
Sisilia naik di pesawat yang sama dengan Raka. Mereka duduk di kelas bisnis. Sisilia dan Raka bersebelahan membuat Raka bisa menatap Sisilia dari dekat.
Setelah turun dari pesawat dan kemudian menuju hotel, Sisilia yang ingin membawakan koper Raka malah berakhir membawa jaket Raka saja. Sementara koper yang ia bawa juatru Raka yang memegangnya.
Hotel bintang lima...
Sisilia tidak pernah menginjakkan kaki ke hotel bintang lima untuk tinggal. Sekarang ia bisa tinggal selama seminggu di hotel ini, sungguh luar biasa.
Raka menyuruh Brian dan Doni duluan ke kamar mereka sementara Raka mengantar Sisilia dahulu. Sampai di depan pintu kamar hotel. Sisilia memberikan Jaket yang ia pegang tanpa terlepas pada Raka.
Sisilia disuruh menikmati semua fasilitas hotel itu karena Ia sudah memesan hotel dengan banyak diskon sehingga Sisilia tidak usah khawatir. Lagipula Hotel itu pernah bekerja sama dengan perusahaan Pak Rama dan juga pernah dibantu oleh Perusahaan Raka dalam hal keamanannya.
Raka meninggalkan Sisilia yang sudah masuk ke dalam ruangan kamar Hotel super besar itu. Sisilia mencoba segalanya di dalam.
Mulai dari sendal, TV, kamar mandi dan tentunya Sofa juga kasur. Sisilia merasakan nikmatnya jadi Raka yang sudah kaya makin kaya. Eh tapi mengingat betapa sibuknya dan beratnya tanggung jawab Raka hingga bisa sekaya itu membuat Sisilia juga merasa kasihan.
Sudahlah, Sisilia yang kelelahan itu langsung tertidur di kasur empuk Hotel Bintang Lima.
****
Esok Hari....
Sisilia sudah bersiap menjadi asistennya Raka. Baju kasual dan rambut yang rapi ala wanita kantoran sudah dipraktekkan Sisilia. Untung saja Rini sudah mengajarinya, jadi ia bisa dengan mudah berubah menjadi asisten Raka.
Sisilia sudah nangkring di depan pintu kamar 3 sekawan. Sesekali ia merapikan bajunya yang terlihat tidak nyaman saat ia pakai. Mungkin karena memang Sisilia tidak terbiasa berpakaian serapi itu.
Raka ,Brian dan Doni membuka pintu. Mereka sudah rapi dengan setelan jas masing-masing.
Sisilia langsung mendekat ke depan Raka membuat Raka terpana dan merasa asing dengan penampilan Sisilia.
Sisilia mengambil tas yang berisi file Raka." Gimana, aku sudah cocok kan jadi asisten?". Sisilia mengetukkan telapak sepatu hak tingginya dua kali ke lantai.
Raka yang tidak berkata apapun hanya mengisyaratkan mereka semua untuk segera ke Perusahaan.
' Apa penampilan aku gak cocok ya?. Kak Raka dari tadi gak ngomong apa-apa'
Setelah sampai di depan perusahaan dan masuk masing-masing baik Raka Brian dan Doni menggunakan nametag tanda pengenal pegawai untuk masuk. Sisilia ikut masuk menggunakan milik Raka yang sadar kalau Sisilia tertinggal.
Raka lalu mengambil tasnya yang sedari tadi di pegang Sisilia dengan paksa. Membuat Sisilia hampir terdorong dan terjatuh, apalagi sepatu hak tinggi membuat Sisilia kesulitan.
Mereka semua kemudian masuk ke dalam Lift. Brian menekan tombol 14. Raka yang sedari tadi hanya diam kemudian membuang nafas dan berbalik menatap Sisilia di dalam Lift. Kemudian memegang kedua bahu Sisilia.
__ADS_1
" Saya tau kamu gak nyaman pakai baju ini"
Sisilia menatap Raka.
" Aku kan jadi asistennya kak Raka, makanya aku harus menyesuaikan baju yang aku pakai". Sisilia menggigit bibir bawahnya .
Raka lalu membuka nametag dari lehernya dan memasangnya di leher Sisilia. Raka juga menekan tombol nomor 10 di lift.
Lift berhenti dan mereka semua keluar di lantai 10. Ruang istirahat para pegawai kantor Perusahaan pusat.
" Saya gak pernah menyetujui kamu jadi asisten saya. " Sisilia terlihat kecewa mendengar ucapan Raka.
" Tapi bukannya kak Raka bilang aku bisa ikut. "
" Iya, Kan sudah saya Bilang Doni yang urus semua. Saya bilang kamu boleh ikut dan saya akan menemani kamu seminar, saat saya sibuk kamu bisa lakukan hal yang menyenangkan disini". Raka menatap sekeliling ruangan dimana semua orang banyak yang melepaskan penat.
Sisilia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Mereka kan pegawai disini, ". Sisilia melihat Raka.
Namun Brian segera mengangkat dan menggoyangkan nametagnya diikuti oleh Doni.
