
Handoko mengutarakan maksud dan tujuannya hendak melamar Fatimah. Sudah enam bulan lebih Handoko menahan perasaan ini dan baru kali ini ada kesempatan.
"Pak Han, jika memang Bapak serius ingin membahagiakan ibu saya. Saya menyerahkan keputusan pada Ibu, yang penting Ibu bahagia," jujur Bulan.
"Terimakasih Bulan," Handoko beralih menatap Fatimah kedua mata mereka saling bertemu. Handoko ambil kotak dari saku membukanya kemudian ambil isinya. Pak Han memasangkan cincin lamaran.
Fatimah memang seorang janda yang sebentar lagi akan mempunyai cucu, tetapi usianya masih lebih muda dari Handoko yakni usia Fatimah kini 37 tahun.
Bulan maupun Tara menyambut dengan senyuman. Terutama Rembulan menatap wajah sang ibu ada kebahagiaan disana. Bulan turut bagagia. Selama ini ia hidup berdua dengan Ibu dan saat ini Bulan harus mengikuti suaminya kemanapun akan pergi. Itu artinya akan jarang bertemu sang ibu. Tentu dengan Fatimah menikah dan mempunyai suami yang baik seperti Handoko Bulan merasa tenang. Ada yang menemani Fatimah hingga akhir hayat.
"Baiklah jika Bulan sudah setuju, kami akan segera menikah secepatnya," Handoko sudah mantap. Ia bukan anak muda lagi jadi tidak perlu menunda.
"Saya setuju Pak," sahut Bulan. Handoko kemudian meninggalkan tempat itu ingin segera mengurus segala sesuatunya.
*******
"Maafkan aku suamiku," gumam Fatimah menatap foto sang suami bersamanya yang sudah usang dimakan waktu.
"Ibu..." Bulan menghampiri Fatimah yang sedang mendekap foto sang suami di dada.
"Eh kamu Bulan..." Fatimah terkejut hingga foto tersebut jatuh ke lantai.
"Ibu masih memikirkan Ayah? Ibu jangan khawatir, Ayah sudah tenang disana, ibu berhak bahagia," Bulan menatap Fatimah memberi semangat.
"Bukan begitu Bulan, Ibu terkesan merasa menyaingi putri Ibu sendiri," Fatimah berkaca-kaca. Seharusnya ia fokus ke anak dan cucunya yang sebentar lagi akan lahir, bukan malah ingin mencari pengganti ayah Bulan.
"Bu... sudah saatnya Ibu bahagia, aku sudah dewasa Bu, bahkan sudah mempunyai suami, jadi sudah lepas tanggungjawab ibu padaku," Bulan menggenggam tangan Fatimah.
"Tapi Lan..." Fatimah menjadi ragu akan menikah untuk yang kedua kalinya mengingat Bulan sudah hamil besar.
"Bu aku mohon jangan bimbang, Pak Han sudah melamar Ibu dan Ibu pun sudah menerima, jadi mantapkan hati Ibu," Bulan meyakinkan.
"Baiklah Nak, kalau begitu besok Ibu mau ziarah ke makam Ayah kamu dulu," pada akhirnya Fatimah agak sedikit lega.
"Iya Bu, tapi Bulan berdoa dari jauh saja ya, Bulan sudah tidak bisa pulang," Bulan sebenarnya ingin sekali pulang tetapi keadaannya sudah tidak memungkinkan.
******
Sah
Sah
__ADS_1
Sah.
Seminggu kemudian akat nikah secara sederhana sudah di laksanakan. Fatimah sudah sah menjadi suami Handoko. Sebenarnya Handoko ingin pernikahan ini diadakan pesta yang besar. Tentu Fatimah menolak mengingat usia yang sudah tidak muda lagi.
Pernikahan wali hakim yang di selenggarakan di mansion milik Handoko berjalan lancar.
"Selamat Pak Han, Mbak Fatimah," ucap Bisma bersama Maya.
"Terimakasih Bu Maya, Pak Bisma," Fatimah rersenyum manis. Wanita yang usianya menginjak 37 tahun itu tampak cantik dengan balutan gaun pengantin muslim. Fatimah masih tampak muda tamu-tamu dan kerabat yang menghadiri acara tersebut tidak menyangka bahwa Fatimah sudah akan mempunyai seorang cucu.
"Alhamdulillah... Bang, aku senang akhirnya Ibu menemukan kebahagiaan," selama ini Bulan ingin sang Ibu menikah lagi dan baru sekarang terlaksana. Selama di kampung banyak pria yang ingin menjadi suami Fatimah. Namun rupanya belum berjodoh.
"Iya sayang... doa kamu sudah di kabulkan semoga beliau bahagia selalu," jawab Tara.
