
Hari ini adalah dimana Sisilia akan pergi untuk memesan cincin lamaran bersama Raka. Pakaian casual dan tas samping yang simpel melengkapi penampilannya.
Sisilia masuk ke mobil Raka. Mereka berdua menikmati perjalanan menuju toko perhiasan.
Sisilia tak henti-hentinya tersenyum. Ia tak menyangka sebentar lagi akan dilamar dan menikah benaran dengan Raka.
Musik dengan irama asik dan lirik romantis dihidupkan. Sisilia menikmati alunan nada dari musik itu.
" Jangan tidur ya Sisilia." Raka masih sibuk dengan jalanan.
" Gak akan kak Raka." Sisilia juga memandang jalanan di depannya.
'Aku terlalu semangat dan berdebar. Gimana bisa nutup mata.'
" Tapi tempat kita cukup jauh loh." Raka melirik Sisilia sekilas.
" Gak apa-apa. Aku gak akan ketiduran." Sisilia memastikan.
Agar mereka tenang, Sisilia menekan tombol untuk menukar lagu. Sampai pada lagu yang jedag-jedug, dan itulah yang dipilihnya.
"Selera kamu bagus juga Sisilia." Raka terkekeh, setelah ia cukup kaget dengan nada musik itu.
" Biar gak ngantuk. Aku kan gak pernah pilih-pilih sama lagu, kalau seru ya nikmatin aja." Jawab Sisilia.
'Mau selama apapun saya mengenal kamu. Atau saya bisa tiba-tiba menemukan sisi baru dari kamu. Tetap saja itu membuat saya semakin jatuh cinta. Apalagi kamu yang jujur dan tidak mudah bohong Sisilia.Sangat imut'
Mereka berhenti di toko perhiasan yang besar. Toko itu sangat berkelas dan mewah, namun tampaknya bukan dipersembahkan untuk orang kaya saja. Karena banyak tamu yang berpakaian biasa saja juga datang.
Sama dengan Sisilia, jika ia yang datang mungkin tak akan minder lagi. Mengingat keramahan para pelayan disana. Ternyata tempatnya adalah perusahaan yang bekerjasama sama dengan Perusahaan Raka.
' Apa kak Raka mau dapat diskon ya. Benar-benar kak Raka masih pakai otak bisnisnya dalam hal ini.'
" Ini perusahaan yang waktu itu." Raka berbisik pada Sisilia.
Sisilia Membalas dengan anggukan kepala. Ia juga tau semenjak membaca nama perusahaannya.
" Jangan salah Sisilia, saya gak dapat diskon. Tapi dapat bonus." Raka kembali berbisik.
" Bonus apa kak Raka." Sisilia jadi penasaran.
" Nanti kamu juga tau Sisilia." Raka berlalu.
'Iih bikin penasaran aja terus.' Sisilia manyun.
__ADS_1
Setelah usai memilih cincin, Sisilia lega. Karena daritadi Raka membuatnya sesak nafas. Raka berpikir untuk membeli cincin yang terlalu mewah dan tidak sesuai dengan selera Sisilia.
Ada yang permatanya berukuran sangat besar, ada yang beratnya membuat Sisilia tak bisa menaikkan jarinya. Ada yang hanya satu-satunya dan unik. Sisilia mau yang terlihat simpel namun bermakna, sehingga mereka disarankan untuk membeli dengan ukiran nama. Itulah yang menjadi pilihan akhir mereka.
Setelah usai memilih. Pelayan itu langsung memberikan sebuah hadiah kecil. Sisilia tak memalingkan wajahnya sedikitpun sejak hadiah itu diberikan kepada Raka.
Hingga saat mereka keluar, dan ingin masuk ke mobil Raka memberikan hadiah itu pada Sisilia. Sisilia bergegas membuka hadiahnya, betapa herannya Sisilia tak asing dengan model yang ia lihat.
Hadiah itu berisi versi mini dari gantungan kunci yang ia beli dengan Raka. Bahkan warnanya persis sama, membuat Sisilia yakin 100 persen.
" Saya yang minta." Ucap Raka sambil membukakan pintu untuk Sisilia.
" Buat apa kak Raka." Sisilia masuk ke mobil.
" Bukti kalau kita pernah beli yang ukuran besar." Raka asal nyeletuk.
" Oh ya." Sisilia kebingungan.
" Enggak lah, Katanya emang mau kasih buat kita. Saya bilang mau nikah, dia anjurkan kasih itu buat kita dan ya saya terima." Raka terdengar santai seperti biasanya.
