Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Dandanan Brian


__ADS_3

Raka sudah berhasil memberi tahu Vito. Tanpa diduga, Vito menerima tanpa seribu alasan. Sisilia dan Sesilka pasti bisa ikut. Doni merasa lega, dan dengan senang hati menyemprot Bebo.


" Tumben" Raka dan Brian melihat Doni yang biasanya muak mengurus Bebo.


" Semoga aja penginapan loe sukses ya, terus cepat cari calon istri kayak Raka !". Brian menepuk bahu Doni.


Doni lalu menyingkirkan tangan Brian dan meletakkan penyemprot ke tempat semula. Doni berbalik mengusap punggung Brian. " Gak usah ngasih saran ke gue, Cemasin aja diri loe sendiri "


Brian langsung menerima panggilan dari bapaknya, apalagi kalau bukan desakan menikah. Doni dan Raka hanya tertawa mengejek Brian dari jauh.


****


Di sisi lain Rini meminta Sisilia menginap di tempatnya lagi. Rini curhat mengenai perjodohan berkali kali yang diminta orang tuanya.


Sisilia mendengar sambil memakan camilan favorit nya. Rini harus bertemu setidaknya dengan pilihan papanya, karena kebetulan orang itu bekerja di perusahaan yang sama dengan Rini.


" Menurut kamu gimana Sil?". Rini ikut memakan camilan di tangan Sisilia sampai Sisilia menepuk tangan Rini.


" Ya udah ketemu aja Rini". Sisilia masih makan camilan dengan santai.


" Tapi aku gak kenal, gimana kalau ternyata dia itu gak kayak tipe aku". Rini menepuk keningnya sendiri berpikir yang aneh aneh.


" Tipe kamu?, kak Fandi. Rini kamu masih belum bisa ahhg..". Rini memasukkan camilan banyak ke mulut Sisilia untuk membuatnya berhenti bicara.


Tentunya Rini sudah lama melupakan Fandi. Bahkan semenjak Fandi menganggap dirinya adik. Melihat Fandi sudah tak ada rasa kekaguman sedikitpun lagi di hati Rini.


Rini hanya menginginkan pertemuan alami dengan jodohnya nanti. Dia mau seorang lelaki yang bisa membuat ia nyaman dan bahagia, dan juga harus tampan.


" Ilangin!". Sisilia menatap Rini.


" Ilangin apa Sil, ". Rini bingung.


" Maksud aku, ilangin kata tampan dari jodoh impian kamu, Tampan kan Relatif". Sisilia menekankan ucapannya.


" Iya relatif buat kamu yang ternyata disukai oleh cowok yang sangat tampan kayak kak Raka". Rini merasa kesal.


" Kamu kan tau , aku bahkan suka kak Raka meskipun gak ada wajahnya, Udah lama malah. Dia bisa dibilang cinta pertama aku dan.."

__ADS_1


" dan ternyata dia benar-benar menjadi dan tetap menjadi cinta pertama kamu kan Sil". Sisilia mengangguk.


Sisilia akhirnya merancang pertemuan Rini dan calon oleh orang tuanya. Bahkan Sisilia mencari sumber referensi dari berbagai drama tv.


*****


Sebelum pergi menemui wanita yang diatur bapaknya. Tak lupa Brian didandani dahulu ke salon menjadi preman sesuai arahan Raka. Mukanya dipenuhi oleh luka dan bekas jahitan, benar benar terlihat kejam dan beringas sampai orang yang menjumpai Brian di dekat pintu keluar terperanjat, bahkan ada yang sampai jatuh karena lari ketakutan.


" Emangnya gue seseram itu ya?". Brian menatap dua sahabatnya meminta penjelasan.


" Ooh enggak, tapi cukup buat bikin anak gadis orang serangan jantung". Raka menjentikkan jarinya.


" Eh kalau dia beneran punya penyakit jantung gimana". Tiba-tiba Doni khawatir.


" Enggaklah, kata bapak gue dia itu sehat bahkan sampai bisa hidup jauh dari keluarganya. Gue gak nanya dia kerja dimana atau umurnya berapa biar bapak gue gak mikir kalau gue tertarik sama dia". Brian menjelaskan.


" Harusnya loe mintak penjelasan dulu, siapa tau dia orang yang loe kenal kan". Raka menebak.


" Gak mungkinlah, ". Brian langsung masuk ke mobil karena orang-orang terus menatapnya aneh dan ngeri.


Brian sudah duduk sambil memainkan hp nya. Restoran dengan meja no 10, tempat bapaknya menyuruh bertemu dengan seorang gadis. Raka beserta Doni ada di nomor 11, Doni langsung makan ketika menu sudah berdatangan. Raka dan Doni duduk di meja lain sambil menyiapkan telinga jika ada yang tak beres.


