
Di dalam kantor pasutri masih menegang kala Bisma mendengar penuturan istrinya jika Keke mendesak agar pernikahan nya dengan Dipta segera dilaksanakan.
"Sudah berapa kali aku bilang sih May, aku tidak setuju, jika Dipta terburu-buru menikah," tegas Bisma.
"Tapi kan Pa, jika Keke segera menikah, pasti Dipta akan terawat," Maya memohon.
"Kamu tidak kenal suami kamu sendiri May, sekali aku berkata tidak! ya tidak!" Bisma tidak mau dibantah.
Maya pun tidak berkata-kata lagi.
"Dengar May! Dipta itu belum genap 22 tahun. Papa tidak ingin anak kita menikah terlalu muda. Yah... paling tidak, usia 25 tahun baru Papa ijinkan," Bisma yang dingin itu ternyata bisa nerocos seperti Beo juga.
"Lagian May, coba kamu pikir, mana ada wanita yang ngebet, minta di nikahi. Kecuali ada dua kemungkinan, satu sudah hamil lebih dulu, dan yang kedua, mungkin wanita itu berambisi ingin menguasai harta kita," tuding Bisma.
"Papa..." Maya keberatan dengan tudingan suaminya.
"Makanya May, walaupun diam begini, aku itu selalu berpikir yang terbaik untuk Dipta. Kamu kan tahu, penyelidikan tentang penyebab terjadinya kecelakaan anak kita saja pihak kepolisian belum bisa mengusut,"
Bisma merasa pusing, banyak masalah yang sedang ia hadapi akhir-akhir ini. Tentang keadaan Tara, yang belum ada perkembangan, sudah pasti kuliah Tara akan terganggu, tentu tidak ingin di buat pusing lagi dengan pernikahan yang sebenarnya belum waktunya.
******
Malam harinya Bulan merenung di kamar. Tidak menyangka, jika Bumantara bisa berubah begitu cepat.
Mungkin benar apa yang dikatakan Maya, perubahan sifat Tara faktor kecelakan. Bulan tentu tidak mengerti karena ia bukan psikiater. Ia hanya bisa berharap dengan berjalannya waktu, suaminya bisa kembali padanya, dan tetap menjadi Bumantara yang penyayang.
Bulan segera bangun dari tidurnya jika sedang galau begini, hanya sang ibu yang bisa mengobati.
Ia ambil handphone kemudian menghubungi sang ibu. Sebelum berangkat ke Jakarta, Bulan membelikan hp Fatimah agar bisa selalu berkomunikasi.
"Assalamualaikum..." ucap Fatimah.
"Waalaikumsalam wr wb..."
"Bu... aku mau bobo sama Ibu..." Bulan menahan isak tangis agar tidak terdengar Fatimah.
"Bulan... kamu nggak betah, Nak? Kalau sekiranya nggak betah, pulang saja,"
"Bu, Ibu tahu nggak, siapa yang aku rawat?" tanya Bulan. Akhrinya tidak bisa menahan tangis.
"Memang siapa Nak, kok kamu malah menangis,"
"Ternyata pria lumpuh itu Bang Tara Bu. Hiks, hiks."
"Ya Allah... yang sabar ya Nak, terus bagaimana? Apa lumpuhnya parah, Nak?"
"Sebenarnya masih bisa ke kamar mandi, Bu," Bulan pun sesegukan di telepon menceritakan keadaan suaminya. Ia senang karena bisa menemukan suaminya. Tetapi sedih dengan keadaanya. Tetapi Bulan tentu tidak mau menceritakan bahwa Tara secepat itu berpaling ke wanita lain.
"Bulan... yang sabar sayang... ini ujian dalam rumah tangga mu, jika kamu kuat menjalani, tetap selalu di jalan Allah. InsyaAllah... di kemudian hari, jalan yang kamu lalui tidak akan lagi berliku" nasehat Fatimah.
__ADS_1
"Aamiin..." Bulan sedikit lega.
"Terimakasih Bu, Bulan lega...," Bulan menghapus air matanya.
"Terus... bagaimana Nak? Apa ibu boleh, menjenguk Nak Tara?"
"Jangan sekarang ya Bu, sepertinya Abang belum sempat bercerita dengan orang tuanya, jika kami sudah menikah," cegah Bulan.
Bulan tidak akan bercerita apapun mengenai perlakuan Tara terhadapnya. Benar kata Fatimah Bulan akan menganggap bahwa ini adalah ujian.
"Oh begitu, sudah malam, sebaiknya kamu istirahat Nak,"
"Iya Bu, Ibu juga isrirahat, selamat malam, cium jauh untuk Ibu,"
"Selamat malam sayang..."
Bulan pun menyimpan handphone kemudian mencoba untuk tidur. Belum sampai terpejam suara chat masuk. Bulan segera membuka. Ia pikir bu Fatimah kembali menulis pesan untuknya.
