
Vito mohon izin pada Sesilka untuk menemui Raka, Brian, dan Doni. Vito meminta mereka untuk duduk dimanapun mereka mau. Raka langsung berjalan ke meja Sisilia, diikuti oleh Brian, Doni dan Vito.
"Boleh saya duduk disini?"Raka melihat Sisilia dan Rini bergantian
"Boleh kak Raka, silahkan". Rini mempersilahkan Raka duduk.
Tapi setelah Raka duduk, kursi di meja itu kurang, hanya ada 4 kursi. Doni yang ingin duduk malah kebingungan. Sisilia yang melihat Doni langsung berdiri.
"Kak Doni duduk disini aja, biar aku ke atas," Sisilia menunjuk kursinya pada Doni.
Doni yang berpikiran dangkal itu mengangguk tanpa rasa bersalah. Lalu berjalan ke kursi itu. Raka langsung berdiri ketika Doni baru saja menempelkan pantatnya di kursi.
"Vito, ada meja buat 6 orang?". Raka melihat ke sebelah.
"Ada bang, itu yang di sebelah deket jendela!,". Vito menunjuk ke meja yang pas untuk 6 orang itu.
"Kenapa kita gak duduk disana, ayo Sisilia!" Raka menyebut nama Sisilia yang sudah mau kabur kembali.
Terpaksa Sisilia ikut duduk, di samping Sisilia ada Rini dan Doni. Raka yang belum duduk rasanya kesal dengan Doni. Beruntung Brian yang peka meminta Doni untuk pindah.
"Doni". Brian memanggil Doni dan memakai bahasa isyarat yang dulu pernah mereka gunakan untuk menyontek di kelas.
Sisilia, Vito dan Rini heran melihat Brian. Lalu Doni menerjemahkan kata-kata Brian, Jangan duduk disitu, kasih tempatnya ke Raka !!. Doni langsung berdiri dari kursinya dan pindah ke kursi sebelah. Tersisalah satu tempat kosong di samping Sisilia. Raka pun berjalan mendekat dan menduduki kursi itu.
Sesilka membawakan mereka air putih, lalu menawarkan makanan gratis karena mereka adalah senior Vito. Tapi Raka menolak, ia tidak mungkin menerima makanan gratis karena nafsu makan Doni tidak main-main. Bisa-bisa restoran itu rugi besar.
"Gak usah gratis, lagipula Doni itu makannya banyak. Kamu suka pesen apa Sisilia?".Raka terkejut dengan ucapannya sendiri, bagaimana mungkin dia menanyakan Sisilia saja. Sisilia yang mendengar jauh lebih terkejut dan bingung.
Raka mencoba mencari jalan." kalau kamu Rini ?. Atau kalian punya rekomendasi?". pyuuh hati Raka sedikit lega, untung ia bisa menjaga ekspresinya tetap tenang dan biasa saja.
Untuk urusan menjaga ekspresi, Raka memang ahlinya, ia bisa tertawa saat sedih atau tersenyum saat terluka. Ia bahkan bisa tidak kesakitan saat dipukul preman habis-habisan dulunya saat SMP sebelum ia memutuskan belajar karate. Sampai masuk ruang UGD pun Raka masih tersenyum pada mamanya. Akhirnya Vito memilihkan makanan mereka dan membantu Sesilka mencatatkannya.
"Cewek loe Vito?". Doni menyenggol tangan Vito.
"Iya bang" Vito tersenyum sambil menatap Sesika berjalan membawa kertas pesanan.
__ADS_1
"Kasih gue kuncinya dong! biar bisa dapetin cewek . Atau dia punya temen gak kenalin ke gue kek". Doni berbisik pada Vito, namun didengar oleh semua orang di meja itu yang memandang ke arah Doni. Doni hanya tersenyum tanpa rasa malu.
" Ada bang, itu yang berdiri di meja kasir". Doni melirik ke meja kasir, wah cantik. Doni ingin berdiri tapi langsung ditahan Vito.
"Dia udah tunangan bang". Doni merangkul leher Vito kesal dipermainkan
"Temennya udah pada pulang kampung bang, kebanyakan temennya udah pada punya pacar. Kalo pun ada, Pacar gue pasti gak mau". Doni sedikit bingung mendengar Vito.
"Soalnya dia gak terlalu deket sama temennya yang lain, kecuali yang di meja kasir. Sesilka gak mau terlibat sama percintaan orang bang, gue gak mau dia ngambek sama gue". Doni hanya bisa menarik nafas.
Bu Jum meletakkan berbagai hidangan di meja, selagi makan, Brian penasaran dengan apa yang dibicarakan Rini dan Sisilia. Tapi Rini dan Sisilia hanya membalas dengan sedikit tersenyum.
