Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Gagal Menghindar


__ADS_3

Sejak semalam Bu Asti, Ibu Sisilia meminta anaknya untuk bertemu Bimo. Sisilia tetap kekeuh menolak karena ia harus menjaga perasaan Raka.


Tapi Bu Asti tetap tak perduli, ia pikir tak ada salahnya jika Sisilia memberikan Bimo kesempatan. Alasan yang dipakai Bu Asti adalah karena dahulu Ibu Bimo dan ia dekat, juga mereka tetangga yang saling membutuhkan.


"Tapi kan itu dulu Bu, apalagi dia sudah lama pindah. Kita juga Hanya mengobrol sekenanya saat Ayah di rumah sakit." Pak Deri tak terima dengan Istrinya.


" Emangnya Ayah sudah bertemu dengan orang tuanya nak Raka itu.?" Ibu Sisilia membantah ketus


" Tapi Ayah masih dalam pendekatan dengan nak Raka Bu. Dia sangat bertanggung jawab, lah kalau Bimo. Ayah gak tau gimana dia sekarang d. yang ayah ingat hanya Bimo kecil ketika mereka masih bermain dengan putri kita dan Vito." Pak Deri mencoba menenangkan.


" Kalau Ayah ingin menguji nak Raka karena sudah dekat dengan Yia. Ibu juga mau Bimo dekat dengan Yia dulu baru bisa Ayah uji." Bu Asti belum mereda.


" Bu, Ayah, kok malah jadi berdebat sih. Iya Bu aku kan sudah bilang kalau aku itu suka sama kak Raka." Sisilia memegang tangan Ibunya.


" Yia, Ibu gak berharap lebih. Ibu cuma mau kamu kasih kesempatan buat Bimo." Ucap Ibunya.


" Kesempatan, Ibu tau dari siapa?." Sisilia curiga.


" Bimo yang bilang sama Ibu. Kamu cari-cari alasan supaya dia berhenti sama kamu." Bu Asti mengelus rambut Putrinya.


'Dasar Bimo tukang ngadu. Masak sampai ngasih tau ke Ibu soal itu.'


" Bagus Yia. Jangan kasih dia kesempatan, kamu gak boleh kasih dia harapan palsu." Pak Deri serius.


" Udahlah Yah, anak kita sudah besar. Biar saja dia yang memilih. Tapi tetap pertimbangkan Bimo ya." Bu Asti menarik suaminya masuk ke kamar, agar tidak terus meragukan Sisilia.


Sisilia masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan pelan. Ia duduk di tepi ranjangnya dan melihat langit-langit kamar. Lalu menarik selimut dan duduk bersandar dengan bantal.


Raka tidak diberi tahunya, apakah ini akan menimbulkan kesalahpahaman. Sisilia termenung, berkutat dengan berbagai pikiran yang merundungnya.


Bagaimana jika ia memberi tahu Raka. Tapi Sisilia takut Raka berfikir kalau ia tidak serius dengan keinginan menikah. Sisilia mencoba untuk tidur, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mencoba menghindari Bimo kapanpun dan di manapun.


****


Telepon toko itu berbunyi, Vito mengangkatnya. Tapi orang di seberang itu meminta agar yang menjawab adalah Sisilia.


Sisilia bergegas menjawab panggilan itu." Halo ada yang bisa kami bantu, kami melayani...".

__ADS_1


Orang itu langsung memotong ucapan Sisilia yang belum selesai menjelaskan. " Halo mbak, ada kegiatan mendesak atau tidak"


" Tidak" Jawab Sisilia.


tut tut tut.. Telepon dimatikan.


Aduh dasar, pelanggan pada iseng saja. Eh tapi kok kayak kenal sama suaranya yaa..


Bimo memakai pakaian rapi tanpa setelan jas Dokter. Ia menaiki MoGe untuk bertemu Sisilia.


Bimo datang sambil membawa helm naik ke balkon. Ia masuk ke dalam, lalu melihat sekeliling mencari keberadaan Sisilia dari kejauhan.


Sisilia yang sibuk dengan tanaman tidak menyadari kedatangan Bimo. Bimo mendekat pada Vito yang berada di meja kasir. Memberikan uang dan menyuruh Vito mencatatnya.


" Buat apa nih ?." Vito keheranan.


" Buat beli tanaman, oh ya sekalian mau ajak Yia." Bimo melihat ekspresi Vito yang tak rela.


Bimo memberikan Hpnya pada Vito. Terdengar suara Bu Asti, Ibu Sisilia membuat Vito pasrah.


