnya, Udin sudah siap menerima konsekwensinya.


Bulan membuka pintu belakang kemudian keluar tampak pakaian yang baru saja dicuci sudah berjajar rapi di jemuran tambang.


Sedangkan Udin menyalakan kompor memasak air kemudian membuat tiga gelas teh manis.


"Bulan... diminum dulu, aku sudah buatkan teh," Udin menghampiri Bulan ke belakang. Namun Bulan tetap mendiamkan sahabatnya, dan ingat perlakuan Udin dua bulan yang lalu, masih segar dalam ingatan. Bulan hanya membuang wajah kasar.


"Beliii..." terdengar suara orang dari depan.


"Aku tunggu di depan ya Lan, sepertinya ada orang yang mau beli," dengan gayanya yang gesit jika melakukan apapun, Udin segera melayani pembeli.


"Mau beli apa Bu?" Udin bertanya pada seorang ibu yang memakai daster menunggu di depan etalase.


"Saya mau beli Kafein sama nikotin," jawab pembeli.


"Nikotin merk apa Bu?"


"JP; Jarang Pulang," seloroh pembeli.


Udin garuk-garuk kepala, lalu mengambilkan salah satu rokok di etalase. "Terus kafein nya apa Bu?" tanya Udin kemudian.


"Kapal terbakar dua sachet, air laut yang dikeringkan satu bungkus, sari tebu setengah kg, kelapa sawit yang disaring satu bungkus," Ibu yang berbahasa kocak menyebutkan yang ia butuhkan, dengan bertele-tele.


Udin hanya tersenyum merasa terhibur dengan celotehan ibu yang bertubuh kurus itu. Mungkin karena kebanyakan kafein maupun nikotin jadi badanya begeng.


"Baik Bu," dengan terampil Udin melayani. Ambil kopi, garam, gula, dan juga minyak.


"Umpan ayam nya tidak Bu," penjual sama pembeli ternyata sama-sama somplak.


"Oh iya, itu kan yang saya mau beli pertama kali" ibu itu tepuk kening.

__ADS_1


"Dua liter saja, yang sedang," imbuhnya.


"Baik Bu" Udin segera menakar beras memasukan ke plastik kemudian menghitung semua belanjaan.


"Jadi berapa totalnya Dek?"


"Totalnya enam puluh tiga ribu," Udin segera menerima uang tunai sejumlah tersebut.


Bulan ternyata memperhatikan Udin dari kamar. Udin memang orangnya humoris, tapi mengapa kelakuan nya menjadi bejat? Batin Bulan kemudian ke kamar mandi.


"Alhamdulillah..." Udin memasukan uang ke dalam kaleng bekas biscuit. Menoleh Bulan yang sedang masuk ke kamar mandi, tanpa Bulan tahu. Udin menarik nafas berat. Rasanya begini ternyata didiamkan, tapi dulu dengan seenaknya ia mendiamkan Bulan, hingga beberapa minggu, dan ironisnya sampai bersikap bodoh.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Fatimah sudah pulang dari masjid, mengejutkan lamunan Udin.


"Sudah ada yang beli Din?" Fatimah melihat Udin menghitung pecahan uang kertas.


"Alhamdulillah... sudah tiga orang loh Bu, yang membeli, totalnya sudah seratus ribu," Udin tersenyum.


"Alhamdulillah... Din, ibu salin baju dulu," Fatimah hendak masuk ke kamar. Namun langkahnya berhenti kala melihat teh di tikar ada tiga gelas.


"Din, kok teh nya ada tiga, yang satu buat siapa?"


"Bulan sudah pulang?" Fatimah menatap jam di dinding. Masih terlalu pagi, tapi Bulan sudah sampai. Karena saking senangnya, Fatimah tidak mempermasalahkan jam, segera ke dalam ingin segera bertemu Bulan.


Ceklak


Bertepatan dengan itu, Bulan keluar dari kamar mandi.


"Ibu..."


"Bulan..."


Lebai memang, baru seminggu tidak bertemu ibu dan anak itu saling melepas kangen dengan cara berpelukan.


"Kamu datang pagi-pagi sekali Nak," Fatimah segera mengajak anaknya duduk di tempat tidur.


