
"Sudah... Papa lebih baik mandi dulu" Maya mengait lengan suaminya agar mandi. Maya kemudian melanjutkan membantu bibi memasak di dapur.
******
Di Kabupaten, Bumantara belanja di toko. Ia berkeliling mencari perlengkapan, membeli kasur, seprai, bantal, guling, dan juga perlengkapan yang lain.
Sebenarnya, Tara berniat membeli ranjang yang baru, tetapi Fatimah melarang. Begitulah, Tara saat ini, berperan sebagai suami dadakan.
Jika dipikir-pikir, remaja berusia 22 tahun, menikah tidak direncanakan sebelumnya, sungguh di luar logika jika Tara sampai bisa melakoni. Tetapi rupanya ia berpikir dewasa, bertanggungjawab akan rumah tangga nya. Harapan Tara, bisa menjalani bahtera rumah tangga nya, bersama Rembulan, gadis yang baru di kenalnya itu, selamanya.
"Mau cari apa lagi sih? Tara... ini bawaannya sudah berat, tau! Nggak!" omel Ananta, sebab ia tidak lebih dari seorang kacung, membawa bermacam-macam perlengkapan hingga menutupi wajahnya.
"Kita titipkan saja dulu disini Ta, terus kita cari mie ayam," jawab Tara enteng. Ananta menitipkan barang-barang tersebut, kepada pedagang perlengkapan alat tidur, dimana ia membeli kasur yang belum Tara ambil.
Sementara Keke, sejak tadi diam seribu bahasa. Ia menekuk wajahnya. Tara tahu akan hal itu, tapi ia ingin menanyakan nanti setelah belanja.
"Bang... mie ayam nya tiga porsi ya," pesan Tara.
"Baiklah, di tunggu ya, Dek," kata pedagang mie ayam. Mie ayam ini sedang ramai, maka mereka harus antri.
"Bang, ada toilet nggak?" tanya Ananta, sejak tadi sudah menahan.
"Ada di dekat musholla, Dek" penjual mie, menunjuk dengan sendok. Ananta segera ke toilet. Tinggal berdua Tara dengan Keke ia ambil tempat paling sudut.
"Dip, kenapa loe menikah diam-diam, tidak bilang sama gw, dulu!" sungut Keke. Keke merasa kecewa, dan marah, ketika Tara menikah hanya memberi tahu Ananta.
Alasan Tara, hanya Nanta yang bisa diajak bermusyawarah, dan membantu Tara menyiapkan segala sesuatunya.
Tara yang awalnya sedang main ponsel sambil menunggu mie ayam, menghentikan kegiatanya. Lalu menatap mata Keke, tersirat kemarahan yang dalam, kepadanya.
"Kita memang sahabat Ke, tapi tidak semua harus aku ceritakan kepadamu kan, apa lagi yang menyangkut pribadi gw," ujar Tara.
Mendengar jawaban Pradipta hati Keke, merasa sakit.
"Gw pikir, perhatian loe, selama ini ke gw, lebih dari sekedar sahabat Dip, ternyata loe justru menikahi wanita lain," Keke menyusut air matanya dengan telunjuk.
"Maaf Ke, loe salah mengartikan persahaban kita. Perasaan gw sama loe, sama seperti perasaan gw ke teman-teman yang lain," jujur Tara, berkata hati-hati, agar tidak membuat hati sahabatnya terluka.
__ADS_1
"Okay... Dip, semoga loe bahagia," pungkas Keke. Keke beranjak pergi meninggalkan Tara, menuju pangkalan ojek. Ia numpang ojek kembali ke rumah warga.
********
Seminggu kemudian, Tara menyalakan kran air semua sudah lancar, walupun daya listik hanya 450 watt, asalkan cara memakainya di atur, tidak bersamaan dengan setrika baju, toh tidak akan turun.
Sebenarnya bisa saja, Tara menambah daya, tapi toh sebentar lagi, Tara akan membawa Bulan pergi dari sini. Jika hanya mertuanya yang pakai, tentu 450 watt sudah cukup.
Tara lalu menatap kamar mandi sudah di bangun dengan kokoh. Walaupun kamar mandi bukan di dalam kamar seperti di rumahnya, tapi setidaknya ia tenang jika istrinya sedang mandi, tidak lagi khwatir akan kepergok orang lain.
Tara flashback ketika sedang di mandikan Bulan, kepergok mertua, rasa malunya masih belum hilang hingga kini.
"Dooorrr..." Bulan menepuk pelan bahu suaminya, mengejutkan sang pemilik. Tara tersenyum, lalu melingkarkan tangan ke pinggang Bulan, mengecup kepalanya lembut.
