
Brian sudah merancang kisah yang bisa mendukung hubungannya dengan Rini. Melakukan hal berdua seperti makan di restoran atau kaki lima. Brian harus mengajak Rini jika dia memiliki waktu luang, iya pasti hubungan mereka tak akan dicurigai.
Rini sudah sering ditanyakan oleh Mamanya mengapa tidak pernah mengirimkan Foto mereka. Rini sudah mengirimkan beberapa foto saat mereka sedang di perusahaan, tapi Mamanya bosan melihat foto itu.
Rini memberitahukan Brian mengenai keluhan Mamanya. Tampaknya Mamanya Rini mencurigai hubungan mereka hanya pura-pura. Rini menopang dagunya, Bagaimana agar Mamanya bisa yakin kalau hubungan mereka berjalan lancar dan ia tidak akan dipertemukan dengan laki-laki pilihan lain lagi.
Brian langsung mengatakan rancangan untuk mereka pergi juga keluar sambil mengambil foto saja. Dengan begitu Mamanya Rini sekaligus Ibuknya sendiri bisa melihat foto itu.
Rini hanya ikut ide Brian saja, mengingat bahwa dirinya juga diuntungkan. Hari ini mereka pergi bersama sesuai ide Brian. Sebuah restoran yang dilihat Brian di internet, cukup ramai sehingga mereka harus antri sebelum masuk ke dalam.
" Hah lama nih kak Brian." Rini mengelap keringat di keningnya yang sudah kering.
Dari pagi sebenarnya Rini sudah sangat frustasi dengan tugas di kantor. Rini juga dibuat kesal oleh beberapa pegawai dari kantor lain yang seenaknya saja menyuruh ini dan itu kepadanya karena ia seorang perempuan dan bisa dibilang masih baru bekerja disana.
" Udah daripada kita dijodohkan dengan orang lain lagi. " Brian mengeluarkan tisu dari tas sampingnya. Tanpa dilihat Rini, ia mengeringkan keringatnya dengan tisu itu. Lalu membuangnya secara diam-diam dan cepat.
' yang dibilang apa, dia ngomongnya apa. Bener-bener gak nyambung, aku bilang restoran ini lama, baiknya kan dia saranin cari restoran lain. Eh malah bilang dijodohin dan bla bla bla. Gak di kantor, gak di luar kayaknya semua yang berhubungan dengan RBD CYNOC hari ini sangat menjengkelkan.'
" Saya tau kamu pasti ngeluh kenapa saya gak nyari tempat lain kan Rini ?." Brian tetap menatap lurus ke depan tak melihat wajah terkejut Rini yang pendek di bawahnya.
' Apa dia peramal, nggak mungkin. Pasti karena restoran ini lama' Rini menggeleng lalu mengangguk mengiyakan pemikirannya sendiri.
Brian masih menatap barisan di depan mereka. " Saya bukan peramal, tapi karena kamu melihat saya tanpa kalimat penolakan ya artinya yang saya bilang itu benar." Brian masih santai sambil berpangku tangan seolah sudah biasa dan tidak terlihat kesal.
Lain Brian lain pula perempuan yang diajaknya. Rini beberapa kali melihat pantulan wajahnya di layar HP yang sudah hitam habis dimatikan. Di layar hitam itu terpantul wajah lecek miliknya. Keringat menetes dan riasannya ikut rusak.
" kak Brian bawa tisu gak?." Rini mencoba mengalihkan pembicaraan. Tak tahan menunggu dan kepanasan seperti ini.
Brian membuka tas miliknya, dan mengeluarkan tisu yang tampak sudah diambil beberapa lembar. Brian menyodorkan tisu itu pada Rini dengan sedikit angkuh, seolah ia memiliki benda berharga yang pasti dibutuhkan Rini.
__ADS_1
Rini tak menyangka Brian yang sangar itu membawa tisu. Sementara dia saja yang cewek jarang dan sering lupa membawanya.
" Kenapa,? kamu iri sama saya. Makanya jadi cewek kamu juga harus pintar, biar bisa bawa tisu dan gak perlu mengelap keringat pakai tangan." Brian menyombong.
" Gak ada hubungannya kali." Rini langsung masuk ke dalam restoran setelah mengantri kurang lebih setengah jam.
' Semuanya selalu mengenai kepintaran, dia punya obsesi aneh emang, tapi apa benar kak Brian suka cewek pintar karena dia bisa dengan mudah menebak pikiran cewek . Tapi barusan bahkan terbukti dia bisa nebak apa yang aku pikirin'
Rini langsung duduk dan membuyarkan pikirannya. Tak ada gunanya memikirkan Brian mau apapun yang dilakukan cowok itu.
