
Rini menyuap nasi goreng yang dibawakan Brian. Sebuah senyum muncul dari wajahnya, menikmati rasa nasi goreng itu.
" Kayaknya ucapan Sisilia memang benar ya. Kamu langsung baikan habis makan nasi goreng." Brian ikut memakan makanan yang ia pesan.
" Iya, tapi aku gak kenapa- kenapa kok, cuma kesal saja." Rini tak mengakui air matanya.
' Saya lihat kamu udah mau nangis, masih bilang gak kenapa-kenapa dasar cengeng. Harus tahan Brian, daripada dia meneteskan air matanya disini.'
" Ya sudah, ayo lanjut makan!" Brian menyuap nasi ke mulutnya.
****
Sisilia dan Raka masih bertemu dan bekerja seperti biasanya di kantor Raka dan Toko Sisilia. Tapi ditambah dengan mempelajari saran dari Sahila mengenai Restu Ayah Sisilia.
Kadang Raka berlatih bersama Bebo, jika Sisilia tidak bisa datang ke kantornya akibat banyak pelanggan yang datang. Raka bisa berbicara lancar dengan Bebo karena tidak ada balasan. Namun bagaimana dengan Ayah Sisilia, pasti akan banyak balasan yang harus ia antisipasi.
Beberapa hari ini, Sisilia sering menerima panggilan dari Bimo. Tapi ia menolak atau menerima sambil memberikan alasan agar Bimo tidak bisa mengobrol lama dengannya.
Hari ini berbeda. sebelum Sisilia pergi ke perusahaan Raka sambil membawa tanaman, Bimo datang membawa dua buah minuman. Bimo mengajak Sisilia mengobrol mengenai tanaman yang mau dibelinya.
Bimo yang disuruh Sisilia untuk berbincang dengan Vito malah ditolaknya. Bimo hanya mau dengan Sisilia saja, sehingga dengan terpaksa Sisilia duduk dan menjelaskan berbagai tanaman dan keunggulannya pada Bimo.
" Kamu ada waktu luang gak Sisilia ?". Bimo bertanya dengan penuh pengharapan.
" Gak ada. " Sisilia menjawab pasti.
" Pikirin dulu kek agak 3 detik, bukannya langsung jawab kayak kuis siapa cepat Yia !". Bimo merasa tak dipertimbangkan, karena Sisilia tak berpikir sedikitpun saat menjawab pertanyaannya.
" Ya udah, satu, dua, tiga, aku gak ada waktu Bimo. Udah 3 detik baru aku jawab kan." Sisilia tidak perduli dengan wajah serius Bimo.
__ADS_1
Bimo meminta Sisilia bisa datang ke rumahnya. Sisilia mau ke rumah Bimo asalkan Vito ikut bersamanya. Sisilia tidak mau jika hanya ia saja yang pergi apapun maksud Bimo. Meskipun Ibu Bimo sangat ingin bertemu dengannya, tapi Sisilia tak terpengaruh.
Bimo pamit setelah membeli satu tanaman kecil di Toko mereka. Bimo pergi dengan hasil kurang memuaskan. Ternyata Sisilia bahkan tidak bisa dibujuk menggunakan nama Ibunya.
Sisilia menerima panggilan dari kakaknya. Beberapa saat kemudian, sebuah senyum menyungging dari bibirnya yang dioles lipstik pink tipis itu. Rambutnya ia rapikan, ia menitipkan toko pada Vito yang sudah terbiasa itu. Lalu ia segera menuju ke perusahaan Raka.
di perusahaan, jika tak ada pekerjaan maka Raka juga melihat berbagai tips menemui calon mertua di aplikasi menonton online. Raka mengangguk dan sesekali mencatat di dalam note kecil.
Sisilia mengetuk pintu. Raka segera mengubah tampilan layar komputernya menjadi biasa.
" Kenapa Sisilia?." Raka melihat dan mencium aroma kebahagiaan yang terpancar dari dalam diri Sisilia.
" kak Raka , bang Septian pulang." Sisilia antusias.
Awalnya Raka tak paham dengan kebahagiaan Sisilia. Namun Setelah Sisilia mengatakan kalau Septian bisa menjadi narasumber terbaik untuk meminta restu, Raka jadi ikut bersemangat.
Raka meminta saran dari Septian, dan Sisilia juga mencoba meminta saran dari Sahila. Dua saran dari dua orang yang sudah berpengalaman pasti akan membantu urusan mereka.
