
Sisilia langsung ingin pulang. Raka menghidupkan mesin mobil dan segera mengantarkan Sisilia.
Di tengah perjalanan, Sisilia hanya melihat keluar jendela. Sisilia berusaha menahan air matanya, tak tau harus bagaimana mengatasi situasi yang ia alami. Terlebih ia juga tidak tau cara mengatakan pada orang tuanya.
" Kak Raka tolong berhenti sebentar!." Akhirnya Sisilia bersuara.
Raka berhenti di tepi jalan, disana sudah ada tempat nongkrong anak muda sambil mengobrol. Raka menawarkan Sisilia turun, namun hanya dibalas gelengan singkat Sisilia.
Sisilia mengeluarkan Hpnya dari tas, membuat Raka sadar kalau ia akan menghubungi seseorang. Raka segera pergi membeli minuman, ia mempersilahkan Sisilia melakukan yang diinginkan.
Setelah Raka pergi, Sisilia melihat kontak Hpnya. Nama Sahila langsung terbayang dalam benaknya. Nomor itu ia tekan, ia menunggu jawaban dari sang kakak.
Akhirnya Sahila mengangkat panggilan setelah 3 kali percobaan Sisilia. Sahila yang berisik karena anaknya Cherryl yang sedang rewel sehabis bangun tidur berusaha teriak. Biasanya anaknya ia titipkan ke Ibunya, tapi karena pertemuan dengan Bimo ia harus membawa anaknya.
" Kenapa Yia, lancar kan pertemuan keluarganya?". Sahila menggoda adiknya itu.
" Kak, aku..." Sisilia mencoba mengatur nafasnya.
" Kenapa, jangan bilang kamu gak tau cara bereaksi dan ngabisin banyak air. Terus kalau malu gak bisa ke toilet." Sahila menebak-nebak.
" Benar kakak." Sisilia masih menahan suaranya.
" Yia, kamu kenapa ?." Sahila sadar ada yang tidak beres.
Akhirnya Sisilia tak bisa menahan air matanya lagi. Ia tak tau cara mengatakan pada Ibunya dan Ayahnya. Raka yang sudah berada di luar dan ingin masuk ke mobil, melihat Sisilia yang menangis. Raka tidak jadi masuk dan kembali lagi untuk membeli tisu dan Permen Lolipop dengan citarasa manis.
Raka masuk ke mobil, saat Sisilia selesai menelfon dan tidak menangis lagi. Saat Raka masuk, Sisilia masih melihat pantulan wajahnya di layar HP.
Uuj jelek, bisa-bisanya aku nangis.
Raka menyodorkan Tisu pada Sisilia. dan membukakan tutup botol minuman yang ia beli. Sisilia membersihkan wajahnya dan meminum minuman itu.
" Sekarang kita mau kemana Sisilia. Kamu mau ke.." Raka belum selesai berbicara tapi Sisilia langsung memotong.
" Pulang!". Sisilia memberikan botol minuman yang isinya sudah melewati kerongkongan Sisilia beberapa teguk.
Raka mengantarkan Sisilia sampai di pekarangan rumahnya. Nampak Sahila datang beberapa saat kemudian menggunakan Ojek Online sambil memangku anaknya.
Ibunya langsung membukakan pintu dengan wajah kesal. Ayahnya ikut keluar dengan wajah muram, sepertinya mereka terlibat cekcok. Mereka masuk ke dalam rumah.
" Ya ampun kakak langsung bawa Cherryl dan izin tau gak." Sahila memegang tangan adiknya.
__ADS_1
Cherryl yang rewel membuat Raka inisiatif membawanya keluar. Raka tau ia tak boleh ikut campur dalam urusan mereka sekarang.
Setelah mendengar penjelasan Sisilia, Ayahnya langsung naik pitam. Ibunya yang terkejut juga tidak bisa berkata-kata.
Sahila langsung meminta Ibunya agar bisa lebih bijak dalam hal ini. Bu Asti langsung memeluk anaknya dan sadar kalau ia sudah dibutakan dengan keinginan punya menantu idaman ibu-ibu gang.
***
Pak Deri bergegas keluar dan menghampiri Raka. " Nak Raka tolong antar saya menemui Bimo.!"
Raka masih bermain dengan Cherryl langsung berdiri. Sahila bergegas keluar dan mengambil anaknya dari Raka.
Raka dan Pak Deri Ayah Sisilia tiba di rumah sakit. Raka tau kamar Bimo dari Brian yang mengiriminya pesan.
Saat masuk ke kamar Tempat Bimo dirawat, Pak Deri melihat Bimo yang terbaring di ranjang. Ibu dan Ayah Bimo duduk disampingnya.
Brian dan Doni berdiri di dalam ruangan itu sambil menjelaskan kejadiannya. Awalnya mereka tak mau ikut campur, tapi karena terus didesak Ibu Bimo akhirnya Brian dan Doni mewakilkan orang yang terlibat untuk bicara.
Pak Deri yang kembali mendengar kejadian itu langsung ingin mematahkan leher Bimo yang sedang terbaring. Raka menahan pak Deri, dibantu Brian dan Doni.
Ayah Bimo langsung meminta maaf yang sedalam-dalamnya. Ia juga tak akan menuntut apapun yang terjadi pada anaknya.
