
Kesya yang terus berdebat dan mengulangi hal yang sama dengan Sisilia membuat Vito pasrah. Beberapa kali Vito mencoba menghentikan mereka tapi diabaikan.
Vito hanya bisa melapor pada Raka lewat pesan chat. Tapi Raka tak membacanya karena Hp Raka dimatikan selama menjalani Rapat.
Perdebatan mereka nampaknya memanas. Baik Sisilia dan Kesya kekeuh dengan pikiran masing-masing.
Lalu Kesya juga memancing amarah terpendam Sisilia. Kesya tau Sisilia sangat menyukai tanaman.
" Kamu pikir, ngurusin tanaman itu karir yang bagus apa?." Kesya melirik barisan tanaman yang berada dalam pot, ia juga sudah menanyakan harganya.
" Bagus atau tidaknya, yang penting buat kita bahagia." Sisilia menjawab penuh pendirian.
" Kalau gitu saya beli dari barisan sini sampai sini, capek ngomong terus." Kesya mengeluarkan dompetnya.
'Huuh, sabar Sisilia anggap saja ia pelanggan menjengkelkan biasa yang sudah banyak datang juga sebelumnya. Capek ngomong, aku yang capek ngeladenin dari tadi tau gak.'
" Mau diantar atau bawa sendiri mbak." Sisilia kembali bersikap layaknya pemilik toko pada pelanggan.
" Gak usah." Kesya menjawab dengan sombong.
Lalu Kesya melempar uangnya ke lantai. Sisilia melihat uang yang berserakan itu, rasanya ingin dinjjak sampai tak berbentuk lagi.
" Ambil uangnya!." Kesya memakai nada memerintah.
" Sesuai aturan, harusnya uang diberikan ke tempat kasir mbak." Sisilia menahan emosinya yang mulai bergejolak.
" Gak usah saya bilang." Brukkkk..brukk.... Barisan tanaman itu dijatuhkannya ke lantai.
Kesya tersenyum sehabis menjatuhkan tanaman yang ia beli. Sisilia tak bisa berkata-kata, yang ada dalam benaknya adalah menjaga imej sebagai pemilik toko.
Vito segera meminta orang yang baru masuk agar kembali lagi besok. Vito juga mengganti keterangan open di pintu menjadi close.
" Kalau mau ngancurin habis dibeli, setidaknya pas sudah dibawa keluar. Jangan disini!." Sisilia menahan suaranya.
Sisilia yang masih tak masalah, membuat Kesya semakin marah. Tanaman yang sudah berada di lantai ia injak sampai tak berbentuk.
" Cukup, Anda punya nurani gak sih." Sisilia setengah teriak.
Sisilia berjongkok, memegang tanaman yang sudah hancur. Lalu ia berdiri menatap Kesya dengan gerahamnya yang ia tekan untuk mengurangi emosi yang akan meledak.
__ADS_1
Kesya mendekat pada Sisilia. " Atas dasar apa kamu lebih cocok dari saya, karir pun hanya begini."
Plak...
Tamparan mendarat di pipi Sisilia. Sisilia merasakan panas mendalam di pipinya. Kesya menampar sekuat tenaga hingga Sisilia meringis.
Sisilia tak bisa diam lagi, emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Sisilia membalas tamparan itu dengan tangannya yang terkena tanah bekas pot yg pecah.
'Aku gak boleh diam. Dia pikir aku selama ini nahan biar gak ikut campur emangnya gak sudah apa. Udah deh pikirin akibatnya nanti Sisilia.'
Sisilia Ingat satu hal, kalau diammu diinjak kamu harus balas dua kali lipat. Walaupun ingatannya sedikit berbeda, yang jelas initinya adalah jangan mau dianggap lemah.
"Ih kan kotor." Kesya menyingkirkan tanah yang mengenai pipinya.
"Ooh kotor perasaan tangan kamu juga kotor. Lihat tanaman yg gak bersalah itu harus pecah sia-sia padahal banyak orang yang bisa merawat dengan lebih baik ." Sisilia menaikkan dagu mrnantang.
" Kamu pura-pura lugu kan. Kamu adalah perempuan murahan yang cuma mau harta Raka." Kesya tak kalah menantang, ia menhlgelus pipinya yang juga terasa sangat panas.
