Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Tuan Tanah Baru


__ADS_3

Setibanya Raka di kantornya...


HP langsung ia keluarkan, nomor mamanya langsung ditekan. " Ma aku besok pulang ya, Mau minta tolong buat minjem Dana"


dari sana terdengar suara lembut namun tetap berkarisma. " Kamu itu jarang pulang, sekalinya pulang langsung minta uang, bukannya apartemen sudah kami kasih". Dari nada mamanya terdengar suara sedikit khawatir " Kamu gak terjerat hutang kan?"


" Enggak ma, ini lumayan penting sih. Bukan hutang ma, kalau aku ngutang putra mama mana bisa bangun cabang baru" Obrolan mereka terus berlanjut disertai ungkapan kerinduan ibu dan anaknya.


Selesai menelfon Raka berjalan ke sudut tempat tanaman bonsai dan mulai bercerita


'Bebo, saya kini jadi pemilik gedung kenapa saya senang sekali ya" Raka terus menyemprot tanaman itu sambil berbicara. Sesekali ia melihat keluar jendela, lalu menyemprot lagi.


****


satu minggu kemudian...


Raka sudah mempersiapkan kontrak dan surat kuasa beserta Surat lain yang mungkin perlu. Mobilnya kembali melaju ke gedung tempat toko Sisilia. Kini wajah Raka berseri-seri, menandakan ada satu rencana yang sudah ada di kepalanya.


di sisi lain, Sisilia, Vito dan Sesilka sudah mempersiapkan meja untuk mereka berunding. Tak lupa gantungan Close di pintu restoran dan di gantung di pagar balkon lantai 2, tempat toko Sisilia. Video call dari Pemilik gedung lama juga hadir, lengkaplah persiapan mereka.


Terdengar bunyi Mobil dan klakson pertanda Si pemilik gedung yang baru sudah tiba. Raka mendorong pintu kaca yang besar itu. Lalu melangkahkan kakinya ke meja dimana ketiga penyewa sudah berdiri.


Setelah menyaksikan bukti kalau Sertifikat tanah ada pada Raka Video dari pemilik dimatikan. Kini urusan selanjutnya, yaitu urusan dari pemilik gedung yang baru.


Sesilka menarik nafas setelah melihat harga sewanya, tetap sama saja, mahal tanpa perubahan. Sisilia dan Vito tak jauh berbeda, menarik nafas lebih lama karena pendapatan mereka yang belum stabil.


Saya sebagai pemilik baru punya kontrak yang lain untuk kalian. Para penyewa menaikkan Mata menatap Raka. Raka bisa menurunkan Harga sewa atau gratis sewa tapi dengan persyaratan, Raka meminta mereka memilih.


Tapi Sesilka meminta langsung saja mengeluarkan dua kontrak. Tentu saja agar mereka langsung bisa menimbang mana yang terbaik, Hal itu disetujui oleh Raka.


Kontrak 1 Biaya sewa diturunkan jadi setengahnya


1). Harus menggratiskan setiap karyawan perusahaan BRD CYNOC yang makan di restoran


2). Bersedia menjadi informan.


3).Serta siap dipanggil untuk membantu Raka (Hal yang masih dalam batas wajar)

__ADS_1


Kontrak 2 Biaya sewa digratiskan


1). Bersedia menutup Restoran Maupun toko saat ada acara makan perusahaan RBD CYNOC minimal 1 bulan sekali, biaya makan setengahnya


2). Bersedia menjadi informan


3). Serta siap dipanggil untuk membantu Raka (Hal yang masih dalam batas wajar)


Keterangan sama:


-Poin 1 untuk Sesilka


-Poin 2 untuk Vito


-Poin 3 untuk Sisilia


Penalty melanggar kontrak sama


-Denda Rp. 100. 000. 000 ,00


"Dendanya banyak banget" Sisilia langsung menatap angka nol berderet itu sambil ternganga.


"Tunggu, kok kontrak 1 dan 2 isinya cuman beda di bagian Sesilka?" . Kertas itu di balik-balik oleh Sisilia, ia juga menatap Raka meminta penjelasan.


" Karena saya gak tau syarat buat kalian berdua selain hal itu". Raka menatap Vito dan Sisilia


"Loh bukannya kita milih ya, kok gak ada bedanya?". Sisilia seperti tak terima. " dan juga aku membantu maksudnya apa kak Raka?"


Raka yang tenang mulai menjawab " Bukannya perbedaan yang jelas adalah bayar setengah dan gratis ya?. Saya rasa itu cukup beda. Untuk masalah membantu, kamu akan tau nantinya, saya bisa ngomong ke Vito atau langsung ke kamu"


"Tapi". Sisilia tampak butuh penjelasan lebih lanjut


"Saya kan buat juga masih dalam batas wajar, saya gak akan bikin kamu terluka". Raka sedikit tersenyum dengan aura kebingungan di wajah Sisilia.


