
Bimo masih belum bisa meminta maaf pada Sisilia. Dua hari yang lalu hanya Ibu dan Ayahnya yang mewakili dan datang ke rumah Sisilia. Mereka meminta waktu agar Bimo dapat merenungi kesalahannya dan meminta maaf pada Sisilia.
Sisilia yang baik hati tidak masalah akan hal itu. yang penting Bimo bisa sadar, dan mereka bisa bersikap biasa seperti dulu lagi. Bagaimanapun mereka tetap adalah tetangga dan teman. Hubungan yang tak bisa dipungkiri atau dihapus karena masih menyisakan banyak manfaat dan kebahagiaan.
Sisilia yang sudah beraktifitas seperti biasa tak terganggu lagi dengan kedatangan atau panggilan dari Bimo. Sisilia kembali pada kebiasaannya, bersenandung dan melihat tanamannya yang bertumbuh dan ada kuncup yang mulai bermekaran.
'Kak Raka lagi rapat penting. Jadi aku gak perlu kesana lagi, Yeay aku akan puas menjaga tanaman-tanamanku.
***
Raka, Brian dan Doni sudah selesai sesi rapat dengan karyawan internal. Saat ini sesi istirahat sebelum rapat yang kedua dengan partner kerjasama perusahaan.
Mereka duduk sambil di ruangan Raka ditemani air mineral. Doni dan Brian lalu meregangkan badan bersama sementara Raka berbalas pesan dengan Sisilia. Raka tersenyum sendiri di kursinya, membuat Brian dan Doni menghadap ke arah lain agar tenang.
kring.. telepon masuk dari resepsionis.
Raka menerima panggilan. Resepsionis mbak Ina mengatakan kalau yang datang adalah salah satu dari Perusahaan partner kerjasama mereka. Mbak Ina ragu-ragu mengatakan siapa perwakilan mereka.
Mbak Ina juga menjelaskan pada Raka kalau mereka sudah menerima undangan resmi tapi Perempuan itu tetap memaksa masuk. Perempuan itu merebut telepon dan mengatakan kalau ia adalah Kesya. Raka menyuruh resepsionis itu menunjukkan jalan ke ruangannya.
" Ngapain Kesya kesini?." Doni yang mendengar percakapan mereka berhenti peregangan.
" Ngirim undangan." Jawab Raka singkat.
Brian juga ikut berhenti peregangan." Wah, menurut gue Kesya yang agresif dan gak pernah nyerah emang gak ada tandingannya ya. Udah ditolak berkali-kali, masih punya muka yang tebal buat ketemu Raka. Salut deh gue salut." Brian bertepuk tangan.
" Kok dia ngantar undangan. Undangan apa ?." Doni kembali gobl*k.
" Undangan acara dua Minggu lagi." Raka jawab singkat sekali lagi.
" Yang sama perusahaan mode itu?." Brian mencoba menebak.
" mmm benar." Raka menjawab singkat untuk ketiga kalinya.
" Bukannya kita udah dapat undangannya ya." Doni menggaruk kepalanya merasa-rasa sudah pernah melihat undangannya.
" Emang udah." Raka menjawab singkat dan ketus.
" Terus.?" Doni masih bingung.
__ADS_1
" Itu alasan Kesya buat ketemu Raka, Doni . Mending Loe beneran les buat meningkatkan kepintaran deh." Brian mencoba mengelus kepala Doni dan langsung ditepis oleh Doni.
Kesya masuk setelah mbak Ina membawanya ke ruangan Raka. Kesya masuk dengan angkuh sementara Mbak Ina kembali ke tempatnya.
" Raka kabar kamu gimana?." Kesya mencoba mendekati Raka untuk memeluknya namun Raka sudah mengeluarkan peringatan.
" Gak usah basa-basi saya sibuk. Langsung to the poin saja" Raka berekspresi datar.
" Raka acara dua Minggu lagi, aku adalah desainer yang berada dibawah perusahaan Mode xxx. Aku termasuk jajaran desainer baru yang terpilih untuk menunjukkan hasil karya aku." Kesya antusias.
" Oh, saya rasa banyak desainer yang berpartisipasi, itu bukan urusan saya." Raka bersikap tak mau tau.
" Bukannya to the poin aja ya." Brian nyeloteh dan langsung ditatap sinis oleh Kesya.
" Intinya saja, saya harus rapat lagi." Raka bersiap mengambil laptopnya, sadar atas ucapan Brian.
" Aku mau ngundang Kamu jadi pasangan aku Raka. Kamu gak perlu bawa pasangan lagi." Kesya menantikan ekspresi Raka.