"Sebaiknya kamu merenungi kesalahan kamu. Selama ini saya diam bukan karena takut. Tapi hanya tidak bisa berhubungan dan ikut campur dalam hubungan masa lalu kalian. Tapi kalau nyinggung saya apalagi hasil kerja keras saya jangan harap saya bisa mentolerir hal ini. Mau saya laporkan mengganggu bisnis orang lain. Kalau mau ngancurin silahkan. Asalkan tidak di di dekat saya." Sisilia terdengar lugas.
Sisilia mengambil uang yg berjatuhan. dia tak perduli jika Kesya meringis dan menangis di depannya.
"Aww sakit" gumam Kesya dalam hati.
"Kita belum selesai saya harus lapor petugas. Kalau gak mau bayar kerugiannya baik materil dan mental. Saya juga capek buat bersihin loh." Sisilia tersenyum simpul.
" Jagan, ini ganti ruginya, Kesya memberikan uang lagi." Lalu Kesya segera berlari keluar sambil menangis.
Kekuatan tangan Sisilia bisa dibilang cukup kuat dibanding perempuan lain. Apalagi ia pernah belajar karate walau tak selesai. dan juga ia sudah sering melakukan beban kerja kasar seperti mengangkat tanaman. Jadi dibanding dengan Kesya ia lebih kuat baik dari segi tamparan dan juga dari segi mampu menahan atau tidak.
****
Yusuf berlari ke ruangan rapat. Ia lihat dari dinding kaca, dan rapat masih berlangsung.
Akhirnya setelah beberapa lama, rapat itu selesai. Saat semua orang pergi, Raka Brian dan Doni masih berada di ruangan.
Raka menghidupkan Hpnya. Lalu Yusuf masuk dengan tergesa.
" Pak Raka, anu mbak Sisilia itu." Yusuf tak tau harus mengatakannya.
__ADS_1
" Apa, Sisilia di gangguin orang jahat." Raka melihat pesan dari Vito dan panggilan dari Yusuf.
" Lihat saja rekaman yang saya kirim ke komputer bapak." Yusuf menyarankan.
" Komputer kan berada di ruangan saya." Raka segera berdiri.
" Saya sudah kirim ke Hp pak Raka." Yusuf mengingatkan.
Raka menonton Videonya bersama Brian dan Doni. Raka membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Mantan pacar dan Calon istrinya sedang berdebat, awalnya tampak baik-baik saja sampai terlihat cukup serius.
Raka segera pergi dan menitipkan urusan perusahaan pada Brian dan Doni. Ia akan membereskan lagi nanti malam, Sementara Brian dan Doni langsung mengangguk.
Raka mengendarai mobilnya secepat kilat menuju Toko Sisilia. Setibanya disana, ia langsung berlari ke lantai 2.
Saat Vito sedang membereskan kekacauan. Sisilia duduk di sudut ruangan.
Raka menghampiri Sisilia. " Maaf saya gak bisa lindungi kamu."
Raka meletakkan tangannya di pipi Sisilia yang merah terkena tamparan. Sisilia tak menangis, dan hanya melihat Vito membersihkan tanaman dari kejauhan.
Raka ingat kalau Sisilia sangat menyukai pekerjaan dan tanamannya. Apalagi Sisilia selalu sepenuh hati dalam merawat tanaman itu sebagai hal yang disukainya.
" Sisilia, nangis bukan berarti lemah. Kalau kamu ada yang sakit beri tahu saya. Saya bisa nuntut siapapun. Atau kamu mau nuntut buat yang sudah merusak tanaman itu." Raka masih menatap Sisilia.
Mendengar kata tanamannya, Sisilia langsung goyah. " Tanaman itu gak salah kak Raka. Tapi malah hancur sia-sia." Sisilia akhirnya menangis juga.
Setelah beberapa saat, Raka menenangkan Sisilia sambil mengelus rambutnya. Raka lalu terpikir satu hal.
" Sisilia kamu mau kan jadi pasangan saya buat ikut acara Perusahaan mode yang mengundang." Raka tersenyum.
'Taunya yang baik buat dia Mulu. Ngajakin aku habis ada masalah gini. Memang ya Kak Raka.
" Kenapa kak Raka senyum?." Sisilia kebingungan.
" Saya tau cara membalas kematian untuk tanaman berharga kamu." Raka tersenyum semakin lebar.
Sisilia tentu menyetujui hal itu. Apalagi Kesya juga berdebat dan menghancurkan tanamannya karena undangan juga. Tapi Sisilia tak tau maksud Raka membalas kematian tanamannya. Pasti Raka punya rencana sendiri, tak terduga dan tak perlu dipikirkan orang biasa seperti Sisilia.
Bersambung...
__ADS_1