
Beberapa hari sudah terlewati sempurna. Sisilia hanya berada di dalam kamarnya sambil menelfon orang yang bisa memberikan ia saran. Rini, Vito, Sesilka, tapi semua orang menyerahkan keputusan itu pada Sisilia.
Terutama Rini sahabat Sisilia. Rini selalu mendukung apapun keputusan Sisilia. Rini hanya meminta Sisilia jangan ragu akan apapun kecuali hatinya.
Sementara Raka, masih sibuk dengan urusan perusahaan. Besok adalah hari terakhir mereka di Jakarta. Raka tidak berani menelfon Sisilia, ia tidak mau Sisilia menjadi bimbang akan apapun.
Raka menyuruh Sisilia tidak memikirkan apapun kecuali kebahagiaannya. Wah, beginilah rasanya jika sudah mencintai seseorang yang membuatmu saling memahami. Raka berjanji tak akan marah dengan keputusan Sisilia.
Hari masih siang, Raka yang selalu gatal ingin bertanya apakah Sisilia sudah makan siang menggigit jarinya. Raka sudah berada di kamarnya bersama Brian dan Doni.
" Jadi gimana, besok kan?". Brian bertanya serius pada Raka.
" Iya, akhirnya..". Raka meletakkan dua tangannya di belakang kepala dan bersandar pada Sofa.
Doni duduk di samping Raka. " Jadi udah berakhir?". Ucapan Doni membuat Raka dan Brian menatapnya heran.
" Apanya yang berakhir..?". Brian ikut duduk.
" Bukannya ini adalah awalan kita?". Raka juga menarik tangannya.
" Kita?, Raka loe aja kali. Ini kan urusan loe sama Sisilia". Doni mengambil remote TV.
" Jadi loe pikir kita lagi ngomongin Sisilia?". Raka menahan sebelah tangannya yang ingin menjitak Doni.
Doni yang sudah menghidupkan TV sambil mencari tayangan yang bagus mengangkat bahu " Iya lah siapa lagi"
" Donii, ". Brian menarik kepala Doni dalam lengannya membuat Doni berusaha mati-matian melepaskan diri.
Ternyata maksud ucapan Brian dan Raka adalah urusan perusahaan mereka bukan Sisilia. Doni yang malang memang tidak bisa mengartikan perkataan dua sahabatnya itu dan membuat ia harus menderita.
Malam harinya Raka ditelfon oleh Sisilia. Getaran dan nada dering tak asing yang membuat Raka bergegas mengangkatnya dalam 3 detik saja.
Sisilia meminta Raka untuk bertemu. Raka mengusulkan agar mereka bertemu sambil makan malam. Sisilia setuju dan mematikan panggilan.
Sisilia bergegas mencari baju yang menurutnya cukup bagus. Tak lupa ia sedikit berdandan tipis. ' Apapun keputusan kamu, ikuti saja kata hatimu Sisilia', Sisilia menatap dirinya di cermin.
Raka juga tak kalah ingin terlihat rapi. Apapun yang akan dikatakan Sisilia ia tidak boleh kecewa. Raka menyemprotkan banyak parfum me tubuhnya,membuat seluruh ruangan tercemar. Doni sampai menyangka kalau kopi yang ia minum mengandung parfum.
Raka menarik nafasnya, mencoba santai sambil menunggu Sisilia. ' Raka jangan bikin Sisilia gak nyaman. ayoo santaii! '
Sisilia membuka pintu ruang hotel. Sisilia terlihat sangat manis, wajah yang kecil dan senyumnya yang mematikan. Lipstick pink yang dioles tipis di bibir dan matanya yang cantik lengkap dengan gaun pink dan sepatu hak tinggi yang pernah ia pakai waktu itu. Raka untuk sesaat terpana dengan Sisilia namun segera tersadar.
Sisilia menutup pintu dan berjalan ke arah Raka. Mereka berjalan beriringan menuju depan hotel. Sebuah mobil hitam berhenti, Raka meminta Sisilia masuk, karena ia yang memesan mobil itu.
Mereka berhenti di sebuah restoran dengan view pemandangan malam. Mereka duduk dan memesan steik. Awalnya Raka ingin memesan spaghetti tapi Sisilia meminta yang lain saja karena Raka pasti meminta spaghetti karena ia menyukainya.
__ADS_1
" Ucapan aku Itu bukan kesalahan kak Raka". Sisilia tanpa basa-basi langsung berbicara.
Raka yang belum memotong Steik menatap Sisilia. mengatur nafas dan menjaga detak jantungnya lagi. 'jantung gue tolong kasih pengertian'
" Jadi artinya kamu terima perasaan saya. Kamu yakin dengan hati kamu?". Raka masih mencoba memastikan.
Sisilia tersenyum dan mengangguk pasti.
" Aku udah pikirin matang -matang, aku pikir ini adalah keputusan terbaik yang aku bikin. dan aku gak menyesal karena alasan lain. Karena kak Raka selalu nyuruh aku ikutin kata hati aku".
Raka tidak bisa menahan perasaan bahagianya. Senyuman lebar menghiasi wajah tampan berkharismanya.
" Terima kasih Sisilia. Terimakasih sudah percaya dengan perasaan saya dan ngikutin kata hati kamu".
