
Tak terasa, sekarang Sisilia sudah sarjana. Ia menarik pintu Toko yang baru dibuka. Setelah dua bulan ia lulus, kini Sisilia sudah bekerja di toko yang menjual tanaman hias dan segala yang berhubungan untuk perawatannya, pupuk, dan berbagai jenis pot. dan ia juga melayani konsultasi mengenai tanaman.
Ternyata perkataan Rini itu tidak salah, kini ia benar-benar tau keistimewaan jurusannya. Ia bisa membuka toko itu bersama dengan Vito, ya karena Vito di jurusan yang sama dengan Sisilia, otomatis mereka bekerja sama.
Tapi kali ini, mereka tidak hanya berdua. Karena gedung itu adalah gedung berlantai dua, jadi Sisilia memakai lantai 2 yang di atas untuk tokonya. Sementara lantai pertama adalah Restoran. Restoran itu dipimpin oleh Sesilka.
Sesilka ikut membuka restoran disana karena uang sewa dari Vito dan Sisilia kurang. Sesilka yang lulusan tataboga tentunya tidak tinggal diam saat pacar dan sepupu pacarnya kekurangan modal sewa gedung.
Tapi sepertinya itu bukanlah alasan satu-satunya Sesilka, alasan lainnya pasti agar mudah berhubungan dengan Vito. Benar saja, saat tak ada pelanggan Vito langsung turun dan mendekat ke meja pelayanan Sesilka dan mengobrol. Apa daya, Sisilia yang masih single itu hanya bisa menatap mereka sambil memaklumi nasibnya sendiri.
Bukan Sisilia saja yang merasakan maklum pada nasibnya, dua karyawan Sesilka juga merasakan hal yang sama. Tapi dua karyawan itu sudah ibu-ibu dan yang satunya punya tunangan. Sepertinya Sisilia adalah yang paling miris disana.
Sewa gedung lumayan mahal karena pemiliknya lebih menyarankan agar Sisilia membeli gedung itu saja, karena pemiliknya sudah pindah ke luar kota itu dan kemungkinan tak akan kembali. Namun si pemilik luluh juga melihat semangat Sisilia dan Vito yang baru saja lulus namun berani membuka usaha. Si pemilik hanya akan menerima sewa perbulan dari mereka.
Sisilia hanya punya Vito sebagai rekannya. Kadang-kadang, Rini datang sambil mengeluh susahnya mencari pekerjaan pada Sisilia. Rini tidak tau mengapa perusahaan tidak bisa menerima lulusan berbakat sepertinya. Saat Rini datang, biasanya Sisilia mengajak Rini makan di restoran bawah.
Rini sebenarnya sudah ingin bekerja di daerah asalnya sama seperti Sisilia. Namun hasratnya untuk mandiri dengan berbagai perhitungan membuat ia memilih bekerja di daerah yang sama dengan Sisilia. Setidaknya ia bisa tinggal bersama sahabatnya itu.
Sisilia tak merasa keberatan dengan keputusan Rini, apalagi Rini memang suka jauh dari tempat tinggalnya. Bukan hanya karena ingin mandiri, tapi menghindar dari pertanyaan 'kapan kamu nikah' oleh orang tuanya. Ia juga bosan dijodoh-jodohkan dengan kerabat keluarganya.
Untuk pengiriman jauh dan berat mereka mengandalkan lewat kurir pengiriman. Tapi sangat jarang yang membeli dari jauh, karena ia memasukkan tokonya ke aplikasi belanja. Mengingat sudah hampir semua orang bisa menggunakan aplikasi itu, tentu saja banyak saingan yang menanti.
****
Di kantor Raka...
__ADS_1
Kini perusahaan Raka sudah akan membuka cabangnya. Siapa sangka dalam waktu dua tahun ia mampu mengembangkan perusahaan yang hampir tidak dikenal itu.
ia berbicara di sudut dinding dengan tanaman bonsai pemberian Sisilia. Brian dan Doni sudah maklum dengan kebiasaan baru Raka ini. Awalnya mereka mengira Raka itu stress dengan hubungan gagalnya. Tapi ternyata itu karena kertas panduan yang diberi Sisilia.
'Jangan lupa untuk diajak bicara, tanaman juga punya perasaan. Semakin disayangi, ia akan semakin subur (ingat jangan menyumpah!!!!)'
