
Bimo masuk ke pekarangan rumah Sisilia, setelah mobil yang ada Raka di dalamnya sudah hilang dari penglihatan sejauh mata memandang. Bimo yang mau mengetuk pintu mengurungkan niatnya karena ibu Sisilia yang membuka pintu ingin mengambil beberapa jemuran yang sudah kering.
Bimo sedikit berbasa basi dengan Ibu Sisilia sebelum ia mengungkapkan maksudnya untuk bertemu sisilia. Bu Asti segera memanggil anaknya yang sudah mau tenggelam ke alam mimpi.
“ Sisilia ada Bimo tuh di depan, katanya mau ketemu kamu”. Bu Asti merapikan rambut Sisilia yang sudah acakan kayak singa.
“ Aduh buu, Ibu kan tau aku capek banget”. Sisilia menguap.
Sisilia yang malas akhirnya tetap bangun walau dengan keadaan terpaksa. Sisilia berjalan ke sofa sambil menguap sesekali, sementara bu Asti mengambilkan air untuk mereka di dapur.
Bimo yang juga berbasa basi ditanggapi sepatah sepatah oleh Sisilia. Bimo mengatakan bahwa ia sudah mencari Sisilia sejak beberapa hari yang lalu, dan Vito bilang kalau ia di jakarta.
‘ dasar Vito, mulut ember, malah ngasih tau ke Bimo lagi’
“ Kalau boleh tau kamu kok perginya sama Raka sih Yia?”. Bimo meneyeruput air yang baru dibawakan Bu Asti agar kelihatan santai.
“ Emangnya kenapa, kan aku udah minta izin sama Ibu dan Ayah. Dan juga yang paling penting itu gak ada urusannya sama kamu Bim”. Sisilia ikut meneguk air sambil menatap Ibunya.
Bu Asti meminta Sisilia agar tidak menjawab seperti itu, apalagi Bimo adalah sahabat masa kecilnya. Bu Asti mengagumi Bimo yang benar benar bisa menjadi dokter. Tapi hal itu tak salah juga karena ayah Bimo juga seorang Dokter dan Bimo bisa dikatakan sudah sangat pintar dari kebanyakan anak seusianya.
Dahulu dokter adalah hal yang sangat dibanggakan oleh setiap ibu rumah tangga di komplek itu. Setiap Ibu yang anaknya bisa menjadi dokter, polisi dan PNS adalah berkah besar bagi keluarga mereka. Beberapa kali Bu Asti mengusap bahu Bimo yang berhasil menjadi profesi favorit urutan pertama dari tiga profesi tadi, dan sukses membuat Bimo salah tingkah sambil mengelus tengkuknya sendiri.
‘kak Raka gak Dokter tapi tetap membanggakan ko’. Sisilia bergumam.
“ Yia kamu ngomong apa yang jelas dong”. Bu Asti menegur putrinya itu yang bergumam gak jelas.
__ADS_1
Bimo yang menegetahui fakta kalau Sisilia dapat izin pergi ke Jakarta apalagi bersama Raka membuat hatinya tak tenang. Bimo merasa kesal tapi tak tau mengapa ia sekesal itu, lalu Bimo meminta nomor Sisilia dengan alasan ia akan membeli tanaman untuk ibunya.
Sisilia lalu memberikan nomor telepon dari Tokonya, tapi Bimo beralasan kalau ibunya tidak percaya jika bukan Sisilia langsung yang bicara, Bimo juga mendesak karena Ibunya sangat penasaran dengan Sisilia sekarang. Mau tak mau Sisilia memberikan nomornya. Tak hanya itu, Bimo juga meminta nomor ibu Asti dengan alasan mungkin ibunya ingin mengobrol juga. Bu Asti tentunya dengan senang hati menerima permintaan Bimo.
‘ Pake minta nomor ibu juga lagi, Bimo ngapain sih. Kalau aja gak ada Ibu disini, pasti udah aku usir’. Sisilia menatap Bimo sampai meninggalkan pekarangan rumah.
“ Ibuu, kok biarin dia masuk sih”. Sisilia merengut.
“ dia itu kan teman kamu waktu masih kecil, kalian bahkan satu SMP. Masak ibu gak ngebolehin dia masuk. Lagipula kan Ibunya Bimo itu dulu tetangga kita Yia”. Ibu Asti berbicara lembut.
Sisilia hanya bisa pasrah dan masuk menuju menuju kamarnya lagi. Saat ini ia harus menginterogasi Vito si ember bocor yang memberi tahu Bimo kalau ia ke Jakarta. Saat Sisilia membuka aplikasi chat, muncul pesan dari Raka.
