
"Yah, kalau Ayah sakit, istirahat aja di rumah". Sisilia memijit pundak ayahnya.
" Atau sebaiknya kita periksa dulu ke dokter yah!"
" Gak usah, ayah itu dari semenjak kamu lahir udah berkebun. Jadi ini sudah biasa" Ayahnya meminum kopi buatan ibu Sisilia.
" Udah Yia, biar Ibu yang temani ayah kamu ke kebun."
Yia adalah panggilan kecil Sisilia, ia hanya dipanggil begitu jika berada di rumah atau orang yang ada di sekitar tempat tinggalnya saja yang tau panggilan itu.
" Iya udah deh, Ibu pastiin ayah pulang cepet ya bu?". Ibunya membalas dengan anggukan lembut.
" Yia berangkat ya bu, yah "
Skuternya dinyalakan, dan ia sudah perlahan menghilang dari pandangan orang tuanya.
****
Kembali seperti biasa, Sisilia dan Vito sudah sibuk mengurusi tanaman di toko mereka.
Beberapa orang datang membawa papan nama toko mereka yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya.' Visi Bougenville, ditambah keterangan kecil toko tanaman hias'
" Akhirnya datang juga, Vito buruan pasang!". Sisilia menandatangai tanda terima pesanan.
Mereka pun memasang papan nama yang sudah permanen itu. Sebelumnya mereka hanya memakai yang manual yaitu triplek ditambah merek yang ditulis oleh tangan Vito dengan kemampuan apa adanya.
Sudah semenjak beberapa hari yang sibuk ini, Sisilia sibuk membenahi tokonya. Ia hanya berbalas pesan dengan Raka, jika Raka punya pertanyaan seputar Cara merawat Bebo kesayangannya.
Terkadang Raka, menelfon Sisilia untuk bertanya hal yang tak penting mengenai tanaman di perusahaannya. Seperti beberapa daun tanaman mawar di lantai bawah perusahaannya tiba-tiba berguguran. Sisilia menjawabnya mungkin karena sudah tua atau layu.
Sisilia sebenarnya enggan menjawab tapi ia harus bersedia membantu Raka Kapanpun, jadi ia terpaksa meladeni Raka yang terkesan membuat ia kesal. Seperti saat ini, Hpnya sudah kembali berdering, tertulis Kak Raka di dalam kurung PG. arti PG itu bagi Sisilia adalah Penanya Gila tapi ketika Vito bertanya Sisilia hanya menjawab artinya pemilik gedung.
Cukup Rini saja yang tau arti PG itu, karena Sisilia tau bagaimana jika Vito mengetahui hal itu. Mulut Vito tak bisa dikondisikan dulu saat Sisilia terpaksa memberi tahu Vito kalau ia sudah suka seseorang, Vito tidak percaya dan tetap menjodoh-jodohkan dia.
__ADS_1
Sampai ada seorang cowok yang mengatakan suka pada Sisilia namun ditolak. Cowok itu meminta penjelasan pada Vito, Vito meminta Sisilia memberikan alasan kenapa dia tidak mau dekat dengan laki-laki lain. Diketahuilah kalau Sisilia suka dengan Raka tapi Sisilia meminta Vito merahasiakan alasan itu. Vito malah membeberkan kalau Sisilia sedang menyukai seseorang, bertepuk sebelah tangan.
Balik lagi ke Raka...
" Sisilia, ini saya lihat tanaman lidah buaya kok daunnya tiba-tiba coklat ya, harusnya kan hijau?".
Sisilia menjawab pertanyaan Raka dengan setengah malas. Obrolan itu masih berlanjut, sampai Vito memanggilnya dari jauh bebrapa kali. Kini Vito berlari ke arahnya.
" Sisilia ayah kamu". Vito menerima panggilan dari seseorang.
" Ayah kenapa,?" Sisilia langsung mematikan panggilannya dan meraih HP Vito.
" Ayah di rumah sakit mana bu?, ya udah aku kesana sekarang bu, iya aku hati-hati".
" Biar aku antar," Vito menawarkan pada Sisilia yang terlihat panik.
" Enggak usah, kamu jaga toko aja, biar aku langsung ke Rumah sakit".
HP Vito berdering, panggilan dari Raka. Vito mengatakan yang terjadi, sebelum ia selesai berbicara ,Raka langsung menutup panggilan.
