Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Rini Pindahan


__ADS_3

Sudah seminggu Perusahaan Raka menyelesaikan pembangunan Sebuah asrama khusus pekerja di sekitar Perusahaanya. dan juga ternyata asrama itu mendapat suntikan dana dari 'RAMAGI INVEST', dibawahi langsung oleh Tante Gina.


Raka menjalankan sistem keamanan berbasis komputer Di asrama itu. Setiap karyawan RBD CYNOC yang memutuskan untuk tinggal disana akan diberikan keringanan berupa setengah dari uang sewa. Namun harus selalu memperhatikan kekurangan dan apa yang harus ditambahkan dalam segi pelayanan dan keamanannya.


Perusahaan RBD CYNOC tidak mau para karyawan yang tinggalnya jauh yang harus lembur terpaksa tidur di kantor. Karena tidak ada transportasi, atau ada transportasi tapi mereka rugi, atau mereka merasa tanggung jika harus pulang dahulu.


Begitu pula Rini, ia yang merasa tidak enak harus pulang ke rumah Sisilia saat lembur juga memutuskan untuk pindah. Apalagi gaji di perusahaan itu cukup untuk ia berikan pada orang tuanya dan untuk kehidupannya sehari-hari.


Rini mengemasi barang-barangnya, Sisilia ikut membantu namun Sisilia tidak rela.


" Aku kan udah kasih kamu kunci cadangan Rini?. gak masalah kok kalau kamu pulang lembur. ".


" Aku gak mungkin terus tinggal disini Sisilia, gimana kalau tiba-tiba kamu beneran jadi istrinya kak Raka ya kan". Rini tertawa.


Sisilia memenyunkan bibirnya. Rini memberikan tambahan alasan yang aneh lagi.


" Kita udah kayak sodara, kamu Bisa tinggal disini sebagai sodara akuu".


" Jadi kamu beneran mau Sisilia?"


" Mau apa, mau kamu tinggal terus disini?. iyalah Rinii".


" Bukann, mau jadi istrinya kak Raka". Rini mengedipkan matanya.


" iih kok jadi kesitu sih, mana mungkin aku beneran jadi istrinya kak Raka". Sisilia kembali melipat baju Rini yang akan masuk ke koper.


" Loh bukannya kak Raka udah nyatain perasaannya ke kamu ya. Terus gimana?".


" Gimana apanya, bukannya kak Raka juga sibuk sama urusan perusahaan ya. Katanya mau yakinin aku tapi ya gituu. kak Raka bilang kita bisa pelan-pelan saling memahami tapi ya gituu". Sisilia manyun lagi sambil memasang resleting koper Rini.


" Jadi kak Raka diem bae gitu. Eh tapi bener sih, sekarang perusahaan kita lagi banyak banget yang ngajuin kerjasama. Mungkin setelah tahu kak Raka dan dua sahabatnya berhasil ngalahin perusahaan kreditur pak Berno". Rini mengemasi alat make up nya.


" Ciee, perusahaan kita". Sisilia tersenyum.


" kalau aku perusahaan kita, kalau kamu perusahaan calon suami? mungKin". Rini berbalik menggoda Sisilia. " Tapi kenapa kamu gak yakin Sisilia sama perasaan kak Raka?, aku bingung, aku paling tau kalau sebenarnya kamu udah yakin kalau kamu masih suka kak Raka kan"


Sisilia menarik nafas," aku emang masih suka walaupun udah pernah mau ngelupain tetap aja aku jadi punya perasaan lagi abis ketemu. Menurut kamu kak Raka beneran udah melupakan kak Kesya belum?".

__ADS_1


" Hah, jadi kamu pikir kak Raka masih ada perasaan sama kak Kesya?. Sisilia kamu kan tau yang mutusin itu kak Raka". Rini menggeleng-geleng.


" Iya, tapi coba deh kamu pikir, kalau hubungan yang 5 tahun lebih, terus udah berniat ngelamar sejak awal mereka pacaran kayak omongan kak Doni, menurut kamu perasaan dia buat cewek lain adalah rasa bersalah nggak sih?". Sisilia berubah serius.


" rasa bersalah?"


" iya, kayak semacam pelarian sesaat. Apalagi kak Raka bener-bener cinta sama mantannya itu"


" Kamu bukan pelarian Sisilia, kamu harus lebih percaya diri". Rini menepuk punggung Sisilia.


" Aww, pede sih pede, jangan keras keras dong". Sisilia merasakan tepukan Rini.


" Aku pikir aku emang harus lebih mengenal kak Raka pelan-pelan Rini. dari berbagai sisi mungkin?". Sisilia mulai membuka senyumannya.


****


Di asrama...


kamar Rini ada di nomor 20. Sisilia dan Rini perlahan masuk. Vito yang diminta ikut membantu sebagai sahabat yang ikut berbahagia juga datang.


" Aku mau ngangkatin lemari tapi mereka belum dateng?".


" Mereka siapa?". Sisilia turun dari Sofa, " Bukannya ada Vito?".


