Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Menyaksikan Pertarungan


__ADS_3

Raka asyik menscroll foto-foto saat ia pergi ke penangkaran tanaman tempat om Kifli. Sebagian besar dari foto itu adalah Foto Sisilia dengan berbagai latar. Raka tersenyum dan bergumam sendiri. ' Sisilia terlihat sangat manis, gak kalah dari bunga-bunga ini' .


" Raka". suara mengganggu membuat Raka frustasi, siapa lagi kalau bukan Doni


Doni memberikan file terbaru mengenai Perusahaan yang mengajukan kerja sama. Raka hampir melempar beberapa file di meja ke muka Doni karena mengganggunya, namun tak jadi ia lakukan demi profesionalisme.


" Loe ngeliat apaan sih, senyum-senyum cengengesan kayak orang stress, kalo loe stress mending pulang Raka. "


Raka yang sedang menandatangani menatap Doni dengan tajam. " Kalo gue stress, loe lebih stress lagi"


" Bener juga ya". Doni menjawab dengan pasti, walaupun ia yang dibilang stress.


" Kenapa suara loe, muka loe juga pucat". Raka melihat wajah Doni karena suaranya terdengar sedikit serak.


" Gara gara begadang nih, gue pelajarin tiap perusahaan yang minta kerja sama sama kita".


Raka membenarkan dan memuji usaha Doni. Dokumen itu banyak yang sesuai dengan instruksi Raka.


***


Sisilia datang ke tempat Raka juga hari ini. Sepertinya perusahaan Raka sudah serasa tempat kerja Sisilia juga. Saking seringnya ia datang, walaupun hanya untuk melihat berbagai tanaman di perusahaan Raka. beragam tanaman disana tak kalah dari penangkaran om Kifli, mungkin dalam beberapa tahun ke depan, penangkaran Mini bisa jadi ada di perusahaan Raka.


Hari ini Sisilia diminta membawa tanaman lidah buaya oleh Raka. Sisilia sendiri yang harus membawa tanaman itu ke perusahaan Raka. Biasanya setelah membawa tanaman Sisilia langsung menuju kantor Raka untuk melihat Bebo dan Sisilia disuruh menjelaskan berbagai fungsi tanaman yang sudah berulang kali dijelaskan oleh Sisilia.Tapi Raka hanya ingin Sisilia selalu menjelaskan, ia bahkan tidak punya niat mencatat perkataan Sisilia.


" Eh mbak Sisilia, kali ini apa mbak?". Seorang dari resepsionist menyapa Sisilia. Namanya Eli, ia kenal dengan Sisilia semenjak Sisilia sering keluar masuk membawa tanaman.


" Ooh, ini lo Buaya. Eh maksudnya lidah buaya". Sisilia menggeleng dan dibalas senyum oleh resepsionist yang lainnya yang sedikit lebih tua, mbak Ina.


Selagi mereka berbincang, Brian yang selesai dari urusannya di luar sedang berjalan kembali ke ruangannya. Ia melihat Sisilia yang masih berbincang, dan menghampiri.


" Apa lagi nih Sisilia, jangan yang aneh -aneh ya tanamannya". Brian mencandainya


" Apa yang aneh, semua tanaman itu berguna kak Brian". Sisilia mengelus tanaman itu.

__ADS_1


Terdengar riuh di dekat pintu kaca yang menjadi tempat keluar masuknya para karyawan RBD CYNOC. Dua orang satpam tampak menghalangi 2 orang pria yang memaksa masuk itu.


Brian menyuruh Mbak Ina yang sudah membaca situasi langsung menelfon karyawan lain untuk memberikan info pada Raka. Dua orang itu berhasil masuk walaupun ditahan oleh dua orang satpam.


" Panggil bos loe, panggil". Salah seorang diantara mereka berteriak pada mbak Ina.


" Kenapa ini, ayo kita berunding dulu.". Brian mengucapkan kata yang tak masuk akal


" Kita kagak datang buat berunding, suruh bos loe buat tandatangan sekarang!". pria yang lainnya ikut berteriak.


Semua masih terdiam, Sementara Brian asyik meregangkan badannya. Sisilia berlari ke arah lift, ia bahkan belum benar-benar menguasai jurus awal karate karena sudah lama ia berhenti. Pilihan terbaik adalah menghindar daripada ikut terluka.


Ternyata Raka sudah berjalan keluar dari lift bersama Doni. Sisilia mengurungkan niatnya kabur setelah melihat Raka. dan memutuskan untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Raka. Raka berjalan ke arah dua pria dengan perawakan preman itu.


" Saya bosnya, kenapa" . Raka menyuruh dua satpam kembali ke tempat semula. Karena ia dan Doni serta Brian bisa menangani ini. Dua satpam itu mematuhi Raka dan kembali berjalan di depan pintu.


" Ooh, jadi loe. Kita udah ninggalin kartu nama perusahaan dan dokumen lengkap disini. Kenapa loe belum kasih tandatangan di dokumen itu!".


