
Pintu jendela lantai dua ditutup, Semua pintu keluar sudah dikunci. Baik di dekat tangga langsung menuju lantai dua, maupun pintu di tangga yang terhubung ke Restoran lantai satu.
Sisilia melangkah menuruni tangga, Vito sudah stand by menunggu Sesilka. Sisilia sudah mau pamit duluan, karena jadwal buka tokonya hanya sampai jam 6 sore.
Sisilia mengeluarkan kunci skuternya, lalu memutar mutar gantungan kunci di tangannya. Sambil bersenandung "la la la" lembut Sisilia Berjalan, itu adalah beberapa saat sebelum Vito memanggilnya.
" Sisilia". Suara Vito menunjukkan sesuatu yang mencurigakan akan terdeteksi sesaat lagi.
"kamu gak lupa kan?".
Sisilia berbalik dan udara Menghilangkan senandungannya. " Hah". Diikuti ekspresi kecurigaan level satu.
" Bentar lagi bang Raka datang, kunci skuter kamu biar aku yang bawa". Vito menyodorkan tangannya yang disambut wajah masam Sisilia.
Motor skuter itu baru dibelinya dua hari yang lalu secara kredit. Ia baru menikmati masa-masa mengendarai si roda dua dengan warna merah muda favoritnya itu. Padahal ia mau mencari gantungan kunci lucu hari ini. Sisilia memanyunkan bibirnya.
10 menit kemudian, Raka sudah sampai di depan. Sisilia tau itu mobil Raka, tapi ia terlalu malas menyapa, alhasil ia tetap menunggu di dalam.
zzzttt, getaran disertai nada dering beriringan membuat Sisilia mengeluarkan benda berisik tersebut. Sebuah nomor asing tertera di layar. Sisilia menyangka itu panggilan iseng dan mematikannya.
Beberapa saat kemudian nomor asing itu kembali memanggil. Sisilia mengangkatnya, suara yang berkebalikan dari nomornya membuat Sisilia menganga. " ee iya kak Raka, aku jalan keluar"
Sisilia bergegas membuka pintu Restoran. Raka menurunkan kaca mobilnya, "ayo Masuk!".
Sisilia langsung masuk ke pintu mobil yang dibukakan Raka dari dalam. Sisilia merasa canggung duduk di kursi sebelah Raka.
"Tadi itu nomor saya" Raka membuka percakapan.
"Oh iya kak Raka". Sisilia menyimpan nomor Raka di Hp yang masih ia genggam.
" Kok tadi kamu tolak? "
" Aku pikir panggilan iseng".
" Ooh, noMor toko kamu beda kan?". Raka kembali bertanya.
" Iya kak Raka, noMor buat toko beda". Sisilia menjawab seperti sedang di interogasi, sepatah sepatah saja.
"kak Raka kok pake jemput aku segala sih?, aku kan bisa pakai skuter". Sisilia inisiatif bertanya karena ia masih merasa canggung pertama kalinya naik satu mobil dengan Raka.
" Skuter kamu itu ......, bahaya kalau saya suruh kamu berkendara malam-malam. Vito bilang kamu baru beli skuter dua hari yang lalu kan?".Raka masih memutar kemudi sesekali melihat Sisilia agar tak hilang fokus.
" Iya juga sih, tapi aku udah lancar kok kak Raka, aku udah sering bawa sepeda dulu, motor orang juga sering."Sisilia tersenyum percaya diri.
" Iya ya, saya gak ganggu urusan kamu kan?"
Sebenernya sih iya
"enggak kok kak Raka, urusan aku bisa besok, gak penting amat, heh". Sisilia memaksakan senyumnya.
Setelah mobil terparkir, Sisilia turun. Raka mengajak Sisilia lewat lift ke lantai paling atas yaitu lantai 5, sekeliling gedung dilengkapi dinding kaca besar yang bersih. Perusahaan itu terlihat profesional meskipun bukanlah sebesar perusahaan yang memiliki tinggi puluhan lantai. Semua orang bekerja sesuai tugasnya tak lupa dengan perangkat elektronik ,kabel, komputer.
