Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Saat yang Tak Tepat


__ADS_3

Hari ini sebenarnya Raka ingin langsung ke kebun, tetapi ada urusan mendesak dengan partner kerjasama perusahaan mereka yang menyebabkan Raka harus izin pada Pak Deri.


"iya om, baik om." Begitulah jawaban Raka. Tidak jauh-jauh dari iya dan baik seperti seorang anak penurut.


" Gimana, Bapaknya Sisilia udah Izinin apa belum?." Brian mengusap dan merapikan rambutnya.


" Belum." Raka berusaha santai.


" Tapi tadi loe ngomong iya,baik buat apaan ?." Doni dilanda kebingungan.


" Maksud gue, Bapaknya gak ngizinin. Tapi Ayahnya ngizinin." Raka mengangkat tangan untuk TOS.


Brian langsung menepukkan tangannya menyambut tangan Raka. Sementara Doni hanya diam sampai Brian yang membantu Doni dengan memegang tangannya ke udara.


" Gak diizinin kok loe minta TOS." Doni masih linglung.


" Doni, saat kayak gini loe harus ikut les kepintaran kayaknya." Brian menepuk pundak Doni.


" Apaan loe." Doni menepis dan mendorong tangan Brian.


" Bapak sama ayahnya orang yang sama Doni. Gak usah dipikirin yang penting itu urusan camer gue. Nah kerjaan loe adalah... file yang kemarin mana?." Raka menaikkan dagunya.


" Bener sih, filenya ada di meja gue." Doni mengusap dahinya bangga.


" Ooh, ambilkan ya pak Doni nanti kita terlambat!." Ucap Raka sambil memasukkan Laptopnya ke dalam ransel.


Doni menepuk keningnya dan langsung bergegas menuju ke ruangannya. Mengambil file-file yang mereka butuhkan.


***


Sisilia hari ini tidak membawa tanaman ke kantor Raka, melainkan hanya merawat dan memberikan nutrisi serta pupuk dan cairan untuk tanaman. Sudah cukup lama Sisilia tidak mengecek tanaman di perusahaan Raka, karena ia yang sibuk juga dengan urusan toko. Sisilia mengirimkan pesan chat kalau ia segera kesana setelah melayani beberapa pelanggan lagi.


Sewaktu Sisilia menuruni tangga balkon, Ia berpapasan dengan Bimo. Setelah saling menyapa, Sisilia berniat langsung pergi namun dicegat Bimo.


" Kapan lagi aku punya waktu Yia, aku kebetulan menggantikan dan membantu tugas rekan sesama dokter dua hari berturut-turut. Makanya dia mau bantu buat kasih alasan aku terlambat." Bimo mencoba meraih tangan Sisilia namun segera ditepis oleh Sisilia.


'aduh kenapa sih ini orang selalu datang saat aku mau pergi.'


Jadilah Sisilia naik kembali ke tokonya. Bimo membeli satu tanaman dan mengajak Sisilia mengobrol sebentar.


Sisilia hanya menjawab sekedarnya saja atas semua pertanyaan Bimo maupun obrolannya. Entah berapa kali Sisilia mencoba meyakinkan kalau Bimo hanya sekedar teman masa kecilnya, tapi tetap saja Sisilia merasa canggung dan menjaga jarak.


Walaupun sewaktu kecil mereka adalah teman bermain. Tapi ada berbagai penyebab dan jarak waktu yang membuat mereka menjadi seperti orang asing yang sekedar saling mengenal.


Sampai pada akhirnya Bimo mengutarakan niatnya. Bimo ingin mendekati dan mengejar Sisilia dan meminta Sisilia memberikan ia kesempatan.

__ADS_1


Sisilia yang sudah mencoba menjelaskan hubungannya dengan Raka tak ditanggapi serius oleh Bimo. Bimo malah semakin menaikkan semangatnya dengan pasti.


Bimo hanya berpikiran jika ia sudah punya tekad maka hal itu akan terus ia perjuangkan selama belum ada rambu lampu merah yang memberinya perintah. Bimo langsung beranjak pergi tanpa dapat jawaban oleh Sisilia yang diam di tempat.


Vito mendekati Sisilia. " Hey, kamu ngomongin apa sama dia, kok kelihatan bingung gitu."


Sisilia memukul bahu Vito. Membuat Vito meringis dan menahan tangan sepupunya itu. " Vito, harusnya kamu gabung disini, bukannya pura-pura gak tau."


" Kenapa, Bimo ngomongin sesuatu yang gak enak didengar. Atau dia ngomong yang gak pantas?." Vito sudah menaikkan lengan bajunya bersiap untuk bertarung.


" Enggak gitu." Sisilia menurunkan lengan baju Vito.


" Terus gimana?." Vito meminta penjelasan.


" Dia bilang kalau.." Sisilia menyampaikan apa yang Bimo utarakan tadi dengannya.


Sisilia memikirkan cara agar Raka bisa tenang mendengarnya. Suatu ide terlintas di benaknya. Kebetulan ia akan mampir ke toko kosmetik saat pulang dari toko.


Sebelum menuju ke perusahaan Raka hari ini ada baiknya ia ke toko kosmetik saja dahulu. Sisilia juga harus membeli sesuatu untuk Raka.


' Makanan atau barang ya, yang harus aku beli. Setidaknya aku bisa bikin kak Raka bahagia dulu.'


