
Kemarahan Tara meluap kala mendapat fitnah dari sahabatnya sendiri. Padahal selama ini Tara sudah menganggapnya saudara.
"Loe kenapa jadi begini sih Ke? Tega sekali memfitnah gw!" Tara membentak Keke.
"Kenapa loe nggak mengakui saja! Kalau memang sudah meniduri gw" Keke tak kalah membentak. Adu mulut kedua sahabat yang dulu selalu bersama itu sampai puncaknya.
Maya dan Bisma mendengarkan pertengkaran merasa pusing. Walaupun Maya minta menyudahi keributan namun keduanya tidak mau mendengar.
"Hah! Gw nidurin loe?! Loe ngaca Ke! Tabuh loe itu tidak sedikitpun membuat gw bergairah, jadi jangan mimpi!" Baru kali ini, Tara semarah ini pada sahabatnya.
Keke mendelik gusar mendengar ucapan Tara mengatakan bahwa dirinya bukan wanita yang menggairahkan tanganya mengepal kuat.
"Tuh kan Ma, Dipta nggak mau tanggungjawab kalau sampai aku hami..." Keke tidak melanjutkan ucapanya karena langsung dipotong Tara.
"Cukup! mau loe apa Ke?!" Tara mendorong roda mendekati Keke mencengkeram kerah sahabatnya.
"Dipta... sudah!" Maya menarik tangan putranya.
"Permisi..." suara Sum lah yang akhirnya menghentikan pertengkaran.
"Tuan Dipta memanggil saya, ada apa?" tanya Sum sopan.
"Mana hp loe!" Dipta meminta hp Keke.
Bukan memberikan hp, Keke justeru melempar tatapan sinis ke arah Sum yang masih bingung untuk apa ia dipanggil ke ruangan ini. Biasanya jika masuk ke ruang kerja, Sum hanya membereskan saja.
"Berikan hp kamu!" imbuh Bisma mengulangi ucapan Tara. Mau tak mau Keke memberikan hp. Keke lupa jika di ruangan itu bukan hanya ada dirinya dan juga Tara. Namun pria yang ditakuti Keke di rumah ini pun sedang menatapnya bak singa yang siap menerkam.
Tara membuka galeri. "Sum, bukankah ketika Keke tidur di ranjang saya kamu berada di tempat itu?" Tara memperlihatkan foto pada Sumidah.
"Oh iya Tuan, saya memang saat itu berada di kamar Tuan," jawab Sum.
"Lalu apa yang dilakukan Dipta saat itu Sum?" tanya Maya sudah tidak sabar.
"Saya ada bukti nya Nyonya," tanpa diminta Sum membuka vidio dari hp miliknya, kemudian memperlihatkan pada Maya.
Saat Sum memergoki Keke ketika akan berbuat yang tidak senonoh kepada Tara. Sum merekam kejadian itu sebelum akhirnya memukul Keke dengan sapu lidi. Bahkan saat Keke foto selfie di ranjang tanpa Tara tahu, karena Tara belum terjaga dari tidurnya pun tertangkap dalam vidio tersebut.
"Jadi begini kelakuan kamu selama ini Keke! Saya kecewa sama kamu!" Maya akhirnya meradang.
__ADS_1
"Ma, semua ini aku lakukan karena aku mencintai Dipta Ma," Keke masih membela diri. Ia mengguncang lengan Maya yang sudah tidak mau menatap Keke.
Dipta rasanya ingin muntah mendengar kata-kata Keke. Tanpa permisi meninggalkan kamar. Begitu juga dengan Bisma.
"Sekerang bereskan barang-barang kamu Ke!" tandas Maya. Maya melangkah ke depan jendela memunggungi Keke.
"Setelah selesai, saya akan antar kamu pulang," tegas Maya.
"Tapi Ma," lirih Keke.
"Lakukan saja apa perintah saya Ke, dan mulai hari ini, benar kata Om Bisma, jangan panggil saya Mama," Maya pun akhirnya ke luar dengan perasaan marah, kecewa, dan benci.
"Memang enak! Di usir! Wlee!" Sumidah menjulurkan lidahnya ke arah Keke sebelum akhrinya melangkah ke luar.
"Prak!
Tempat bolpen berwarna biru yang untuk menyimpan barang-barang kecil milik Bisma melayang ke arah Sum. Bagusnya Sum segera berkelit ke samping hingga benda tersebut membentur tembok.
Sum berlari menjauh, tempat yang pertama ia tuju adalah dapur.
"Hoss... hoooss... hoooos," Sum segera ambil air minum lalu meneguknya.
