Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Jujur Memang Susah


__ADS_3

Sisilia meremas jemarinya. Udara yang memenuhi ruangan juga sama gugupnya dengan Sisilia. Beberapa kali Sisilia memegang rambutnya dan merapikan padahal tak berantakan. Sisilia bingung mau jujur, tapi takut melihat reaksi Raka.


Raka tau kalau Sisilia ingin mengatakan sesuatu. Terlihat jelas raut gelisah dari wajah Sisilia.


"Kamu mau menyampaikan sesuatu sama saya. Mau saya suruh Brian sama Doni keluar." Raka menawarkan dahulu.


Brian yang peka langsung berdiri. Sementara Doni masih mencoba permen lainnya. Brian harus mengkode dahulu pada Doni sampai Doni sadar dan ikut berdiri.


'Loh kalau Kak Brian sama kak Doni keluar, gimana kalau Kak Raka nanggepinnya kesal. Aku butuh mereka buat bikin suasana tetap terkontrol.'


" Enggak usah kak Brian sama kak Doni disini saja. Lagian masalahnya biasa kok." Sisilia menampakkan giginya canggung.


Brian dan Doni kembali duduk. Doni mencoba permen terus-menerus. Sementara Brian sudah merasa rahangnya pegal dan mengusapnya, akibat kebanyakan mengunyah permen yang manis dan berbagai rasa lainnya.


"Tadi Bimo mampir buat beli tanaman." Ucap Sisilia ragu-ragu.


" Oh jadi itu masalahnya." Raka mengangguk


Brian dan Doni ikut mengangguk seolah itu hal yang biasa. Tapi Raka tau bukan itu saja yang 8ngin disampaikan Sisilia.


Sisilia menggigit bibirnya, Kamu pasti bisa Sisilia


"Dia bilang mau ngejar aku." Sisilia berkata dengan kecepatan tinggi.


" Hah, apa Sisilia. Saya gak dengar jelas?." Raka minta pengulangan.


" Dia bilang mau mendekati dan ngejar aku. Dia minta kesempatan. Tapi aku udah bilang soal kak Raka. Dia bertekad dan berjuang dan gak mau berhenti sampai.." Sisilia menahan mulutnya.


" Sampai apa Sisilia." Raka masih menunggu kelanjutannya.


Doni juga berhenti mengunyah permen karena keselek dengar Sisilia. Brian ikut penasaran lanjutan omongan Sisilia dan membuka telinganya lebar-lebar.


" Sampai rambunya Lampu merah." Sisilia pasrah dengan reaksi Raka.


Raka menggenggam tangannya. Jelas sekali menahan rasa kesal yang berkumpul di beranda ubun-ubunnya.

__ADS_1


" Berarti dia taat aturan, emang kita gak boleh Berhenti sebelum lampu merah. Sekarang yang gak taat aturan bisa ketangkap polisi juga." Dengan polosnya Doni mengintervensi penjelasan Sisilia.


Sisilia tak tau harus bagaimana menanggapi Doni. Raka juga sepertinya ingin sekali menjitak kepala Doni. Raka melirik Kepala Doni sambil tangannya tergenggam, membuat Doni menjauh dan menaikkan tangannya ke depan untuk jaga-jaga. Jangan sampai Ia jadi samsak pelampiasan Raka.


"Kak Raka, kak Raka percaya kan sama aku. Aku janji gak akan meladeni dia. Lagian emang aku gak pernah kasih kesempatan buat dia mendekat." Sisilia menunggu tanggapan Raka.


" Iya, saya percaya kamu kok." Raka terlihat santai kembali setelah terdiam beberapa saat.


Sisilia pamit dan segera keluar karena ia ingin bertemu Rini sebentar. Sebelum waktu istirahat di perusahaan itu berakhir, Sisilia harus mengabari Rini.


Tapi ternyata Sudah tak sempat. Rini menyuruh agar mereka mengobrol di tempatnya saja, sekalian Sisilia menginap karena ia tidak punya banyak kerjaan.


****


Setelah Sisilia pergi, Raka langsung berdiri. Ia curhat pada BeBo. Sudah lama Raka tidak curhat mengenai kegundahan hatinya.


Brian mencoba menenangkan Raka. Pasti Bimo gak akan ada kesempatan. Apalagi Ayah Sisilia sudah semakin dekat dengan Raka.


yang membuat Raka lagu adalah Bimo memakai cara yang sama dengannya. Pendekatan orang tua, apalagi profesi Bimo itu sangat disukai Ibu Sisilia, ia pasti kurang dalam hal itu.