Sementara Ibu Bimo hanya terlihat kecewa dan tak ikut bersuara. Ibu Bimo menatap anaknya yang sudah terbaring lemah penuh luka dan rasa sakit.
Raka mengantar Pak Deri untuk kembali. Sebelum sampai di rumah, pak Deri mengajak Raka untuk pergi ke suatu tempat.
***
Mereka berhenti di tepi Danau. Pak Deri pergi ke sebuah toko dan menyuruh Raka menunggunya.
Tak lama kemudian, Pak Deri datang sambil membawa dua pancingan dan perlengkapan lainnya.
Akhirnya mereka duduk sambil memancing. Pak Deri mengeluarkan sebatang Rokok dari sakunya. Rokok yang masih terbungkus rapi dan sepertinya tak pernah dibuka.
Pak Deri menyalakan Rokoknya dan menghembuskan udara asap ke depan. Pak Deri diam dan menikmati isapan rokok selama beberapa saat.
" Nak Raka, saya sudah mendengar kejadian yang menimpa Putri bungsu Saya." Pak Deri masih menghisap rokoknya.
Raka hanya mengangguk dan menatap Danau. Ia tak tau harus menjawab apa dan memutuskan untuk jadi pendengar yang baik saja.
" Sebenarnya saya sudah lama berhenti merokok. Sisilia melarang saya, dan saya hanya merokok saat merasa frustasi dan kesal tak tertahankan saja." Pak Deri kembali menghembuskan asap ke udara.
__ADS_1
" Iya Om." Raka menjawab singkat.
" Kamu benar-benar tulus kan dengan putri saya." Pak Deri menatap Raka.
" Iya Om." Raka kembali menjawab singkat, padat dan jelas.
" Jangan iya Om saja. Saya tidak mau kalau nanti kamu tidak bisa menerima Perkataan atau kepribadian Putri saya kamu melakukan hal seperti Bimo." Pak Deri membuang puntung rokoknya ke tanah dan menginjak sambil memutar.
Raka langsung berdiri. " Saya tidak akan melakukan hal yang dibenci Sisilia Om."
" Saya tau, kamu juga sudah sering mengulanginya saat di kebun." Pak Deri terkekeh.
" Saya sudah sering bilang bukan, Meskipun Putri bungsu saya itu cukup pemalu tapi ia juga sangat sulit dihadapi. Ia tak akan goyah dengan apa yang ia sukai. Makanya saat ia bilang ingin menikah, saya takut, ia bisa terluka dan malu. Saya dulu sangat menyiksa Menantu pertama saya tapi ia pacaran dengan Ila baru menikah. Tapi kamu nak Raka, langsung menikah dan Yia sangat yakin dengan pilihannya." Pak Deri berbicara panjang lebar.
Raka kembali mengangguk-angguk.Mendengarkan Pak Deri dengan saksama.
" dan juga, Terimakasih sudah mewakili saya menghajar Bimo." Pak Deri terkekeh.
" Saya hilang kendali om saat Sisilia diperlakukan seperti itu, jika bukan karena dua Sahabat saya tadi yang melerai, mungkin Bimo bisa lebih parah Om." Raka terdengar kesal mengingat saat ia menghajar Bimo.
" Daerah kami bukanlah tempat dimana membolehkan perilaku seperti Bimo. Walaupun jaman sudah modern, tapi tindakan itu sudah melanggar moralitas. Tidak ada yang namanya Ciuman. Dia pikir anak saya dibesarkan untuk Apa." Pak Deri terdengar seperti pidato Camat .
" Bahkan di luar negeri juga tindakan itu bisa disebut pelecehan om." Raka malah memanasi kompor.
" Betul, jangan lakukan kesalahan yang sama nak Raka." Pak Deri ikutan kesal.
" Pasti Om. Saya tak akan membuat kesalahan." Raka memastikan.
'Terimakasih pada Gue Karena gak kepikiran ngelakuin hal di luar batas, ciuman itu pas udah halal saja. Gue tau Sisilia yang tertutup dan pemalu karena banyak alasan. Pasti itu salah satunya, daerah mereka yang mempertahankan norma. Untung gue masih laki-laki beradap yang menghargai perempuan.
Raka memuji dirinya sendiri di dalam Hati. Pak Deri membuyarkan pikiran Raka yang terlena.
" Kalau nanti Orang lain bertindak tidak sopan pada anak saya. Saya sudah merelakan kamu mengatasi semuanya." Pak Deri kembali melirik Raka.
" Tenang Om. Saya janji, jika Sisilia mendapat perlakuan tak sopan orang lain, akan saya buat dia tak bisa berdiri." Raka terdengar yakin.
" Sudah Ayo pulang.!" Pak Deri segera berdiri.
" Tapi mancingnya Om ?." Raka memegang pancingan.
" Letakkan kembali. Ikan juga gak akan ngegigit. Nanti kita kembali kesini saat kamu sudah resmi jadi mantu Saya.!" Ucap Pak Deri yang membuat Raka di atas awan.
__ADS_1
Pak Deri menyuruh Raka membereskan semua alat. Mereka pulang bersama bagai Ayah dan Anak Laki-lakinya sehabis mendapatkan satu pelajaran hidup yang paling berharga.
Bersambung...