
Bimo menceritakan waktu yang mereka habiskan saat mereka masih kecil. Mereka adalah sahabat kecil yang saling bermain dan terluka bersama.
Sisilia tentu mengingat hal itu. Sisilia juga selalu menganggap Bimo sebagai sahabat pertama selain Vito sepupunya. yang pernah ia miliki dan berharap akan tetap berteman seperti itu.
Bimo masih tidak memahami dimana letak kekurangannya. Ia merasa tak ada yang salah selama mereka masih mengenal, kecuali waktu dimana mereka harus berpisah. Bimo yang pindah ikut orang tuanya dan Lokasi mereka menempuh pendidikan yang juga menambah jarak antara mereka berdua.
" Apa kamu masih dendam dengan peristiwa waktu dulu ketika SMP sama aku Sisilia?." Bimo memberikan pertanyaan.
" Aku gak dendam." Sisilia langsung menjawab.
" Tapi kata Vito kamu kesal setengah mati." Bimo memastikan.
'Aduh Vito, gak dulu gak sekarang. Kamu masih saja kayak ember bocor. Nyebarin apapun dengan tanpa filter yang harus dikasih tahu dan tidak.'
Raka yang berada di balik pintu bersama Brian dan Doni hanya bisa mendengar. Mereka tidak mungkin masuk karena itu bukan urusan mereka. Walaupun Raka sudah sangat ingin membuka pintu, tapi Brian dan Doni tetap menahannya.
" Aku emang kesal. Tapi itu dulu, aku tau kamu bersikap seperti itu karena alasan yang mungkin benar juga menurut kamu. Apalagi kamu adalah senior dan ketua OSIS." Sisilia mengingat kembali saat itu.
'Sisilia, aku gak mau kamu bersikap gak peduli gini Yia. Apa aku harus jujur ya?, ini adalah cara terbaik yang bisa aku pikirkan.'
" Tapi itu gak penting. yang penting kamu adalah cinta pertama aku Yia." Bimo menatap Sisilia.
' Kamu harus tersentuh Yia. Udah bertahun-tahun dan aku masih menyimpan perasaan untuk kamu.'
" Maafin aku Bim. Aku gak bisa balas perasaan kamu. Aku harap kamu bisa bertemu wanita yang benar-benar bisa membalas perasaan kamu kelak Bim." Ucap Sisilia sungguh-sungguh.
' Meskipun aku cinta pertama buat kamu, tapi aku juga punya cinta pertama buat diriku sendiri Bim. Maaf.'
Bimo terdiam ia juga menjelaskan bahwa Sisilia adalah cinta pertama baginya. Tapi Sisilia tetap tak tersentuh sama sekali.
Mendekat pada Sisilia lagi. Bimo tak terima dengan kekalahan yang tak memberikan ia waktu untuk memperjuangkan hatinya sama sekali.
"Kenapa kamu langsung nolak aku Yia?." Bimo sudah dalam ekspresi berbeda.
" Aku udah punya seseorang Bim. Berkali-kali aku udah ngejelasin hal itu ke kamu." Sisilia langsung berdiri dan segera ingin keluar.
__ADS_1
" Tapi kamu juga gak kasih aku kesempatan buat ngejar kamu. Kamu selalu nolak dan ngehindar, aku udah bilang sebelum ada lampu merah gak akan berhenti." Bimo mengeluh.
" Tapi aku gak pernah setuju kan Bim. Itu hanya ada dalam pikiran kamu. Aku sudah mencintai seseorang, gak mungkin aku kasih kesempatan buat kamu Bim." Sisilia berusaha tenang.
'Aku gak bisa kalah Sisilia. Dari dulu aku selalu yang pertama. Aku bisa dapatin kepercayaan Ibu kamu. Kamu harus bisa terima aku Yia. Aku gak peduli.'
Bimo menarik tangan Sisilia. Sisilia kaget ia sudah berada dalam dekapan Bimo.
" Bimo kamu mau apa. Aku akan teriak kalau kamu gak lepasin aku sekarang." Sisilia panik mencoba melepaskan cengkeraman Bimo dipinggangnya.
" Cuma ada kita berdua dalam ruangan ini Yia." Bimo memegang dagu Sisilia dengan kasar.
Sisilia mencoba melepaskan tangan Bimo tapi ia tak bisa. " Lepasin aku Bim!"
