
Mereka berangkat ke kampung Doni. Sisilia membawa kopernya yang cukup besar.
Sisilia tertatih membawa kopernya, Raka lalu dengan sigap membantu Sisilia. Sisilia menolak, ia ingin membawa kopernya sendiri saja.
Raka melihat sebuah toko kelontong di dekat pelabuhan. Mengambil beberapa makanan ringan untuk Sisilia dan untuk dibagikan dengan yang lain.
Namun saat di pelabuhan, ternyata mereka masih harus mencari dan menaiki sebuah kapal agar bisa ke kampung Doni. Sisilia menyerah, ia sangat lelah menarik koper miliknya sendiri.
' Kalau tau sejauh ini, harusnya aku minta kak Raka bawain aja tadi. Sekarang gimana, mau minta lagi udah gengsi.'
Sisilia yang tidak fokus itu akhirnya tidak menghiraukan panggilan Raka yang menawarkan minuman dari tadi. Raka sudah membuka tutup botolnya dan diabaikan Sisilia selama beberapa saat.
" Sisilia." Raka memegang bahu Sisilia membuat Sisilia kaget bukan kepalang.
" Apa kak Raka." Sisilia melihat minuman yang sudah dibukakan itu disodorkan Raka ke arahnya. Sisilia mengambil minuman itu dan menghabiskannya dalam sekali teguk.
Raka menatap Sisilia. Jelas Sekali dia kelelahan, tapi masih nolak buat dibantu. gue gak bisa diam aja, udah jelas Sisilia malu sama yang lain.
Raka mengambil koper dari tangan Sisilia.
" kak Raka aku bisa ". Sisilia berhenti saat Raka menatapnya.
" Saya gak mau tangan kamu sakit. Atau tangan kamu kelelahan, perjalanan kita masih jauh loh".
Akhirnya koper itu berada di tangan Raka. Benar sekali, sangat jauh hingga mereka sampai ke kapal tujuan. Kapal itu hanya diisi oleh mereka dan 10 orang pegawai baru pilihan dari perusahaan Raka lainnya yang sudah duluan tiba.
Mereka semua menaiki kapal itu. Saat kapal sudah berlayar, terasa udara basah menampar pipi mereka.
Setelah kapal sudah cukup lama berlayar. Sisilia merasa sangat mual, ' Jangan Sisilia, gak boleh mabuk laut. Harus bisa tahan, maluuu banyak orang'
Wajah Sisilia sudah tampak pucat. Ia berusaha menahan mual dengan sekuat tenaga. Sisilia mengelus dadanya, berusaha menarik dan menghembuskan nafas menghilangkan mabuk lautnya.
__ADS_1
Ternyata tak bisa, Sisilia masih mual. Raka langsung menjadi panik dan bersorak Sorai menanyakan apakah ada yang membawa minyak angin.
Raka membongkar tas ransel yang ia bawa. Ternyata ia sendiri yang membawa minyak angin yang berada dalam kotak P3K yang ia bawa. Raka mengeluarkan dan memberikannya pada Rini yang masih mengelus punggung Sisilia.
Setelah beberapa saat, akhirnya mual Sisilia mereda. Sisilia menolak apapun yang diberi Raja. Baik minum atau makanan, karena ia takut merasa mual lagi.
Sisilia hanya bisa menyender ke bahu Rini. Perjalanan mereka sangat jauh, sudah hampir senja sehingga Sisilia tertidur. Rini masih mengelus punggung Sisilia dengan telaten.
Brian melihat Rini dari kejauhan. Rini itu cukup perhatian juga.'
Setelah mereka sampai, Raka meminta Rini untuk tidak membangunkan Sisilia. Dengan lembut Raka mengambil Sisilia dalam pangkuannya.
Sisilia tersadar sesaat namun kembali tertidur karena Raka membuat ia nyaman. Koper Sisilia dibawa oleh Brian. Doni menunjukkan jalan bagi mereka menuju ke penginapan.
Sisilia terbangun di sebuah ranjang. Ranjang di tengah adalah dirinya, samping kiri dan kanan sudah ada Sesilka dan Rini yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Sisilia menggaruk keningnya, berusaha mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Ia berjalan ke kamar mandi yang ditunjuk oleh Sesilka dan kembali ke atas ranjangnya.