Raka memotong Steik nya dengan cepat. dan menukar pringnya dengan milik Sisilia. Tentu saja dari awal ia memesan Steik untuk melakukan Hal itu. Sisilia yang juga tidak bisa menahan senyum malu-malunya memakan Steik yang sudah di potong oleh Raka.
Saat akan keluar restoran Raka melepaskan has yang dikenakannya dan memakaikan pada Sisilia.
" Aku gak apa-apa kok kak Raka". Sisilia mencoba membuka jas itu kembali.
Tapi Raka segera melarang " Harusnya kamu pakai baju yang tebal dan hangat, lagipula ini bukan pertama kalinya kamu pakai jaket dari saya kan?. Dulu kamu pakai jaket saya walaupun kamu gak tau siapa saya. Sekarang kamu pakai jas saya karena kamu sudah tau siapa saya"
Akhirnya Sisilia memakai jas Raka. Sisilia mencium aroma wangi yang kuat dari jas Raka
" Tapi kak Raka pakai parfum apa?, wangi banget, daritadi sebenarnya aku mau nanya tapi ragu".
Sisilia dan Raka kembali masuk ke mobil untuk kembali. Namun setelah beberapa lama Raka yang melihat sebuah supermarket berhenti dahulu disana. Raka meminta sopir menunggu sebentar dan mengajak Sisilia ikut dengannya.
Raka mengambil beberapa cemilan. Sisilia melihat cemilan yang diambil Raka adalah yang ia sukai " Kak Raka juga suka makan cemilan?"
" Enggak ". Raka terus melihat -lihat
" Terus?". Sisilia menaikkan sebelah alisnya.
" Ini buat kamu, ". Raka mengingat cemilan yang dimakan Sisilia waktu berada di rumah Rini sambil mendengarkan Doni bercerita.
Raka juga mengambil satu buah ice cream untuk Sisilia. " Mbak Sahila bilang kamu suka ice cream rasa coklat vanila". Sisilia menerima ice cream itu dengan senang hati.
Mereka duduk di luar sebentar sebelum masuk ke mobil. Sopir tadi juga tak lupa dibelikan minuman oleh Raka.
Es krim di tangan Sisilia mencair dan mengenai jarinya. Raka lalu masuk kembali ke dalam membeli tisu ukuran untuk diletakkan di meja. Sisilia memakai tisu itu walaupun tangannya hanya kena sedikit.
" kak Raka". Sisilia memanggil nama Raka yang selesai membuang tisu kotor ke tong sampah.
" kenapa Sisilia?". Raka kembali duduk dan memasukkan tisu ke kantong belanjaan.
__ADS_1
" Sebenarnya hubungan kita sekarang apa ya?". Sisilia ragu-ragu.
" Kamu Calon istri saya dan saya Calon Suami kamu". Raka melihat jari tangan Sisilia.
" Atau kita anggap sebagai tunangan, saya harus dapat izin secara resmi dahulu untuk memiliki hubungan serius sama kamu Sisilia"
Sisilia yang bingung ternyata karena Raka mendengar perjuangan Septian mendapat restu ayahnya dari Sahila. Sisilia tiba-tiba tertawa.
"Kenapa kamu ketawa Sisilia". Raka yang jadi bingung sekarang.
" kak Raka yakin bisa dapetin restu dari Ayah aku?". Sisilia terdengar tak yakin.
" kenapa".
" Karena dulu bang Septian kakak ipar aku sempet nyerah. Pas dia udah kehilangan cara, dia sempat pengen bawa kakak aku buat kawin lari". Sisilia kembali tertawa.
" Terus gimana?". Raka penasaran
" Akhirnya dia tetap ngeyakinin ayah aku sampai ayah luluh berkat usahanya dia". Sisilia tersenyum.
" Saya juga bisa Sisilia". Raka terdengar yakin.
" Bisa apa kak Raka ?".
" Bisa meyakinkan ayah kamu, sama seperti saya meyakinkan perasaan kamu."
Sisilia hanya mengangguk mendengar ucapan Raka.
" Tapi kenapa kamu bisa yakin sama saya Sisilia?". Raka bertanya pada Sisilia.
Sisilia langsung masuk mobil dan mau menjawabnya besok saja usai seminar.
'Seminar, oh iya seminarnya'. Raka ikut masuk mobil dan meminta Sisilia harus memberikan alasannya besok.
****
Sisilia masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia harus memberi tahu Rini, Vito, Sesilka dan orang tuanya.
Raka masuk ke kamar hotelnya. Wajahnya ia tutupi dengan jas yang dikembalikan Sisilia. Brian dan Doni awalnya khawatir mungkinkah Raka ditolak.
Raka sudah disuguhi kopi oleh Brian dan Doni, mereka bersiap mendengarkan Raka. Raka yang mencoba mengatur irama suaranya memberitahukan Keputusan Sisilia.
Ruangan itu hening untuk beberapa saat, saling bertatap antar mereka saja.
Hingga akhirnya. ..Mereka bernyanyi dan menggila di kamar kedap suara itu. Perayaan atas Kebahagiaan Raka, mereka menyanyikan lagu dari aplikasi karaoke yang mereka hidupkan dengan suara yang keras. Biarlah, biarlah 3 Sekawan aneh itu berulah.
__ADS_1
Bersambung...