Cukup lama Sisilia berpikir. 'Haa iya sunblock.'


Sisilia ingat dengan status di salah satu Medsos Doni kalau Raka mempunyai kulit yang semakin kecoklatan karena berjemur. Apalagi Sisilia tau itu karena Raka yang biasanya berada di ruangan langsung terpapar sinar matahari di kebun Ayahnya.


Setibanya di perusahaan, Sisilia langsung menitipkan dahulu barang bawaannya ke resepsionis. dan Ia langsung bekerja dan berkutat dengan berbagai tanaman. Setelah selesai dan hanya tersisa yang berada di kantor Raka, ia kembali turun untuk mengambil barang yang ia titipkan.


Sisilia masuk ke kantor Raka dan lupa mengetuk pintu, ia memperlihatkan wajah yang imut. " kak Raka aku.."


Wajah Sisilia berubah merah karena di dalam kantor itu bukan hanya Raka. Ada Brian dan Doni yang sedang makan permen serta tiga karyawan lain yang menerima banyak bungkusan permen dan kardus yang belum dibuka untuk dibagikan pada karyawan lainnya.


Karyawan itu berusaha menahan tawa. Raka langsung menyuruh karyawannya keluar dan melihat ke lantai saja tidak usah celingak celinguk.


" Saya disini gak apa-apa kan Sisilia. Bahkan Raka lebih parah dari kamu, dia bisa senyum dan ketawa sendiri kayak orang stress." Brian mencoba bertanya.


"Iya Sisilia, saya masih mau cobain permen ini. Tindakan Raka bahkan lebih memalukan. Dia bisa ngelus Hpnya karena kamu kirim emot hati." Ucapan Doni membuat Raka segera membekap mulutnya sampai ia terbatuk saking cepatnya bekap tangan Raka.


" Iya gak apa-apa kok kak Brian, kak Doni. Aku mau meriksa tanaman dulu." Sisilia ragu ingin meletakkan kantong yang ia berisi barang yang ia beli.


Raka segera berdiri dan mengambil kantong itu untuk diletakkan di meja. " Karyawan di perusahaan kan sudah tau hubungan kita gak akan berani ngeledek atau ngetawain kamu kok."


Sisilia langsung mengecek tanaman di sekitar ruangan. Raka, Brian dan Doni segera memakai komunikasi dengan bahasa isyarat mereka.


Raka: Cari cara biar dia gak malu lagi dan lupain kejadian yang tadi

__ADS_1


Doni : Yang gue heran dia kenapa malu


Brian : Cewek itu gak bisa ditebak dan sensitif


Doni : Gue gak masalah dan gak ngeledek kok


Brian : Gue juga enggak


Raka : Apalagi gue, pokoknya bikin lelucon atau bahas hal yang biasa oke. Raka meminta dua kawannya setuju.


Doni : Kenapa. Masih gak tau


Brian : Dasar bego* Mengatai sambil memberi isyarat kalau otak Doni gak mudeng


Raka : Udah kalian kan tau Sisilia mudah malu, tadi yang ngelihat bukan kalian saja, tapi karyawan lainnya.


Brian dan Doni : Oke


Setelah Sisilia selesai ia segera bergabung dengan mereka. Raka menyuruh Sisilia memilih permen yang diinginkannya. Sisilia mengambil dan langsung memakannya.


Raka yang ingin menawarkan untuk membantu membukakan bungkus permen menarik tangannya. Karena Sisilia langsung menggigit bungkusan itu dengan giginya sampai terbuka. Mereka mengobrol sambil mendengarkan lelucon payah Doni.


Beberapa kali bahkan mereka bertiga saling jitak karena saling menghina. Awalnya hinaan itu datang dari candaan Brian eh semakin melebar hingga mereka menjadi saling ejek satu sama lain seperti anak SD.


" Kak Raka aku mau ngasih sesuatu." Sisilia langsung mengambil kantong di meja kerja Raka saat mereka bertiga saling mengelus kepala sehabis saling jitak.


Sisilia mengeluarkan bedak,lipstik dan cream wajah ke meja di depan mereka. Karena ia tidak dapat menemukan sunblock.


" Tapi Sisilia, saya gak bisa makeup, saya ini cowok tulen Sisilia. Gak pernah melenceng." Raka menepuk dadanya.


" Kenapa, cowok banyak yang pakai makeup kok." Doni menentang.


" Orang lain itu mereka. Gue ya Gue." Raka terdengar kesal pada Doni.


" Ini kak Raka." Sisilia memberikan sunblock pada Raka.


" Ooh ini, tapi kan kita gak ke pantai." Raka kebingungan tapi tetap mengambilnya.


" mmm, biar kak Raka gak terbakar sinar UVB dan UVA." Sisilia menyuruh Raka membaca aturan pakainya.


" Ooh, pasti karena kulit Raka udah mulai kecoklatan ya Sisilia." Doni mencoba menebak.


" Wah bagus itu kalau gak pakai pelindung. Takutnya Raka jadi ikan kering, tinggal di kasih garam hahaha." Brian mencoba menahan tawanya tapi tetap kelepasan.


Raka dengan serius membaca aturan pakainya dan melihat berbagai komposisi sunblock itu. Sisilia mencoba mengatur kata yang harus ia sampaikan. Walaupun mustahil akan teratur yang penting jujur.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2