
Rini mengantarkan secangkir kopi ke meja Brian. Ini sudah yang kelima kalinya Rini berbolak balik karena kopi itu tidak sesuai dengan permintaan Brian.
Gulanya kebanyakan, Kopinya kebanyakan, gak ada rasa kopinya sama sekali. Sepanjang jalan Rini hanya bergumam sambil mengomel tak jelas, membuktikan betapa menjengkelkannya Brian. Dinding yang Rini lewati jadi saksi omelannya sambil bergidik ngeri.
Rini diminta mengantar kopi agar Brian tidak berbohong pada Orangtuanya kalau Rini memang perhatian dan tau seleranya. Rini menaruh kopi itu di meja dan mempersilahkan Brian meminumnya.
Brian meminum kopi itu, menikmati tetes yang mengalir ke rongga mulut dan kerongkongannya.
"Mmm, nikmatt ini baru sesuai dengan selera saya."
Rini masih berdiri disana. di depan meja kerja Brian menatap sambil merasa kesal. Rini menghentakkan sepatu hak tingginya agar Brian tersadar.
" Kenapa Rini, kok kamu masih berdiri disini. Sebaiknya kamu selesaikan pekerjaan atau kamu gak bisa berprestasi lagi." Brian masih menyeruput kopi itu.
" kak Brian yakin gak lupa ngucapin sesuatu buat aku. Atau maaf, pak Brian." Rini menaikkan dua alisnya.
' pasti dia bisa nebak kalau dia memang peka
" Enggak tuh. Ini kan buat bukti biar kita gak kelihatan bohong banget. Walaupun kita cuma pura-pura tertarik untuk kedua orang tua kita."
yang disiruh tebak apa jawabnya malah apa. bodo amatlah terus terang aja deh
" Maaf, pak Brian tau gak kalimat apa yang harusnya diucapkan ketika seseorang sudah memberikan pelayanan buat kita?." Rini memancing.
" ooo makasih?." Ucap Brian kebingungan.
" Sama-sama." Rini berlalu meninggalkan ruangan itu dengan langkah kaki yang sengaja dikeraskan.
Brian lalu memikirkan apa yang salah daritadi. Ditemukanlah bahwa ia memang lupa mengucapkan terimakasih. Brian melihat cangkir yang berjejer di mejanya, cangkir yang rasanya tidak sesuai. Brian lalu menelfon Rini tapi tak diangkat.
Brian tak kehabisan akal, ia menelfon ke telepon yang ada di pusat kontrol untuk bagian Rini. dan meminta disambungkan pada Rini.
Rini mengangkat panggilan itu " Maaf ada apa ya pak."
" Segera ke ruangan saya !" Brian langsung menutup panggilan.
Rini berjalan kembali ke ruangan Brian. Ia sudah mencoba mengendalikan mimik wajahnya agar terlihat biasa walaupun ia kesal.
__ADS_1
Brian menyuruhnya agar merapikan kembali cangkir yang ada di meja kerjanya. Karena berantakan dan membuat pekerjaan Brian jadi terganggu.
" Maaf pak sebagai apa ya saya harus merapikan ini semua, pacar pura-pura atau bawahan." Rini tersenyum paksa.
" Sebagai pacar pura-pura saya?". Brian menyeringai.
" oh maaf ya kak Brian. Buat pacar yang bahkan gak tau cara buat menghargai usaha pacarnya sendiri aku gak Sudi. " Rini mengangkat dan berpangku tangan.
" Ok. Saya memang lupa ngucapin terima kasih. Tapi kamu masih harus bereskan ini semua loh. Gak mungkin saya yang membereskan kopi buatan kamu yang asal-asalan. " Ucap Brian tak bersalah.
" Harus, Sebagai apa. Kenapa?." Rini tak terima. " dan juga, asal-asalan, selera bapak yang aneh tau gak."
" Ok kalau kamu gak Sudi sebagai pacar pura-pura. Sebagai bawahan saya saja." Brian mulai menggeser cangkir-cangkir itu ke tepi meja.
" Maaf ya pak, ini bukan tugas saya sebagai bawahan bapak. Kerjaan saya bukan buat bikin kopi atau beresin ini semua." Rini tak bergeming
" Kamu mau saya beri penilaian buruk sebagai bawahan yang tidak mematuhi atasan."
" Silahkan saja pak, lagian bapak bisa saya tuntut atas dasar penyalahgunaan kekuasaan. Sekarang hak bawahan juga diatur oleh Undang-undang. " Rini permisi dan segera keluar menuju ke meja kerjanya.
