Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Gara-Gara Rini


__ADS_3

Rini sudah resmi diangkat jadi pegawai tetap. Kini ia harus ke Jakarta bersama rombongan magang lainnya dan Brian yang bertanggung jawab.


Fandi sebagai Direktur di perusahaan pusat tentu yang akan memberikan arahan dan selamat. Fandi dan beberapa bawahan yang diatur sudah menyiapkan tempat.


Di dalam bus, Rini mendengar orang berbicara mengenai Fandi. Fandi begini, Fandi begitu, Fandi keren. Rini yang tadinya bahagia jadi kesal karena harus bertemu Fandi. Beberapa kali ia harus mengatur nafas agar bisa menyembunyikan kekesalannya.


Di dalam bus, salah satu karyawan panitia memberikan kertas undian. Siapa yang mendapat kertas bertuliskan maju silahkan menyebutkan nama. Lalu Rini adalah salah satu dari 5 orang yang mendapatkannya.


Panitia mengatakan kalau yang namanya sudah tercatat, nanti akan tampil untuk mengucapkan kesan selama magang dan harapan kedepannya. dan akan dipasangkan lencana berbentuk bros oleh Fandi.


Rini merasa panik, bagaimana bisa ia yang terpilih. Fandi akan memasang bros buat dia, pasti Fandi bisa ngenalin dia. Rini menelfon Sisilia, dan mengatakan semua. Rini memohon agar Sisilia menyuruh Raka untuk mengulang kembali mengacak nama. Atau setidaknya jangan biarkan Fandi berduaan dengannya karena ia akan sangat kesal.


Rini menjelaskan kertas nama itu pada Sisilia, awalnya Sisilia tak mau. Tapi setelah Rini mengatakan ia sudah susah payah selalu memberi tahu Sisilia mengenai Raka di perusahaan. Kini giliran Sisilia yang membantunya, atau bisa saja ia membocorkan kalau dulu Sisilia pernah menyukai Raka.


Sisilia akhirnya setuju meminta Raka, tapi mengulang acak nama sepertinya akan terlalu jelas. Sisilia menyarankan agar Raka menyuruh pegawainya dekat dan menjaga Rini. Rini setuju asalkan ia tidak hanya berdua dengan Fandi, diganggu atau ada yang bersedia mengganggu lebih baik.


" kak Raka, kenapa harus kak Fandi yang jadi penyambut pegawai tetapnya?, kan..".


" Memangnya kenapa Sisilia?. Saya pikir itu sudah sewajarnya ". Raka tidak tau mengapa tiba-tiba Sisilia mengatakan Hal itu.


" Tapi kan Rini,,".


" Rini kenapa?"


" Rini itu dulu pernah ,,". Hampir saja Sisilia mengatakan kalau dulu Rini pernah kecewa karena cuma dianggap adik oleh Fandi.


" Kak Raka, bisa jagain Rini gak, Rini itu suka stress di tempat baru, dia bisa kehilangan semangat, kehilangan nafsu makan, setidaknya ada yang bisa jagain dia. Kak Raka kan bosnya pasti bisa kan". Sisilia berbicara dengan cepat


" Gak jadi kak Raka," Sisilia menutup telfonnya, terdengar kesal, karena Raka hanya diam disana.


Sisilia sadar ia sudah keliru, gara-gara Rini yang terus mendesak. ia tidak punya hak mencampuri urusan perusahaan Raka. Sisilia lupa kalau ia juga adalah salah satu bawahan Raka yang seharusnya ikut saja keputusan atasan.


Tak lama muncul pesan chat dari Raka


' pasti saya usahakan,' disusul emot jempol 3 kali.


Raka lalu menelfon Brian, disana sedang pemberian bros. Brian melihat Rini yang sepertinya menghindari tatapan Fandi.


" Apaan?". Brian masih melihat jalannya acara, semua yang menerima bros sudah duduk kembali.


"Urus Rini"


"dia bukan anak anak ngapain gue yang ngurus"


"Tadi Sisilia sampai nelfon gue, artinya ada yang gak beres."


" Gak beres, emangnya loe peramal?"

__ADS_1


" iya ,masalah buat loe?. Udah kerjain aja"


" ogah gue sejak kapan loe ikut campur, ini tanggung jawab gue. dan loe gak mikir entar orang salah paham, bilang kalau Rini dapat perlakuan spesial". Brian masih melihat Rini dari kejauhan


"Sisilia bilang Rini bisa aja stress di tempat baru". Raka meninggikan suaranya


" oh gitu ngomong dong! , tapi gue penanggung jawab semua karyawan, gimana caranya bantu Rini?"


"Gue tau. intinya loe harus liatin Rini udah gitu aja. masalah tanggung jawab pasti loe bisa sendiri, gak perlu gue suruh. Bikin sealami mungkin kek"


"oke oke". Brian menutup panggilan.


Acara pun selesai dan saatnya istirahat. Semua dipersilahkan makan di kafetaria lantai bawah. Rini sebisa mungkin menghindar dari Fandi Namun Fandi sudah dari awal ingin mengajak Rini.


" Rini, biar saya ajak kamu makan menu yang saya suka" Fandi memegang pundak Rini.


Rini ia terpaksa mengembangkan senyum kebohongan. " Gak usah kak, eh pak Fandi". Menolak dengan sehalus mungkin


" Tenang aja, gak akan ada yang protes. Saya akan bilangin kamu itu sudah seperti adik saya sama orang lain".


