Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Kenyataan Pahit


__ADS_3

PoV Rembulan.


Bos yang biasa dipanggil nyonya ini aku pikir galak. Tetapi dugaanku salah. Walaupun suami wanita ini tampak angkuh biar sajalah, toh aku pasti jarang bertemu Dia.


"Ini kamar kamu, Bulan," ucapnya lembut. Setelah kami sampai di salah satu kamar yang cukup besar.


"Terimakasih Nyonya," Aku terus membuntuti dari belakang.


"Ini lemari kamu," Beliu menunjuk lemari yang cukup besar pula. Padahal jika dipikir baju yang aku bawa hanya beberapa stel.


"Ohh iya Bulan, tugas kamu sebenarnya tidak berat, anak saya lumpuh karena kecelakan, tapi masih bisa ke kamar mandi. Jadi walaupun kalian bukan muhrim, tenang saja. Yang penting kamu dorong dengan kursi roda sampai pintu,"


Nyonya bertutur panjang lebar, mungkin beliau tahu jika aku berpakaian hijab rapi, jadi bicaranya tampak hati-hati.


"Baik Nyonya,"


"Tapi..."


Nyonya mendadak menunduk tergambar kesedihan di wajah cantik nya. Tangan putih itu menyusut air matanya.


"Nyonya," lirihku. Pasalnya isaknya semakin kencang.


"Maaf Bulan," Ia mengangkat kepalanya menatapku. "Kalau ingat Dia, saya sedih," imbuhnya.


"Saya mengerti Nyonya," Aku merasa kasihan, mungkin kelumpuhan yang diderita anaknya cukup berat.


"Oh iya Bulan, kelumpuhan yang ia derita, membuanya hilang kepercayaan diri. Dia suka marah-marah. Sudah tiga orang yang merawat Dia hanya bertahan selama seminggu. Belum lagi faktor benturan di kepalanya membuatnya gagar otak berat hingga membuat mentalnya terganggu,"


Beliu terus menyusut air matanya di sela-sela penuturanya membuat aku ikut sedih.


"Jadi begini Bulan, intinya... jika Dia marah-marah berkata kasar, mohon dimaklumi. Jika kamu bertahan dan mampu mengambil hatinya aku akan memberikan kamu bonus, di luar gaji kamu 5 juta perbulan.


"Ini seragam buat kamu, jika siang kamu harus kenakan," Beliau mengakhiri penuturan dan memberikan seragam putih seperti yang dikenakan suster di rumah sakit. Ketika aku ambil seragam tersebut dari tanganya. Kami saling pandang dan masyaAllah... mata itu kenapa seperti sering aku lihat.

__ADS_1


Tetapi bukankah bertemu wanita ini baru sekarang, atau aku pernah bertemu disuatu tempat?


"Sekarang ganti baju kamu dengan seragam ini, saya tunggu di luar lalu temui saya," ucapnya seketika berlalu.


"Baik Nyonya."


Ah lega sekarang, tadi sempat menunduk khawatir beliau curiga karena aku memperhatikan wajahnya hampir tidak berkedip.


"Segera aku ke kamar mandi ganti baju dengan seragam. Setelah selesai, kemudian keluar dari kamar. Mataku berputar mencari sosok bos. Ia tampak melambaikan tangan ke arahku. Aku hanya menganggukan kepala karena jarak dari kamar ke meja makan agak jauh.


"Kamu sarapan dulu," titahnya. Ketika sampai di meja makan segera beliau membuka tudung saji.


"Saya sudah sarapan Nyonya," tolak ku. Memang benar kerena aku sudah sarapan bersama Ibu tadi pagi.


"Ayo ikut saya." beliau menuju kamar letaknya tetap di lantai bawah, kemudian tangan halus dan terawat itu mengetuk pintu. Pasti ini kamar putranya yang akan aku rawat.


Ceklak


Keke pun rupanya tidak bedanya dengan aku, sama-sama terkejut, tapi kami masing-masing saling diam terpaku di tempat. Kilat marah tergambar di wajah nya. Seolah membenci aku yang teramat dalam.


Tetapi bukan sikapnya yang membuatku bertanya-tanya. Sebab aku sudah tahu dia tidak suka padaku. Tetapi ada hubungan apa, Keke dengan pemilik rumah ini?


