
Setelah telepon sang Suami entah apa yang dibicarakan. Lina segera memasak. Namun ia merasa tidak tenang, pikiranya dipenuhi pertanyaan. Ada masalah apa hinga Maya sahabat nya tega melukai hati putrinya? itulah yang berkecamuk di dalam hati Lina.
"Ke, makan dulu Nak," setelah matang Maya mengantarkan masakan ke kamar putrinya.
"Nggak lapar Ma" jawab Keke yang baru dari kamar mandi jalan pincang.
"Ke, kok kamu jalanya pincang... kenapa?" rupanya Lina baru menyadari nya. Mungkin karena Lina tadi fokus dengan wajah putrinya yang sedang sedih hingga tidak memperhatikan jika putrinya pincang.
"Jatuh di kamar mandi Ma," jawab Keke sembari berjalan hendak duduk di sofa.
"Loh kok bisa? Kamu nggak hati-hati ya," Herlina meneliti kaki putrinya.
"Nggak hati-hati apanya!" Keke mulai mengarang cerita.
"Bibi yang kerja di rumah teman Mama itu jahat Ma, dua art itu bersekongkol." Adu Keke.
"Bersekongkol bagaiamana?" potong Lina. Menatap seksama dahi Keke, walaupun benjolnya sudah kempes namun masih kentara.
"Termasuk di dahi kamu ini juga karena jatuh?" Lina tidak habis pikir kenapa putrinya tinggal di rumah Maya justeru terluka fisik maupun mental.
"Iya, kemarin sebelum dibawa ke dokter benjolnya besar sekali Ma," Keke mengusap dahi yang masih sedikit sakit.
"Kamu ini, kalau memang tinggal di rumah Maya nggak nyaman, kenapa nggak pulang saja, memang kamu lupa jalan pulang," Herlina kesal.
"Iya Ma, aku juga nyesel tinggal di rumah teman Mama. Di rumah itu aku selalu di musuhi, sengaja dikasih makanan yang pedas sekali, di guyur air sabun, kamar mandi aku nggak pernah disikat, tapi aku hanya diam saja," Keke memutarbalikkan fakta.
"Masa sih... kayaknya bibi baik deh," sanggah Lina.
"Baik apanya?!" Sungut Keke. "Terus nggak cuma itu Ma. Maya, Dipta, Bisma, semua dihasut bibi agar membenci aku, terus sekarang semua keluarga itu memusuhi aku Ma. Dan ironisnya, tega mengusir aku tanpa perasaan," Keke menangis drama.
"Memusuhi bagaimana," Lina tidak yakin jika Maya sahabatnya seperti itu.
"Dipta itu sudah menikah dengan wanita lain Ma, aku sakit hati Ma..." Keke kali ini menangis sungguhan.
"Keke..." Lina memeluk putrinya erat.
"Menikah dengan siapa? Nikahnya kapan? Kenapa Mama tidak diberitahu sama Maya?" Lina mencecar pertanyaan.
"Tanya saja sama teman Mama itu!" pungkas Keke. Lina melepas pelukan kemudian menghubungi Maya.
********
"Bibi... panggil Keke di kamar ya, kita ajak makan bersama," titah Maya. Semarah-merahnya Maya, ia bukan orang yang pendendam.
Keluarga Bisma siang ini akan makan bersama. Jarang sekali mereka bisa berkumpul seperti sekarang.
__ADS_1
"Baik Nyonya," bibi segera memanggil Keke tidak lama kemudian kembali.
"Non Keke tidak ada di kamar nya Nyonya," kata bibi.
"Tidak ada di kamar? Kemana?" Maya menatap suami, anak dan menantunya.
"Sudah pulang kali May," jawab Bisma tanpa menoleh Maya di sebelahnya.
"Masa pulang tidak pamit aku sih? Itu anak," Maya merasa khawatir padahal tadi sudah berjanji akan mengantar. Jika Keke pulang sendiri itu artinya Keke benar-benar marah.
"Sudah lah Ma, jangan dipikirkan. Mama kenapa sih?! Masih memikirkan wanita pengganggu itu? Lagi pula, jika Dia wanita baik harusnya pamit dulu, bukan langsung pergi! Memang rumah ini kos-kosan apa!" Tara menjawab kesal.
"Bang..." Bulan memperingatkan suaminya agar mengurangi intonasi suara.
"Betul kata Dipta Ma, untuk apa kamu pikirkan wanita itu lagi? Kalau Dia sudah pulang, biarkan saja," Bisma nyambung kata-kata Tara.
"Tapi... pakaiannya masih ada nggak Bi?" Maya kembali menoleh bibi, masih berharap jika Keke ke luar hanya sebentar.