‘ Sisilia saya tau kamu capek, oh ya saya minta maaf soal yang di bandara tadi dan jadwal saya.’
‘ Saya harap kamu segera mengonfirmasinya ya Sisilia, setelah kamu bangun tidur tentunya.Karena saya yakin kamu gak bisa bales chat saya kalau kamu lagi tidur’
Sisilia langsung tersenyum dan melupakan sejenak mengenai Bimo tadi. Sisilia akhirnya meminta Raka tidak menghapus jadwal tersebut. Baru beberapa detik panggilan dari Raka pun masuk.
Raka meminta alasan Sisilia yang sudah bangun padahal tadi seperti sudah mau tidur sampai besok pagi. Sisilia tidak sengaja mengatakan kalau ia kedatangan tamu. Raka yang mendesak Sisilia menjawab siapa tamu itu membuat Sisilia mengatakan kalau Bimo yang datang.
Raka berdiri dari kursinya dan membuat Brian tidak jadi memakan kue yang sudah akan masuk ke rahangnya. Doni juga ikut melihat Raka dan belum sempat menelan kopi yang berada di sepenuh mulutnya.
Raka berjalan dan berbicara dengan Sisilia sehingga Doni dan Brian melanjutkan aktifitas makan kue dan sambil minum kopi mereka. Beberapa saat kemudian Raka kembali duduk dan memakan kue yang berada di tangan Brian, serta meminum kopi di cangkir yang dipegang Doni.
“ Loe kenapa dah, itu kue baru gue buka bungkusnya”. Brian terpaksa mengambil dan membuka bungkus kue yang baru dari meja.
__ADS_1
“ Iya itu kopi juga baru ja gue tiup dengan penuh cinta. Mau langsung slup sampe abiss tuh”. Doni ikutan jengkel.
Raka yang kesal lalu berjalan ke arah Bebo dan melancarkan serangan curhatnya. “ Ngapain dia datang ke rumah Sisilia padahal kan Cuma mau beli tanaman aja, menurut kamu gimana Bebo. Pasti dia ngarang alasan kan”.
Raka lalu meminta pendapat pada dua sahabatnya yang jomblo. Brian yang sudah seperti kompor memanasi Raka dengan mengatakan kalau Bimo sudah jelas tertarik pada Sisilia. Raka langsung memakan kue yang ada di tangan Brian sekali lagi, sementara Doni yang sabar mengatakan bisa saja Ibu Bimo memang penasaran dengan Sisilia apalagi mereka adalah teman masa kecil dan Ibu mereka sudah saling mengenal sekaligus tetanggaan.
Tanpa sadar Doni menceritakan kalau Tina juga sangat disukai oleh Maminya. Bahkan setiap keputusan Tina langsung disetujui tanpa pendapatnya. Brian yang peka juga langsung berspekulasi kalau Doni pasti menyukai Tina juga. Doni yang mendengar pendapat Brian langsung berdiri dan menjitak kepala Brian.
“ Eh kok loe marah”. Brian menyipitkan matanya curiga.
Raka juga melakukan hal yang sama seperti Brian, menyipitkan mata sambil menatap Doni curiga. Doni menyangkal karena Tina menyukai orang lain, dan malah menyudutkan Brian yang sudah didesak menikah oleh Bapaknya. Brian hanya beralasan bisa menemukan pasangannnya sendiri namun belum dapat juga sampai saat ini.
Doni meminta Raka untuk menyuruh Sisilia segera mencek penginapan di kampungnya. Raka langsung menolak karena pasti Sisilia susah mendapat izin kalau ia yang meminta. Apalagi anak gadis kesayangan orang sudah ke Jakarta juga bersama mereka bertiga.
Brian lalu berpikir keras dan menemukan ide cemerlang bak elang . Kalau seseorang ada yang bisa membujuk Sisilia, maka orang itu hanyalah satu, yaitu Rini. Namun masalah barunya adalah, apakah Rini mau saja di ajak sejauh itu.
“ Gimana kalau ajak Rini pas libur pegawai baru ". Brian mengangkat jarinya berharap ide itu diterima.
“ Mana dia mau". Doni merasa tak yakin. " Artinya kita juga harus menyelesaikan pekerjaan kita dong"
" Ah pekerjaan kita mah gampang, begadang adalah makanan kita. Kalau Rini, Kenapa gak loe aja yang mohon sama dia. Kalau Sisilia kayaknya gue punya ide". Kali ini Raka yang menemukan ide cemerlang.
Raka berinisiatif mengajak Vito dan Sesilka. Alasannya adalah sebagai bawahan Raka, dimana itu bagian dari pemilik gedung.
Bersambung...
__ADS_1