Sisilia merasa kagum melihat orang-orang mendalami pekerjaan mereka yang bisa jadi asing bagi sebagian orang. Raka berjalan diikuti sapaan orang yang berpapasan dengannya, 'Pak Raka'. Raka hanya membalas mereka dengan anggukan ringan. Sesekali ada yang bertanya mengenai hal yang ada di layar tablet yang mereka pegang. Raka meladeni mereka dengan penuh wibawa dan kharisma.
Raka membuka pintu ruangannya, Sisilia hanya berdiri di luar sampai Raka harus berbalik menyuruhnya masuk. Sisilia masuk ke dalam ruangan itu, ada sofa nyaman, tv, beberapa komputer tersusun di bagian samping. Komputer lagi di meja kerja Raka. Sisilia mulai berpikir mungkinkah Raka ingin membuat ia membantu pekerjaan kantor Raka, tapi ia tak tau apapun mengenai program komputer.
__ADS_1
"Sisilia". Panggilan itu membuat Sisilia menatap ke arah Raka.
" Iya pak, eh kak Raka". Sepertinya panggilan orang di kantor yang mereka jumpai membuat Sisilia jadi salah memanggil Raka dengan sebutan pak.
Raka tersenyum melihat Sisilia yang menepuk mulutnya karena salah memanggil Raka. "Sini", Raka mengisyaratkan tangannya.
Sisilia mengangguk dan mendekat, ia melihat di sudut itu sebuah tanaman beringin bonsai. Tanaman lain hanya di letakkan di bawah, sementara yang itu diletakkan di sebuah meja menghadap ke luar jendela kaca.
" ini Bebo", Raka memperkenalkan tanaman itu pada Sisilia. "Bebo, ini Sisilia", Raka menatap tanaman itu dan Sisilia bergantian.
" Eh iya , Beb, Bebo, halo Bebo". Sisilia merasa aneh Raka memperkenalkan ia dan tanaman.
" mmm, tugas aku apa kak Raka, aku gak bisa main komputer, sumpah". Sisilia antisipasi jika Raka benar -benar ingin menyuruhnya berhubungan dengan komputer.
" Kamu tau ini tanaman apa?"
" Beringin bonsai". Jawab Sisilia spontan.
" Maksud saya, kamu tau kenapa saya bikinin meja sendiri ". Raka kembali bertanya.
" Enggak, eh, jangan -jangan ini,,, jimat keberuntungan,". Tebakan Sisilia membuat Raka mengerutkan keningnya.
'heh, jadi pura-pura lupa ya, saya udah ngurus lebih dari 3 tahun karena ini pemberian kamu'
" Ini tanaman yang kamu kasih lewat Brian, pas saya mau pindah ke Jakarta"
" ooh , udah sebesar ini. Kak Raka yang rawat sendiri?". Sisilia menatap Raka.
" iyalah, siapa lagi. masak Doni". Raka sedikkit jengkel.
"Kamu cuman ngasih saya dua pilihan, rawat sendiri atau kasih ke orang lain."
" Kenapa gak kasih ke orang lain". Sisilia melihat tanaman itu, hasil mahakarya Raka.
" Kalau saya kasih ke orang lain, saya gak ngehargain pemberian kamu". Raka membela perasaan saling menghargai sesamanya.
" Udah, buruan kamu lihat, Bebo kekurangan air, vitamin atau apa kek". Raka mencari celah.
Sisilia mengecek tanaman itu, tak ada masalah selama Raka tetap menyiramnya teratur jangan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Kalau ada yang aneh, Raka bisa menghubunginya.
Sebenarnya Raka sudah tau Cara merawat tanaman beringin bonsai itu. Ia bahkan membawa ke tempat ilmuan kenalan papanya untuk belajar merawat beringin bonsai.Ia hanya membuat alasan bertemu Sisilia.
" yaudah kalau gitu, kamu mau apa?". pertanyaan Raka membuat Sisilia bingung.
" Maksud saya sebagai ucapan terimakasih udah ngasih tau Cara ngerawat Bebo". Raka menunjuk tanaman tak bersalah itu
" loh, bukannya ini emang kesepakatan kontrak ya, aku harus siap bantu kak Raka"
" kamu pikir ini aja, masih banyak nanti yang harus kamu lakuin. Saya cuman mau ngetes kamu orang yang punya integritas atau tidak". Sisilia hanya mengangguk namun jelas terlihat kesal.
