Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Rasa Suka


__ADS_3

Sisilia kembali menginap di tempat Rini. Asrama yang bagus dan lega itu memang membuat orang terpanggil untuk datang. Sayangnya Sisilia bukanlah karyawan resmi RBD CYNOC, kalau iya pasti ia juga akan tinggal di sana.


Sisilia duduk, menghidupkan TV dan mencari channel yang tidak ada iklannya. Terkadang menonton acara TV favorit memang butuh kesabaran. Iklan yang lebih lama dari penayangan acara adalah yang paling menyebalkan.


Rini masih mengerjakan tugas kantor yang sangat banyak itu. Ia tak bisa mengambilkan air minum untuk Sisilia. Dari awal, memang Sisilia yang mengambil semuanya.


Sisilia membuka kulkas, mengeluarkan berbagai buah segar. dan beberapa camilan yang sudah didinginkan.


Saat Rini sudah selesai mengerjakan pekerjaan kantornya, Laptop ia tutup. Meregangkan otot jari-jari tangan yang kecapekan mengetik.


Menyadari Rini yang sudah selesai, Sisilia berinisiatif untuk membuat jus. Ia bertanya apakah ada bahan di dapur Rini. Ternyata ada, Sisilia langsung mengeluarkan semangat chef-nya.


Sisilia pergi ke dapur. Mengeluarkan semua bahan yang diperlukan untuk membuat jus. Tempat Rini adalah tempatnya juga. Ini adalah bukti kalau kesetiaan persahabatan mereka yang awet layaknya saudara.


Sisilia menekan tombol on pada blender. Biarkan beberapa saat sampai Jus bisa dituang dalam teko kaca. Sisilia mengambil dua gelas dan meletakkan semuanya ke dalam nampan.


Ia bawa ke meja tempat ia dan Rini duduk. Menuangkan Jus ke gelas dan mempersilahkan Rini untuk minum.


Sisilia meminum jus yang sudah ia siapkan."mmm enaknya."


Tanpa basa-basi lagi Rini langsung berbicara. " Aku putus sama kak Brian Sil." Rini berucap pelan


"pruuuh, hah.." Sisilia menyemburkan jus yang berada dalam mulutnya.


Rini mengambil tisu dan menyuruh Sisilia segera membersihkan jus yang mengotori tempat mereka. Sisilia segera membersihkan dengan tisu, mulutnya yang belepotan juga ia bersihkan.


Sisilia tau kalau Mereka putus. Tapi ia tak tau mengenai penyebabnya. yang Sisilia rasakan adalah Rini sepertinya sudah suka dengan Brian.


'Tapi kok putus sih, bukannya Rini itu suka sama kak Brian. kak Brian juga kayaknya suka sama Rini. Sisilia jangan gegabah, dengarkan penjelasan Rini dahulu '


"kak Brian godain banyak karyawan cewek lain dan yang kita temui di jalan." Rini meminum jus seteguk.


"Bukannya udah biasa ya, kak Brian kan selalu nyari cewek yang pintar dan gimana gitu." Sisilia mengangkat bahu.


" Iya, tapi kita kan lagi pacaran nih ya. Tapi walaupun pura-pura juga harusnya dia ngerti etika dong. Masa pas bareng aku, setidaknya di belakang aku Sil." Rini berubah kesal.


" Kalian itu udah kayak pasangan yang sudah nikah bertahun-tahun. Berantem terus baikan. Tapi kok bisa putus." Sisilia terkekeh pelan.


" Au ah Sil. Pokoknya aku gak mau lagi pura-pura menjalani hubungan palsu sama kak Brian." Rini merubah ekspresinya.

__ADS_1


Sisilia ingin mengatakan sesuatu yang ia yakini. Tapi ia takut jika hal itu salah. Rini langsung menyuruh Sisilia segera mengatakannya, daripada nanti ia mati penasaran.


Sisilia mengatur nafas, memegang Rini agar berhadapan dan bertatapan dengannya." Jujur deh, Rini kamu suka kan sama kak Brian."


Rini langsung Salting. Tiba-tiba saja Sisilia membahas hal itu.


" Maksud kamu apa Sil." Rini meminum gelas yang sudah kosong.


" Tuh kan bener. Kamu bahkan gak sadar kalau gelasnya kosong." Sisilia tersenyum.


" Iya Sil. Aku sebenarnya mau bilang gak mungkin. Tapi kamu tau kan, aku kalau suka sama orang kayak gimana. Aku gak mungkin pura-pura gak suka, gak mungkin pura-pura gak ngerasain apa-apa pas dia melirik cewek lain." Rini mengisi gelasnya.


Rini jujur pada sahabatnya. Ia benar-benar menyukai Brian. Tapi sepertinya Brian tak suka padanya. Ia tak mau berlarut dalam perasaan sukanya sendiri. Lebih baik dari awal melepaskan, daripada nanti jatuh dengan kecewa.


Seseorang menekan bel dan mengetuk pintu. Sisilia langsung berlari untuk membukakan pintu.


