Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Merasa Terhibur


__ADS_3

"Bulaaaannn.... awaaaaasss..." pekik seorang pria menarik tubuh Bulan hingga jatuh ke pelukan pria itu. Jika tidak, pasti Bulan sudah tertabrak mobil mewah yang berniat mencelakakan dirinya.


Orang-orang yang berada di dekat tempat itu berlarian ke arah Bulan, begitu juga dengan pok Kesih.


"Foto nomer mobil nya!" Seru pok Kesih kepada orang yang masih dekat dengan mobil itu.


"Nggak bisa, kencang sekali soalnya," jawab orang itu yang berjarak ratusan meter.


Sementara Bulan masih terpaku di tempat, tidak percaya dengan apa yang terjadi baru saja. Ia terengah-engah mengatur detak jantungnya. Memandang mobil yang sudah berlalu.


Bulan baru menyadari jika ia dalam pelukan seorang pria.


"Kak Abu..." Bulan seketika melepas rangkulan Abu.


"Maaf Bulan, aku sudah..." Abu tidak melanjutakan ucapanya. Ia merasa lancang sudah berani memeluk Bulan.


"Bulan... kamu tidak apa-apa?" pok Kesih mencairkan suasana kaku kedua insan lawan jenis itu. Memandangi Bulan yang berkeringat, pok Kesih cepat ke dalam ambil minum.


"Minum dulu Nak" pok Kesih memberi gelas berisi air teh yang ia tuang dari teko.


"Terimakasih Bu, oh iya, kenalkan, ini kakak saya," Bulan menunjuk Abu. Abu menganggukan kepala.


"Syukurlah Bulan... kamu sudah bertemu kakak kamu, saya lebih tenang," pok Kesih kembali ke warung, meninggalkan Bulan dan Abu.


"Kenapa Kak Abu, bisa berada disini?" tanya Bulan. Tidak menyangka bisa bertemu tetangganya dari desa yang sudah Bulan anggap sebagai kakak sendiri. Terlebih sudah menyelamatkan nyawa bayi dalam kandungan dan Bulan sendiri.


"Ceritanya panjang Lan, nanti aku ceritakan di mobil, ayo sekarang aku antar," Abu segara menarik lengan Bulan.


"Tunggu Kak" Bulan berhenti di samping mobil.


"Aku kan tadi pesan taksi Kak? Kalau nanti dia datang bagaimana?" Bulan menoleh kanan kiri mencari taksi pesanan sudah lama juga tidak datang.


"Pesanan taksi kamu, atas nama Pok Kesih kan?" tanya Abu.


"Kok kakak tahu? Berarti Kak Abu menarik taksi?" otak cerdas Bulan langsung nyambung.


"Betul, sekarang naik dulu, nanti kita bicara di dalam." Abu segera membuka pintu.


Tidak buang waktu lagi karena waktu sudah sore, Bulan segera masuk. Ia duduk di samping Abu.


Abu tidak bertanya dulu kemudian putar balik hendak mengantar Bulan ke rumah Tara.


"Kak, mau antar aku kemana ini? Alamat aku di perkampungan sss," Bulan terkejut seolah Abu sudah tahu kediaman suaminya. Bulan tidak tahu jika selama ini Abu selalu menyelidiki keberadaan Bulan, tetapi Abu belum tahu kontrakan bu Fatimah.


"Lah, bukan rumah kamu di jalan xxx?" Abu menghentikan mobil nya.

__ADS_1


"Kakak tahu darimana? Sejak kapan Kakak menjadi supir taksi?" cecar Bulan kemudian.


"Sejak Udin, menyusul kamu ke Jakarta Lan, waktu itu aku merasa bersalah, karena sudah memberikan alamat kepada Udin. Padahal kamu sudah mewanti-wanti kan? Agar jangan memberikan alamat tempat tinggal kamu pada siapapun," Abu bercerita panjang lebar.


Bulan hanya mendengarkan tidak memotong penuturan Abu.


"Tetapi... tidak sepenuhnya kesalahan aku Lan, karena Ayah yang memberikan alamat itu," tergambar penyesalan di wajah Abu.


"Hihihi..." Bulan tertawa melihat wajah Abu yang merasa takut jika sampai dimarahi Rembulan. Kehadiran Abu membuat Bulan sedikit terhibur melupakan kepedihan hati saat diusir sang mertua dengan tidak hormat tadi.


"Kok kamu malah tertawa sih Lan?" Abu menoleh Bulan.


"Lagian wajah Kakak tegang begitu sih, tahu nggak Kak, Udin kan sekarang tinggal bersama Ibu,"


"Apa?" Abu terkesiap.


"Makanya sekarang Kak Abu putar balik deh, antar aku ke kontrakan Ibu, katanya tadi mau antar aku? Keburu maghrib disini kita,"


"Pasti dong," Abu bersemangat kemudian putar balik. Di dalam mobil mereka bercerita.