Raka bergegas menuruni lift dan menuju parkir mengambil mobilnya. Ia tau Rumah sakit itu berada tidak begitu jauh dari perusahaannya, tapi ia menyusul Sisilia dahulu untuk memastikan Sisilia sudah aman atau tidak. Menurut perkiraannya kini Sisilia sudah setengah perjalanan dekat perusahaannya.
Ketika ia di jalan, ia melihat orang berkerumun. Di trotoarnya, terletak motor skuter yang tergores. " Sisilia, ". Raka memberhentikan mobilnya dan segera turun lalu melintas. Benar saja, Sisilia sedang dimarahi oleh seorang lelaki paruh baya.
" Jangan mentang mentang perempuan terus bisa seenaknya nabrak mobil saya ya, kamu tau harganya berapa hah". Lelaki itu tampak menunjuk bagian belakang mobilnya yang sedikit penyok.
" Nanti saya bayar pak, saya lagi buru-buru". Sisilia tampak menahan sakitnya, sikunya dan lutut sebelah kirinya berdarah karena bergesekan dengan aspal.
Raka mendekat, dan melihat Sisilia, " Kamu gak pa pa?". Raka melihat Sisilia menggeleng namun terlihat jelas menahan sakit.
" Bukan dia yang harusnya ditanya, ini mobil saya gimana?". Lelaki pemilik mobil itu meninggikan suaranya.
Lalu terdengar suara orang dikerumunan kalau pemilik mobil itu yang salah. Ia melaju kencang lalu tiba-tiba berhenti.
__ADS_1
Raka mengatakan kalau ia yang akan mengurus kerugian itu. Ia meninggalkan kartu namanya, tapi lelaki itu terus meminta ganti rugi. Raka pun meminta Brian untuk datang dan memberikan jaminan kartu identitasnya pada Lelaki itu. Lelaki itu terus meminta Lima juta rupiah, namun ia berhenti saat Raka mengatakan ia adalah anak seorang polisi.
" Sisilia kamu tunggu disini sebentar, saya putar mobil dulu!".
Raka memutar mobil dan Sisilia masuk ke dalam mobil Raka. Sisilia masih tampak panik dan was-was.
Setelah mobil terparkir, Sisilia pun turun. Kakinya tampak sakit tapi ia berjalan tergesa sedikit terpincang. Raka yang melihatnya langsung menarik lengan Sisilia lalu meletakkan di bahunya, Ia menggendong Sisilia.
Setelah di dalam rumah sakit Sisilia meminta turun. Tapi Raka tidak bergeming. Raka bertanya pada Sisilia dimana ruangannya, Sisilia menjawab lalu melepas tangannya hendak turun dari pangkuan Raka. Raka terus berjalan ke lift dan membuat Sisilia kembali meletakkan tangannya di bahu Raka.
Di depan lift, Raka meminta salah seorang suster membantunya menekan tombol. Ia mengatakan kalau cewek yang ia pangku tidak bisa turun karena kakinya cedera. Suster itu membantu menekan tombol lift.
Raka terus berjalan semenjak keluar dari lift hingga ke depan ruangan. Sisilia yang mau turun sudah tidak keburu lagi karena Raka masuk mengikuti seorang Perempuan yang menggendong anak perempuan berusia 3 tahun yang duluan masuk setelah bersitatap dengan Raka dan Sisilia di depan pintu.
Raka menurunkan Sisilia tepat di depan ranjang ayahnya. " Ayah gak apa pa yah, tadi juga udah aku bilang ayah jangan ke kebun dulu kalo gak enak badan. "
" Ayah gak apa-apa" Ayahnya mengusap kepala Sisilia.
" Yia, kamu yang kenapa kok kelihatannya kamu yang lebih parah". Ibunya melihat siku dan lutut anaknya yang berdarah.
" Gak apa-apa kok buk".
" Gak apa apa gimana, ayo obatin dulu!", ayah kamu udah diperiksa sama om kamu.
" Biar saya yang bawa Sisilia berobat ke lantai bawah tante, om saya mohon izin". Raka meminta dengan sopan.
" Tapi kak Raka..". Belum selesai Sisilia berbicara kakaknya sudah memotong.
" Hha, yaudah, makasih ya. masih kuat ngengendong adik saya ini kan?". Sisilia merasa malu pada Raka.
" Gak kok, saya masih kuat, ayo Sisilia". Raka mengarahkan tangannya agar Sisilia mendekat. Sisilia pun kembali di gendong Raka setelah melihat reaksi semua anggota keluarganya yang seperti menahan senyum.
Bersambung...
__ADS_1