Sisilia benar-benar tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya itu. Terkejut, kesal, dan marah, langsung bisa ditebak orang lain. Seperti sekarang alisnya yang berkerut dan beberapa kali dia memainkan bibirnya, sudah ketahuan kalau ia memang bingung.


"Udah Tanda tangan aja Sisilia, lebih baik gratis kan daripada bayar, dan kita udah tanda tangan kontrak kedua. gak akan berubah pikiran yakan!!". Sesilka menatap pacarnya dan dibalas anggukan calon suami takut istri.

__ADS_1


Sisilia si penyewa yang bingung itu akhirnya tetap menandatangi kontrak. Percuma juga kalau hanya ia yang menentang tapi dua lainnya sudah setuju. Dia hanya berpikir positif kalau Raka adalah orang yang baik, pasti tidak akan menyusahkannya.


Raka ikut menandatangi kontrak itu. Raka mengambil satu kontrak dan berkas yang satunya disimpan oleh Sesilka. Lalu mereka bersalaman, dan Raka langsung pulang.


****


Setibanya di kantor, Raka meminta Seorang Office boy dengan sopan membawa 3 cangkir kopi seperti biasa ke ruangannya. Raka masuk langsung diikuti dua orang lain yang selalu penasaran padanya, Brian dan Doni.


Setelah 3 cangkir berada di meja dekat sofa, Raka menyeruput Kopi itu. Brian juga mengambil cangkir lain dan ikut mencobanya. Raka menjelaskan kalau ia sudah resmi jadi pemilik gedung. Raka juga mengatakan perihal kontraknya, ia menyodorkan itu di dekat meja ke depan Brian dan Doni. Doni membaca setiap poin dengan sedikit keras.


Poin dalam kontrak membuat Brian sedikit kaget dan menelan kopinya banyak, baru sadar kopi itu masih sedikit panas, membuat ia mengusap tenggorokannya. Dua sahabat Raka itu merasa Raka mulai sedikit aneh, Doni hanya bisa mrngangkat bahu tanda ia tak mengerti tujuan Raka.


"Eh tapi mereka gak ada yang protes?". Brian merasa tak percaya


" Awalnya Sisilia protes, tapi 2nya lagi udah tandatangan, Jadi yaa dia gak punya pilihan lagi". Raka menggoyangkan cangkir kopi di tangannya.


"Iyalah, Pasti Sesilka langsung Tandatangan, menurut gue dia yang paling untung disini". Doni menebak, dan dibalas satu jempol dari Raka.


" dan yang paling buntung??".Doni melihat Brian.


" Sisilia". Mereka menjawab serentak


Tapi Raka tak terima, bagaimana mungkin ia merugikan Sisilia. Ia hanya mengatakan kalau Bebo itu sudah kekurangan nutrisi.


Tapi Brian yang peka tentu tau maksud sahabatnya yang lebih kurang nutrisi itu. "Jadiin Bebo sebagai alasan.huh gak mempan"


****


Di meja Restoran, Sisilia mencak-mencak di kursinya."Kenapa kalian langsung setuju aja, pikir kek, dan juga aku yang tugasnya membantu apa coba". Segala keluhan ia lontarkan.


Sementara Vito dan Sesilka tidak merasa ada yang salah dengan Kontrak itu. Lagipula mana bisa ditarik lagi, denda sudah bisa dibaca.


Kali ini Sisilia mengacak Rambutnya. Harusnya dia gak nerima bantuan Raka, harusnya dia udah gak terlibat lagi sama Raka. Sisilia merasa heran, mengapa setiap kali dia sudah merasa bisa melepaskan Raka dari pikirannya, malah seolah dia diberikan kesempatan secara cuma-cuma untuk memikirkan Raka lagi.


Seolah-olah ia sudah diatur untuk bertemu Raka. Dulu saat la mulai melupakan Raka, tiba-tiba Raka putus. Sekarang waktu dia lagi butuh, Raka datang bak satu pilihan yang sudah tidak bisa ia rubah.


'huhh Siap dipanggil untuk membantu Raka?, Pemilik Gedung?, TUAN TANAH? Raka?''

__ADS_1


"Aaaagghhhh" Sisilia seperti kerasukan di kursi itu. Ia memukulkan kepalanya ke meja berulang kali. Lalu ia berdiri teriak "Aaaagghhhh", mencak-mencak gak jelas lagi.


Bersambung...


__ADS_2