"Terimakasih, Bang, sudah membantu kami" Bulan berkaca-kaca, mengamati kamar mandi.
"Bulan..." Tara berdiri berhadapan dengan itrinya, tanganya memegang dua sisi pundak Rembulan.
"Aku ini suami kamu, sudah seharusnya aku melakukan kewajiban ini, jadi jangan pikirkan apapun," ujar Tara.
Rembulan menengadah, memandangi pria yang lebih tinggi darinya kira-kira 10 cm itu, menatap lekat tampak ketulusan di hati suaminya. "Abang..." Bulan merangkul tubuh kekar itu.
"Maksud Abang?" Bulan melepas pelukanya, kembali mendongak menatap suaminya yang sedang tersenyum.
"Sekarang, kamu ikut aku," Tara memeluk pundak Bulan mengajaknya keluar turun dari rumah panggung.
Tara menemui mertuanya yang sedang memilah-milah sayuran di samping rumah panggung. Entah apa yang Tara bicarakan tidak lama kemudian menyandak sepeda milik Bulan.
"Ayo, sekarang naik," ajak Tara sudah berada di atas sepeda.
"Kita mau kemana Bang?" tanya Bulan penasaran, tak urung, ia naik sepeda juga.
"Nanti kamu akan tahu," Tara menggoes sepeda, melewati sawah, ladang. Sepanjang perjalanan diwarnai canda tawa. Bulan berdiri di atas sepeda, berpegangan pundak suaminya. Tara tersenyum senang, begini rasanya orang punya kekasih, yang selama ini belum pernah Tara jalin. Apa lagi ini kekasih halalnya, mau dibumbui apapun yang berkenaan dengan cinta justeru semakin sedap. Dengan garam, tambah gula, maupun penyedap, keduanya bebas melakukan.
Tidak terasa mereka sampai di kecamatan. Tara menitipkan sepeda di penitipan sepeda, kemudian memesan taksi. Taksi melaju menuju kota. Rembulan tidak lagi bertanya mau dibawa kemana toh suaminya sendiri yang membawanya.
Hingga taksi berhenti di depan salah satu bangunan tinggi menjulang. Yaitu hotel bintang lima.
__ADS_1
"Bang, ngapain kita kesini?" Bulan terperangah dibuatnya.
"Kita akan menginap di sini," jawab Tara ketika mereka berada di lift, menuju lantai tiga.
"Abang... kalau cuma mau tidur, kenapa kita harus kesini? Kamar kita di rumah kan sudah Abang rapikan, sudah diberi pintu pula. Abang jangan boros," Rembulan ngomel-ngomel seperti burung Beo.
Tara hanya menanggapi dengan senyuman kas nya. Hinga akhirnya Tara sampai di depan kamar, memasukan pin pintu kamar hotel.
"Masuk permaisuriku," Tara berucap ketika pintu sudah terbuka.
"Abang..." Bulan masih tidak percaya, selama ini belum pernah tidur di hotel. Jangankan tidur di hotel, tidur di kasur empuk saja baru seminggu ini, setelah Tara membelikan kasur.
"Ayo dong, jangan bengong," Tara menggandeng tangan istrinya, lantas mendudukan di ranjang. "Kamu senang tidak?" tara berjongkok di sisi ranjang.
"Terimakasih Bang," hanya itu, yang bisa Bulan ucapkan.
"Bang, aku ke toilet dulu," Bulan pun ke toilet setelah di angguki Tara.
Tara membuka celana jins, yang ia kenakan, dan hanya meninggalkan boxer. Lalu meletakan celana di lemari fasilitas hotel.
Tok tok tok.
Tara membuka pintu, melihat siapa gerangan yang datang, ternyata mengantar barang yang ia pesan. "Terimakasih," Tara menerima paperback.
"Bang" Bulan sudah keluar dari toilet, menghampiri Tara yang masih mengunci pintu.
"Bulan... ini milik kamu," Tara menyerahkan paperback.
"Apa ini isinya Bang?" Bulan memandangi paperback lalu beralih menatap suaminya.
"Buka saja," Tara tersenyum.
Bulan duduk di ranjang, kemudian tangan putih itu membuka paperback. Ia ambil isinya kemudian ia rentangkan.
"Bang..." Bulan terkejut ternyata isinya gaun panjang berwarna biru dongker cocok untuk gaun malam.
"Sebentar lagi, kita akan berpisah untuk sementara, istriku... jadi... mulai malam ini, aku ingin nanti malam kita dinner, hingga malam-malam berikut nya, selama tujuh hari, dengan gaun yang berbeda." Tara sungguh-sungguh.
__ADS_1
Bulan menatap Tara tidak percaya.