Aku tidak memperdulikan tatapan sinis nya. Lagi pula memang apa salahku sampai Dia selalu membenci aku sejak KKN dua bulan yang lalu, terakhir kami bertemu saat mengantar suamiku ketika hendak kembali ke Jakarta.


"Keke... gadis ini yang akan merawat Dipta, sebaiknya kamu sarapan dulu gih,"


Baik Ma," Keke menyahut segera keluar menabrak pundakku dengan tatapan sinis.


"Mama" Aku membatin. Apakah wanita ini mama Keke? lalu siapa nya Keke, pria yang akan aku rawat? Kepalaku terasa pusing memikirkan hal ini. Jika Keke putri Nyonya tentu aku tidak akan bertahan lama berkerja di sini.


"Ayo masuk Bulan," Nyonya besar masuk kamar. Karena kami masih ngobrol di tengah pintu, sedangkan Keke entah pergi kemana.


Sampai lah kami di dalam kamar yang lebih besar lagi dari kamar aku tadi, dan sudah tentu banyak fasilitas. Ya Allah... sang pemilik ternyata benar-benar sultan.

__ADS_1


"Dia masih tidur Bulan," ucapnya ketika kami sampai di samping ranjang tapi masih agak jauh, mungkin Nyonya khwatir jika obrolan kami membangunkan putranya. Tampak seseorang tidur menutup tubuhnya dengan selimut sampai menutup wajah. Kursi roda terletak di pinggir ranjang di bawah kakinya.


"Jika nanti Dia sudah bangun. Kamu bantu ke kamar mandi Bulan, setelah itu, kamu seka, dan siapkan pakaianya, beri Dia sarapan minta sama Bibi ya".


"Baik Nyonya,"


"Saya keluar Bulan, selamat bekerja, dan ingat! Jika Dia marah-marah saya mohon kamu bersabar."


"InsyaAllah... saya akan berusaha Nyonya," jawabku. Nyonya segera meninggalkan kamar dan kembali menutupnya.


Aku berjalan jinjit agar suaraku tidak mengganggu tidurnya, mendekati pria itu untuk menghilangkan rasa penasaran, tanganku terangkat ingin membuka selimut. Namun aku turunkan kembali, hingga berulang kali.


Entah keberanian darimana aku buka perlahan selimut yang menutup wajah dengan tangan gemetar khwatir ketahuan.


Betapa terkejutnya aku, jadi aku akan merawat suamiku sendiri?


"Abang... Astagfirlullah..." Mataku melebar, segera menepuk wajahku sendiri terasa sakit. Berarti aku tidak sedang bermimpi. Aku gigit bibir bawah ku kencang hingga terasa sakit dan anyir itu artinya bibirku berdarah.


Aku menutup kembali selimut kemudian ke kamar mandi berkumur menghilangkan darah di mulut.


Aku bersandar di tembok kamar mandi yang bersih dan tentu saja luas. Selaras mata ini terpejam.


Aku teguk ludah hampir tak tertelan, separuh nyawa terasa hilang. Air mata ini seketika mengalir deras. Allah telah mengabulkan doa aku, tetapi kenapa bertemu dengan suami, dalam keadaan seperti ini?


"Bang Tara..." mulut ini terus bergumam. Kecelakaan apa yang menyebabkan suami aku hingga lumpuh seperti ini? Otak di kepala ini segera mencerna mungkinkah bus yang mengangkut penumpang anak-anak KKN saat itu mengalami kecelakaan? Ya Tuhan..."


Tangis ku kembali pecah dan tak terbendung. Berarti Keke selama ini selalu mengurus Tara, lalu apa yang dilakukan wanita itu? Segera aku tarik napas dan berjalan lunglai menuju wastafel membasuh wajahku agar penghuni rumah ini tidak melihat jika aku baru saja menangis.


Aku kembali mengumpulkan sisa energi kembali ke menghampiri pria yang selalu mengisi ruang hatiku. Kembali ku singkap selimut posisi wajahnya sudah berubah yakni miring ke kanan.


"Abang... hiks hiks,' tidak bisa menolak lagi tubuhku segera memeluk pria yang tak berdaya itu. Tidak satu kata yang bisa ku ucap selain tangisku yang semakin kencang.


...Happy reading....

__ADS_1


__ADS_2