" Jadi ini penginapan milik kak Doni." Sisilia manggut-manggut memandang ke setiap sisi ruangan asing yang ia tempati itu.
" Iya Rini. " Sisilia menanggapi singkat.
Ternyata Sisilia sudah mengetahui maksud dia diajak ke penginapan dari awal. Raka memberitahukan semua kepadanya. Rini yang mengetahui fakta itu jadi aneh sendiri, tak ada yang merasa dimanfaatkan kecuali dirinya.
Rini berjalan keluar mencoba menenangkan diri. Raka juga tanpa sengaja melihat Rini yang berjalan dengan kesal keluar.
Sisilia mengirimkan pesan pada Raka kalau Rini tau mengenai tujuan untuk datang kesana. Raka memberitahukan hal itu kepada Brian. Awalnya Brian tak mau tau, namun saat melihat Rini berjalan sendirian, ia memutuskan untuk menghampiri gadis itu.
Rini berdiri di dekat pemecah ombak. Tamparan udara dingin menyeruak menebas pipinya yang semula kering.
Brian datang membawa kopi kalengan dan memanggil Rini. Menyodorkan kopi itu pada Rini dan diambil dengan kesal oleh Rini.
__ADS_1
" Rencananya kita mau ngasih tau sebentar lagi pas makan malam." Brian menyeruput kopi itu.
" Ooh." Rini menanggapi singkat.
" Menurut saya kamu gak bisa merasa kesal Rini."
"Ooh, bahkan aku gak tau kalau dimanfaatkan untuk datang kesini. Merasa kesal juga tidak diperbolehkan. Okey." Rini menyeruput kopi itu.
" Maksud saya, kamu datang kesini bukan hanya sebagai Rini. Tapi sebagai pegawai baru yang berhasil terpilih dari perusahaan kita." Nada Bicara Brian berubah serius.
" Yaudahlah, aku tau kak, eh pak." Rini mendengus.
" Rini, bisa tidak kamu jangan sembarangan kesal saja. Kebetulan kamu tau lebih dulu dari karyawan lainnya karena Sahabat kamu. Tapi kamu harus ingat, status pekerjaan kamu." Brian berbalik menuju ke restoran karena sudah jadwal makan malam.
Rini masih berdiri disana, mencoba menutup matanya merasakan udara dari pantai. Brian sudah berjalan agak jauh, dan melihat Rini belum beranjak juga. Brian berjalan kembali ke dekat Rini melihat Rini yang memejamkan mata.
' Ngapain lagi sih cewek ini, udah dikasih pengertian masih disini juga.'
" Rini. " Brian mengejutkan Rini membuat Rini yang sudah berada di tepi jadi hilang keseimbangan dan bergoyang.
Rini yang hampir jatuh di pegang pinggangnya oleh Brian dengan sigap. " Hati-Hati Rini. Kalau kamu jatuh Bagaimana?. Kamu,, apa kamu mau lompat. Jangan Rini kamu masih muda, Perjalanan kamu masih panjang"
" Jatuh, jatuh apanya kak Brian yang bikin aku kaget makanya aku jadi hilang keseimbangan. " Rini memegang jantungnya yang berdebar karena terkejut.
Rini berjalan meninggalkan Brian. Setelah agak jauh, Rini menarik nafasnya dan kembali pada Brian " Kak Brian pikir otak aku pendek apa ya, ngapain juga aku mau lompat malam-malam begini, bisa asam urat aku."
Brian mengangguk " Tapi, bukan asam urat kayaknya. Mungkin rematik kali, menurut saya dingin itu bisa mempengaruhi tulang kamu Rini."
" Kalau aku asam urat masalahnya apa sama Kak Brian." Rini menaikkan dagu dan berjinjit.
" Iya, iya . Saya pikir memang asam urat kayaknya. " Menagalah lebih baik saat berhadapan dengan Cewek aneh kayak Rini. Begitulah pikir Brian.
__ADS_1
Rini berjalan tergesa, diikuti oleh Brian. Beberapa kali juga Rini hampir tergelincir. Brian sudah menyiapkan tangannya agar bisa menangkap Rini kapanpun.
Bersambung...