10 menit kemudian Rini datang sambil memakai masker. Sisilia duduk di tempat lain sambil memesan minuman.


Restoran yang bersekat pembatas itu membuat siapapun tidak tau dengan orang yang ada di samping meja mereka. Dengan kata lain harus saling bertemu sejak sebelum masuk untuk saling mengenali atau mengingat nomor meja agar tidak salah tempat.


Jangan lupa membayar pesanan dahulu sehari sebelumnya karena restoran itu memiliki sistem waktu. Sisilia ada di meja nomor 8, sangat susah untuk membooking meja karena harganya yang mahal. Terpaksa Rini dan Sisilia iuran saja karena Sisilia sudah banyak membantu Rini.


Rini duduk dan menggaruk pipinya, Sisilia sudah membantu mendandani Rini seperti terserang penyakit menahun. Rini juga berpura-pura batuk, dan melihat ekspresi pria yang sedang duduk bahkan tidak bergeming dari makanan dan menunduk tanpa melihatnya.


'Dasar cowok belagu, aku udah Dateng malah makan duluan. Gak tau tata Krama'


" Kamu telat 10 menit loh, makanannya udah keburu dingin. Jadi saya angsur duluan". Brian merubah nada suaranya dan masih makan.


" Oh ya,". Rini duduk menatap semua menu yang sepertinya sudah dicicipi oleh Brian.


" Saya pikir harusnya anda punya sopan santun loh, masak semuanya anda cicipin. Terus saya makan sisa dong?". Ucapan Rini tak di dengar Brian.

__ADS_1


Brian meneguk air di gelas untuk melancarkan masuknya makanan tak sengaja melihat Rini membuka maskernya. Prushhh.. Air di mulut Brian menyirami makanan di meja, Brian kaget melihat wajah wanita di hadapannya.


" iih dasar jorok loe,, Aaaaaaaaaaa". Rini berteriak melihat Brian yang dengan dandanan bak preman kejam menatapnya sambil memegang garpu di tangan kanan.


Sisilia yang mendengar Rini berteriak langsung masuk ke sebelah. Raka juga langsung berdiri tapi Doni masih sibuk makan membuat Raka harus menyeretnya untuk melihat situasi.


Sisilia melihat Rini ketakutan mengambil pisau di meja dan mengarahkan ke Brian sambil berdiri di depan Rini berusaha melindungi. " Jangan macam macam yaa, saya ini karate tingkat, tingkat tinggi". Sisilia tergagap karena ia juga takut dengan Dandanan Brian.


" Saya itu...". Brian berusaha menjelaskan tapi langsung dipotong Sisilia.


" Di diam, saya karate tingkat tinggi. Rini kamu keluar aku bisa ngadepin pake ini". Sisilia mengangkat Pisau ke arah Brian.


Brian terpaksa diam saja sambil mengangkat tangan ke atas seolah ditangkap oleh polisi. Ia takut nanti malah melukai Sisilia jika merebut pisau dengan paksa.


' Mampuss, kalian berdua kemana sih. Entar kalau gue ngomong dan Sisilia mainin pisau ke gue gimana. Diam aja deh.'


Rini yang mau lari keluar bertemu dengan Raka dan Doni. Raka sedikit kaget dengan dandanan Rini yang ada bentol bentol seperti jerawat besar. Lalu melihat Sisilia bergetar sambil memegang pisau. Rini bersembunyi di belakang Doni yang masih mengunyah makanannya.


" Sisilia". Raka mendekat.


Sisilia melihat Raka datang lalu tetap waspada menatap Brian. Raka memegang tangan Sisilia dan menurunkan pisaunya. Sisilia yang masih bergetar melepaskan tangan Raka dan berbalik ia memegang lengan berotot Raka.


Raka memeluk Sisilia " Saya minta izin meluk kamu dalam keadaan begini". ' Keadaan darurat yang menguntungkan'


" Tapi dia, ". Sisilia mencoba Berbicara.


" Dia itu Brian, dan kamu..." Belum selesai Raka bicara Sisilia sudah melepaskan pelukannya.


" Jadi dia kak Brian?".


" Kalau tau kamu udah ngelepasin pelukan saya secepat kilat menyambar, harusnya saya bilang dia preman". Raka memeluk bekas pelukan Sisilia, udara saja yang bisa dipeluknya.


Ucapan Raka membuat Sisilia kesal dan menginjak kaki Raka. Raka Meringis kesakitan " Maafin saya Sisilia, dia emang Brian. "


Akhirnya Brian yang sedari tadi mengangkat tangannya bisa berhenti. Brian melemaskan tangannya yang sudah lelah. ' Akhirnya gue lepas'


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2