
Raka sudah meminjam motor gede milik salah satu karyawannya. Raka membonceng Sisilia pergi menuju tempat seminar. Dengan motor gede itu mereka bisa mengambil jalan menghindari macet jika memakai mobil.
Motor pun berhenti di parkiran aula seminar. Sisilia turun dan Raka membantunya membuka helm. Mereka masuk ke dalam aula dimana seminar baru akan mulai. Sisilia awalnya ingin duduk di tempat yang agak di depan, tapi Raka menyarankan untuk duduk di tempat yang agak di belakang yang bisa dibilang tidak akan disadari oleh pemberi seminar.
Setelah mereka duduk, seminar langsung dimulai setelah beberapa kali staf meminta untuk tidak merekam pada peserta seminar. Tentu saja, karena pemateri tampan itu sangat digemari oleh peserta seminar, Rini bahkan ingin ikut karena alasan itu.
Pemberi seminar lebih suka jika para peserta yang ikut seminarnya memahami isi seminar daripada fokus kepadanya. Pemberi seminar itu adalah pria cerdas yang pernah kuliah di luar negeri, wajah tampan bak pangeran Arab juga salah satu keunggulannya.
Seminar dimulai, saya A..., dan bla bla. Raka hanya mendengar sampai pengenalan si pemateri. Karena setelah itu Raka langsung tertidur di bahu Sisilia. Sisilia akhirnya tau mengapa Raka tidak mau duduk agak di depan dan malah memilih kursi yang tidak disadari oleh pemateri.
'aduuh, berat kepala kak Raka berat.' Sisilia merasa tangan kanan tempat Kepala Raka bertopang sudah mulai pegal. Namun ia tidak tega membangunkan Raka. Bagaimana jika Raka kelelahan akibat mengurusi masalah perusahaan nya.
Beberapa kali Raka tersadar jika suara pemberi seminar lebih keras atau peserta bersorak menanggapi. Raka tetap kembali tidur di bahu Sisilia.
Seminar itu diakhiri dengan tepuk tangan meriah peserta dan membuat Raka terbangun. Sisilia langsung memijit tangannya yang kesemutan.
" kak Raka kelelahan ya, kita balik ke hotel aja!". Sisilia memberi ide.
" enggak, saya mau ajak kamu ke suatu tempat". Raka yang ambigu tidak melihat ekspresi was - was Sisilia.
" Tempat apa kak Raka?". Sisilia menahan tangan Raka yang sudah berdiri ingin keluar aula.
" Tempat yang jauh". Raka langsung menarik tangan Sisilia.
Sisilia yang berjalan beriringan tidak bisa memikirkan tempat yang dituju Raka. Tempat apa itu, apakah tempat yang sepi.
Di parkiran saat Raka memasangkan helm di kepala Sisilia. Raka melihat wajah Sisilia yang menggigit bibir bawahnya dan diiringi ekspresi khawatir.
" kamu kenapa Sisilia?. Kamu gak mau ikut saya".
" kak Raka ,kita mau pergi ke tempat yang kayak apa?. Tempatnya sepi gak. Kita kan belum punya hubungan yang resmi jadi..". Sisilia tidak menyelesaikan kalimatnya karena Raka langsung tertawa.
__ADS_1
" Kamu mikir apa Sisilia hahahaha. Jadi itu alasannya waktu saya narik tangan kamu sepertinya kamu menahan seolah tidak mau ikut". Raka masih tertawa.
' aku kan cuma khawatir, perempuan kayak aku emangnya bisa apa selain menjaga diri demi masa depan yang bahagia'. Sisilia mencoba menahan ekspresi kesalnya tapi Raka sudah menyadari hal itu.
" Sisilia bukannya kamu janji mau ngasih tau saya alasan kamu Nerima saya. Lagipula keluarga saya bukan keluarga yang konservatif jadiii". Raka menatap Sisilia yang membukakan matanya lebar menunggu kelanjutan ucapannya. "Saya gak akan bawa kamu ke tempat yang sepi kok."
Mereka langsung kembali berboncengan, Sisilia memegang jaket yang dipakai Raka awalnya. Sampai saat Raka menaikkan kecepatan Sisilia langsung memegang dan memeluk pinggang Raka erat. Itu pasti keinginan Raka dan ia memang sengaja menaikkan kecepatan.
" Pelan-pelan kak Raka. Nanti kita jatuh!". Sisilia berteriak.
" Bukannya kamu juga udah pernah bawa motor skuter dengan kecepatan tinggi ya Sisilia. Saya juga bisaa". Raka berteriak sambil tersenyum.
' dasar Raka pendendam'. Sisilia ngedumel tanpa suara.
