
Sisilia uring-uringan di tempat tidurnya. Sisilia mengacak rambut dan berguling-guling di kasur di balut selimut yang berantakan. Baru saja Ibunya memberi tahu kalau Orang tua Bimo terutama Ibunya ingin bertemu mereka. Bahkan Ibu Bimo sudah memesan restoran mahal buat mereka.
Sisilia meraih Hpnya yang terbawa gulungan selimut. Mencari Restoran yang disebutkan Ibunya dan review dari pengunjung mereka. Terlihat jelas itu cocok untuk pertemuan keluarga yang penting dan intens.
'Aduuh Bimo bener-bener ya. Aku nolak kalau cuma ketemu dia. Eh malah disuruh ketemu orang tuanya. '
Sisilia merasa sudah terperangkap sebuah jaring. Ia tidak bisa menolak karena dulu mereka adalah tetangga yang sangat dekat.
Ibu Sisilia dan Bimo juga saling memberi dan menerima layaknya saudara. yang jadi pikiran Sisilia adalah mengapa Orang tuanya juga diajak ikut. Sisilia tidak tau mengapa perasaannya tidak enak.
Sisilia merasa buntu, ia langsung menelfon andalan nomor satunya Rini. Rini yang sedang mencek tugasnya agar tidak terdapat kesalahan menerima panggilan dari sahabatnya itu.
Sisilia bingung apakah ia harus memberi tahu Raka atau tidak. Ia takut bersikap berlebihan dan Raka malah menyebutnya aneh. Tapi ia juga tidak mau kejadian sebelumnya terjadi lagi. Raka nanti salah paham dan membuat hubungan mereka renggang lagi.
Rini langsung menggeser layar laptopnya dan fokus pada pembicaraan dengan Sisilia. Rini menyarankan agar Sisilia memberi tahu Raka karena hubungan mereka bisa dianggap sudah mendekati jenjang resmi dan tidak boleh menyembunyikan apapun. Rini juga tidak mau jadi penghubung kalau nanti mereka kembali salah paham.
Sisilia langsung tercerahkan, Rini memang punya otak yang bisa ia andalkan. Sisilia langsung mencari nomor Raka dan mengatakan perihal Pertemuan esok hari.
Raka disana hanya menanggapi santai seperti biasanya. Sisilia yang sudah ragu jadi lega. Sisilia bahkan tidak tau harus bereaksi seperti apa jika Raka kesal dan melarangnya pergi.
***
Esok harinya..
Sisilia, ayah dan Ibunya sudah bersiap akan pergi ke Restoran itu. Mereka naik taksi bersama karena tempatnya cukup jauh dan tidak memungkinkan untuk mengendarai motor.
Di lain tempat.Raka sudah bersiap bersama Doni dan Brian. Semalam mereka sudah berdiskusi tentang rencana hari ini. Perusahaan juga sudah diberi tahu agar dihandle eksekutif dari kantor pusat yang direkrut dengan kenaikan gaji itu. Apalagi saat mereka bertiga ada urusan, bonus sudah ada dalam genggaman eksekutif lainnya.
Sisilia disuruh duduk oleh Ibunya Bimo agar berdampingan dengan anaknya. Sisilia hanya bisa pasrah karena ia yang diajak kesitu.
Obrolan mereka awalnya basa basi seperti kebanyakan orang yang sudah lama tidak bertemu. Ayah Bimo yang sibuk bahkan datang, membuat Sisilia semakin gugup.
Sisilia meminum air putih yang tersedia di meja dan menghabiskan hampir semua isi air di cerek kaca bening itu. Sisilia melihat seisi ruangan dan merasa gelisah.
Berbagai makanan yang sudah mereka pesan sudah terhidang di meja. Mereka menikmati makan sambil mengobrol.
__ADS_1
Sisilia merasa begah karena terlalu banyak minum air. aduh gimana nih.Kenyang banget minum air hampir satu cerek. Sisilia mengusap perutnya sendiri.
Bimo berbisik pada Sisilia " Yia, kamu kalau gugup jangan minum banyak-banyak. Kamu Bisa..."
Sisilia balas berbisik " Siapa bilang aku gugup, kan ini cuman reuni tetangga saja. aku minum karena haus tau."
Bimo hanya membalas " Owh"
Obrolan mereka terus berlanjut dan berlanjut. Memang benar, obrolan Ayah Bimo akhirnya tetap mengarah pada Sisilia yang masih lajang juga anaknya yang masih lajang. Ayah Bimo meminta pendapat pak Deri, ayah Sisilia.
Tanpa diduga Pak Deri menjawab dengan keyakinan bahwa ia tidak bisa menentukan pasangan anaknya. Karena hal itu di luar kendalinya, pak Deri juga menjelaskan kalau Sisilia mungkin sudah memiliki calon sendiri dan tugasnya adalah menyeleksi dan memberi restu. Bukan memaksa siapa yang cocok untuk anaknya, karena Perasaan dan pernikahan harus sejalan.
