Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Doni Pulang Kampung


__ADS_3

Doni duduk di meja luar bersama Brian dan Raka. Ia mengejar untuk mencek File terbaru dari perusahaan yang tidak begitu besar.


Brian yang tidak perduli itu masih sibuk dengan game onlinenya. Sambil membiarkan televisi hidup.


Raka berjalan mendekat pada Doni sambil memegang segelas kopi. " Loe mau kopi gak?". Raka menawarkan kopi pada Doni.


" Mau mana?". Doni menjulurkan tangannya


" Bikin sendiri lah sono".


Doni melanjutkan pekerjaannya kembali.


" Untung aja kita bayar listriknya bertiga, kalo enggak Bisa Tekkor gue ngelihat pemakaian listrik kita terutama Brian tuh". Raka mengisyaratkan Doni melihat Brian


Doni tidak bergeming dan masih fokus dengan tugasnya.


" Tumbenan loe bawa pekerjaan ke sini. Biasanya kan loe selalu nyelesaiin di kantor". Raka menyeruput kopinya.


Doni lalu menjelaskan kalau ia harus cuti selama dua hari karena ia akan pulang kampung. Raka lalu mengatakan Doni tidak bisa pulang karena Fandi akan mengirimi beberapa pengajuan untuk program baru pelayanan dari perusahaan pusat.


Doni mengatakan ia tidak bisa dan mengetik lalu mencek file dengan sebaik dan secepatnya. Maminya tiba-tiba menelfon kalau sedang sakit.


" Hah sakit apa, kok loe gak ngasih tau". Raka meletakkan kopinya.


Brian yang mendengar Maminya Doni sakit langsung bangun dan berhenti bermain game. Brian berjalan ke arah Doni dan ikut duduk di samping Raka.


" Iya loe kok gak bilang nyokap loe sakit?". Brian memasukkan Hpnya ke kantong celana.


" Mami gue sakit gigi, kalian tau kan betapa menderitanya kalau kita sakit gigi. Kita gak bisa denger suara yang berisik dan kita gak bisa kesal, rasanya nyutttt nyutttan banget ". Doni masih menatap file bermap hijau yang sedikit lebih tebal dari file lainnya.


Raka yang mendengar bersiap mengguyur Kopi ke wajah Doni. dan Brian juga langsung ingin rasanya mencekik Doni dari belakang kuduknya yang menjengkelkan itu.


Raka lalu mengizinkan Doni. Raka menebak jika pasti bukan sakit gigi saja masalah Maminya Doni. Mungkin ada hal lain juga, seperti progress penginapan yang baru selesai itu.


Doni juga mengiyakan Raka, ia bilang beberapa hari ini Maminya mengeluh karena tidak ada pelanggan.


Raka lalu membantu pekerjaan Doni dan meminta Brian ikut membantu. Tapi Brian tidak mau karena ia harus melanjutkan game nya dahulu. Raka lalu mengatakan kalau Brian harus menyelesaikan pekerjaan Doni yang masih ada di kantor jika tidak mau membantu.


Brian lalu menjawab oke dengan sekenanya. Ia tak masalah selama ia menang game yang sedang ia mainkan. " haya, mati loe mati" Brian memasuki dunia gamenya kembali.


****


Doni sudah tiba di Rumahnya...


" Gimana sakit gigi mami?. udah mendingan"

__ADS_1


" Mami kamu cuman sakit gigi biasa kok, setengah hari minum obat juga sembuh". Papi Doni yang memakai kursi Roda menekan tombol maju untuk kursi rodanya. " Temen kamu yang dua lagi mana?".


" Masih harus kerja pi, kursi rodanya gak macet kan pi?".


" gak apa apa berkat Brian yang modifikasi ini, rasanya jadi lebih nyaman".


Ternyata yang dikatakan Raka memang benar, Maminya stress karena tidak ada yang memesan penginapan mereka. Doni lalu berinisiatif untuk membuat iklan bagi penginapan mereka.


Sebenarnya Doni sudah mempunyai Hp yang kameranya berkualitas tinggi. Tapi karena Maminya ingin Doni membeli kamera khusus untuk penginapan meminta Doni membeli kamera saja.


Doni akhirnya pergi membeli kamera itu. Saat ia ingin pergi, Seorang wanita berhenti di depan restorannya.


" Tante aku udah bawa contoh kameranya". wanita itu tersenyum ramah pada Maminya.


Dia adalah Tina, Sahabat kecil Doni. Kini ia juga ikut bekerja di restoran dan penginapan Doni. Tina yang pernah bekerja di hotel itu kembali ke kampung halamannya setahun yang lalu.


" Nah Tina udah dateng, Doni kamu ikutin Saran dari Tina saja ya!"


Doni lalu menuruti Maminya . ia pergi dengan Tina untuk membeli kamera.


disana ia melihat Tina yang dengan lincah dan ramah bertanya mengenai kamera di toko.