"Iya Bu, aku ingin segera bertemu ibu, tapi sampai disini aku keseeelll... kenapa ibu membiarkan pria brengsek itu untuk tinggal di sini," terlukis jelas kemarahan di wajah Bulan.


"Nak..." Bu Fatimah memegang pundak putrinya, rasanya sulit untuk memulai cerita, entah akan diawali darimana.


"Semua tidak seperti yang kamu bayangkan, kamu tentu lebih mengenal Udin daripada ibu, Nak" Fatimah meyakinkan.

__ADS_1


"Ibu nggak mikirin perasaan aku," Bulan lantas menunduk


"Loh... kok bicaranya begitu sih..." kata Fatimah lembut.


"Aku benci laki-laki Bu! Aku beciiii..." Bulan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bulan merasa sakit hatinya, suaminya yang dulu pria baik, kini berubah menyebalkan.


Udin yang dulu bak malaikat, kini berubah menjadi iblis, pikir Bulan. Masih haruskah percaya dengan makhluk Adam?


"Aku benci semua laki-laki Bu..." ucap Bulan di sela-sela isak tangis.


"Kenapa semua laki-laki hanya sayang sama aku, ketika sedang butuh?! Kenapa Bu..." Bulan segera berdiri.


Udin yang mendengar dari ruang tamu hanya bisa menatap sendu wajah Bulan yang tampak terluka. Udin meninju angin.


"Bulan..." Fatimah pun segera berdiri. Di peluknya tubuh ramping putrinya, dan menenggelamkan wajah Bulan ke dada.


"Kamu tidak boleh bicara begitu sayang... jika kamu beranggapan begitu, itu artinya... kamu membenci Ayahmu sendiri," Fatimah mengusap bahu putrinya yang sedang bergetar selaras dengan isak tangis.


Bulan segera mengangkat kepalanya berhadapan dengan Fatimah. Ia berpikir memang benar kata ibu. Ayah juga laki-laki, tetapi selalu menyayangi dirinya sejak kecil dengan tulus.


"Ada apa sayang... tidak mungkin jika hanya Udin yang menyebabkan kamu seperti ini," Fatimah menangkap kegetiran di mata putrinya. Sebagai seorang ibu tentu akan lebih sakit jika sang anak sakit.


"Sekarang kita ke belakang yuk, ceritakan pada ibu," Fatimah memeluk pundak Bulan yang seperti kakak adik itu duduk di kursi panjang. Kursi yang Udin buat sendiri.


"Ayo nak, sekarang cerita sama ibu, bagaimana keadaan suami kamu,"


"Ibu saja dulu yang cerita," pada akhirnya Bulan lebih tenang.


"Jangan membenci Udin Nak, walupun bagaimana, Udin itu sudah seperti anak Ibu sendiri," kata Fatimah diplomatis.


"Kamu tahu nggak? Dia sebenarnya, ingin kontrak rumah sendiri kok, tapi ibu melarang," jujur Fatimah.


"Dengan Udin tinggal bersama Ibu, Ibu tidak merasa kesepian nak, sudah gitu, Dia itu rajin sekali," Fatimah tersenyum.


"Lihat ini Bulan, jemuran ini Dia yang bikin, kursi yang kita duduki ini, juga Dia yang bikin. Kamu tahu nggak? Ketika hujan deras kemarin, tepat di atas tempat tidur ibu bocor, terus Udin hujan-hujanan naik ke atas membetulkan genteng, padahal kemarin itu petir menyambar-nyambar,"


Bulan memandangi wajah ibunya yang sedang berkaca-kaca.


"Terus, pasti kamu sudah lihat warung ibu tadi kan? Rak kayu, kursi yang di teras, semua karya Udin, kecuali etalase," tutur Fatimah panjang lebar.


"Bulan... di depan ada tamu" Udin menghentikan obrolan ibu dan anak itu.


"Siapa Din?" tanya Fatimah. Pagi-pagi sudah ada tamu.


"Saya tidak tahu Bu? Dia pria yang mencari Bulan," Bulan dan Fatimah saling pandang.

__ADS_1


.


__ADS_2