Sisilia menatap ayahnya kagum. Ternyata walaupun Ayahnya hanya mendengar bagaimana Raka dari Sisilia. dan belum pernah mengobrol langsung karena Raka yang ingin mempersiapkan diri dahulu dan tidak melupakan Raka.
Bu Asti ibunya Sisilia langsung mengusap tangan Ibunya Bimo mengatakan kalau anak mereka memang cocok. Ibu Asti itu tetap saja adalah pengagum tiga profesi idaman. Bimo yang seorang dokter bisa membuat Bu Asti lupa kalau anaknya suka dengan Lelaki lain.
" Sudah cukup Bu, yang mau nikah itu anak kita. Bukan ibunya kan." Pak Deri mencoba menarik lengan istrinya yang terus memegang tangan Ibunya Bimo.
" Benar sekali, membuat saya tidak bisa bekerja saja. " Ayahnya Bimo mendumel sendiri karena harus izin dari Rumah Sakit. dan situasi yang aneh tak sesuai harapannya.
"Ayah gimana sih. Bukannya ngedukung Ibu." Bu Asti berbisik pada suaminya.
Berbagai hidangan masuk ke dalam ruangan itu. Hidangannya dilengkapi dengan sebuah tulisan.
'Sisilia Love Raka
'Sisilia sudah punya pasangan dan calon suami'
'Sesuatu yang dilakukan dengan curang dan sepihak tak akan berakhir baik.'
Pak Deri terkekeh melihat hal itu. Apalagi ditambah inisial R di bawah tulisan itu. Bimo segera menyingkirkan berbagai tulisan itu.
Sisilia yang kaget tidak bisa mencerna apa yang ia lihat. Pantas saja semalam Raka tidak bereaksi apa-apa dan terdengar santai. Ternyata Raka datang ke tempat yang ia sebutkan. Sungguh tak terduga, Raka pasti merencanakan hal itu.
"Siapa yang memesan hidangan ini." Ibunya Bimo nampak kebingungan.
__ADS_1
Pelayan yang mengantar hanya mengatakan kalau itu adalah hadiah dari seseorang pada pelanggan yang bernama Bimo. Pelayan itu keluar dari ruangan meninggalkan perasaan bingung masing-masing orang di dalam.
" Sepertinya saya tidak punya banyak waktu lagi. Saya harus pulang dan ke Rumah Sakit" Ayah Bimo berdiri dari kursinya.
Istrinya menahan lengan suaminya itu. Namun segera dilepaskan. " Saya rela datang kesini karena ia bilang sudah pasti. Tapi apa, dia hanya bersikap kekanak-kanakan." Ayah Bimo menunjuk Bimo dengan amarahnya.
" Tapi.." Ibu Bimo ingin berbicara.
" Bu Jangan terus mendukung anakmu kalau dia to tidak bisa berpikir mana yang betul dan mana yang memalukan." Ucap Ayah Bimo.
Ayah Bimo segera pergi setelah berpamitan. Ibunya Bimo juga pergi untuk menenangkan suaminya itu.
Pak Deri juga menyuruh istrinya pulang. Tapi Bu Asti tak mau pulang sebelum Sisilia dan Bimo meluruskan keadaan. Terpaksa Sisilia menuruti Ibunya dan tinggal di ruangan bersama Bimo.
" Aku mohon lain kali jangan lakuin ini lagi Bimo." Sisilia berubah serius.
" Kenapa, kamu mau ngadu lagi sama si Raka itu. Dia kan yang ngancurin rencana aku?." Bimo menggenggam jemarinya.
" Aku gak akan merahasiakan hal ini sama kak Raka." Sisilia juga tak bisa lagi menahan rasa kesalnya.
" Kamu tau gak kenapa aku ngelakuin hal ini?". Bimo bertanya pada Sisilia.
Sisilia hanya diam tak mau menanggapi.
" Karena aku cinta sama kamu. Tapi kamu selalu menjaga jarak dari aku Yia." Bimo menekankan suaranya.
" Aku udah bilang kalau yang aku cinta itu kak Raka dan bukan.." Belum selesai Sisilia berbicara, Bimo memotong ucapan Sisilia.
"Kamu selalu menyebutkan Raka dan menolak bertemu aku. Kalau gak karena orang tua kamu, kamu gak mau datang." Bimo langsung to the poin.
" Pantas saja kamu selalu gunain Ibu aku." Sisilia menggenggam ujung bajunya.
" Kenapa kamu lebih milih orang itu. Aku lebih dulu tau kamu daripada dia Yia." Bimo mendekat dan memegang tangan Sisilia.
Sisilia melepaskan tangan Bimo. " Bukan Masalah kamu yang duluan tau Bim. Tapi ini soal perasaan."
__ADS_1
Bersambung...
...CINTA ITU BUKAN SIAPA YANG HADIR DAN MENGENAL LEBIH AWAL. KARENA KEHADIRAN HANYA UNTUK ABSENSI. DUA HATI HARUS HARUS SALING MENGERTI. BAHWA CINTA ADALAH SIAPA YANG MEMBUAT NYAMAN DAN MAMPU BERTAHAN HINGGA AKHIR. ...