"Keke ngamuk!" jawab Sum kemudian meletakkan gelas.
"Keke ngamuk? Kenapa Sum?" Bulan menghentikan kegiatanya.
Sum pun menceritakan apa yang barusan terjadi. Walaupun Maya berusaha untuk tidak memberitahu Bulan. Toh berita itu sampai di telinga Bulan. Bahkan sampai menunjukkan vidio mereka tonton bertiga. Bulan hanya bisa istighfar berkali-kali. Namun ia lebih mempercayai suaminya daripada Keke.
"Jadi Mbak Keke disuruh pergi Sum?" tanya Bulan.
"Benar Non, saya lega, kalau nggak ada Dia. Saya akan lebih lama berkerja disini, sampai A'a Abu melamar aku dan membawaku pergi dari sini," Sum percaya diri.
"Sum... Sum..." Bulan tersenyum melihat tingkah Sum yang sedang kasmaran.
"Memang Abu suka sama kamu Sum?" tanya Bibi.
"Hehehe belum sih... tapi A'a Abu suka datang dimimpi aku Bi" Sum yakin cepat atau lambat Abu pasti akan suka padanya.
"Sum... awewe itu bagusnya menunggu, ulah ngejar-ngejar kayak kitu," nasehat bibi kini beralih pembicaraan.
__ADS_1
"Iihh... bibi teh pemikiran seperti itu mah kuno, sekarang mah bebas, banyak kok perempuan yang suka duluan nembak." Sum tidak mau kalah.
"Oh iya Non, Non dulu sama Tuan muda nembak dulu, atau di tembak?" tanya Sum.
"Nggak nembak, nggak ditembak Sum, karena bisa mati nanti," kelakar Bulan. Meladeni Sum merupakan hiburan sendiri.
"Non... Saya teh serius..." kata Sum.
Bulan tersenyum mengingat kala itu. "Untuk saya pribadi, masih satu pemikiran sama Bibi Sum. Saya lebih senang di kejar daripada saya yang mengejar," jujur Bulan.
"Tapi saya takut Non, kalau nggak grecep nanti A'a keburu suka awewe lain," semangat Sum menjadi patah. Abu pria ganteng, dan alim pasti akan memilih cewek Jakarta yang cantik-cantik dan berhijap. Sum memperhatikan penampilannya sendiri.
"Jangan patah semangat dong Sum, tenang saja, saya sudah janji akan jadi mak comblang kamu." pungkas Bulan.
"Terimakasih Non,"
******
Di tempat lain Keke sudah selesai membereskan barang-barang nya. Ia menarik koper ke luar hendak kembali pulang. Pulang dengan membawa amarah dan dendam.
Sampai halaman ia menatap rumah mewah untuk yang terakhir kali. Ia tidak menunggu diantar Maya, atau siapapun. Bahkan pamit pun tidak. Sakit hatinya kini sudah memuncak. Ia buka pagar kemudian numpang taksi yang sudah ia pesan ternyata sudah menunggu di depan pagar.
Taksi berjalan sedang akhirnya tiba di depan rumah berlantai dua. Keke memencet bel yang berada di luar pagar. Tidak lama kemudian wanita setengah baya membukanya.
"Keke... kamu pulang?" tanya Herlina menatap koper yang di bawa Keke dan beralih ke wajah putrinya yang sedang suntuk. Herlina menyimpulkan bahwa sedang rerjadi sesuatu pada putri satu-satunya.
"Apakah Maya akan datang kesini, untuk melamar kamu?" Lina masih berpikir positif.
"Tidak akan ada lamaran Ma! Semuanya gagal!" jawab Keke dengan suara keras. Kilat marah berkobar di wajah Keke.
"Keke..." Herlina mendekatinya memegang kedua pundak Keke berhadap-hadapan.
"Keluarga Bisma sudah berani mengusir aku Ma" Keke kali ini menangis.
Di rangkulnya tubuh sintal itu oleh sang mama. "Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu, tenangkan hatimu," kata Herlina. Herlina mengantarkan Keke ke kamar. Jika putrinya sudah tenang nanti baru akan bicara.
Keke melempar tas slempang ke sembarang arah, bagusnya di tangkap Herlina. Jika tidak handphone milik Keke sudah pasti hancur. Keke akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke kasur yang sudah dua bulan tidak ia tiduri.
"Sekarang istirahat, kamu pasti belum makan siang, Mama masak kesukaan kamu, ya" pungkas Herlina. Sebelum ke dapur, Herlina menghubungi suaminya dulu. Bicara mengenai keadaan anaknya.
__ADS_1
.