Tina lalu memilih kamera yang bagus menurutnya, Doni pun membayar kamera tersebut.


"Gimana kalau kita tes kameranya?". Tina memotret Doni yang bahkan belum sempat bersiap.


" Gaya pamungkas?. palingan juga pose V kan?". Siapa yang tidak kenal dengan pose mengangkat dua jari membentuk huruf V itu. Doni hanya menggeleng dan mengambil kamera dari Tina.


Doni melihat Fotonya yang aneh itu akibat ketidaksiapannya. Doni pun gantian memotret Tina.


Tina yang sudah tau Doni akan memotretnya juga langsung tersenyum ke kamera.


Tina lalu menanyakan bagaimana keadaan Raka pada Doni. Dulu saat liburan, Raka dan Brian pernah datang kesana. dan Tina hanya mengenal Raka dan Brian sekilas saja.


Tina juga tahu kalau Raka saat itu sedang mengembangkan perusahaannya dengan Brian dan Doni. dan juga Raka sudah putus dengan mantannya saat itu, tapi karena mereka berencana refreshing di tempat Doni, Tina tidak mau ikut campur dan mengganggu mereka.


" Ngapain nanya soal Raka?". Doni melihat hasil foto di kamera yang ia pegang.


" Enggak cuman penasaran aja". Tina seperti salah tingkah.


" Kalau kamu tertarik sama Raka lebih baik kamu buang perasaan kamu!"


" kenapa?". Tina tak terima.


" Tuh kan kamu tertarik sama dia !"

__ADS_1


" Enggak kok, emangnya dia udah punya pacar lagi?. Iya ya pasti punya pacar". Tina menduga lelaki setampan Raka pasti bisa memilih satu perempuan yang ia suka dan kemungkinan akan langsung diterima.


" Bisa jadi iya sih, tapi Raka harus ngeyakinin cewek yang dia suka. Tapi aku harus bilang kalau kamu gak punya kesempatan. Raka gak akan mau sama cewek lain walaupun sekedar dekat". Tina langsung menatap Doni yang terkesan mempermainkannya.


" Gak percaya, nih aku buktikan". Doni lalu memanggil Raka.


" Apaan loe nelfon gue, loe udah sampe?. Selamat kan?". Raka menjawab di ujung sana.


" iya lah gue sehat dari rambut sampe jari kaki"


" Ngapain nelfon gue, gue lagi sibuk banget nih". Terdengar bunyi kertas dan bunyi ketikan komputer yang cepat.


Tina menyuruh Doni menutup telfon tapi Doni ingin membuktikan ucapannya " Mmm gue mau nanya sesuatu nih. boleh kagak ?"


Raka masih mengetik komputernya dan membunyikan jarinya yang pegal dan mengambil Hp yang ia selipkan di antara telinga dan bahu. " Nanya Apa buruan!"


Doni masih melihat Tina dan menekan tombol Loudspeaker. Ia memperlihatkan Hpnya di depan antara ia dan Tina. "kalau ada cewek yang tertarik sama loe, loe mau gak?"


Tina memukul Doni, tapi Raka langsung menjawab kurang dari 3 detik.


" Kalau bukan Sisilia gue gak mau. Itu aja pertanyaan loe?".


Tina menahan nafasnya. Doni langsung bertanya lagi.


" Cuman deket doang, emang loe gak mau apa?"


" Gue cuman mau deket sama Sisilia titik. koma nya gak ada udah gue buang. Udah ah gue sibuk.". Raka langsung menutup panggilan Doni.


Doni menyimpan Hpnya kembali ke sakunya. " Tuh kan kamu bahkan gak ada kesempatan"


Tina lalu berjalan, mendahului Doni. Membuat Doni harus membesarkan langkahnya mengikuti Tina.


" Aku penasaran sama cewek yang disukai sama Raka itu". Tina melihat Doni.


" Aku punya fotonya kok". Doni mengeluarkan Hpnya ingin menunjukkan Foto Sisilia.


Tapi Tina tidak mau melihat fotonya, melainkan harus orangnya langsung. Tina ingin mengetahui Sisilia itu orang yang bagaimana hingga Raka harus ngeyakinin dia. Apakah Sisilia orang yang baik atau sekedar cewek cantik yang sok jual mahal.


Doni sudah berniat ingin membawa Sisilia dan temannya untuk melihat dan melakukan tes kenyamanan di penginapannya. Tapi Doni harus punya alasan dan waktu yang jelas juga supaya Sisilia mau ikut.


Tina mengatakan jika Sisilia bukan orang yang baik, berarti ia punya kesempatan untuk Raka. Jika ternyata Sisilia adalah orang yang baik pasti akan membawa keuntungan untuk penginapan jika tes yang mereka lakukan lancar.


'Sisilia udah jelas Baik lah. Kalo enggak Mana mungkin orang tuanya bahkan mendukung Raka juga'


Tina ingin Doni segera membawa Sisilia, Doni setuju tapi ia tidak janji.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2