" Vito mana bisa sendirian, lemarinya masih baru ada disini, harusnya kan di kamar. kak Brian bilang mereka udah datang duluan". Rini mengusap lemari yang masih berada di samping sofa itu.


" kak Brian, jadi mereka itu, kak Brian, kak Doni sama kak Raka.?". Sisilia memasang sendal gabus untuk dipakai di rumah itu lagi.


" Iya lah, coba aku telfon dulu". Rini berjalan ke luar sementara Vito masih mengusap lemari dan mencium aroma cat yang menempel dan masuk ke celah hidungnya.


Seketika Vito bersin membuat Sisilia sedikit terkejut karena bersinnya seperti sebuah sorakan, terdengar keras dan cepat memenuhi ruangan. Raka mengendap ingin mengejutkan Sisilia dari belakang " Sisilia".


Sisilia yang kaget, lebih kaget dari mendengar suara bersin Vito karena Raka memegang bahunya. Sisilia berbalik dan tanpa sengaja menampar pipi Raka. Brian, Doni, dan Vito refleks menganga sementara Sisilia menutup mulutnya, tak sadar apa yang sudah ia lakukan.


" kak Raka, ?. maafin aku kak Raka, aku pikir siapa?". Sisilia menurunkan tangannya.


" Gak pa pa kok Sisilia, harusnya saya belajar dari pengalaman." ' Pengalaman waktu disiram air bekas pel'. Raka memegang pipinya." Saya yang minta maaf udah ngagetin kamu Sisilia".

__ADS_1


Brian dan Doni tidak bisa menjaga ketenangan mereka dan langsung tertawa ngakak. Rini yang panggilan telfonnya tidak diangkat Brian, berjalan masuk kembali.


Raka yang melihat Rini datang, langsung mendekat ke lemari " Ini yang mau dipindahin kan, ayo !!". Raka melihat Brian dan Doni yang masih tertawa.


Mereka berempat dengan Vito sudah berhasil memindahkan lemari. Rini juga meminta untuk menggeser Sofa dan meja makan.


Sisilia dan Rini pergi untuk membeli minuman kaleng di minimarket terdekat. Rini membeli sekantong besar minuman kaleng dan camilan. Sisilia lalu membuka freezer di sana dan membeli minuman kaleng yang dingin.


" Buat apa Sisilia, kamu kan gak suka kalau minuman kalengnya dingin?". Rini penasaran


" Buat kak Raka, aku gak sengaja nampar wajahnya tadi". Sisilia langsung menarik Rini bergegas.


" Hah kamu nampar Kak Raka. pantesan tadi Kak Brian sama kak Doni ketawa sementara Kak Raka malah canggung gitu". Kali ini Rini yang tertawa.


Sampai di ruang asrama, mereka berdua masuk. Rini mengucapkan terima kasih dan meletakkan kantong belanjaan di meja dekat Sofa. Masing-masing orang mengambil minumannya.


Rini lalu berinisiatif menghidupkan televisi mengalihkan perhatian semua orang.


Sisilia yang meletakkan tangannya di belakang dari tadi memegang kantong kecil berisi minuman kaleng dingin menatap pipinya Raka.


Raka melihat tangan Sisilia yang disembunyikan di belakang badannya. Sisilia lalu memberikan kantong itu pada Raka" Ini kak Raka". Semua orang curi pandang melihat mereka.


Raka menerima kantong itu." Buat apa Sisilia?"


" Aku beliin yang dingin buat pipinya kak Raka". Raka langsung mengeluarkan dan meletakkan kaleng dingin itu di pipinya.


Sebenarnya tamparan Sisilia bahkan tidak terasa sakit baginya. Hanya saja seperti tamparan saat menepuk nyamuk, perih langsung menghilang. Tapi demi membuat Sisilia mengeluarkan ekspresi lucunya, Raka sengaja merintih saat menempel kaleng ke pipinya " aww aduhh, aduhh".


" Lebayy loe". Doni yang sedang menonton televisi jadi keganggu.


Vito lalu bertanya mengapa mereka bertiga bisa keluar perusahaan seenaknya padahal mereka adalah pemegang posisi penting di perusahaan. Brian tidak terima Vito mengatai mereka keluar seenaknya, lalu menjelaskan sistem kerja perusahaan mereka.


Memang mereka pemegang jabatan penting, namun Raka sudah meminta beberapa orang dari perusahaan pusat untuk datang ke cabang, karena Raka akan sering keluar. Brian menjelaskan kalau orang dari pusat dapat bonus dari Raka jika bersedia yang notabenenya adalah pemilik 50 persen dari aset perusahaan baik utama maupun yang cabang.


dan juga mereka bukannya keluar sembarangan, jika tugas mereka selesai mereka bisa keluar. Jika tidak, maka harus lembur. Makanya Raka meminta beberapa pemegang jabatan di perusahaan pusat untuk pindah agar dia bisa sering melalaikan tugasnya. Raka yang mendengar Brian memfitnahnya tanpa rasa bersalah melempar Brian dengan Bantal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2