"Tidak ada Nyonya, lemarinya sudah kosong, perginya juga tidak pamit," bibi menjelaskan.
"Sudah Ma, kita makan dulu," Bisma menutup pembicaraan. Jika semua makan dengan lahap termasuk Bulan. Namun tidak untuk Maya, selera makan nya seketika menghilang. Ia masih memikirkan kepergian Keke yang tidak pamit seisi rumah.
Deeert deerrtt...
"Bentar ya, Mama angkat telepon dulu," tanpa dijawab. Maya segera meninggalkan meja makan. Ia berharap yang telepon adalah mama Keke. Benar saja yang telepon memang Herlina sahabatnya.
"Papa ikut ya," kata Maya setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang tengah.
"Baiklah aku ikut, tapi aku tidak mau ikut campur dalam pembicaraan kalian, karena perjodohan ini aku sama sekali tidak kamu libatkan," tegas Bisma.
Saat membicarkan perjodohan itu awalnya Maya hanya bercanda. Namun, ternyata Lina menganggapnya serius, dan pada akhirnya Maya menyetujui. Wajar, jika Maya tidak berunding dulu dengan keluarga.
"Kalau gitu kita berangkat sekarang Pa," Maya sudah tidak sabar. Setelah salin baju Maya pun hendak berangkat, netranya melihat Bulan yang sedang merenung seorang diri di ruang tamu.
"Bulan... kamu kok sendirian? Dipta kemana?" Maya mendekati menantunya.
"Abang tidur siang Ma," jawab Bulan yang awalnya duduk segera berdiri menyalami Maya.
"Maaf Ma, karena kehadiran saya, Mama dihadapkan dalam permasalahan yang rumit," Bulan tampak resah.
"Bulan... kamu ini bicara apa Nak, jangan pikirkan apapun, kamu sekarang istri Dipta, menantu Mama. Dan Mama bersyukur karena anak Mama memilih wanita seperti kamu," jujur Maya.
"Terimakasih Ma," Bulan merasa terharu.
"Mama akan selesaikan masalah Mama dengan orang tua Keke dulu, jika sudah selesai, akan mengundang Mbak Fatimah," kata Maya.
__ADS_1
Bisma dengan Maya sudah sepakat, akan mengadakan syukuran kehamilan Bulan yang sudah 4 bulan.
"Terimakasih Ma," pungkas Bulan lalu mengantar Maya ke luar.
****
"A'a sudah punya pacar belum?" tanya Sum, ketika mengambilkan makan siang untuk Abu. Karena Abu tidak mau makan ke dalam.
"Belum, untuk apa pacaran? Pacaran itu, bagi saya hanya akan menambah dosa, jika saya tidak bisa menahan nafsu," jawab Abu kemudian mencuci tangan di kran. "Jika sudah ada yang cocok lansung saja menikah," sambung Abu.
"Yes!" Gumam Sum.
"Oh gitu..." Sum memandangi Abu tidak berkedip. Setiap gerak-gerik Abu semuanya menyenangkan bagi Sum.
"Abu..." panggil Maya.
"Saya Nyonya?" Abu bergegas menemui Maya yang sudah berdiri di samping pagar.
"Tolong antar kami ya," titah Maya.
"Baik Nyonya," Abu bersemangat.
"Kamu sudah makan?" tanya Maya perhatian.
"Sudah Nyonya," Abu menganggukan kepala.
"Tapi makan disini kan... tidak usah makan di luar Bu, lebih baik uang nya kamu tabung," nasehat Maya, sebab kemarin Abu makan di luar tanpa setahu Maya.
"Tentu Nyona. Nyonya baik sekali,, terimakasih"
"Ayo Ma," Bisma pun sudah siap berangkat menghentikan obrolan mereka.
********
Di ruang ICU di salah satu rumah sakit. Wanita setengah baya sedang menunggui putranya yang sudah dua bulan mengalami koma.
Ia baru selesai shalat dzuhur, setiap selesai shalat membaca doa untuk kesembuhan putranya. Kadang saking khusyuk nya, tangis wanita itu pecah.
"Mama..." terdengar suara lirih. Wanita itu menajamkan pendengaran.
"Haus..." suara itu terdengar lagi. Wanita itu secepat mungkin bangkit dari duduknya.
"Sayang... kamu sudah sadar Nak?" Di peluknya tubuh ringkih yang hanya tinggal tulang dan kulit itu.
"Haus..." suara itu kurang jelas karena mulutnya masih tertutup. Secepatnya wanita itu menghubungi dokter.
__ADS_1
.