" Kak Raka." Sisilia mencoba memanggil Raka dengan ragu-ragu.
" Iya Sisilia." Raka menatap bola mata Sisilia yang melihatnya dengan tatapan gelisah.
'Benar Sisilia, kamu gak boleh menyembunyikan apapun pada kak Raka, terutama masalah Bimo. Kalau kak Raka tau dari Vito bahkan akan semakin runyam, seolah aku berusaha tidak jujur sama kak Raka. Ayo Sisilia'
Sisilia mengepalkan tangannya, menguatkan keyakinan untuk bersikap terbuka. Sisilia menceritakan tentang Bimo yang menemuinya pada Raka. Tak masalah apapun tanggapan Raka, yang jelas ia tidak mau menyembunyikan apapun pada Raka.
Raka menurunkan tangannya ke bawah meja, menggenggam erat jemarinya. Ia tau maksud Bimo, tapi tak bisa punya kesempatan bertemu dengan laki-laki itu lagi. Raka hanya bersikap seolah ia tak pernah meragukan Sisilia, tapi dihatinya sangat ingin berduel dengan Bimo. Raka juga sudah pasti mempunyai kegelisahan jika Bimo terus- terusan mendekati Sisilia.
****
__ADS_1
Brian duduk sambil memeriksa beberapa file yang sudah ditandatangani Raka. Doni melihat laptop yang ia pegang dan Raka juga menatap layar komputernya.
Beberapa saat kemudian Raka bergabung dengan mereka dan meluapkan kekesalannya karena Bimo yang banyak alasan mencoba mendekati Sisilia. Brian dan Doni hanya manggut-manggut mendengarkan celotehan Raka, dia memang cemburu pikir Doni dan Brian.
Lain Raka lain pula Brian. Ia langsung merasa bersalah membuat Rini merasa sakit hati dan malu gara- gara dia. Kali ini Raka dan Doni manggut-manggut, dia jelas suka dengan Rini pikir Doni dan Raka.
Doni berbeda, dia senang karena sebentar lagi bisa mengajak Rini dan Sisilia ikut memberikan masukan untuk penginapan di kampungnya. Tina juga membawa beberapa teman di tempat ia bekerja dahulu, sehingga akan lebih akurat pasti hasil mereka.
***
Rini minum jus jeruk bersama Sisilia di luar toko Sisilia, di bawah payung besar mereka duduk saling berhadapan. Hembusan angin sepoi-sepoi menampar lembut wajah mereka, menyegarkan pikiran selama beberapa saat.
" Jadi menurut kamu gimana Sil?." Rini menatap lekat sahabatnya.
" Aku yakin kak Brian pasti gak sengaja Rini, kamu kan tau sifat kak Brian kadang emang suka aneh." Sisilia mencoba menenangkan.
" Iya Sil, Untung aja aku gak jadi pergi dari tempat itu. Kalau jadi, pasti aku gak akan bisa bertemu sama Kak Brian lagi soalnya pasti kesal dan marah. " Rini kembali meneguk jusnya.
Rini juga memastikan agar Sisilia bisa ikut. Sisilia bilang jika sahabatnya ikut maka ia pasti ikut. Mereka langsung tertawa bersama beberapa detik kemudian setelah menggosipkan beberapa wanita yang ada di perusahaan Raka.
Vito yang melihat mereka dari jauh langsung geleng-geleng kepala. " Memang ya wanita, habis beberapa saat yang lalu kayak hampir hilang nyawa, sekarang udah ketawa aja. Ketawanya pasti karena ngomongin kejelekan orang, dasar wanita "
" Aaaw. " Telinga Vito ditarik oleh Sesilka karena ucapannya.
" Kamu bilang wanita kenapa hah?. Kamu kan pacaran sama aku jadi kamu nyamain semua wanita?". Sesilka kesal, karena tuduhan sepihak Vito. dan kalaupun benar, setidaknya wanita tidak pernah melakukan kekerasan dan menyebarkan gosip aneh kalau belum benar-benar benci.
Vito hanya bisa menyetujui pendapat kekasihnya itu. Penyakit suami takut istrinya yang akut sudah mulai kumat. Vito tak mau bertengkar dengan Sesilka hanya karena berbeda pendapat.
Bersambung...
__ADS_1