" Menurut kamu aku gak bisa ngelakuin apa-apa. Aku gak bisa kalah dari orang lain. Kita bisa menikmati hari yang indah berdua Sisilia." Bimo tersenyum menatap bibir mungil Sisilia.
Raka langsung masuk dan melihat Sisilia, dengan Brian dan Doni mengikutinya. Raka tak sempat memisahkan mereka dan Bimo sudah mencoba mencium bibir Sisilia dengan paksa.
Tapi Sisilia tak kehabisan akal, Sisilia menurunkan kepalanya sehingga terantuk ke mulut Bimo. Dalam situasi panik ia menendang area terlarang bagian bawah Bimo.
" Jangan berlaku di luar batas Bimo." Sisilia terdengar marah.
Bimo langsung tersungkur jatuh kebawah sambil memegangi barang berharga bagi masa depannya itu.
Raka langsung mendekati Bimo. memukul pipi Bimo dengan tinjunya yang kuat. Bimo langsung teler sesaat. Raka kembali meraih kerah baju Bimo memukul tanpa perlawanan dari Bimo.
Saat Raka ingin menghempaskan tubuh Bimo ke dinding, Brian dan Doni segera menyambutnya. Sehingga mereka, yaitu Brian, Doni dan Bimo jatuh bersamaan.
" Untung gak kena dinding." Doni lega.
" Loe berdua lepasin dia." Raka kali ini sudah sangat marah.
" Loe udah bikin dia kayak gini udah cukup Raka. Gimana kalau dia gak nafas lagi." Brian mewanti-wanti.
" Iya preman yang waktu itu aja rusuknya ampir patah. Preman gak bisa nuntut, lah dia." Doni juga khawatir.
__ADS_1
" Udah kak Raka." Sisilia menarik tangan Raka.
" Tapi Sisilia." Raka tak bisa berhenti.
" Biar aku yang menyelesaikannya kak Raka." Akhirnya Raka berhenti sesuai permintaan Sisilia.
" Maafin aku Sisilia." Bimo melihat Sisilia dengan rasa bersalahnya dan masih memegangi barang berharganya yang terasa sangat sakit.
Sisilia berjalan ke hadapan Bimo yang dipegangi oleh Brian dan Doni yang membantunya berdiri. Sisilia menahan air matanya agar tak jatuh. Ia tak boleh terlihat lemah.
" Kak Brian, kak Doni tolong pegangin dia!"
" Oke Sisilia." Brian dan Doni menjawab serentak.
Sisilia mendaratkan tangannya yang cukup kecil di pipi Bimo. " Ini untuk ucapan kasar dan gak sopan kamu."
Sisilia menampar sekali lagi." dan ini untuk perlakuan kamu. dan yang diberi kak Raka juga untuk kelakuan kamu. Jadi jangan harap kamu bisa nuntut." Sisilia bertindak keren.
Sebelum Sisilia pergi ia kembali melihat Bimo. " Oh ya, Barang kamu itu jaga dengan hati-hati !." Sisilia melirik bagian yang ia tendang tadi. Sisilia berjalan keluar diikuti oleh Raka.
Brian dan Doni melihat Bimo dengan kasihan. Tampaknya Bimo sudah hilang kesadaran. Brian menjitak kepala Bimo dengan tiba-tiba.
" Loe ngapain, dia kayaknya udah pingsan." Doni juga ikut menjitak kepala Bimo.
" Loe ngapain ikutan." Brian terkekeh.
" Gue pikir dia yang gak sopan harus kita kasih pelajaran juga sedikit sebelum kita tolongin, bukannya kita harus bantu Raka juga." Doni tak perduli.
" Bagus Doni, itu baru sahabat sejati. Dia juga sih berani gak sopan. Udah ceweknya Sisilia lagi. Semoga masa depannya masih aman." Brian tersenyum simpul.
Brian dan Doni membereskan ruangan itu. Mereka juga membawa Bimo yang sekarat ke rumah sakit. Jika dibiarkan, Nanti ada kabar yang berhembus kalau Raka memukul orang sembarangan dan membahayakan perusahaan mereka.
Ruangan itu menjadi saksi bisu. Pertengkaran yang melibatkan perasaan dan kekalahan.
Bersambung...
__ADS_1