Setidaknya ucapan dua kawannya membuat Raka kembali teguh. Raka meminta dan memohon dua kawannya itu untuk selalu membantu dan mendukungnya. Bukan Brian dan Doni namanya jika tak setuju dengan hal yang membuat Raka bahagia dan hal itu juga yang baik dan tidak bertentangan menurut mereka.


****


Sisilia duduk di sofa bersama Rini. Mereka makan camilan sambil mengobrol. TV dinyalakan dengan suara yang dikecilkan sebagai latar belakang penghilang gema dan keheningan ruangan besar itu.


" Jadi gimana Sil." Rini penasaran.


" Gimana apanya Rini, aku tau kak Raka nahan kekesalannya tadi. dia nahan diri dan mencoba keras buat terlihat biasa saja." Sisilia meminum jusnya.


" Ya wajar lah, waktu kamu udah bilang hubungan Sama kak Raka. Bahkan yang namanya Bimo itu gak bergeming. Aku acung jempol deh buat semangatnya." Rini menaikkan dua jempol ke atas.


" Tapi itu salah Rini. Aku gak mau terlibat sama Bimo lagi." Sisilia memakan camilan dengan berantakan.


" Udah Sil, jalanin aja." Rini mengusap bahu Sisilia.

__ADS_1


" Eh kamu sama kak Brian gimana?." Kali ini Sisilia yang ingin tau mengenai masalah Rini.


"Gitu-gitu aja Sih. Kak Brian masih nyebelin kayak biasanya. Orang-orang juga udh pada tau kalau kita punya hubungan pacaran yang nyata." Rini terlihat sedih.


" Tapi Rini, kamu gak takut punya perasaan sungguhan sama kak Brian. Kalau misalnya ada kamu mau bagaimana." Sisilia tiba-tiba kepikiran dengan kemungkinan itu.


" Ya putuslah." Ucap Rini.


" Hah. Langsung putus." Sisilia kaget.


" Perjanjian kita adalah pura-pura, kalau jadi nyata otomatis perjanjian itu berakhir." Rini tampak gundah dengan pernyataannya sendiri.


" Kamu yakin Rini. Tapi itu akan bikin kamu terluka lagi Rini. Kenapa kamu gak mengutarakan hal itu sama kak Brian." Sisilia memberikan solusinya.


" Gak ah. Udah Sil kan itu gak mungkin terjadi. Kalau terjadi mungkin emang sebaiknya kita putus karena kita gak mungkin berhubungan kalau yang jatuh cinta cuma ada satu orang kan Sil." Rini meminta persetujuan Sisilia.


" Oke deh. Tapi kapanpun kamu mau nangis, jangan lupa ada aku selalu nomor satu di samping kamu oke!" Sisilia meminta pelukan sahabatnya.


Rini bertanya bagaimana perkembangan Raka di kebun Sisilia. Sisilia juga tak tau apa saja yang berhasil Raka lakukan. Sepertinya Ayahnya mencoba memahami kepribadian Raka sementara Raka mencoba menyesuaikan diri dengan Ayahnya.


Rini juga menyinggung soal Raka yang berkulit kecoklatan. Semua orang di departemennya bergosip tentang hal itu.


" kak Doni adalah biang gosip utama soal kulit kak Raka. Bahkan dibikin status sama dia." Rini menahan tawanya.


" Iya, tapi berkat status kak Doni juga aku bawain sunblock buat kak Raka. Gimana kalau kak Raka berubah jadi ikan kering kayak yang diomongin kak Brian." Sisilia ikut tertawa.


Tapi Sisilia tetap salut dan bangga pada Raka. Walaupun Raka tidak punya keterampilan pada tanaman. Raka tetap berusaha semaksimal mungkin, Ayah Sisilia bahkan sering sekali menceritakan bagaimana Raka bekerja saat ia pulang ke rumah.


Raka sudah seperti pekerja tetap untuk Ayah Sisilia. Pak Deri juga selalu bertanya pada Sisilia bagaimana keadaan Raka, atau apakah Raka mengeluh atau tidak. Namun seperti yang diketahui, Raka bukanlah orang yang bisa diremehkan.


Raka adalah orang yang penuh perencanaan dan wawasan. Raka selalu melatih dirinya dengan siaran online. Pak Deri semakin hari semakin meningkatkan kepercayaan dan kepuasannya pada Raka.


Nak Raka, Nak Raka, nak Raka. Sisilia hampir saja salah memanggil Raka dengan sebutan yang sama dengan ayahnya. Akibat terlalu sering mendengar ayahnya berbicara bagaimana lihainya Raka Bekerja di kebun.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2