Bulan di dampingi Tara mondar mandir hingga sore hari perutnya terasa sakit.
"Bang, perut aku sakit," Bulan meringis kesakitan memeluk lengan suaminya yang masih berbincang-bincang dengan sesama pengusaha.
"Sakit ya? Mungkin mau melahirkan sayang..." Tara mengajak istrinya berdiri. Semua itu tidak luput dari perhatian Handoko.
"Kenapa Bulan Dip?" tanya Handoko yang duduk berhadapan dengan Tara.
"Sepertinya mau melahirkan Pak,"
"May, Bulan mau melahirkan," Bisma mengait lengan istrinya.
"Saya ikut," kata Fatimah panik.
"Sebaiknya... Mbak Fatimah nanti menyusul saja, tidak enak dengan tamu-tamu yang lain, biarkan Bulan kami yang akan mengurus," kata Maya memang benar adanya.
"Terimakasih Bu Maya," Fatimah mengedarkan pandanganya memang sedang banyak tamu, tentu tidak mungkin ia pergi. Fatimah kemudian menemui Bulan yang sudah hendak ke luar bersama Tara.
"Bulan... semoga lancar Nak" Fatimah mencium pipi putrinya.
"Aamiin... Ibu tenang saja disini, aku sudah banyak yang menemani," pungkas Bulan.
Bulan ke rumah sakit bersalin, diantar Bisma, Maya dan suaminya. Sumidah yang menyetir, saat ini Sumidah menjadi supir pribadi keluarga Bisma yang menggantikan Abu. Tugas Sumidah digantikan oleh Novi tetangga Rembulan.
Sampai di rumah sakit, Bulan kemudian dibawa masuk ke ruang bersalin. Sebab ternyata pembukaan sudah penuh faktor mondar mandir sejak subuh tadi menemani Fatimah. Hingga memudahkan proses persalinan.
"Semangat sayang..." ujar Tara. Ketika Bulan sudah mengejan. Tara tentu menunggui istrinya yang sedang berjuang.
__ADS_1
"Aaaagggghhhh..."
"Oeeek... oeeek..."
"Alhamdulillah..." Bumantara mengucap syukur mencium pipi, dahi dan yang terakhir bibir.
"Selamat sayang... anak kita laki-laki,"
Ucap Tara. Ia menyambut bayi laki-laki degan pajang 52 cm dan berat 3,5 kg.
Bulan tidak bisa berkata-kata selain menangis, tangis bahagia.
Perawat segera membersikan putra kecil yang masih berlumuran darah beberapa menit kemudian memberikan kepada Tara. Tara mengadzani putranya, Kemudian perawat beralih membersihkan Rembulan.
*******
"Yang... aku sudah mempunyai nama untuk anal kita," Tara mengusap dahi Bulan hingga ke rambut.
"Siapa Bang," Bulan meremas telapak tangan Tara yang duduk di samping ranjang pasien. Bulan kali ini sudah dipindahkan ke ruang rawat.
(Erlangga Pradipta Bumantara)
"Oh nama yang bagus, kita panggil Angga ya Bang," kata Bulan.
"Jangan Yank, sudah pasaran panggilan itu mah, kita panggil Erlang saja," tolak Tara.
"Erlang... kayaknya susah ya? Erlang," Bulan mengulang nama sang putra membuat Tara terkekeh.
"Ini dedek nya Bu Rembulan... segera disusui ya," perawat menggendong Erlang memberikan kepada Bulan.
"Terimakasih Sus," jawab Bulan ketika Erlang sudah sampai di pangkuan.
"Sama-sama, Bu" Suster lalu pergi meninggalkan pasutri yang sedang berbahagia.
Bulan memangku putranya menitikan air mata. Kini ia sudah memetik buah kesabaran. Allah telah menitipkan bayi yang lucu. Perjalanan rumah tangganya yang ia lewati bersama Tara sungguh berliku. Bulan berdoa semoga dengan hadirnya sang buah hati tidak akan lagi ada pengganggu dalam rumah tangga nya kelak. Kini perjalan masih panjang semoga rumah tangganya selalu rukun dan saling manyayangi.
...Tamat....
"Hai reader... terimakasih yang selalu setia mengikuti cerita receh budhe. Cerita Bulan ini yang membaca hanya sedikit ya, entah apa sebabnya. Tidak seperti cerita budhe yang sebelumnya."
Bagi yang ingin mengikuti kisah Abu Bakar, Sumidah dan Ananta. InsyaAllah dalam waktu dekat akan budhe buat.
__ADS_1
"Selamat tahun baru 2023 sehat dan bahagia selalu,"
"Love you ❤❤❤