Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Perasaan


__ADS_3

Sisilia, Rini dan Vito beserta Sesilka memutuskan bersama-sama menjenguk Raka. Lalu mereka membawa buah parsel jeruk yang dibawa oleh Sahila. Sisilia menyarankan agar mereka membeli satu parsel buah lagi, karena jeruk yang ia bawa pasti asam.


" Kak Raka, kita datang ngelihatin kak Raka". Sisilia melihat Raka menutup mukanya dengan selimut.


" Kak Raka kok nutupin mukanya pakai selimut?,gak panas tuh". Rini berbisik pada Sisilia.


" Gak tau, Rini. Harusnya kan sekarang udah bangun, apalagi sekarang udah jam 9". Sisilia ikut berbisik.


" aku bahkan minta izin telat ke kantor, dan harus ganti dengan lembur, buat jengukin mereka, tapi". Rini merasakan kesia-siaan.


Rini mentoel tangan Sisilia, seperti meminta agar Sisilia membangunkan Raka. Sisilia lalu mengisyaratkan agar Rini tenang. Sisilia berbicara dengan hati-hati.


" Kita bawain kak Raka jeruk buat kak Brian dan kak Doni juga. Jeruk dari suaminya kak Sahila, dan buah yang lain kita beli tadi". Sisilia mengangkat parsel jeruk ditangannya dan menunjuk parsel buah lain di tangan Sesilka.


" Kak Raka bisa bangun atau enggak.?. Yaudah kalo gitu kita...". Sisilia belum selesai berbicara Tapi.


Seorang yang terbaring di lantai samping ranjang tiba-tiba bangun. Membuat tiga perempuan itu kaget. Vito lalu bertanya mengapa orang itu tidur disana. Orang itu mengatakan mereka mengganggu tidurnya, dan saudaranya yang sedang sakit.


" Loh ini bukannya kak Raka ya?". Sisilia melihat papan keterangan nama pasien di ranjang.


Pasien itu lalu bangun karena berisik, membuat 4 orang yang berkunjung kaget sekali lagi. Lalu seorang suster masuk dan mengganti papan nama itu menjadi Geri. suster itu mengatakan kalau Pasien sebelumnya sudah pindah ruangan. Sementara pasien bernama Geri ini baru datang tadi pagi dan diminta istirahat dahulu oleh Dokter.


4 orang yang salah kaprah ini terpaksa menahan rasa malu. Setelah mereka meminta maaf, Sisilia menyarankan agar parsel buah diberikan satu untuk mereka sebagai tanda permintaan maaf.


Vito meminta mereka bertiga menunggu di luar ruangan sebentar, ia mau menanyakan dimana ruangan Raka. Lalu saat kembali Vito mengatakan Raka berada di ruang VIP. Mereka semua segera mencari ruangan itu.


Saat papan nama di luar pintu bertuliskan Raka Adityo, mereka langsung masuk. Nampak Brian dan Doni masih tertidur di sofa, sementara Raka sedang melihat cermin yang dibawa mamanya tadi malam, sambil memegang kepalanya.


Raka melihat 4 orang yang sudah berada di dekat pintu dan menyuruh mereka mendekat. Raka melihat Vito yang sedang menahan Tawa, wajah memerah Sisilia dan Rini juga Sesilka yang mencubit Vito seolah meminta jangan sampai ada yang tau.


" Apa yang udah terjadi?". Raka penasaran


" Gak ada, kak Raka". Pengelakan satu oleh Sisilia


" Iya gak ada kok, kita datang jengukin ". Pengelakan dua oleh Rini.

__ADS_1


" Iya saya juga ikut jengukin". Pengelakan tiga oleh Sesilka.


" Ooh, oke. Makasih kalian semua udah datang". Raka tersenyum.


Sisilia lalu meletakkan parcel jeruk di meja tepi ranjang Raka. Raka meminta Sisilia membukakan satu jeruk itu karena tangan kanannya masih sakit. Sisilia yang ragu-ragu membuka itu melirik 3 orang lain yang sudah menyipitkan mata.


Sisilia menyuapi Raka satu potongan yang sudah bersih. Saat masuk ke mulut Raka, akhirnya ia tahu mengapa mereka menyipitkan mata. Jeruk itu sangat asam walaupun hanya satu potongan yang ada di mulut Raka. Sisilia meminta maaf, karena rasanya asam, namun Raka tidak keberatan.


Raka meminta Vito membangunkan dua sahabatnya yang tidur kayak kebo itu, susah sekali bangun. Raka meminta Vito memberikan jeruk pada Brian dan Doni yang masih setengah sadar.


Mata mereka langsung melek seketika, Doni merasakan rahangnya hampir jatuh, karena satu potongan jeruk. Sementara Brian yang makan setengah bagian jeruk yang ia minta Vito mengupasnya, langsung merasakan mulut dan rahangnya tertarik sedalam-dalamnya.


Sisilia meminta maaf karena rasa Jeruk itu. Vito yang sudah tidak tahan dengan penyakit ember bocornya langsung tertawa. Sesilka mencubit pinggang Vito, merasakan ancaman kebocoran.