Tanda seru yang dibubuhi Sisilia membuat Raka berpikir kalau itu adalah yang paling penting, sehingga bukan hanya diajak bicara. Tapi Raka juga menjadikan bonsai itu sebagai tempat curhatnya.
tok tok,, Brian dan Doni masuk ke ruangan dan melihat Raka berbalik.
" Mau makan siang dimana ? atau kita delivery aja? karyawan banyak yang delivery aja.". Brian bertanya pada Raka
Ucapan Brian hanya dibalas Raka "Terserah,,sejak kapan loe harus diskusiin tempat makan siang kita?"
Benar juga, Raka memilih Tempat itu karena terpikir daerah asal Sisilia. Dia hanya berpikir kalau Sisilia mulai bekerja, pasti tidak jauh dari tempat tinggalnya. Entah mengapa Ia berpikiran begitu. Walaupun Brian sering mencandainya mengatakan kalau Raka itu punya rasa dengan Sisilia, dia tidak menyangkal maupun menyetujuinya.
Raka juga membeli apartemen disana, dengan uang orang tuanya. Brian dan Doni hanya ikut di apartemen Raka. Apalah daya mereka baru saja membeli Rumah untuk orang tuanya, dan mencicil rumah masa depan mereka.
Sementara Raka, ia lebih suka Rumah orang tuanya. Begitulah Raka,sebagai anak bungsu dua bersaudara. Raka punya saudara laki-laki yang sudah menikah dan pindah ke Rumah satunya lagi yang juga dari orang tuanya. Raka menyukai Rumah yang ia tempati bersama keluarganya itu, dan membuat saudaranya harus mengalah.
"ooh, Bukannya Sisilia juga kerja di situ ya". Brian melihat foto yang dikirim Vito" Hmm bener, mereka bertiga"
Raka langsung merebut HP dari tangan Brian. "Ayo kita kesana". Raka memberikan kunci mobilnya pada Brian.
"Maksud loe, gue yang nyetir?".Brian sedikit bingung
__ADS_1
"Bukannya emang loe yang nyetir terus ya". Doni menepuk jidat Brian dan berlindung pada Raka.
"Awas loe ya!" Brian yang kesal itu tetap mengikuti mereka.
****
Hushhh,,,, Mobil mewah Raka menembus jalanan dengan tujuan Restoran Sesilka. Meskipun di pikiran Raka, ia memikirkan Sisilia. Sisilia yang manis, selalu kabur jika bertemu dengannya di luar tempat latihan Karate.
Ciiit,,,, Rem mobil berhenti di tambah bunyi klakson tanda Brian sudah tiba."Ayo kita turun tuan-tuan !"
Raka turun dari mobil dan memasang kaca-mata hitamnya. Doni dan Brian juga entah darimana, ikut memasang kacamata hitam. Mereka berjalan memasuki restoran itu.
Ibu pelayan bernama mbak Jum itu kaget melihat siapa yang membuka pintu. 3 pria keren berjas membuka kacamata hitam melihat sekeliling ruangan. Sisilia yang sedang berbincang dengan Rini di salah satu meja terperanjak melihat satu dari mereka adalah Raka.
Sisilia sedang membicarakan tentang uang sewa gedung yang membuat ia dan Vito kewalahan. Andai saja ada orang kaya yang bisa membeli gedung ini dan memberikan kelonggaran sewa, pasti Sisilia tak akan sakit kepala. Sisilia yang sedang memakai ekspresi kasihan dengan dirinya itu tak tau harus kabur kemana. Karena ia sudah bertatapan dengan Raka dari jauh.
Akhirnya Sisilia berniat ingin kabur dan berlari ke lantai dua. Namun Raka yang menyadari Hal itu karena Restoran tidak ada pelanggan yang duduk di meja kecuali Sisilia dan Rini. Sisilia berdiri menutupi wajahnya dengan kertas menu dan merasa mau berdiri, Sisilia mencoba melangkahkan kakinya dari meja. Tapi baru mau melangkah, Raka memanggilnya
" Sisilia"
Sisilia menarik kakinya kembali dan menatap 3 cowok yang berdiri di pintu itu. Ia tersenyum canggung dan melihat mereka.
"Kak Raka, kak Brian ,Kak Doni, " Sisilia menganggukkan kepalanya sebagai tanda kesopanan.
Bersambung...
__ADS_1