" Kamu lihat Brian dan Doni kan. Mereka pegawai yang punya nametag. Kamu bisa pakai punya saya ini. Kamu adalah pegawai yang harus melepaskan penat juga" . Raka menarik nametag miliknya yang masih ada di leher Sisilia.
Raka,Brian dan Doni meninggalkan Sisilia disana yang memikirkan apa yang harus ia lakukan.
' pokoknya selamat bersenang-senang'
****
Sisilia menganggap dirinya sebagai pegawai juga. Jika Raka tidak mau ia jadi asisten, apa boleh buat. Sisilia menggunakan nametag Raka sebagai alat pengenal. Ia menjajal semua peralatan di lantai 10 itu.
' Bagus juga, anggap diri kamu karyawan Sisilia. Atau kamu adalah karyawan samaran hehehe'
Perlahan semua orang disana mulai berkurang. Sisilia lalu bertanya kemana semua orang pergi pada wanita yang masih ada disana. Ternyata sekarang adalah waktu makan siang, semua pegawai makan di kafetaria di lantai bawah.
Sisilia juga merasa lapar dan ingin segera turun ke bawah. Tapi bagaimana mungkin Sisilia turun dan makan duluan sebelum Raka, Brian dan Doni.
Sisiliae mengirim pesan chat pada Raka bertanya apakah sudah waktunya makan siang. Raka meminta Sisilia untuk menunggunya sebentar didepan lift.
Saat lift berhenti dan isinya Brian,Raka dan Doni, Sisilia langsung masuk. Doni bertanya apakah ada pegawai lain menanyakan perihal Sisilia, dan Sisilia menjawab tidak. Brian mengira pasti mereka menganggap Sisilia benar-benar pegawai disana.
'Bagus dong artinya aku berhasil nyamar jadi karyawan disini'
__ADS_1
Saat sampai di kafetaria, mereka berjumpa dengan Fandi. Fandi mendekat dan menyapa mereka.
" kok loe disini lagi, bukannya udah turun daritadi?". Brian yang ingat kalau Fandi duluan turun.
Fandi ternyata harus berbicara dengan beberapa karyawannya sehingga ia telat me kantin. Fandi awalnya tidak menyadari di depan ada Sisilia sampai seseorang sengaja berbalik dan membuat Sisilia yang terkejut hilang keseimbangan. Karyawan laki-laki itu memegang punggung Sisilia sebelum Raka sempat meraih punggung Sisilia.
" Karena saya sudah bantu kamu, boleh saya minta nomor kamu kan?". Laki laki itu menatap Sisilia dengan pandangan bahwa la merasa tertarik dengan Sisilia.
Raka langsung memegang punggung Sisilia dan membuat Sisilia yang terheran kembali tegak. Jari Laki-laki itu dipelintir oleh Raka.
Karyawan itu tersadar kalau Raka bosnya yang sudah memelintir jarinya dan ia segera meminta maaf walaupun ia tidak tau apa kesalahannya.
Raka lalu menarik tali nametag yang elastic pada leher Sisilia, dan memperlihatkan padanya. Setelah laki-laki itu sadar kalau nama Raka tertera dalam nametag Sisilia, Ia meminta maaf pada Sisilia dan memohon agar Sisilia tidak marah dan terganggu. Sisilia hanya mengangguk karena kasihan dengan wajah memelas dan menahan sakit laki-laki itu.
Mereka pun duduk dengan posisi Raka dan Sisilia bersebelahan sementara di hadapan mereka ada Brian, Doni dan Fandi.
" Kamu Sisilia kan sahabatnya Rini?".Fandi mencoba mengingat wajah Sisilia.
" iya kak Fandi. aku Sisilia"
" Kamu masih ingat saya ternyata".
' iyalah, Fandi yang bikin Rini kesal setengah mati gara-gara dianggap adik'
" Kamu ngapain disini Sisilia. Jangan bilang mau ketemu saya". Fandi menampakkan giginya.
Ucapan Fandi membuat Raka berhenti mengangkat sendok yang akan ia masukkan ke mulut dan Brian juga Doni berhenti mengunyah.
Sisilia yang belum menjawab sudah didahului Raka. " Sisilia harus makan jangan tanya yang aneh-aneh!". Raka menatap Fandi sambil memasukkan potongan ayam ke nampan Sisilia.
" Ha satu lagi, yang mau Sisilia lihat bukan Fandi tapi Raka." Raka membalikkan nametag di leher Sisilia agar Fandi bisa melihatnya.
Fandi mengernyitkan dahinya. Apakah Raka benar-benar sudah melupakan Kesya. Tapi Kesya masih ingin kembali pada Raka. Apakah Kesya sudah tau kalau Raka sudah moveon. Fandi langsung pergi meninggalkan meja makan dengan alasan harus menyelesaikan pekerjaannya.
" Tapi dia bahkan belum makan makanannya?". Sisilia menatap Raka.
" Biarin aja Sisilia. Jangan pikirin lelaki lain selagi saya masih usaha ngeyakinin kamu ya!". Sisilia mengangguk pelan dan menyuap makanannya.
' Dasar kak Raka, kapan aku punya waktu mikirin laki-laki lain coba. Tiap hari kan aku cuman memantaskan diri buat kak Raka.'
Bersambung...
__ADS_1