"Udin sekarang sudah berubah Kak," Bulan lalu menceritakan tentang Udin. Saat itu Udin menjadi berubah karena terpengaruh oleh hasutan Keke.


"Huh! Dasar anak itu, kok mau-mau nya di peralat, sudah tahu itu salah," Abu tidak habis pikir.


"Oh iya Lan, kamu ngapain di tempat tadi?" inilah yang akan di tanyakan Abu sejak tadi.


"Lagi menunggu taksi, kok malah tanya?" Kelakar Bulan.


"Aku serius Lan," Abu melirik Bulan. Sepertinya wanita di sebelahnya ini merasa enggan untuk bercerita. Abu mengalah, tidak ingin mencecar pertanyaan lagi. Sebenarnya banyak yang ingin Abu tanyakan tentang penyebab Tara menjadi lumpuh. Namun Abu mengurungkan niatnya.


"Kakak tahu nggak? Suami aku lumpuh Kak" Bulan seketika ingat Tara yang ia tinggalkan sejak tadi pagi. Apakah suaminya saat ini memikirkan dirinya, seperti yang Bulan pikirkan? Sudah makan belum, sudah mandi belum, dan masih banyak lagi.


Abu menoleh cepat. Ternyata tanpa ditanya Bulan sudah cerita sendiri.


"Sebenarnya apa yang terjadi Bulan? Kenapa suami kamu bisa lumpuh?" tanya Abu hati-hati.


Bulan pun menceritakan tentang kecelakaan Tara ketika pulang dari KKN saat itu.


"Astagfirlullah... memang keluarga suami kamu tidak menyelidiki kasus kecelakaan itu Lan, aku yakin, ini pasti bukan hanya sekedar kecelakan biasa," kata Abu.


"Aku juga berpikir begitu Kak, aku khawatir ada salah satu orang di kampung kita yang terlibat," Bulan menduga-duga.


"Masa sih Lan?" Abu tidak yakin. Selama ini, keadaan di kampung mereka selalu tentram.


"Mudah-mudahan dugaan aku salah Kak, tapi yang membuat aku berpikir negatif, Udin yang kita tahu pemuda baik, Novi gadis yang lugu, bisa terprovokasi kan?" Bulan menunduk.

__ADS_1


"Sudahlah Bulan, biar yang berwajib yang mengungkap rahasia dibalik misteri kecelaan itu, yang penting kamu fokus mengurus suami kamu, agar cepat pulih," Abu berkata bijak. Tidak tahu jika Bulan saat ini sedang berpikir entah bisa bertemu lagi dengan suaminya atau tidak, mengingat Maya sangat membenci dirinya.


"Kita sudah sampai Kak," kata Bulan, menghentikan obrolan mereka.


Abu menghentikan mobil nya tepat di depan kontrakan. Mereka lantas turun, waktu sudah jam setengah enam. Namun kontrakan Bulan tampak sepi bahkan warungnya pun tutup.


"Kontrakan Ibu yang ini Kak, tetapi kok tutup, Ibu kemana, ya?" Bulan bingung.


"Ibu kamu punya warung?" tanya Abu. Menelisik kontrakan satu persatu mungkin karena menjelang maghrib suasana sangat sepi.


"Iya Kak, warung kecil-kecilan. Kita tunggu disini saja Kak, mau telepon Ibu, hp aku ketinggalan di rumah Abang," Bulan pun duduk di kursi panjang, disusul Abu.


"Kamu ingat nomor telepon Ibu?" Abu bermaksud menghubungi.


"Ingat Kak" Bulan bersemangat lalu memberikan nomor pada Abu. Abu Lastas menghubungi bu Fatimah.


******


"Ya Allah... kenapa Bulan belum bisa kita temukan Tara? Mana sudah mau maghrib lagi," kata Fatimah resah. Saat ini mereka masih menyusuri jalanan Ibu Kota.


"Yang sabar, ya Mbak, siapa tahu orang suruhan Gavin sudah menemukan Bulan lebih dulu," hibur Maya. Maya pun Sebenarnya sangat panik, tetapi ia mencoba menenangkan pikiran besan, yang baru ia ketahui itu.


Sedangkan Tara, sejak tadi tidak bisa berkata-kata. Ia sampai melupakan kesehatannya sendiri, seharian ini tidak minum obat.


Kriiing... kriiing..."


Handphone Fatimah bergetar kemudian mengangkatnya.


"Assalamualaikum..." suara Abu di seberang.


"Waalaikumsalam..." Fatimah menjawab.


"Siapa ini?" Fatimah bertanya.


"Bu, Ibu dimana? Aku Bulan, menunggu di kontrakan. Tapi kosong,"


"Bulaaaannnn..."


Tut"


"Nak Tara, Bulan sudah di kontrakan," terlukis kelegaan di hati Fatimah begitu juga dengan Maya dan Tara. Maya memerintahkan pak Arief agar kembali ke kontrakan.


******


...Happy reading....

__ADS_1


__ADS_2