" Saya pasti nunda pekerjaan penting kamu ya, saya pikir mungkin kamu gak mau nunda sampai besok". Raka menyelidik
" Enggak kok kak Raka, emang bisa besok kok, gak begitu penting , heh".
" Saya pikir, membantu saya juga dalam hal menjawab pertanyaan saya. Jadi saya gak perlu mikir yang enggak-enggak. Kamu sebenarnya mau kemana, atau mau ngelakuin apa?". Raka membuat Sisilia terpaksa menjawab karena ia membawa-bawa kontrak itu.
__ADS_1
" Sebenarnya aku mau beli gantungan buat kunci skuter aku kak Raka". Sisilia memutar mutar sebelah kakinya.
Raka seperti menemukan ide baru, " Gimana kalau kita barengan, kebetulan kunci Mobil saya butuh gantungan, kamu bisa bantu saya milih mana yang cocok buat saya!".
"Tapi saya kan gak tau selera kak Raka kayak apa"
" udah, saya pake apa aja juga cocok". Raka berjalan ke luar ruangan diikuti Sisilia.
Sisilia melihat ada Brian dan Doni di ruangan berbeda. Tapi ia tidak melihat Rini.
" Kak Raka, aku boleh tanya sesuatu". Raka hanya mengatakan hmm
"Rini mana ya?, kok gak kelihatan?. Sisilia melihat satu-satu wajah serius pegawai Raka itu. Bahkan Brian, dan Doni yang konyol di luar, ketika bekerja keseriusan mereka di level berbeda, bahkan terpancar lewat dinding ruangan mereka yang tembus pandang karena berbahan kaca.
" Dia di lantai 4, ". Raka kembali berjalan melewati beberapa karyawan yang menyapanya.
****
Raka memarkirkan mobilnya di sebuah toko perbelanjaan besar. Banyak yang dijual mulai dari yang biasa sampai barang mahal. Mereka memasuki toko yang khusus menjual berbagai gantungan.
" Kamu mau yang kayak apa, model, karakter, warnanya?". Raka terlihat kepo
" aku suka warna merah muda, pink,,". Raka langsung terdiam. " Kalo kak Raka?".
" Biru, saya suka laut, saya mana mungkin suka warna feminim ".
" Halo, kalian pasti pasangan kan, kita punya model couple loh, boleh dilihat sebelah sana. Mari saya tunjukkan". Pelayan toko itu menunjuk tempat dan menyapa ramah.
" Enggak kita bukan pasangan". Sisilia memberi tanda tidak dengan tangannya.
" Oke, ayo Sisilia?". Raka mendorong punggung Sisilia
Beberapa gantungan bergambar kartun yang disukai Sisilia, dibalas gelengan padat Raka. Bisa-bisa ia menjadi ledekan Dua sahabatnya. Sisilia melihat sesuatu yang berada di kotak kaca.
" Kalo ini?, kelihatannya simple sederhana, warnanya pink sama biru. aku yang traktir". Sisilia mengambil dua gantungan kunci berbahan kulit.
" itu harganya,,". ucapan pelayan toko dihentikan Raka.
" Kalo dia nanya bilang aja 100 ribu". Si pelayan toko mengangguk, mengetahui kebiasaan pasangan.
"Sisilia membawa kotak itu, ini berapa mbak?"
"100 ribu". pelayan itu menuruti Raka
"Biar saya yang bayar, balasan karena kamu udah milih warna kesukaan saya".
" Tapi," Raka menyuruh Sisilia duduk di sofa sebelum Sisilia menyelesaikan kalimatnya. Sisilia hanya menurut karena Raka menyuruhnya buru-buru.
Raka membayar dengan kartu kreditnya dan Mereka pun pulang. Sisilia meminjam Kunci mobil Raka sebelum mobil di jalankan. Ia lalu memasang gantungan itu.
" bagus kan kak Raka". Sisilia tersenyum bangga dengan pilihannya.
Raka hanya membalas " pilihan kamu gak buruk". Mobil pun dilajukan sampai depan rumah Sisilia.
Bersambung....
__ADS_1