" Ooh, yang diantar kurir itu. Kayaknya udah saya tandatangani." Ucap Raka santai


" Kayaknya udah masuk tong sampah. Iya ya. Bener gak ?". Raka menggaruk kepalanya pura-pura bingung. dan melirik Brian dan Doni yang ikut menggaruk kepala dan ikut pura-pura bingung.


" Kurang ajar. kalian tau sedang berhadapan dengan Siapa hah". Pria kekar yang lain geram mendengar Raka.


" Bukannya sedang berhadapan dengan kalian berdua ya, gimana sih". Brian menimpali. Raka dan Doni mengangkat bahu menghargai lelucon sarkas Brian.


" Kalian mau main-main ya, perusahaan baru udah macam -macam" Pria itu mulai memanaskan genggaman tinjunya yang besar.


Raka lalu mengatakan dengan santai kalau ia tidak mau menandatangani dokumen sampah dari perusahaan mereka. Lebih baik Mereka langsung ke kantor polisi mempertanggungjawabkan permainan kotor perusahaan mereka. Kedua pria itu semakin marah dengan ucapan to the point Raka.


" Bener, harusnya kalian segera di penjara, bukan dokumen kalian aja yang sampah, kalian juga sampah masyarakat yang harus dibasmi " . Brian memancing amarah mereka.


"Kurang ajar,," pria yang sudah memanaskan tangannya yang terkepal tadi langsung mendaratkan tinju di wajah Brian. Brian langsung membalasnya.

__ADS_1


Sementara Doni menarik baju Pria yang lain dan bertarung. Raka hanya melihat mereka karena tidak adil jika 3 lawan 2, ia harus menghargai keadilan dalam bertarung.


Doni yang memang kurang enak badan dari tadi langsung menyerah setelah dua pukulan, ia meminta karyawan yang menonton membawakan air mineral.


Raka melawan Pria yang mengalahkan Doni itu kali ini. Pria itu terduduk setelah dihempaskan oleh Raka ke meja Resepsionist, karena kalau ke dinding, bisa saja nyawa pria itu melayang langsung ke udara.


Pria itu bangkit meraih tepi meja Resepsionist, mbak Ina dan Eli sudah menjauh dari sana. Pria itu melihat Pot tanaman yang dibawa Sisilia tadi. Sisilia menyadari Hal itu dan berlari ingin mengambil pot itu ke depan Raka. " jangan Pot nya".


Pria itu melempar pot ke arah Raka. Namun Sisilialah sasarannya karena berlari ke sana. Raka dengan sigap menarik tangan Sisilia dengan tangan kanannya sampai Sisilia ada di pelukannya. dan tangan kiri Raka meninju pot hingga pecah, pecahan pot marmer yang bergesekan dengan tangannya itu meninggalkan luka dikuti darah yang mengalir.


" Kamu gak papa Sisilia?". Raka melihat Sisilia yang tampak syok dengan apa yang dialaminya.


Sisilia berdiri tegak dan menggeleng, terdengar serine bunyi Mobil polisi. Dua pria itu langsung digiring menuju mobil Polisi dengan borgol di tangan. Sisilia menatap tanamannya dengan menyedihkan.


" Tanaman yang kamu bawa rusak Sisilia. Ini kan apa ya namanya". Raka mencoba mengingat tanaman itu, sebenarnya ia tau, namun karena terlalu sering mendengar nama ilmiah berbagai tanaman dari Sisilia, ingatannya jadi bertabrakan dan buram.


" Buaya pak". Mbak Ina menjawab dari sudut.


" Buaya?". Raka tercengang.


" Lidah buaya kak Raka". Sisilia masih menatap tanaman itu.


" Biar nanti Cleaning Servise beresin semua, dengar ya Eli!". Raka menyuruh Eli yang segera mengangguk.


" mm kak Raka". Sisilia melihat tangan Raka yang berdarah.


" Kenapa Sisilia, ooh ini biar nanti saya bersihin"


" Biar aku aja kak Raka, lagian kak Raka udah lindungin aku". Sisilia ragu-ragu.


Raka pun mengangguk, Saat mereka akan berjalan ke lift, Rini baru saja tiba. Namun Brian segera menyuruh semuanya bubar. Rini merasa melewatkan adegan klimaks sebuah drama, ia merasa jengkel namun tidak bisa berbuat apa-apa.


Di kantor Raka, Sisilia membersihkan luka Raka dengan alkohol untuk luka yang ada di dalam kotak P3K. Brian dan Doni hanya bisa saling bergantian mengobati luka bonyok mereka satu sama lainnya.

__ADS_1


Sisilia lalu membalut luka Raka dengan perban. Raka hanya menatap wajah kesakitan Sisilia, padahal tangannya lah yang sedang kesakitan. Namun setelah melihat ekspresi Sisilia membuat ia tak merasa sakit lagi.


Bersambung...


__ADS_2