Brian membuang unek-uneknya pada Raka dan Doni. Doni hanya tertawa melihat Brian yang dikenal mudah menaklukkan dan menebak perasaan wanita dibuat kesal oleh Rini.
Raka justru mendukung Brian agar segera menyeriusi Rini. Karena Rini bisa dibilang masuk pada kriteria Brian yaitu cewek yang langka, pintar dan tidak mudah ditebak.
Brian langsung menyanggah, Rini sangat tidak masuk akal dan mudah marah. Juga sangat cengeng, Ia takut jadi bucin yang lebih parah dari Raka.
Raka hanya menyuruh Brian berhati-hati. Sama seperti yang ia alami. Seseorang yang sengaja dihindari bisa jadi menjadi seseorang yang akan sangat ia cintai.
****
Rini duduk di bawah payung besar yang menutupi meja luar balkon toko Sisilia. Sisilia membawakan dua gelas jus dari restoran Sesilka. Jus jeruk itu langsung ludes oleh Rini dalam sekejap. Milik Sisilia yang masih sisa setengah juga ikut diminum oleh Rini.
" Rini kamu haus, aku ambilin satu lagi deh." Sisilia berdiri namun Rini menghentikannya.
" Gak usah Sil. Aku cuma kesal saja sama kak Brian." Rini bersandar pada kursi.
" kak Brian pacar pura-pura kamu" Sisilia menggoda.
__ADS_1
" Gak bisa dibilang pacar sih. Kita cuma seolah punya hubungan biar bebas dari perjodohan lain aja. " Rini mengipasi wajahnya dengan tangan.
" ya kan tetap aja kayak pacaran."
" pura-pura, jangan Lupa Sil, ada embel-embel pura -puranya." Rini menekankan suaranya.
" Kenapa lagi sekarang?." Sisilia penasaran.
Setelah mendengar cerita Rini, Sisilia tidak berhenti tertawa. Masalah ucapan terimakasih membuat Rini kesal setengah mati.
" Bukan itu masalahnya Sil. Dia bilang dia peka. Peka darimana dari Hongkong." Rini kembali kesal.
" Udah Rini. Kan dia udah bawa cangkir itu sendiri karena kamu nyebutin Undang-undang. " Sisilia masih terkekeh.
" Biarin, supaya dia gak seenaknya saja di perusahaan." Rini bangga pada dirinya.
" Eh Rini kamu tau gak. Sebenarnya kalian itu cocok atas satu sama lain. " Sisilia berhenti terkekeh dan mulai serius.
" Maksud kamu Sil?" Rini Tak bisa mencerna Sisilia.
" Iya, kalian punya kesukaan yang sama tentang makanan dan pengalaman tentang perjodohan. Terus juga orang tua yang saling mengenal." Sisilia tiba-tiba menjadi antusias.
" Cuma itu banyak juga kok orang yang kayak gitu." Rini menyangkal.
" Tapi style orang yang kalian suka juga sama. Bayangin deh Rini, kak Brian suka cewek yang pintar dan tidak mudah ditebak, sesuai kan sama kamu. Kamu termasuk yang lulus dengan nilai terbaik di jurusan bahkan angkatan kita. Kamu juga masuk perusahaan RBD CYNOC dan berprestasi. " Sisilia meminum jus di gelasnya yang ternyata sudah kosong.
" Mau aku ambilin yang baru Sil. Aku udah ngabisin minuman kamu." Rini menawarkan.
" Gak usah Rini. Aku lanjutin penjelasan aku, kamu juga suka sama cowok yang tampan kan. dan kak Brian aku rasa termasuk yang tampan. " Sisilia menatap sahabatnya yang mulai berpikir.
" Enggak Sil. Cowok aneh kayak kak Brian." Rini geleng-geleng.
Rini menanyakan perihal hubungan Sisilia dan Raka. Sisilia mengajarkan Raka merawat tanaman sesuai saran dari Septian. Agar Raka bisa mengobrol dan membantu ayahnya dengan mulus.
Sisilia juga kadang suka kesal saat mengajarkan Raka yang benar-benar kaku dalam merawat tanaman. Mungkin tanaman yang bisa dirawat Raka hanyalah BeBo. Bahkan BeBo juga sering dibawa perawatan hanya karena daunnya yang mengering sebelum Sisilia datang ke perusahaan Raka dan ikut merawat BeBo.
Bersambung...
__ADS_1