Mereka berhenti di sebuah tempat yang dipenuhi oleh penjual dengan gerobak. Ada bakso, mie ayam, nasi goreng, siomay dan lainnya. Raka membawa Sisilia duduk di tempat mie ayam.
Raka memesan dua mangkok mi ayam. Sisilia sudah bersiap dengan mengambil sendok dan garpu. Raka yang melihatnya juga ikut melakukan hal itu. Saat mi ayam dihidangkan di depan mereka, Sisilia langsung meletakkan garpu dan sendok ke dalamnya. Memasukkan sedikit kecap dan banyak sekali Saus sambal. Sisilia mencoba mencicipi rasanya dan kembali menambah saus sambal ke dalam mangkoknya.
" kenapa kita makan disini kak Raka. Biasanya kak Raka selalu ke restoran".
" Bukannya kamu suka mi ayam. Lagipula ini adalah tempat yang sering saya kunjungi dengan Brian dan Doni waktu perusahaan kita masih perusahaan kecil.". Raka teringat masa lalu.
" ooh jadi Kak Raka nostalgia". Sisilia masih dengan lahap menyantap mi ayamnya.
" Harusnya bukan saya sih, dulu Brian suka sekali dengan nasi goreng, dan kita bertiga makan nasi goreng tiap kali merayakan pelanggan baru perusahaan. Tapi kali ini saya gak usah bawa mereka karena mereka pasti bakalan tidur, stamina mereka di bawah saya ngantuk gara-gara begadang". Raka menyombongkan Diri
' Kak Raka kan juga ketiduran Mulu tadi pas seminar. Ngatain temen aja.'
" Kamu mikir apa Sisilia?"
" Enggak kok. Rini kak Raka. Rini juga suka banget sama nasi goreng". Sisilia mengalihkan pembicaraan. " Eh enggak maksudnya Kak Raka bawa aku buat perayaan program Perusahaan kak Raka"
__ADS_1
" Bisa jadi iya bisa jadi enggak".
' Huh jawaban itu bener bener ngeselin'
" Iya bilang iya, enggak bilang enggak kok malah bisa jadi" Sisilia tak sadar ucapannya didengar Raka dan membuat ia menunduk menatap mi ayam.
" iya kamu benar Sisilia, tapi bukan itu saja, saya mau kamu tau tentang saya dan". Sisilia berhenti makan saat Raka menekankan kata dan. "saya udah kasih kamu mi ayam artinya kamu harus kasih tau saya kenapa kamu menerima perasaan saya!"
" Jadi ini sogokan". Sisilia melihat mi ayamnya yang sudah habis setengah.
Raka mengangguk. Sisilia akhirnya menceritakan panjang lebar bahwa ia yakin dengan perasaan Raka. Ia tau kalau Raka mencoba banyak hal untuk bisa mencari tahu tentangnya. Raka menghubungi Vito, bahkan Sahila kakaknya.
Raka mengangguk angguk dan ingin memberitahukan Sisilia sebuah hal yang belum ia ungkapkan secara gamblang. Yaitu Ia yang memilih daerah di dekat tempat tinggal Sisilia. Raka sengaja memilih daerah itu karena yakin Sisilia akan berada disana.
Sisilia cukup kaget dengan hal itu. Dulu Raka mengatakan daerah disana nyaman, itu artinya Raka sudah lama merencanakan itu semua. Benar sekali, Raka merencanakan hal itu dan punya kesempatan saat bisa menjadi pemilik gedung di toko Sisilia.
" Gimana kalau aku ternyata udah ada yang punya" Sisilia menggoda Raka.
" Artinya saya akan menyerah, tapi sepertinya takdir berpihak pada saya".
Raka pergi membayar tagihan makan mereka dan kembali duduk di depan Sisilia. " Kamu Sisilia, ada yang mau kamu sampaikan pada Saya?"
Sisilia berpikir cukup lama. Lalu Sisilia mengangguk dan ingin memberitahukan Raka. Tapi Raka segera meminta Sisilia ikut dengannya ke suatu tempat.
" Kemana Kak Raka"
" Ke tempat yang pasti kamu sukai, kita cuma bisa masuk selama satu jam Sisilia, ayo cepat".
Mereka bergegas kembali menaiki motor gede dan Sisilia menyimpan hal yang ingin ia sampaikan. Kemana lagi ?, ah sudahlah ikut saja. Alasan mereka sudah cukup saling diketahui bukan. Adapun yang lainnya akan menyusul seiring dengan hal yang mereka jalani. Cukup ikuti kata hati, maka alasan akan terbuka dengan sendirinya.
Bersambung...
__ADS_1