Raka yang sangat penasaran meminta penjelasan, Akhirnya Vito menjelaskan yang terjadi. Membuat Brian dan Doni ikut tertawa, selain 3 perempuan, di dalam ruangan sudah dipenuhi tawa lelaki gak guna.


Raka juga ikut menjelaskan karena ia memang pindah karena Papanya yang datang tadi malam. Pak Rama kasihan dengan Brian dan Doni yang terganggu dengan banyak anak kecil lalu lalang, sesekali menyenggol tangan dan kaki Brian dan Doni.


Mereka pun pamit setelah beberapa saat untuk kembali ke pekerjaan masing-masing. Tapi Raka meminta agar Sisilia tetap tinggal, Raka ingin melakukan sesuatu tapi tangannya masih sakit, Brian dan Doni juga tidak bisa membantu. Vito dan Sesilka meminta Sisilia agar tinggal, apalagi itu sudah tugas Sisilia. Sisilia akhirnya tetap tinggal.


" Maafin rasanya asam kak Raka, ini jeruk yang dibawain Suaminya kakak aku. Dari dulu emang suka bawain jeruk habis penerbangannya tapi selalu asaam banget". Sisilia mengingat dulu ia juga tidak tahan dengan rasa jeruk itu.


" Suaminya mbak Sahila?."


" Iya, abang ipar aku. Namanya Septian."


" Penerbangan berarti?". Raka kembali minta penjelasan.


" Pilot, Dia pilot kak Raka"


Raka lalu mengangguk-angguk, Kemudian Raka meminta Brian dan Doni untuk menonton Televisi. Raka ingin mengatakan sesuatu pada Sisilia. Dua sahabatnya langsung nurut, lalu Brian segera menghidupkan Televisi dengan tangannya yang tidak terperban .


" Kak Raka mau ngomongin apa?". Sisilia mengupas dan membersihkan jeruk lainnya.


" Perihal perasaan saya".

__ADS_1


Brian dan Doni yang curi-curi dengar,langsung saling bersitatap dan tersenyum.


" Maksud kak Raka?". Sisilia masih mencoba membersihkan jeruk.


" Waktu di gudang kosong udah saya umumin kan, kamu wanita berharga bagi saya. Saya takut kamu terluka bahkan sedikit pun. Saya menyukai kamu". Ucapan Raka membuat jeruk yang selesai dibersihkan Sisilia jatuh ke bawah ranjang.


Sisilia yang terkejut, mencoba mengambil jeruk itu. Namun saat ingin bangun, kepalanya terantuk ke tepi ranjang Raka dan ia langsung meringis. Raka langsung secara spontan mengusap dan mengelus kepala Sisilia. Membuat mata mereka beradu untuk beberapa saat.


" Kamu gak apa-apa Sisilia, sakit nggak?". Raka meniup kepala Sisilia.


" Ee enggak apa-apa kak Raka ". Sisilia menurunkan tangan Raka.


Sisilia lalu mengatakan ia mau pergi ke toilet, namun ia berjalan ke luar. Raka mengingatkan Sisilia kalau toiletnya ada di dalam Ruangan. Sisilia yang sudah berniat pulang karena perasaannya yang tak karuan itu langsung berlari ke toilet.


" Loe ditolak". Brian langsung berkata pada Raka dari sofa.


" Belum ada jawaban". Doni mewakili Raka menjawab.


Di dalam toilet Sisilia tidak bisa mengatur detak jantungnya yang semakin cepat. Ini terlalu tiba-tiba, Sisilia tidak berharap Raka akan menyatakan perasaan apalagi saat sedang sakit.


Sisilia lalu kembali dan duduk di tepi ranjang Raka. Sisilia tidak berani menatap mata Raka, karena wajahnya sangat merah, lebih malu lagi dari kejadian tadi pagi.


" Saya gak minta jawaban kamu sekarang kok Sisilia, saya hanya ingin kamu tahu perasaan saya.". Raka tau Sisilia tidak bisa menjawabnya karena dari tadi tidak bisa menatap matanya.


Sisilia masih diam, Lalu ia mencoba untuk pamit. Namun Raka memegang dan sedikit menarik tangan Sisilia ke arahnya. Membuat Sisilia Dekat dengan tubuh Raka, dan tangan Sisilia yang satu lagi berada di dada Raka akibat menahan badannya agar tak terdorong.


" Sisilia, kali ini kamu kabur boleh. Lain kali saya pastikan kamu gak akan bisa kabur lagi dari Saya.". Raka tersenyum pada Sisilia,


Sisilia mencoba menarik kembali badannya namun tidak bisa.


Raka lalu berbicara sekali lagi."Kalau kamu terpaksa kabur karena orang lain, saya akan kasih orang itu balasan setimpal". Sisilia menatap Raka karena ucapan Raka.


Setelah beberapa Saat, dan Pegangan Raka pada tangannya sedikit longgar, Sisilia melepaskan tangannya dan berlari ke luar Ruangan. Sisilia langsung capcus lari pulang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2