" Enaknya pesan menu apa ya kak Bria.." Ucapan Rini terhenti.
Ternyata Rini salah tempat duduk. Kini ia duduk semeja dengan pasangan lain yang menatapnya heran. Rini melihat sekeliling dan Brian ternyata duduk di meja lain sambil menengadahkan tangan ke arahnya dengan ekspresi sedikit mengejek tentunya.
Rini menarik nafasnya, mukanya memerah karena malu. Akhirnya Rini meminta maaf kepada pasangan di meja itu. Rini langsung berjalan ke tempat Brian dan duduk dengan saksama.
Beberapa saat Rini menenggelamkan wajahnya ke meja. Mendinginkan rasa panas di kedua pipinya sambil menekan gigi gerahamnya.
" kak Brian udah pesan?." Rini menghilangkan rasa kesalnya.
" Duh, udah tapi buat saya saja. Gimana dong?" Brian menyeringai.
Dalam pandangan Rini, Brian menyeringai bak kuda masih dalam rangka mengejeknya. Rini tak tahan menahan rasa kesal dan mencoba mengontrol suaranya.
" kak Brian tau gak aku udah malu salah meja. kak Brian juga gak manggil aku walaupun salah dan dadah dadah gak jelas disini." Rini sudah meluapkan kekesalannya.
" saya pikir itu cukup lucu, kamu salah meja dan." Brian berbicara tanpa kontak mata dengan Rini.
" Lucu. " Rini meletakkan tangannya di meja.
__ADS_1
" kayaknya kak Brian itu gak terlalu peka deh. Aku pikir mungkin kak Brian cuma pengen punya cewek pintar karena pernah dikecewakan cewek bodoh atau cinta yang gak kesampaian sama cewek pintar. Makanya kak Brian berkelakuan kayak gini kan." Rini meluapkan kekesalannya terhadap Brian.
Brian memukul meja, tampak emosi " maksud kamu apa Rini ". Ucapan Brian terhenti melihat Rini yang sudah berkaca kaca, sebuah buliran air mata jatuh dari sebelah matanya.
" Kayaknya aku balik ke kantor aja deh". Rini mengusap air matanya yang hampir jatuh ke pipi dan beranjak pergi.
Brian menahan tangan Rini dan memintanya duduk.
" Rini kamu duduk dulu, saya kebelet beneran. Tolong pegangin tas samping saya ini ya !." Brian segera beranjak pergi.
Rini terpaksa duduk kembali karena ia sudah memegang tas milik Brian. Seorang pelayan meletakkan pesanan di meja mereka dan dua buah piring kosong.
" Mbak saya belum pesan." Rini menatap pelayan restoran itu.
" Loh tadi si masnya pesan untuk dua orang Mbak." Si pelayan sedikit bingung.
" Dua orang ?." Jadi sebenarnya kak Brian udah pesan buat aku juga. Rini menarik rambutnya sadar ia telah berbuat hal bodoh sebelum semuanya jelas.
" Iya mbak, ini pesanan atas nama Brian memang untuk dua orang mbak." Pelayan itu kembali setelah Rini berterima kasih dan ia telah meletakkan semua hidangan di meja.
' Aduuh Rini harusnya kamu gak kesal kesal amat tadi, jadi malu lagi kan' Rini membenarkan softlens miliknya. Andai saja ia memiliki Sisilia disini, pasti ilmu kaburr Sisilia akan sangat berguna untuknya.
Rini menunggu Brian cukup lama. Ia memikirkan kata maaf karena lancang barusan. Memangnya ia siapa mengatakan hal aneh kalau Brian pernah kecewa dan sebagainya.
Brian akhirnya kembali sambil membawa sepiring nasi goreng. " Maaf saya agak lama, soalnya mintak ini buat kamu."
" kak Brian aku minta maaf Soal tuduhan gak berdasar tadi. Soalnya aku udah keburu kesal, padahal kak Brian gak serius. " Rini meremas jemari nya perlahan-lahan.
" Sudah tidak masalah, Saya yang harusnya minta maaf. Bahkan bikin kamu nangis. Makanya saya bawain nasi goreng. " Sebenarnya ucapan kamu ada yang benar Rini'. Brian menaruh nasi putih ke piring kosong di depannya.
__ADS_1
Bersambung...