Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Siapa yang Penting


__ADS_3

Raka, Brian, dan Doni sudah berada di pinggir Pantai beserta karyawan lain. Fandi juga berada disana memimpin peregangan dan pemanasan mereka.


Raka, Brian dan Doni sebagai 3 sekawan memakai baju kaos pendek beserta celana hawaii. pakaian yang mereka pakai hanya berbeda warna saja dengan model yang sama.


Pakaian itu dibelikan oleh Doni. Jarang-jarang Doni membelikan mereka barang, sekalinya dibeli pasti barang bak anak kembar tiga seperti pakaian mereka itu. Namun dengan keterikatan mereka bertiga, hal itu sudah makanan sehari-hari. Bahkan karyawan yang tersenyum menahan tawa juga diladeni oleh mereka.


Hari ini permainan bola voli tentunya tak bisa dilewatkan. Bahkan Vito sudah berlari keliling sebelum semua orang melakukan pemanasan saking semangatnya.


Sisilia, Rini dan Sesilka sengaja datang 5 menit lebih lambat agar menjadi pusat perhatian sesuai ide Sesilka. Sisilia hanya bisa menutupi wajahnya saat orang memang menatap mereka.


' Maluu, kalau tau beneran ditatap begini harusnya aku datang sebelum semua orang pada datang' Sisilia berusaha terlihat tak terpengaruh walaupun wajahnya sedikit memerah karena malu.


Raka yang melihat kedatangan Sisilia menghampiri sambil membawa bola voli. Melihat apa yang dipakai Sisilia dari ujung rambut sampai sendal. Raka mengangguk menaikkan jempolnya ke batang hidung Sisilia.


" Pakaian kamu bagus Sisilia, saya udah minjam sarungnya Doni. Tapi kayaknya udah gak butuh lagi." Raka segera meninggalkan mereka.


Saatnya pembagian tim, Fandi ditunjuk sebagai wasit dengan peluit tergantung di lehernya. dan Tina, secara sukarela ia menjadi orang yang menuliskan skor di papan. Tina sudah menyiapkan spidol yang baru dibelinya beberapa saat yang lalu.


Beberapa orang duduk menunggu giliran termasuk Sesilka yang hanya berniat foto-foto saja. Ia juga sekaligus mengambil foto Vito untuk masuk story media sosial nya.


Saat Mereka sedang suit, Kesya datang dengan pakaian pantai yang cukup seksi memperlihatkan pinggangnya yang ramping dan mulus. Semua orang menatap kedatangan Kesya.


Rini berbisik ke telinga Sisilia " Ini yang dibilang sengaja cari perhatian Sil."


Semua orang fokus melihat Kesya termasuk Fandi sang wasit yang terpana. Raka memanfaatkan kesempatan itu untuk menukar posisi tangannya dengan Brian agar ia bisa satu tim dengan Sisilia.


Sisilia yang masih menatap Kesya itu disenggol oleh Raka. " Kita satu tim Sisilia."


Sisilia langsung tersadar, dan menatap Raka heran. ' kak Raka gak peduli sama kedatangan Kesya yang menawan itu.'


Sisilia bahagia mengetahui ia satu tim dengan Raka. Fandi yang sudah membagi dua tim langsung mendekati papan skor dan melihat Kesya yang duduk di samping papan skor itu.


" Kenapa kamu pakai baju seperti ini Kei?." Fandi menyadari kalau Kesya ingin dilihat Raka. Bahkan Kesya tak berpaling saat berbicara dengannya, tetap terus memperhatikan Raka.


" Bukannya kita lagi di Pantai. " Kesya terus melihat Raka.


Tapi orang yang diharapkan Kesya untuk terpana akan kecantikannya malah hanya melihat ia sekilas. Raka seakan tak peduli dengan kedatangan Kesya, padahal semua orang termasuk karyawan wanita menatapnya dengan kagum.


Ekspresi kecewa tertoreh di wajah Kesya, ia menarik ujung bajunya. Melihat Raka yang mengajari Sisilia teknik bermain bola voli, membuat ia merasa kesal.


***


Permainan dimulai...

__ADS_1


Raka berusaha menjaga Sisilia tetap di sisinya. Setiap ada bola yang mendekat hampir semuanya bisa dihadang oleh Raka.


Melihat Raka yang bermain sambil tertawa bersama Sisilia membuat Kesya panas dingin. Sebenarnya Raka tertawa bersama rekan timnya yang lain, tapi karena dari awal Kesya hanya merasa kesal dengan Sisilia membuat ia tak menyadari hal itu.


Kesya berinisiatif untuk terlihat sakit, bisa jadi Raka akan luluh pikirnya. Dalam bayangan Kesya, Raka akan segera membawanya pergi dan panik meminta bantuan.


" Aaah." Kesya memegang keningnya.


Beberapa karyawan yang belum bermain menanyakan keadaan Kesya termasuk Tina. Sisilia dan semua yang bermain berhenti karena Kesya.


Semua berkerumun di dekat Kesya. Fandi yang panik khawatir dengan Kesya.


Raka akhirnya menyuruh Fandi membawa Kesya pergi. Kesya mengatakan kalau ia hanya pusing karena kurang tidur dan tidak terbiasa dengan tempat baru. Semua orang kembali bermain lagi.