'adik lagi, adik lagi, kenapa sih ini orang demen banget bilangin aku adeknya. Kita kan lahir gak dari keluarga yang sama'


Terpaksa Rini setuju. Setelah mereka mengambil makanan, nampak tidak ada menu yang disukai Rini. Fandi mengambil ikan, sayur sayuran, nasinya juga nasi biasa, walaupun disana ada nasi goreng yang sangat digemari Rini. Kini Rini seperti kehilangan selera makannya.


Mereka duduk setelah mengambil tambahan satu minuman yogurt. Rini benar-benar tidak mau makan dan terus melirik ke arah nasi goreng.


" Rini, ayo makan. Ikannya bener-bener pedaas mantap". Fandi makan dengan lahap. Rini malas melihat nasinya. dan terus meminum yogurt.


" nah disini nih kita duduk". Brian membawa makanan nasi goreng, sosis, dan ayam cincang


"Rini, saya lupa harusnya hari ini saya makan nasi putih. kamu udah makan punya kamu?".


" Belum pak,". Rini menggeleng


" mau tukar gak?".


" Mau pak".


Mereka bertukar makanan. Rini langsung menikmati nasi goreng yang terus ia lirik tadi. Sementara Brian memakan makanan yang dipesan Rini itu.


Fandi menjelaskan lagi sayang sekali Rini tidak mencoba ikan itu. Rasa ikan itu sangat enak dan unik. Ia lalu memberikan ikan itu ke tempat makan Rini.


" Rini ini sama seperti adik saya, jadi saya ngerasa pengen jagain dia terus". Orang yang melihat Fandi awalnya menduga itu adalah rasa suka, ternyata bukan dan ikut tersenyum sumringah.


' Umumin aja adik lagi adik lagi. Emangnya jadi adik adalah prestasi apa'


Rini memakan ikan itu dan langsung ia telan, tanpa menikmati rasanya seperti yang dikatakan Fandi. Tidak ada rasa enak dan unik, yang dirasakannya hanya seperti menelan obat demam.

__ADS_1


***


Raka mampir ke toko Sisilia, Sisilia beres-beres untuk pulang dan memindahkan air bekas pel. Sisilia biasa mempel lantai memang saat akan pulang, karena kalau paginya di pel maka harus menunggu kering dulu. Raka berjalan pelan dan mengagetkan Sisilia.


" Sisilia"


hsrrr, siraman air pel tepat di muka Raka. Vito yang sedang mengunci pintu ikut terkejut. Raka diam di tempat tak bisa berkata-kata.


Sisilia langsung menyuruh Vito mengeringkan lantai dan meminta maaf pada Raka. Ia mengambil banyak tisu dan mengeringkan wajah Raka.


" Aku gak sengaja kak Raka, aku pikir apaan". Sisilia terus melap wajah dan rambut Raka.


" Udah gak pa pa, kayaknya saya yang salah waktu". Raka melap lehernya sendiri


" kak Raka ngapain kesini?"


Raka hanya penasaran mengapa Sisilia seperti kesal dengannya di telfon. Sisilia bilang ia tidak sengaja, tapi kembali menegaskan kalau ia tidak kesal. Raka mengatakan kalau intonasi Sisilia seperti ditekan, dan Sisilia tidak membantah hal itu.


Sisilia tidak bisa mengatakan kalau Rini dulu kecewa karena hanya dianggap adik oleh Fandi. Sama seperti Rini yang tidak boleh mengatakan kalau Ia dulu pernah menyukai Raka.


" Saya sampai nyuruh Brian liatin Rini, diluar pekerjaannya"


" makasih kak Raka".


" makasih saja?". Raka menaikkan alisnya, dibalas tatapan bingung Sisilia.


" Tolong temani saya, hari Sabtu!"


" Kemana kak Raka?"


" Ke rumah orang tua saya"


" Hah". Mata Sisilia terbelalak


" Saya udah ikut campur buat Rini diliatin sama Brian, walaupun bukan urusan Brian, kamu harus balas kebaikan saya kan"


' Bisa-bisanya ngegunain Rini sebagai alasan, dasar, harusnya bekas air pel lebih banyak dan bau'. Sisilia tiba tiba menyesal memeberikan tisu.


" Mau kan Sisilia?"


" Mau kak Raka, makasih udah bantuin Rini. dan juga aku pasti bantu kak Raka kok, walaupun tadi kak Raka gak bantuin Rini".


Raka lalu pamit, dan mengatakan akan menjemput Sisilia di hari Sabtu. Raka sudah memberi tahu Vito agar bisa menggantikan Sisilia. Lalu Raka membawa mobilnya kembali.


Di Rumah, Sisilia memukul Rini dengan guling ketika Rini baru masuk kamar. Sisilia menyalahkan Rini karena ia harus pergi ke rumah orang tua Raka dan tak bisa menolak.


Rini malah menyuruh Sisilia bersyukur setidaknya Raka memperlakukan ia dengan baik. Bisa jadi Raka ingin membuat Sisilia lebih dekat dimulai dari keluarganya. Sementara Rini sangat kesal dengan Fandi yang selalu mengatakan ia adik dan mengumumkan pada orang-orang.

__ADS_1


Sisilia meminta Rini menceritakan kejadian tadi. Setelah mendengar Rini, Sisilia tertawa, lalu Sisilia ikut menceritakan kalau ia menyiram Raka dengan bekas pel karena terkejut. Kali ini Rini ikut tertawa, mereka merasa lucu satu sama lain.


Bersambung...


__ADS_2