Bimo menghampiri Sisilia. Berdiri di sampingnya. Sisilia yang tak tau kalau itu Bimo mengira kalau Vito yang datang.


Bimo membantu mengangkat tanaman itu. dan menenteng satu tanaman yang sudah ia bayar tadi.


"Aku udah bayar, aku minta kamu temani aku setengah hari ini karena aku mau lanjut ke Rumah Sakit setelahnya." Bimo memberikan tanaman itu pada Sisilia.


" Tapi aku sibuk." Sisilia mencoba berkilah.


" Ibu aku mau ketemu kamu hari ini." Bimo menarik tangan Sisilia.


" Tapi kok Vito gak ikut." Sisilia melirik Vito.


Bimo langsung membeberkan kalau Ibu Sisilia yang sudah mengizinkannya. Membuat Sisilia tak berkutik dan pasrah ikut. Sebelum naik ke MoGe Bimo. Sisilia dipasangkan helm oleh Bimo.


" Ayo naik Sisilia!." Bimo menepuk bagian belakang motornya.


Sisilia naik ke MoGe itu. Bimo meminta Sisilia memegang pinggangnya. Awalnya Sisilia tidak mau, tapi karena Bimo sengaja mengencangkan motor membuat Sisilia harus berpegangan.

__ADS_1


Sisilia mengingat kembali saat Raka mengajak ia naik MoGe karyawan Raka. Walaupun Sisilia bersama Bimo, tapi hati dan pikirannya tak terlepas dari Raka.


****


Mereka sampai di rumah Bimo. Rumah itu cukup besar cocok untuk keluarga Dokter seperti Bimo yang kaya.


Mereka masuk ke dalam Rumah setelah Bimo mengajak Sisilia masuk. Ketika mereka masuk langsung disambut oleh Ibu Bimo.


Mereka mengobrol panjang lebar. Ibunya Bimo sangat antusias berbicara dengan Sisilia apalagi mengenai masa kecil mereka.


Lama kelamaan Obrolan mereka menjurus pada pendapat Sisilia mengenai Bimo. Sisilia tak tau apa yang harus ia jawab.


" Mmm sebenarnya aku sudah punya ..." Sisilia dipotong lagi oleh Bimo.


" Bu, Ibu kan cuma mau nostalgia sama Yia. Sekarang dia udah Beda dari waktu kita masih kecil dulu." Ucap Bimo yang tau kalau Sisilia akan menyinggung Raka.


" Iya ya, makin cantik dan sangat manis." Ibu Bimo terkekeh lembut sambil memegang dagu Sisilia gemas.


Sisilia yang dipuji langsung Salting dan memerah. Sisilia ingin pergi ke toilet saja rasanya. Perasaan canggung menyesakkan dada Sisilia.


Setelah cukup lama mengobrol, Mereka pamit kembali. Ibu Bimo mengajak mereka bertemu lagi ketika Ayah Bimo sudah tak sibuk. Sisilia hanya tersenyum sungkan walaupun ia berharap sebaiknya tak usah bertemu lagi.


Mereka naik Motor kembali. Namun Sisilia merasakan kalau Rute yang ia tempuh berbeda dari arah tokonya.


" Kita mau kemana Bim." Sisilia agak teriak karena hembusan keras angin.


" Ke tempat bagus." Bimo tak memberi penjelasan lengkap.


" Bukannya kamu mau ke rumah Sakit.?. Aku juga harus ke toko." Sisilia berteriak lagi.


" Aku Masih punya banyak waktu. Kamu juga udah dapat izin dari Ibu kamu." Bimo menaikkan tingkat kecepatan motornya membuat Sisilia berpegangan erat.


Mereka berhenti di sebuah taman hiburan. Sisilia memikirkan cara untuk bisa menghindar agar tak masuk dengan Bimo berdua. Tapi Sisilia tak tau harus beralasan apa. Bimo bahkan sudah memesan tiket masuk jauh-jauh hari untuk mereka.


Sisilia akhirnya tetap harus masuk, dan meminta Bimo menunggu karena ia mau memberi tahu Vito dahulu. Sisilia pergi ke tempat dimana Bimo tak bisa mendengarkannya.


Vito terdengar tak percaya kalau Sisilia akan ke taman hiburan. Sisilia ingin Vito memberi tahu Raka, karena ia tidak tau cara mengatakan itu pada Raka.

__ADS_1


Vito tau kegundahan Sepupunya itu. Apalagi Bimo memakai cara licik dengan mendapat izin Ibu Sisilia. Vito akan mencari cara agar Raka bisa memahami situasi itu. Panggilan pun ditutup.


Bersambung...


__ADS_2