Rini berbisik pada Sisilia. " Dia mau cari perhatian sama kak Raka, tapi orangnya gak peduli Sil, kkkk."


" Jangan gitu Rini, walaupun kenyataannya kayak gitu juga kita gak boleh asal nuduh." Sisilia Sebenarnya lega dengan dugaan Rini yang menurutnya memang benar.


Saat kembali bermain, beberapa kali Sisilia melancarkan pukulan bola voli dan membuat poin. Namun tanpa diduga satu bola meleset dari pandangan Raka dan anggota tim Sisilia. Sisilia yang tidak siap menerima bola malah mengenai kepalanya.


Sisilia jatuh terlentang. Saat bangun darah mengalir keluar dari hidungnya. Raka langsung panik mengendong Sisilia ke tepi.


Rini tak kalah panik memegang bahu Sisilia. " Kak Raka ambilin air dong buat..."


Belum Selesai Rini berbicara Raka langsung berlari mengambil air mineral dan membuka tutupnya dengan tergesa. Raka memberikan botol itu pada Rini.


" Doni, klinik Dimana. Bukan, Rumah sakit aja." Raka berteriak memekakkan telinga.


Sisilia membasuh hidungnya dibantu Rini. " Buat apa kak Raka, klinik sama Rumah Sakit?."


" Buat kamu lah." Raka nyolot.


" Aku kan cuma mimisan." Sisilia meminta Rini mengambilkannya Tisu. Rini pergi ke tempat barang- barang dan mencari tisu.


" Gimana kalau kamu kehabisan darah Sisilia, ayo kita pergi ke klinik !. " Raka masih berpikir untuk membawa Sisilia ke klinik.


" Mana ada orang yang kehabisan darah gara-gara Mimisan kak Raka." Sisilia membersihkan wajahnya dengan tisu yang sudah dibawakan Rini.


Semua kembali bermain termasuk Rini. Raka dan Sisilia digantikan oleh karyawan yang belum sempat bermain tadi.


Kesya di sana melihat Raka yang memperlakukan dirinya dan Sisilia berbeda. Raka menyuruh Fandi membawanya pergi, sementara Sisilia langsung ingin dibawa ke klinik bahkan Rumah Sakit hanya karena mimisan.


Raka mengambil tas Sisilia yang berada di dekat Kesya. Langsung menuju kepada Sisilia tanpa menghiraukan Kesya sama dengan orang lain, sama seperti Raka menganggap Kesya adalah orang biasa.

__ADS_1


Raka memberikan tas itu pada Sisilia. Sisilia dengan sigap mengambil HPnya dan melihat wajahnya di layar HP tersebut.


" Gimana, apa hidung kamu patah Sisilia ?." Raka masih khawatir sambil melihat hidung Sisilia yang memerah beserta sebagian wajah yang terkena bola voli.


" Kalau hidung aku patah, mungkin aku udah nangis sambil nahan sakit kak Raka." Sisilia menggeleng tak memahami pikiran Raka.


" Siapa yang lempar keras ke arah kamu. Biar saya tanya." Raka langsung mengelus tenggorokannya dan bergumam "ehmm,ehmm krrrh."


" Loh kak Raka mau ngapain?." Sisilia mencium gerak- gerik aneh Raka.


" Saya mau teriak. Saat dia ngaku baru deh".


" Baru apa kak Raka ?." Sisilia memotong omongan Raka.


" Baru saya pecat?." Raka membuat Sisilia sport jantung.


" Hah, dipecat. Kak Raka masak mau mecat karyawan berprestasi cuma karena permainan" Sisilia mengeluh.


" Bukan karena permainan. Tapi dia bikin kamu terluka."


" Aku cuman mimisan aja kak Raka. Lagian gak penting juga mecat karyawan gara-gara aku. Aku pasti merasa bersalah kak Raka." Ucap Sisilia dengan nada memelas.


" Gara-gara kamu, bahkan saya bisa memecat semua orang. Kamu itu yang penting buat saya bukan orang lain." Raka menekankan ucapannya.


" Iya kak Raka. Makasih karena aku orang yang


penting buat Kak Raka. kak Raka juga orang yang penting bagi aku. Tapi jangan pecat siapapun ya "!"


" Kenapa?"


" Karena aku gak mau orang yang penting buat aku. dan dia yang menjadikan aku orang yang penting dianggap gak profesional." Senyum andalan Sisilia kembali dikeluarkannya.


Raka langsung luluh dan setuju. " Tapi Sisilia"


" Tapi apa kak Raka?."


" Kenapa kamu nyinggung soal profesionalisme sama saya."


" Hmm, aku terinspirasi sama Rini. "


" Ooh." Raka mengangguk. Memang benar Rini adalah karyawan yang cukup profesional jika dihubungkan dia dengan posisi karyawan dan persahabatan mereka.


Raka dan Sisilia mengambil foto saja setelah bosan dengan permainan yang masih terus berlanjut. Raka juga memegang hidung Sisilia yang merah sambil membuat ekspresi lucu.

__ADS_1


Sisilia membuat ekspresi lucu dan tak kalah aneh. Sisilia sudah perlahan menekan rasa malunya saat bersama dengan Raka.


Bersambung...


__ADS_2