Raka tak berekspresi yang diharapkan. " Pasangan hanya untuk yang punya saja. Lagipula, saya sudah punya undangannya dan Saya akan bawa Sisilia. Gak butuh tawaran kamu."
" Jadi benar Raka." Kesya terlihat menahan amarah.
" Benar apa?." Raka bertanya.
" Benar kalau kamu akan segera menikahi Sisilia itu." Kesya mencoba menahan emosinya.
" Sejak awal ketika saya mengumumkan kalau Sisilia adalah calon istri saya. Saya sudah berniat untuk menikahinya." Raka tersenyum simpul tapi dengan penuh keyakinan.
Kesya keluar ruangan dengan penuh emosi. Sementara Raka, Brian dan Doni segera menghampiri partner mereka yang baru datang.
***
Seorang wanita masuk ke dalam Toko Sisilia. Dari perawakan anggunnya, sudah jelas itu Kesya. Kesya dapat alamat Toko Sisilia dari mbak Ina, resepsionis perusahaan Raka.
Ia dapat alamat dengan alasan ingin membeli tanaman. Ternyata benar kata Fandi, kalau Sisilia punya Toko di daerah yang sama dengan Perusahaan Raka.
" Jadi ini Tokonya?" Kesya langsung meremehkan.
11
__ADS_1
'Waduh Kesya. Ngapain dia kesini. Please Sisilia kamu harus santai dan profesional.
" Selamat datang, mau nyari tanaman apa Kak.?" Sisilia bersikap seperti biasanya.
" Saya mau beli tanaman dari baris sini sampai sini." Kesya menunjuk barisan pot yang berjejer.
" Apakah akan dibawa langsung atau mau diantar alamat kak.?". Sisilia bertanya ramah.
" Gak perlu, harganya berapa?." Kesya balik bertanya.
Sisilia menghitung dan memberitahukan harganya dibawa langsung dan jika diantar alamat. Vito juga menghampiri mereka siapa tau ia dibutuhkan.
" Kenapa harus kamu. Bahkan gak sesukses saya. Gak lebih cantik dan gak lebih kaya." Kesya sarkas.
" Maksudnya kak." Sisilia bingung Kesya mengomentarinya tanpa izin.
" Kenapa Raka lebih milih kamu dari saya." Kesya mendekat dan melihat dengan tatapan meremehkan Sisilia dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
'Tatapan apaan tuh. Mentang-mentang cantik bisa ngerendahin orang gitu aja. Awas yaa , kamu balas aja Sisilia karena dia mau cari gara-gara bukan mau cari tanaman.
" Artinya aku adalah Masa Depan yang baik. Karena masa depan gak harus cantik dan kaya. yang penting berharga dan serba bisa." Sisilia Membalas telak.
Vito yang berada di dekat mereka hanya bisa menonton. Saat ada pelanggan yang datang, Vito segera menghampiri mereka agar tidak mengganggu urusan dua wanita yang bersitegang itu.
" Dasar gak tau malu. Udah jelas gak pantas, masih punya kepercayaan diri yang tinggi." Kesya bernada sinis, persis nada seorang tokoh antagonis sebuah sinetron.
" Kalau kak Kesya gak berniat beli tanaman lebih baik pulang saja. Aku masih baik dan menahan diri karena kita senior junior di universitas dan organisasi yang sama." Sisilia terpengaruh ilmu tenang dan santai Raka.
" Kamu gak pantas jadi pasangan Raka, Aku yang lebih pantas. Kenapa Raka milih kamu padahal dia bisa dengan mudah dapat wanita yang lebih cantik." Kesya menekan Sisilia.
" Pantas atau tidak, bukannya itu urusan kak Raka ya. Kamu juga kayaknya udah dikasih tahu waktu kita lagi di kampungnya kak Doni. Kayaknya waktu itu ada yang pulang duluan buat ngurusin acaranya." Sisilia ikutan membalas.
" Kelihatannya kamu gak sepemalu yang Orang lain katakan. Kamu pasti punya rencana kan?. Pura-pura lugu biar jadi Ratu dan dapat simpati dari orang lain. Padahal aslinya gak lebih baik dari Aku, malah sok polos dan menggoda Raka." Kesya bicara dengan apapun yang terlintas dibenaknya.
" Ngomongin tanpa ada bukti namanya Fitnah." Sisilia kali ini menjawab ketus.
Memang kalau antar perempuan, tak bisa cekcok dengan logika. Mereka pasti sedikit banyaknya tetap akan emosional apalagi jika tersinggung dan dibuat kesal setengah mati.
Bersambung...
__ADS_1