Ternyata Brian yang datang. Brian langsung berlutut dihadapan Rini. Sementara Sisilia berdiri di dekat pintu, bersama Raka dan Doni yang menahan pintu agar tetap terbuka.


"Ngapain kak Brian ke sini." Rini berdiri canggung.


" Saya sudah daritadi berdiri di dekat pintu. Sebenarnya, saya kesini tepat di belakang Sisilia." Brian langsung jujur.


" Saya juga suka kamu Rini." Brian memegang tangan Rini.


Ternyata Sisilia juga menghubungkan panggilan dengan Brian. Sebelumnya Brian meminta hal itu karena ia tak tau mengapa Rini tiba-tiba minta putus.


Sisilia yang diyakinkan oleh Raka awalnya menolak. Namun Raka berbisik, jika Brian jatuh cinta pada Rini. Sisilia langsung setuju, dan mulai membuka panggilan semenjak jus selesai ia buat.


Raka, Brian dan Doni duduk di depan pintu dengan bosan. Bahkan Doni rebahan di bahu Raka dan hampir ketiduran.


Rini menolak Brian. Ia beralasan kalau ia tidak pintar seperti wanita yang diinginkan Brian.


Brian mengangguk, ia tahu mungkin Rini tidak benar-benar pintar. Tapi Rini selalu membuat Brian gelisah dan penasaran dengan kepribadiannya.


Brian lalu jujur, mengatakan alasan ia ingin wanita pintar. Memang berkaitan dengan masa lalunya.


Brian pernah memiliki seseorang yang sangat ia sukai. Lalu wanita itu mengakhiri hubungan mereka dengan alasan Brian itu terlalu pintar dan sangat peka.


Padahal Brian Sangat menyukai perempuan itu. Ia berusaha segala hal agar dapat memenuhi keinginan si perempuan. Brian menceritakan semua hal mengenai hubungan yang gagal itu pada Rini.

__ADS_1


Tapi karena kecewa, Brian lalu bertekad, kalau ia akan mencari perempuan yang tidak bisa ditebak, Pintar. Brian tak mau menyukai Rini, ia tak mau Rini merasa dihubungkan dengan masa lalunya.


Rini juga ikut bercerita mengenai perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Perasaan Rini pada Fandi yang membuat ia terluka sendiri. Karena ia yang jatuh cinta, tapi orang yang ia harapkan tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya.


Oleh Karena itu, lebih baik Rini mengantisipasi dari awal. Ia harus segera menyerah agar tak terluka dengan keras.


Tetapi saat mereka putus, Brian maupun Rini menjadi sadar. Apapun alasannya, bukan hak kita untuk menentukan akan jatuh cinta pada siapa. dan bagaimana awal mula tumbuhnya perasaan itu.


Brian mengatakan, mungkin hubungan mereka palsu. Tapi setiap hal yang ia lakukan, semuanya benar-benar nyata dan tulus pada Rini. Brian menurunkan kepalanya, menatap lembut pada Rini.


Tak disangka, Rini langsung meneteskan air mata. Rini terharu dengan kejujuran Brian.


" Kalau kamu nolak saya, gak apa-apa Rini. Tapi kasih saya kesempatan untuk meraih hati kamu lagi ya. Jangan nangis, saya lihat tukang nasi goreng gak ada yang jualan dekat sini. Atau delivery order saja ya." Brian mengeluarkan HPnya.


Rini mengusap air matanya. Meminta Brian menyimpan Hpnya kembali.


" Aku gak nolak. ada hal yang mungkin akan kita sesali jika mengutamakan gengsi. yang jelas aku yakin sama perasaan aku." Rini menatap kedua bola mata Brian lagi.


" Jadi sekarang kita jadian. Maksud saya, benar-benar jadian. Gak pura-pura lagi." Brian antusias.


Rini mengangguk. Mereka resmi menjalin hubungan asli hari ini.


" Raka, Doni. Akhirnya gue..." Brian berhenti, karena Raka dan Doni sudah tertidur.


Rini juga melihat Sisilia yang tak bisa menahan kantuk di dekat pintu. Mata Sisilia tertutup dan sesekali kepalanya turun, lalu dinaikkan lagi. Seperti seseorang yang menjaga kesadaran saat dibuai angin diatas angkot. Mau tidur tapi harus memberhentikan sopir, mau gak tidur tapi mata sudah berat sekali seperti dihimpit sesuatu.


Raka, Doni dan bahkan Sisilia sepertinya karena efek kelamaan menunggu obrolan Brian dan Rini.


Rini segera menarik Sisilia. Raka dan Doni juga dibangunkan Brian.


" Jadi gimana." Sisilia membuka matanya yang setengah terbuka.


" Rasa suka aku terbalas Sil." Ucap Rini.


"Yeay." Sisilia bersorak lemah, dan mengangkat tangannya dengan lunglai. Rasa ngantuk nya tak bisa di toleransi lagi.


Rini dan Sisilia segera masuk ke kamar. Pintu pun ditutup. Brian sudah mengajak Raka dan Doni kembali ke apartemen mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2