Ternyata bukan Fatimah orangnya, melainkan Gavin.
"Bulan... kamu sudah tidur?"
"Belum, ada apa Pak?"
"Saya juga tidak bisa tidur, Bulan. Boleh nggak? Aku telepon kamu, aku ingin mendengar suaramu malam ini. Tahu nggak? Bulan, saat ini aku sedang di luar, memandangi Rembulan yang indah seperti dirimu,"
...Gavin....
********
Keesokan harinya, Bulan bangun kemudian menyegarkan tubuhnya dengan cara ritual mandi seperti biasa.
Setelah shalat ia keluar dari kamar menuju kamar Tara. Dan berpapasan dengan Maya.
"Bulan... kamu sudah bangun?" tanya Maya.
"Sudah Nyonya, saya mau membersihkan kamar Tuan muda."
"Tidak usah Bulan, saya kan sudah bilang, itu tugas Bibi," cegah Maya.
"Tidak apa-apa Nyonya. Sekalian olah raga," Bulan pun tersenyum.
Bulan masuk ke kamar Tara yang tidak di kunci, mendapati suaminya masih mendengkur.
Hingga selesai bersih-bersih, dan matahari kembali memancarkan sinarnya.
Bulan tidak mendapati suaminya bangun. Itu artinya, suaminya tidak menjalankan shalat subuh.
Ia memandangi suaminya. Tara benar-benar berubah, padahal dulu Tara rajin menjalankan ibadah. Bukan suatu alasan jika sakit lantas tidak menjalankan ibadah wajib itu. Karena Allah memberi kemudahan untuk hambanya. Inilah tugas Bulan lebih berat lagi.
__ADS_1
Pada akhirnya Tara pun bangun memergoki Bulan yang sedang menatapnya lekat.
"Sejak kapan? Kamu, memandangi saya seperti itu?!" sinisTara.
Bulan hanya melengos lalu ambil kursi roda, mendekatkan ke samping Tara. Sejak kejadian kemarin, Bulan sama sekali tidak mau bicara dengan pria yang masih sah menjadi suaminya itu.
Sudah pasti Bulan terlau kecewa. Karena Tara dengan mudah mengingkari janji suci yang telah Tara ucap dihadapan Allah.
"Kamu itu kenapa? Dari kemarin cemberut terus... bisu?!" sinis Tara, saat Bulan mendorongnya ke kamar mandi.
"Sebaiknya Abang tanyakan, pada diri mu sendiri, kenapa?!" Bulan tak kalah ketus. Setelah Bulan mendorong roda ke kamar mandi, Bulan menutup pintu perlahan.
"Bulan..." panggil Tara dari dalam.
"Apa?" Bulan membuka pintu kembali menyembulkan kepalanya setengah.
"Lampunya belum dinyalakan," kata Tara memang benar Bulan sampai lupa. Ia tidak menyahut segera memencet stop kontak. Ternyata Tara masih duduk di roda.
"Bantu saya," ucapnya. Rembulan membantunya duduk di closed, kemudian, kembali menutup pintu. Namun belum sampai rapat Tara kembali memanggilnya.
"Bulan..."
Bulan membuka pintu lebar-lebar.
"Jangan lebar-lebar Bulan, nanti ada orang masuk." protes Tara.
"Hahaha... ternyata masih ada rasa malu? Bukankah setiap hari Keke sudah sering melihat," Bulan tertawa dibuat-buat.
"Sudah! Jangan banyak bicara! Ambil kursi, aku mau kamu memandikan aku di sini." kata Tara memerintah.
"Tadi saya diam katanya bisu, sekarang setelah bicara nggak boleh!" sungut Bulan sambil berlalu.
"Bulan..." suara Tara meninggi.
Bulan tidak menyahut, lalu keluar kamar hendak ambil kursi yang terbuat dari kayu untuk duduk Tara di kamar mandi.
"Sini kamu!" Ketika melintas di depan kamar tamu, tangan Bulan ada yang menarik dengan kasar. Yang tak lain adalah; Keke. Keke menutup pintu menatap Bulan honor.
"Mau apa kamu?!" Bulan tidak gentar menatap wajah Keke.
"Kenapa kamu kesini?!" Keke mengangkat dagu Bulan. Namun Bulan segera menepisnya.
"Untuk menyelamatkan suami saya, dari wanita berkepala ular seperti kamu!" Bulan menatap sinis.
"Kamu?!" tangan Keke diangkat ke atas, hendak melayang ke wajah Bulan.
"Kretek!"
"Aow!"
__ADS_1
Sebelum tangan Keke mendarat di pipi Bulan, dengan sigap Bulan menangkap tangan Keke. Kemudian memelintirnya.
.