Vito yang seperti ember bocor berinisiatif langsung menjelaskan. Vito mengatakan kalau Rini masih tidak diterima di pekerjaan yang ia lamar. dan ia langsung ditatap sinis oleh Rini. dan Sisilia pasti masalah sewa.
"Vito" Sisilia menatap Vito tajam, sebelum Vito menyelesaikan kalimatnya
"Gak apa-apa kan bang, kita kan udah pernah dan sering ngobrol juga waktu dulu pas latihan karate". Vito melirik Doni dan dibalas tepukan ringan Doni di bahunya.
"Kamu mau ngelamar pekerjaan apa Rini?". Raka bertanya pada Rini serius.
"Kamu ngelamar di perusahaan kita saja, kebetulan kita punya posisi kosong buat bidang keuangan, kamu bisa magang dulu. Kalau kamu bisa, kamu bisa jadi pegawai tetap". Raka menawarkan pada Rini dan membuat Mata Rini berbinar-binar.
Tapi Rini merubah ekspresinya sedikit datar " Tapi berarti aku gak digaji dong?. Perusahaan kak Raka kan jauh, uang aku udah menipis." Sisilia heran Rini bisa mengatakan tidak digaji dan uang tidak ada dengan santai. Padahal tadi menatap Vito sinis waktu dibicarakan.
Raka sedikit tergelak "hehh, tenang walaupun kamu magang kita tetap akan kasih bayaran kok, apalagi ini kantor cabang kita. Rata-Rata pegawainya juga banyak yang baru, walaupun sebagian pernah ada di perusahaan pertama"
"Kamu bisa mempersiapkan lamaran kamu besok" Lalu Raka menyuap potongan daging cincang ke mulutnya.
Mata Rini kembali berbinar " Perusahaan apa namanya kak?"
"RBD CYNOC" Raka, Brian dan Doni serentak menjawab.
"Kepanjangannya Raka Brian Doni CYber NO Crime" Brian menimpali.
"Kenapa namanya RBD, sesuai kekuasaan?". Vito bingung dengan urutan nama itu.
__ADS_1
"Gak ada, waktu itu kita mutusin pake suit, terus Raka menang jadilah R, habis itu Saya menang dari Doni makanya jadilah B baru D". Diikuti gelak tawa Brian.
" Masalah CYNOC itu Raka yang memberikan namanya, soalnya Raka menang Suit sekali lagi"
Kini Semua yang di meja ikut tertawa, betapa konyolnya proses penamaan perusahaan mereka hanya dengan Suit. Termasuk Sisilia yang ikut menggelengkan kepalanya, ternyata mereka bertiga memang memiliki sisi konyol yang sama. Wajar saja mereka bisa sedekat itu sampai mendirikan perusahaan bersama.
****
Raka memecah tawa mereka dengan bertanya pada Sisilia dan Vito " udah-udah, urusan itu udah selesai, sekarang sewa apa yang kalian pikirin?".
Ember bocor alias Vito kembali bereaksi " Sewa gedung ini bang, "
Sisilia langsung memotong Vito " Vito apaan sih".
" Lanjut aja ,siapa tau kita bisa bantu" Brian merangkul Doni.
" Sewa gedung ini perbulan bang, kita baru buka, pelanggan belum terlalu banyak. Susah bang, Si pemilik sih udah nyuruh beli, tapi mahal banget. Gak sebanding sama pendapatan kita?. " Vito yang dengan mudahnya menceritakan masalah sewa membuat Sisilia memutar-mutar pasta spaghetinya dengan garpu
"Dasar Vito Ember bocor, malu kek di depan orang. Malah ngomongin gak mampu bayar sewa dengan lancar lagi"
"Saya bisa bantu". Raka menatap Sisilia dan Vito.
" Maaf kita gak mau minjem uang kak Raka". Sisilia berhenti memutar garpunya.
" Saya bisa jadi tuan tanah kalian". Raka menatap Vito dan Sisilia.
Sisilia tanpa sadar menatap Raka bingung. Bukan hanya Sisilia, tapi juga Vito dan Sesilka yang ikut mendengar.
" Kenapa" Raka heran dengan ekspresi semua orang.
dan kini semua yang berada disana terdiam. Semua Mata tertuju pada Raka. Selesai mereka makan, Brian membayar ke kasir. Raka, Sisilia dan Vito beserta Sesilka mengadakan rapat darurat di meja 4 orang tadi.
Raka mengatakan jika ia bukanlah tuan tanah asli, melainkan sebagai perantara. Pemilik gedung adalah perusahaan orang tuanya. Sesilka langsung setuju dengan Raka, diikuti oleh Vito. Sisilia terpaksa ikut menyetujui karena ia sudah kalah suara.
Akhirnya Raka,Brian dan Doni keluar dari Restoran itu. Mobil kini sudah dihidupkan. Setelah membunyikan klakson, Mobil itu melaju kembali ke tempat parkir perusahaan si yang punya.
__ADS_1
Bersambung...