Mobil melaju ke tempat asalnya. Menyisakan hembusan angin dan jejak mereka berdua.
***
Brian mengusap dadanya. Sementara Doni ikut mengusap punggung Brian dari belakang.
" Kenapa loe. Kesambet." Raka melirik Brian.
" Loe bisa gak. Kalau ngapain itu gak usah pamer bangs*t." Brian emosi.
" Kenapa, biasanya juga gue emang ngobrol dengan Sisilia." Raka ketus.
" Bukan itu. Loe aja Jelasin Doni." Brian menyuruh Doni.
" Nah jadi kan, Apa yang mesti gue jelasin. Loe kesel kenapa?." Doni ngelag.
" Otak loe Doni, Sangat menyebalkan." Brian meremas tangannya yang ingin menjitak Doni.
" Kenapa Langsung aja Nih." Raka menghidupkan TV.
" Loe pamer habis pesan cincin kan." Brian langsung mengutarakan.
" Iya lah, kabar bahagia itu harus dibagi." Raka santai lagi.
__ADS_1
Brian membetulkan bajunya. Diikuti Doni yang juga ikut membantu membetulkan baju Brian, sampai Brian menghindar karena Doni yang terlalu dekat.
" Loe tau gak. Tiba-tiba aja Rini ngebahas soal cincin. dan kelihatannya dia iri banget sama kalian." Ucap Brian dengan nada kesal.
" Ya udah tinggal loe beliin aja." Raka menukar saluran TV.
" Benar kata Raka. Beliin aja buat dia." Doni menyetujui.
" Tapi kan kita gak mau nikah kayak Raka dan Sisilia." Brian mengelak.
" Eh loe pikir, cincin cuma buat orang nikah. Bahkan anak sekolahan pada beli cincin buat pasangannya. Ntar kalau putus tinggal lepas terus buang deh." Raka menyarankan pada Brian.
" Benar sekali. Gue setuju sama Raka." Doni kembali setuju.
Brian mengangguk. Namun tak lama kemudian, ia sadar ada yang salah dari ucapan kedua kawannya itu.
"Eh Bentar-bentar, maksud kalian apa. Putus, kalian berharap gue putus sama Rini." Brian membesarkan matanya.
" Maksud kita bisa aja kan loe putus lagi. Kan kalian biasanya juga bertengkar terus." Doni makin memanasi kompor membuat Brian menyatukan gigi kesal.
" Gue kan berantem juga ujungnya baikan. Bukan tujuan gue buat putus ngerti loe." Brian menekankan ucapannya.
"Iya-iya ngertiin aja deh." Raka mengiyakan.
" Maksud loe Raka. Jangan iyain emang iya tau gak loe." Brian menekankan suaranya lagi.
Raka hanya terus menatap layar TV. Sementara Doni sudah pergi untuk menjawab panggilan yang sudah membuat Hpnya bergetar dan berdering lama daritadi.
***
Sisilia juga menghidupkan Video call dengan Rini setelah dengan Raka. Rini menjawab sambil masih mengerjakan tugas kantornya.
" Kok kelihatannya kamu lebih sibuk dari kak Raka sih Rini." Sisilia heran.
" Ya namanya juga bagian keuangan Sil. Kalau gak teliti bisa-bisa menyebabkan kerugian pada Perusahaan Sil." Rini masih mengetik.
" Emang ya, getaran siswa pintar dan berprestasi angkatan kita masih melekat sama kamu Rini." Sisilia memuji.
Sama seperti yang dikatakan Brian. Rini sangat ingin memiliki cincin sama seperti Sisilia dan Raka. Sisilia menyarankan agar Rini juga ikut membeli, bukan untuk menikah tapi sebagai pasangan saja.
Sisilia juga mengatakan hal yang sama, jika putus maka bisa dibuang. Oleh karena itu bisa dibeli cincin yang biasa dan tidak terlalu mahal.
Rini juga kesal dengan sahabatnya. Bagaimana bisa Sisilia memikirkan hal seperti putus. Padahal waktu itu, Sisilia adalah yang membantu ia dan Brian menjadi pasangan kekasih.
__ADS_1
Sisilia yang mendengar hanya cekikikan melihat ekspresi Rini. Sisilia tau Rini tak suka jika menyinggung hal seperti putus, walaupun Rini dan Brian memang suka cekcok, tapi mereka tetap mempertahankan dan mengusahakan hubungan yang serasi.
Bersambung...